
Duarr..
Ilyas bagai tersambar petir mendengar ide yang katanya bagus. Ia mengusap dada sendiri untuk meredam kekesalan
Memegang bahu Istrinya Lalu mendorong pelan. Di tatap mata Dian yang sepertinya juga tidak rela dengan apa yang dikatakannya tadi
“Jangan mengatakan omong kosong!” Tegas Ilyas
Dian menggeleng pelan “Ini bukan omong kosong by, Dian udah mukirin matang-matang dan menurut Dian keputusan yang udah Dian ambil sudah tepat.”
Ilyas menatap datar istrinya “Apa segitu inginnya kamu dengan hadirnya seorang anak? Apa segitu inginnya kamu hamil?”
Dian terdiam, lalu pelan-pelan kembali membuka suara “Semua istri pasti menginginkan kehadiran anak di janinnya. Kita sudah satu tahun dan hampir dua tahun menikah tapi Dian sama sekali belum hamil-hamil by.”
“Sudah berapa kali aku katakan, semuanya pasti ada waktunya. Kita hanya harus bersabar sedikit lagi.” Ilyas masih mencoba memberi pengertian
Dian menggeleng “Kamu juga butuh penerus by, yang benar-benar dari darah daging mu.” Namun Dian tentu tak semudah itu dibujuk
Ilyas menghela nafas panjang “Kita bisa memikirkan hal itu lagi. Lagipula tidak harus aku menikah lagi untuk mempunyai anak bukan? Misalnya Melakukan program bayi tabung?” Sungguh ini untuk pertama kalinya Ilyas berbicara panjang lebar
“Gak bisa by..._”
“Apanya yang Tidak bisa? Aku punya banyak uang untuk itu. Kita sama-sama sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” memotong perkataan Dian. Ia tidak ingin menerima alasan lagi
“By, aku tau kita mampu melakukan nya. Dian juga udah mempertimbangkan nya tapi, rata-rata bayi tabung yang lahir bertubuh lemah. Dan Dian gak suka itu. Dian gak suka liat seorang anak yang masih sangat kecil harus sakit dan lemah.” Jelas Dian panjang lebar. Ia memang sudah memikirkan hal ini.
“Jadi, menurutku. Jalan satu-satunya adalah hubby harus nikah la..___”
“Dian!” sedikit meninggikan suara membuat Dian bungkam.
“Aku tidak akan menikah selain dengan mu! Camkan itu! Tidak ada yang kedua atau ketiga. Hanya kamu! Dan hanya kamu!” ia kembali menegaskan. Bahwa dalam hati dan hidup nya hanya ada dua wanita yaitu ibu dan juga Istrinya. Hanya itu, tidak ada yang lain.
Dian terdiam. Jujur saja ia merasa senang dengan perkataan Suaminya, hanya saja ia tidak bisa mundur begitu saja “By, dengarkan aku dulu. Aku menyuruh mu menikah lagi agar tidak menyebabkan dosa jika berhubungan diluar hubungan halal.”
Ilyas menatap tak percaya wanita didepannya “Kamu pikir aku akan tidur dengan wanita lain selain kamu? Hei.. jangan memikirkan hal yang berlebihan, aku sudah bilang hanya kamu yang ada dihidup dan hatiku! Sampai kapan pun itu! Mending aku mati daripada menikahi wanita lain!”
“By.. ” Tegur Dian. Hatinya sakit mendengar perkataan Suaminya yang lebih memilih mati daripada menikah lagi.
“Hei.. sayang, apa ini karena ibu-ibu yang mengatakan omong kosong tadi pagi? Hei! Jangan dipikirkan. Tidak ada untungnya kita memikirkan pemikiran orang lain tentang rumah tangga kita. Kita yang menjalani nya bukan mereka.” Menangkup pipi Dian. Ia kembali berbicara lembut saat melihat mata sang istri yang sudah berkaca-kaca.
Dian menggeleng pelan “Aku udah lama ingin hamil by, bukan karena perkataan orang luar. Aku hanya ingin rumah tangga kita memiliki kebahagiaan yang sempurna.”
