Dream Wedding

Dream Wedding
Ke Kantin



Kedua pasutri Tersebut sudah masuk diarena kantin. Semua pegawai yang sengaja bolos membeku saat melihat CEO nya datang ke kantin bersama seorang wanita berhijab.


‘Mampus’ Batin mereka semua. Sontak semua pegawai beserta penjaga kantin langsung berdiri dan menunduk hormat saat Ilyas masuk


Kening Dian berkerut melihat mereka semu “By, kamu benar-benar dihormati yah.” Bisik Dian


Ilyas tersenyum dalam hati “Tentu saja.” ia juga ikut berbisik mengikuti istrinya


Dian mengedarkan pandangannya dan jatuh kepada seorang wanita berhijab yang tengah berdiri dan menunduk


“Sarah..” Teriak Dian sangking senangnya


Dian segera menarik tangan suaminya untuk mendekati Sarah yang sudah deg.. degan tak karuan. Ia sangat gugup, ini pertama kalinya ia dihadapkan langsung dengan sang CEO, mana dia masih magang, bolos lagi. ‘Mampus deh’


“Jangan nunduk terus Sar, aku gak sependek itu.” Hanya suara Dian yang jelas terdengar, keadaan hening dan sepi tak ada yang berani angkat bicara


Sarah perlahan mengangkat kepalanya namun segera ia menunduk kembali saat melihat tatapan datar Ilyas


“Aku kembali kerja dulu, kalau mau kembali telpon aku.” Ucap Ilyas dengan suara yang lembut


“Siap by.” Ilyas mengelus pucuk kepala istrinya, tatapan Ilyas beralih melihat Sarah


“Kau yang namanya Sarah?” suaranya kembali datar


Sarah mengangguk “Iya tuan.” Tak berani menatap wajah bosnya


“Jaga istriku, jangan sampai dia terluka. Jika istriku tergores sedikit saja, kau tau apa yang akan terjadi ‘kan?” Nada ancaman itu membuat semua orang menelan Saliva nya tak terkecuali Sarah


Glek..


“Ba.. baik tuan, sa.. saya akan menjaga nyonya agar tidak terluka sedikitpun.”


“By, apa-apaan sih. Mana mungkin Dian terluka gitu ajah. Kamu berlebihan by, Sarah gak salah apa-apa.” Membela sahabat nya adalah yang terpenting sekarang


“Aku hanya mengatakan yang seharusnya, sayang. Ingat, jangan lama-lama disini. Teman mu masih banyak pekerjaan.” Perkataan nya ini berlaku untuk semua pegawai yang bolos bekerja


“Baiklah.”


Setelah Ilyas Pergi dari sana keadaan masih hening, semua orang masih berdiri dan menunduk. Mereka sudah mengetahui kekacauan yang dilakukan kedua resepsionis yang sudah dipecat tadi.


Karena itu mereka juga sudah tau siapa Dian sebenarnya. Walaupun susah untuk percaya, namun melihat kejadian aslinya membuat mereka membenarkan informasi yang mereka dapat do platform grup perusahaan.


Dian celingak-celingukan melihat orang-orang disana “Kenapa mereka semua masih berdiri yah.” tanya Dian berbisik


“Kalo gitu kamu duduk dulu baru mereka juga ikutan duduk." Sarah ikut berbisik


“ha? Kenapa malah nunggu aku duduk baru mereka juga duduk?”


“Ck! Duduk ajah kalo gak percaya.”


Walaupun bingung dan tidak mengerti, Dian pun duduk mengikuti perkataan Sarah. Dan benar saja saat Dian duduk, mereka semua juga ikut duduk bahkan ada yang keluar dari kantin untuk menyudahi acara bolos kerjanya.


“Wah benar, kok bisa yah?”


Sarah menoyor kening Dian “Yah bisalah Di, kamu ‘kan istri pemilik perusahaan. Kami harus menghormati mu.” Sungguh Sarah benar-benar gemas melihat tingkah polos sahabat nya


Dian manggut-manggut “Tapi aku gak nyangka rupanya kamu magang di perusahaan suamiku.”


Memakan bakso yang tadi sempat di anggurin “Hmm kamu ajah kaget apa lagi aku. Tapi syukurlah suami mu tuan Ilyas, dia kaya dan tampan. Yah walaupun nyeramin sih.”


Dian tertawa geli “Gak salah sih, waktu pertama kali ketemu juga aku sempat takut.”


Sarah ikut tertawa. Memang siapa yang tidak takut dengan aura yang diberikan seorang Ilyas


“Tapi kayanya tuan Ilyas sayang bangat sama kamu. Tadi pas ngomong sama kamu lembut bangat, nah pas ke aku balik lagi datarnya.”


“Yah orang aku istrinya.”


“oh yah kaki mu gak apa-apa ‘kan?” Sarah jadi teringat dengan berita yang ada di platform grup


“Memangnya kaki ku kenapa?”


Membuang nafas kasar “Aku udah tau apa yang terjadi sama kamu tadi. Benar-benar yah itu Bunga sama Indah, gimana bisa mereka nyuruh kamu nunggu ampe 3 jam lamanya. Apalagi kakimu cepat bangat kesemutan nya.” Ia kembali kesal mengingat wajah dua orang resepsionis yang memang terkenal sombong


“Jangan marah. Lagipula mereka cuman ngerjain tugasnya doang. Kakiku juga gak apa-apa kok. Suamiku udah mijat tadi.” Ucapan polos Dian membuat Sarah menganga


“Apa!!” Pekik Sarah, mulutnya menganga tak percaya. Bahkan sendok yang ia pegang jatuh begitu saja mendengar penuturan Dian.


