
Dian masih tidak menyangka akan mendapatkan izin untuk melanjutkan pendidikannya dari sang suami. Ini seperti mimpi bagi Dian, ia sama sekali tak pernah berpikir akan duduk di bangku kuliah.
“Kalau gitu Dian kuliah dimana yah by? Kira-kira universitas yang bagus apa yah?” Ia masih bingung memikirkan hal ini
“Memangnya kamu mau ambil jurusan apa?”
“Kalo DKV gimana? Seru ajah menurut Dian.” Jawab Dian bersemangat.
Ilyas manggut-manggut dan menyarankan beberapa universitas di kota nya dengan jurusan Dkv yang bagus ”Kamu tenang saja, biar aku yang urus semuanya. Kamu tinggal terima beres.”
Dian menggeleng keras “enggak, Dian mau urus sendiri. Hubby tinggal arahin Dian ajah, Dian juga mau ikut ujian masuk.” Ia sudah tau bagaimana kekuasaan suaminya yang pasti hanya tinggal jentik jari, semuanya sudah beres.
Tidak, Dian tidak mau hanya terima beres. Dia juga ingin merasakan suasana saat tegang pas ujian, merasakan kembali rasanya belajar. Dian rindu akan semua itu, apalagi Dian bisa berteman dengan banyak orang, mungkin.
Ilyas tersenyum, ia sangat bangga dengan istrinya yang mandiri “Lakukan sesukamu, asalkan kamu bahagia aku juga bahagia.” mengelus kepala Dian
“Kalau pendaftaran nya harus ke universitas nya langsung by? Katanya bisa lewat online ‘kan?”
Ilyas mengangguk “Lakukan online saja. Itu lebih praktis.” Dian hanya mengangguk menuruti.
Lagi-lagi Ilyas tersenyum melihat istrinya yang sangat penurut. Ia jadi semakin cinta. Tiba-tiba Ilyas teringat akan perkataan kakeknya dulu saat datang mengunjungi mansion
“Tekan ego mu untuk kali ini saja. Kau harus melakukan nya agar tidak ada yang semena-mena terhadap nya, dan biar keluarga yang lain juga bisa mengenal nyonya Ilyas.”
Kata-kata yang kembali terngiang-ngiang setelah kejadian di perusahaan Waktu itu membuat Ilyas membenarkan perkataan kakeknya.
“Apa kamu masih penasaran dengan keluarga ku yang lain?” Tanya Ilyas lembut. Ilyas bukan orang yang bisa berubah begitu saja, termasuk caranya berbicara yang masih sama namun nadanya akan berubah lembut jika berhadapan dengan istri tercinta
Menelengkan kepala “Kenapa tiba-tiba bahas itu by? Kalau ditanya penasaran, siapa sih yang gak penasaran sama keluarga suaminya sendiri. Apalagi sekarang Dian ‘kan sudah jadi istri mu by. Tentu saja Keluarga mu juga keluarga ku.”
Ilyas memeluk istrinya lalu mengecup kepala Dian berkali-kali, menghirup aroma harum yang menguar dari rambut Dian
Dian membalas pelukan suaminya lalu menenggelamkan dadanya di ceruk leher Ilyas “ Ada apa by?”
“Setelah kamu diterima kuliah, aku akan memperkenalkan keluarga dekatku pada mu.”
Sontak Dian mendongak “Termasuk sepupu-sepupu mu?” Ia kembali bersemangat apalagi saat melihat anggukan Kepala Ilyas.
...***...
Semenjak malam itu setiap bertemu dengan Ardo, jantung Sarah pasti selalu berdetak cepat seakan ingin lompat dari tempatnya. Seperti sekarang ini, Sarah menenangkan detak jantungnya yang berdetak cepat.
Ia ingin memberikan laporan kepada Ardo tapi tidak seperti biasanya, kini Sarah gugup untuk bertemu dengan Ardo
“Ahkk kenapa juga sih perasaan ini tiba-tiba muncul, jadi deg-degan terus ‘kan kalau ketemu pak Ardo. Dan kenapa harus pak Ardo sih..” Memeluk erat laporan yang ia bawa
“Ngapain kamu Sarah?” Tanya Ayu yang tak sengaja lewat dan melihat Sarah sedang berdiri didepan pintu ruangan Ardo
Tersentak kaget “Astagfirullah...” Mengusap dada “Kamu bikin kaget ajah Ayu.”