“Dengan aku menikah lagi? Begitu?” Melepas kedua tangannya di pipi Dian
Dian menggeleng “Bukan itu by,”
“Lalu apa? Anak? Iya?” Ia sudah sangat kesal “Kita bisa mengambil anak di panti asuhan.”
“Itu beda by.”
“Apanya yang beda? Huh!” suara Ilyas semakin meninggi “Apa selama ini kamu tidak bahagia menikah dengan ku? Apa anak begitu pentingnya hingga kau rela membagi suami mu sendiri!!”
“Bukan gitu by”
“Bukan apanya? Dari tadi kau bilang ingin aku menikah lagi kan? Lalu setelah itu apa? Kau ingin melihat aku meniduri wanita lain, begitu? Dikamar ini! Iya!!”
Tanpa sadar air mata Dian Luruh saat membayangkan semua perkataan Suaminya tadi. Hatinya sakit, ia tidak rela membagi Suami nya. Tapi saat mengingat tentang sang suami yang membutuhkan keturunan, Dian mencoba menekan Ego
“By aku mohon, menikah lah Lagi. Aku sudah mencari perempuan-perempuan yang sekiranya..___”
“Dianra Akila Rahman!!!” Bentak Ilyas. Suaranya sampai menggema didalam kamar
Dian tersentak mendengar bentakan sang suami. Ini pertama kalinya ia dibentak selama mereka menikah. Tak terasa air matanya luruh begitu saja. Ia terisak.
Mengusap wajah kasar. Ilyas tidak sadar membentak Dian. Ia terlalu lelah malam ini, baru pulang kerja dengan keadaan lelah dan letih, inginnya di sambut dengan senyuman dan pelukan ini malah diajak berantam, adu mulut.
Siapa yang tidak kesal?
Pelan-pelan Ilyas merangkul pundak istrinya tapi ditepis oleh Dian. Menghela nafas panjang “Sayang, maafkan aku..” Lirih Ilyas memegang tangan Dian
Dengan kasar Dian menarik tangan nya “Jangan sentuh aku!” Tegas Dian. Ia benar-benar tempramental malam ini.
Kali ini Ilyas sungguh kehilangan kesabaran. Ia menggeram kesal, mana mungkin ia tahan untuk tidak menyentuh istrinya.
Saat Dian ingin pergi dari sana, Ilyas segera menarik tangan Dian dan membawanya ke pelukan nya. Dian memberontak, menolak pelukan sang suami. Hatinya sakit saat mendengar bentakan Ilyas
“Lepaskan aku hiks...”
Ilyas menulikan telinga. Ditarik tengkuk Dian lalu mencium paksa Dian dengan kasar dan menuntut. Dian menggeleng kesar, air matanya turun dengan deras.
“Ahk..” Ringis Dian
Ilyas tak mempedulikan ringisan sang istri. Ia menggendong Dian dan menghempaskan tubuh istrinya diatas ranjang sedikit kasar.
Dian mencoba bangkit namun Ilyas segera mengukungnya “Tidak, aku tidak mau!” Air matanya tidak bisa berhenti tatkala Ilyas kembali menciumi wajah sampai leher dan berakhir di dadanya yang sudah keluar dari dalam penghalang.
Ilyas membuka kemejanya dengan buru-buru. Lalu kembali membungkam mulut Dian dengan kasar. Malam ini, ia melakukan penyatuan dengan Dian secara kasar dan menuntun. Semua lelah yang tadi ada hilang entah kemana.
Ia melakukan nya dengan kasar menghilang kekesalan nya. Biarkanlah malam ini ia memperkosa sang istri, tidak mengapa Dian membencinya. Itu lebih baik daripada ia harus menikah dengan wanita lain.
Suara tangis bercampur desahaan dan pertemuan antar paha memenuhi kamar. Ilyas benar-benar melakukan nya dengan kasar dan berkali-kali. Tenaganya tiba-tiba pulih. Ia membuat Dian nenjerit berkali-kali.
...***...
Sayup-sayup Dian membuka mata “Eugghh..” Ia melihat sekeliling namun tidak mendapati suaminya di samping.
Melihat jam “Astagfirullah, udah jam setengah enam.” Seru Dian dengan suara serak.