“Apa sih Sar, kamu kenapa?”


“Ma.. maksud perkataan mu tadi, tuan Ilyas mijat kakimu?” Dian kembali mengangguk dengan polos


Keadaan hening, semua yang ada di kantin bahkan tak ada yang berbicara ataupun Melakukan pergerakan. Sangking terkejut nya, ada yang bahkan hampir pingsan mendengar nya.


Merasa ada yang aneh, Dian pun angkat bicara “Apa sih? Gak aneh ‘kan seorang suami memijat istrinya?”


“Yah emang gak aneh Di, tapi kalau tuan Ilyas yang lakuin, aku sama sekali gak percaya.” Perkataan Sarah diangguki semua yang ada disana tanpa sepengetahuan mereka.


“Yah suamiku yang maksa si tadi. Oh yah Sar, kamu gak apa-apa ‘kan? Aku khawatir bangat tau setelah hari itu kita ‘kan gak pernah ketemu.”


“Tenang ajah aku baik-baik ajah kok. Aku juga udah kasi tau lewat chat ‘kan?” Meminum air putih digelas menandakan bahwa ia sudah selesai makan


Dian mengangguk “Alhamdulillah. Emm Sar, sebenarnya aku penasaran sama keadaan rumah dan warungku.”


“Jangan khawatir, semuanya baik-baik ajah masih terawat gak ada yang rusak. Cuman..” Ia menggantungkan ucapannya


Menaikkan sebelah alis “Jangan digantung dong, ini bukan sinetron ikan terbang.”


Cengengesan “Sorry, cuman... Gimana mau bilangnya yah.”


“Apa si? Ngomong yang benar dong, aku gak bakalan mau pergi sebelum dengar apa yang tadi kamu gantung. Jangan dibilang kalau cuman mau bikin aku penasaran.”


“Hehe iya sorry.. sorry.. gini, setiap hari mas Malik datang mulu ke rumah sama warungmu nyariin kamu. Bahkan sampai nyari kerumah ku.”


Dian terdiam mendengar nya, ia sudah tidak merasakan apapun saat membahas mengenai mantan suaminya.


Menghela nafas panjang “Kalo dia datang lagi, bilang ajah aku udah nikah lagi. Terus katakan padanya aku udah gak mau ketemu dia lagi.” Dian masih sakit hati saat mengingat keluarga mantan suaminya yang ia percaya malah mengkhianati


Sarah mengangguk, menepuk pundak Dian “Tenang ajah, aku pastikan mas Malik gak datang ganggu ke rumah mu lagi.”


Dian Tersenyum “Makasih Sar.”


.........


Disebuah rumah yang tidak terlalu besar, Serly duduk di sofa sembari meniup-niupkan kutek di kukunya.


Usia kandungan wanita itu sudah 7 bulan. Perutnya semakin membesar dikian hari. Saat sedang asik bersantai di sofa, ketukan pintu membuat nya terpaksa bangkit dari duduknya


“Mas? Kok udah pulang ajah.” Seru Serly melihat Malik yang sudah ada didepannya dengan wajah yang lesu


Malik masuk begitu saja melewati Serly “Mas, kamu kenapa si? Ada masalah?”


Malik menghembuskan nafas kasar lalu membuang tubuhnya diatas sofa “Aku yang harusnya bilang itu ke kamu. Serly, sebenarnya kamu kenapa si? Setiap hari cuman nyantai doang, belanja, tidur.”


Serly ikut mendudukkan dirinya di samping Malik “Yah aku ‘kan istrimu mas. Mana mungkin aku kerja-kerja padahal lagi hamil gini.”


“Seenggaknya, kamu coba belajar masak. Nyapu atau ngepel, jangan semuanya ke aku atau bibik.” Mengeluh, tiap hari ia hanya mengeluh. Nyatanya setelah menikah dengan Serly, tak membuat kehidupan Malik bahagia malah ia semakin menderita


“Memangnya kenapa si? Mas juga belum jawab pertanyaan ku tadi. Kok pulangnya cepat bangat.”


Malik kembali menghembuskan nafas panjang “Mas di skors sampai bulan depan. Artinya sampai bulan depan mas gak punya penghasilan. Karena itu, jangan boros.”


“Apa? Ihh kok bisa sih mas. Aku gak mau tau yah, pokoknya mas harus kerja apa gitu buat dapat uang. Aku gak mau turun ke dapur, apalagi disuruh bersih-bersih.” sewot Serly


Malik berdecak keras “Kamu ini istriku Serly. Kerja mu gak cuman layani aku diranjang, dengan memasak atau membersihkan rumah sudah sangat membantuku.”


“Nah itu tau aku itu istrimu, bukan pembantu.” Sungut Serly


Malik pun ikut kesal mendengarnya “Ck. Kamu itu gak punya tutur kata yang sopan, gak bisa masak atau bersih-bersih. Bahkan bantu keuangan keluarga pun gak bisa. Nyessal aku nikahimu Serly. Seharusnya aku gak biarkan Dian pergi.” Setelah mengatakan keluhannya ia segera masuk kedalam kamar


“Mas, jangan samain aku dengan mantan istri mandul mu itu! Aku lebih baik dari dia. Kalau emang gak bisa nafkahi aku dari awal jangan hamilin aku dong. Dasar miskin.” Teriak Serly


.


.


TBC


Udah dari semalam aku upload tapi baru di loloskan😖


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...