“Hehe sorry, tapi kamu ngapai disitu? Gak masuk?” menunjuk laporan yang dipeluk Sarah
“I.. ini baru mau masuk.”
“Yaudah masuk sana.” Bersedekap dada
“E.. eh.. kamu sendiri kok ada disini? Gak kerja?”
”Udah kok, tadi cuman ngasih laporan ajah ke pak Mike.” Jawabnya
“O.. oh.. kalau gitu aku masuk yah.”
Ayu tersenyum sembari mengangguk. Karena sudah terlanjur, Sarah akhirnya mengetuk pintu dengan hati yang tidak karuan. Mendapatkan sahutan dari dalam, Sarah pun masuk.
Dilihatnya Ardo yang fokus dengan komputer didepannya tanpa menghiraukan Sarah ‘Ihh ganteng banget sih..’ Pekik Sarah dalam hati.
Ia terhanyut melihat wajah tampan Ardo. Sedangkan Ardo yang tidak mendapatkan suara dari orang yang masuk tadi sontak menoleh. Netra kedua orang berbeda gender itu terkunci.
Sarah tersadar dan Langsung memutuskan tatapan keduanya.
“Kenapa kau diam saja?”
“Ah.. hmm maaf pak, saya kesini ingin memberikan laporan tugas yang kemarin.” Jawab Sarah sambil tersenyum manis
“Letakkan diatas meja.” Titah Ardo dan kembali meneruskan pekerjaannya tanpa melihat Sarah.
Sesuatu perintah atasannya, Sarah menaruh laporan tersebut diatas meja samping komputer yang sedang digunakan Ardo. Ia kembali terdiam Melihat wajah tampan atasannya.
“Ada apa lagi? Sudah tidak ada urusan ‘kan?, Kalau begitu silahkan keluar.”
“Eh? Hehe iya pak, kalau gitu saya Permisi.”
Menyandarkan tubuhnya di balik pintu sambil nengelus dada yang berdetak tidak karuan “Ya Allah, apakah ini yang dimaksud jatuh cinta..” Sungguh hati Sarah berbunga-bunga hanya dengan melihat Ardo
Setelah menetralkan detak jantungnya ia pun kembali ke mejanya. Karena sudah tidak ada yang ia kerjakan, Sarah berinisiatif Bertanya pada Ayu mengenai perasan nya.
Semenjak malam itu, kepalanya selalu terbayang-bayang wajah dan suara Ardo. Apalagi pelukannya, ahh Sungguh Sarah dibuat melayang.
“Hmm Ayu, aku pengen cerita nih.”
Ayu yang saat itu juga tengah bersantai karena pekerjaannya sudah selesai pun langsung menyahut “Tanya apa?” Kini mereka berdua sedang duduk bersebelahan dengan dibatasi sebuah sekat kaca transparan setinggi dada orang dewasa.
“Terus?”
“Teman aku tuh selalu mikirin atasannya. Mau tidur pasti kebayang tuh wajah atasannya, makan juga sama pas lagi mandi lebih-lebih. Udah fix ‘kan kalau teman aku itu suka sama atasannya.”
Ayu kembali mengangguk “Jadi masalahnya?”
“Masalahnya itu atasannya dingin bangat. Kalo bicara nusuk bangat. Yah tapi itu juga sih salah satu daya tariknya. Nah teman aku ini gak bisa nahan perasaan nya. Jadi menurut mu, aku... Eh! Maksudnya teman aku itu harus ngapain yah?”
“Hmm kalo menurut aku yah, mendingan sih kamu langsung nembak ajah deh.”
Sarah manggut-manggut “Eh! Bukan aku, tapi teman aku!” ia jadi salah tingkah sendiri
“Haha iya teman mu itu. Mending suruh langsung tembak ajah, siapa tau diterima iya ‘kan? Daripada nyiksa diri nyiksa batin.” Ayu Terkekeh geli dalam hati. Padahal sudah sangat jelas siapa yang diceritakan tapi Sarah masih tetap pura-pura.
Sarah kembali manggut-manggut “Thank's yah. Bakalan ku pertimbangankan, eh! Maksudnya nanti aku kasih tau ke teman aku.”