Ia ingin bangkit namun sekujur tubuhnya sakit, apalagi bagian inti tubuhnya. Rasanya ia sudah tidak bisa berjalan
“Ahkk.. sa.. sakit,” Kembali berbaring. Ia mengingat bagaimana keganasan suaminya tadi malam, Ilyas benar-benar tidak memberikan Dian waktu istirahat.
“Apa ideku salah?” Gumam Dian. Ia membayangkan bagaimana jika yang ada dibawah tubuh sang suami tadi malam adalah wanita lain bukan dirinya, sungguh memikirkan nya saja sudah membuat hatinya sakit.
Ceklek..
Sontak Dian menengok melihat kearah pintu yang terbuka. Ilyas dengan wajah datar masuk kedalam kamar. Ia segera menggulung tubuh istri lalu menggendong nya dalam diam.
Dian juga hanya diam. Melihat raut datar dan terkesan dingin Suaminya membuat Dian diam, ia takut salah bicara.
Ilyas Menundukkan istrinya didalam bathtub yang sudah terisi air hangat. Lalu ia keluar dan menunggu di pintu kamar mandi.
Air mata Dian kembali menetes melihat Ilyas yang mendiami nya. Ia menggeleng pelan “Ini salahku. Gak seharusnya aku menyuruh suamiku sendiri menikah lagi. Aku memang bodoh hiks..”
Pelan-pelan ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Selimut itu sudah basah terkena air hangat yang ada didalam bathtub.
Dian melihat tubuhnya yang penuh tanda merah. Ia bagaikan macan tutul jadi-jadian. Setiap jengkal dalam tubuhnya penuh tanda merah, bahkan sampai ke paha dan betisnya.
Dian segera membersihkan badan. Ia sudah terlambat untuk sholat Subuh. Pelan-pelan ia keluar dari dalam bathub. Walaupun hampir 15 menit ia berendam, tetap saja tubuhnya tetap terasa remuk. Hanya berdiri sudah membuat kaki Dian bergetar
Ceklek..
Tanpa kata Ilyas masuka lalu membungkus tubuh Dian dengan handuk dan menggendong nya. Dian juga hanya diam, Ilyas Membawa wanitanya kedalam walk closet dan memakai kannya pakaian serta mukenah dan kembali membawanya ke tempat sholat.
“Duduklah. Tidak perlu berdiri.” Ucapnya datar
Dian mengangguk dan mulai melaksanakan sholat sambil duduk, sedangkan Ilyas memilih untuk keluar dari dalam kamar.
Tak lama Ilyas kembali sembari membawa nampan berisikan makanan dan minuman. Ia menaruh nya di atas nakas. Setelah melihat Dian selesai sholat, Ilyas membukakan mukena sang istri dan kembali menggendong nya ke atas ranjang.
Tanpa kata, Ilyas menyuapi Dian sarapan nya. Ilyas tau betul bagaimana ia tadi malam meniduri Istri nya dengan sangat keras. Karena itu sebagai permintaan maaf, Ilyas melayani Istri nya hari ini. Apalagi pasti Dian tidak bisa melakukan apa-apa karena terlalu lelah
Dian juga hanya diam, sesekali membuka mulut saat Ilyas menyuapi nya makanan
“Maaf...” Lirih Dian
“Hmm.”
“Maaf.. semalam Dian gak mempertimbangkannya dengan matang.” Menunduk, meremaas selimut yang ada di pangkuannya
Ilyas meletakkan piring yang kosong itu diatas nakas “Baguslah kalau kau mengerti. Jangan mengulangi nya lagi.” Dian mengangguk sambil menunduk
Membuang nafas kasar, ditariknya dagu Dian dan membawanya menatap wajahnya yang tampan “Jangan buru-buru untuk mempunyai anak, kita jalani Seperti biasa. Pelan-pelan. Aku tidak menuntut mu harus hamil, hanya dengan kamu ada di sisiku adalah kebahagiaan terbesar yang ku punya.” Memberikan pengertian dengan lembut
Air mata Dian tak bisa tak turun saat mendengar penuturan sang suami. Ia sangat terharu mendengar nya, kemudian Dian mengangguk “Maafkan aku hiks.. jangan menikah lagi.”
Ilyas tersenyum lega, di kecupnya kedua mata Dian “Pasti.”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...