.
.
Jam pulang kantor pun tiba. Berbondong-bondong para karyawan keluar dari gedung bertuliskan Sky Group tersebut.
Berbeda dengan Sarah, saat semua orang berlomba-lomba keluar dari dalam gedung Sarah malah diam ditempat nya. Setelah tadi ia mencerna semua perkataan Ayu, akhirnya Sarah mendapatkan kesimpulan.
Kantor mulai sepi, tak lama yang di tunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari ruangan nya.
‘Alhamdulillah, pak Ardo cuman sendiri’
“Selamat sore pak.” Sapa Sarah tersenyum manis
Kening Ardo berkerut melihat Sarah yang masih belum pulang “Kenapa belum pulang?” Alih-alih menjawab, Ardo malah melayangkan pertanyaan.
Tiba-tiba Sarah menjadi gugup. Hanya ingin mengutarakan niatnya saja dia sudah gugup, Bagaimana kalau sudah masuk ke intinya
Melihat Sarah yang diam saja, Ardo kembali buka Suara “Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, lebih baik pulang saja.” Seperti biasa, walaupun suara Ardo terdengar dan terkesan dingin Sarah tetap tak bisa mengalihkan telinganya untuk tidak mendengar suara yang terdengar seksi ditelinga Sarah.
“Hmm gini pak, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan ke pak Ardo.” Katany gugup
“Apa?”
“Em.. emm.” Menunduk sembari memilin-milin ujung hijabnya
“Katakan yang jelas!” Sentak Ardo
Sarah mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Menatap mata Ardo “Pak, kalau misalkan saya bilang saya suka sama pak Ardo! Bapak percaya gak?”
Ardo menggeleng-geleng mendengar penuturan Sarah. Lagi-lagi bawahannya itu bercanda yang tak lucu “Menurutmu aku harus percaya atau tidak?”
“Jawab ajah Napa sih pak! Jangan bertanya lagi.”
“Kamu sendiri, kenapa tiba-tiba bertanya yang aneh-aneh!”
Mencebikkan bibirnya “Ihh aku serius pak. Aku suka pak Ardo! Titik! Gak pake koma!”
Ardo terdiam “Perasaan bukan sesuatu yang bisa dibercanda ‘kan, jangan mengatakan hal aneh yang tidak bisa kau pertanggung jawabkan nanti.”
Sarah mendengus. Niatnya mengutarakan perasaannya malah dikira bercanda “Saya serius pak! Saya suka sama pak Ardo. Mungkin pak Ardo gak suka sama saya, tapi saya yakin saya bisa meluluhkan hati pak Ardo. Karena itu izinkan saya menyukai pak Ardo.” Ucap nya percaya diri
“Kau tidak bercanda ‘kan?”
Sarah menggeleng keras “Saya serius pak! Tolong izinkan saya menyukai pak Ardo dan juga mengejar cinta pak Ardo!”
Saat Ardo ingin angkat bicara tiba-tiba ponselnya berbunyi, pesan dari tuannya yang memerintah kan Ardo untuk segera menyiapkan mobil.
“Aku buru-buru, tuan Ilyas membutuhkan ku.” Menaruh kembali ponselnya di saku celana. Ia ingin segera pergi dari sana.
“Pak jawab dulu dong! Tinggal bilang iya atau tidak!”
Ardo menghela nafas panjang “Terserah kamu!” Lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan Sarah yang tercengang ditempat nya.
“Ja.. jadi pak Ardo mengizinkan aku ‘kan.” Menutup mulut tak percaya “Alhamdulillah, semoga aku bisa mengetuk pintu hatinya.” Sangking senangnya, Sarah bahkan melupakan ketegangan saat menyatakan perasaannya tadi.
Berbeda dengan Ardo yang bingung dengan dirinya sendiri. Di dalam mobil yang sama dengan tuan dan juga Sahabatnya
‘Kenapa tadi aku beri izin yah? Tunggu bukan itu yang penting, apa dia tidak malu menyatakan perasaannya? Dan sejak kapan dia menyukaiku’
Terngiang-ngiang suara Sarah saat mengatakan suka kepadanya. Sepertinya nanti malam ia tidak akan bisa tidur nyenyak.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...*Subscribe yah manteman**😖*...