Dream Wedding

Dream Wedding
Bunuh aku



" lain kali mampir ke rumah aku Sar. Hitung-hitung buat kenalan sama suamiku." Berjalan keluar cafe bersama Sarah


" Iya lain kali ajah. Soalnya aku sekarang tinggalnya dirumah tente aku, nenek sakit jadi aku harus tinggal deh."


" Innalilahi wa innailaihi rojiun.. nenek sakit apa? "


" Biasalah, faktor usia." Dian Manggut-manggut mendengarnya " Semoga cepat sehat yah."


" Aamiin.."


Saat mereka ingin menyebrangi zebra cross yang tidak terlalu padat, sebuah mobil tiba-tiba berhenti didepan mereka. Dian dan Sarah sama sekali tidak curiga.


Tiga orang berpakaian hitam dengan masker datang dan langsung membekap kedua wanita itu.


" Emmmphh..." Dian dan Sarah mencoba untuk memberontak, namun tenaga kedua pria tersebut lebih kuat dari mereka yang bertubuh mungil.


Sarah menendang tulang kering pria yang sedang membekapnya. " Ahhkkk dasar jalangg.." menendang kembali kaki Sarah membuat gadis itu memekik tertahan. Sudah dipastikan kakinya keseleo.


Lambat laun kesadaran kedua wanita itu hilang. Keduanya pingsan " Ayo cepat bawa masuk." Memasukkan Sarah dan juga Dian kedalam mobil.


Mobil pun melaju " Hei kenapa kalian ambil keduanya. Hanya satu, wanita Ilyas." Seru pengemudi yang tidak ikut turun tadi


" Ck berisik lu. Mana kami tai yang mana, gak ada fotonya. Yaudah kami ambil dua-duanya ajah. Toh salah satunya pasti wanita Ilyas." Jawan cuek temannya yang tadi menendang kaki Sarah


" Tapi mereka cantik-cantik yah. Apalagi itu yang pake hijab panjang." Air liurnya sudah jatuh melihat kemolekan wajah kedua wanita itu


" Bangkee lu. Jangan di apa-apain entar tuan marah goblok."


.........


Sayup-sayup, Dian membuka matanya. Di sekeliling terlihat gelap. " Euhh dimana ini." Monolog wanita itu


Mencoba untuk bangkit namun " eh? Kenapa tangan dan kaki ku di ikat." Tangan dan juga kaki nya di ikat di kursi membuat Dian tak bisa bergerak leluasa.


Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya " Sarah? Sarah kemana Sarah." Menengok sekeliling dan untunglah sahabatnya itu ada di sampingnya yang masih pingsan dengan keadaan yang sama dengannya


" Sarah.. Sar.. bangun Sar.." berteriak memanggil Sarah " Ya Allah, kok Sarah gak bangun-bangun sih." Kembali berteriak memanggil nama Sarah


Perlahan tapi pasti Sarah membuka matanya " hmm berisik kami Di."


" Ihhh Sarah, kamu gak tau kondisi bangat sih. Kita diculik tau." Mata Sarah terbuka sempurna mendengar kata-kata Dian


" Apa? Diculik! " Akhirnya singkron saat merasakan tangan serta kakinya diikat. Mana kakinya yang tadi ditendang Masih sakit lagi.


" Gimana nih? "


" Yah mana aku tau."


" Ishh kamu ini Sar. Tapi siapa yang culik kita yah? "


" Yah jangan tanya akulah Di. Gak liat aku juga di culik. Mungkin mereka mau organ-organ kita terus dijual."


" Gak mungkin lah. Kalau emang kaya gitu, seharusnya kita udah mati."


" Iya juga yah. Oh atau mungkin mereka pengen minta uang tebusan. Eh! Tapi keluarga ku gak kaya-kaya amat." Dian terdiam, jujur saja suaminya itu sangat kaya.


" Eh? Apa mungkin suami mu Di."


" Yah suamiku emang kaya tapi gak mungkin juga kita diculik. Coba liat baju kita yang harganya gak sampe seratus ribu." Memang Dian sengaja tidak memakai pakaian yang dibelikan Ilyas, bukan karena tidak suka. Hanya saja ia juga ingin tetap memakai pakaian yang ia beli dengan hasil jerih payahnya.


" Iya juga yah.." sebenarnya mereka berdua sangat takut, namun mereka mencoba mencairkan suasana dengan candaan-candaan receh. Dan berdoa semoga mereka berhasil selamat.


Tiba-tiba..


Ceklek..


" Ckckck kalian masih bisa santai disaat-saat seperti ini." Tiga orang masuk kedalam ruangan itu


Ruangan yang tadinya gelap seketika terang saat salah seorang menghidupkan lampu. " Siapa kalian." Teriak Sarah. Di depannya ada tiga pria dengan tubuh yang kekar.


Salah seorang terlihat masih nampak muda dan juga tampan 'walaupun suamiku lebih tampan' gerutu Dian


Nizam, pria tampan yang ketampanannya jauh di bawah suaminya menurut Dian maju mendekat dengan kening berkerut " Kenapa ada dua? " Tidak mungkin seorang Ilyas beristri dua


Menggaruk tengkuk nya yang tak gatal " Itu tuan, mereka ada berdua tadi, jadi kami tidak tahu yang mana istri Ilyas."


Mendengar nama suami nya disebut, Dian menegang. 'mereka mengenal suamiku' hatinya mulai ketar ketir membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Senyum tipis menghiasi wajah pria tersebut " Sepertinya aku tau yang mana istri dari si sialan! " Berjalan mendekati Dian


" Hanya mendengar namanya disebut membuat wajah mu menegang. Ckckckkc." Menggelengkan kepala melihat Dian dengan senyuman licik


Dian tak gentar, menatap tajam pria yang entah siapa " Siapa kamu? Apa mau mu? " Tanyanya. Terlihat tidak ada ketakutan dalam nada bicara Dian


" He! Kau berani juga." Mencengkeram erat kedua pipi Dian dan mengarahkan ke depan wajahnya " Pantas saja si sialan menyukaimu. Hahahha wajahmu sangat cantik." Dian mencoba memberontak.


Nizam menghempaskan wajah Dian. Lagi-lagi senyum licik keluar dari wajah pria tersebut " Sayang sekali kau harus mati seperti ini." Tatapan tajam nya berubah menjadi tatapan mesum " sepertinya seru mencicipi mu ramai-ramai." Menjilat bibirnya sendiri membuat Dian ngeri.


Namun wanita itu tak ingin terlihat lemah " Lepaskan aku! Apa hubungan mu dengan suamiku, huh! Jika kau ingin uang akan aku berikan. Jadi lepaskan aku." Pekik Dian. Sebenarnya ia takut, sangat takut jika pria tersebut Berani macam-macam dengan tubuhnya.


Nizam kembali tertawa, kini tawanya memenuhi ruangan tersebut. Tawa yang terdengar sangat menakutkan sempat membuat nyali Dian ciut namun wanita itu lagi-lagi berdoa agar diselamatkan 'by, kumohon cepatlah datang'


" Apa mau mu? "


Tersenyum miring " Kau yakin ingin mendengar nya? " Berbisik di telinga Dian. Dian memberontak mencoba menjauh dari Nizam, namun naas hampir saja kursi yang ia duduki jatuh. Untung saja Nizam menahannya dan menarik kursi tersebut hingga berhimpit ketubuhnya.


" Lepaskan aku."


" Hei sialan!! Lepaskan sahabatku!! " Pekik Sarah yang dari tadi hanya menonton. Ia hanya mengamati sebenarnya apa yang terjadi.


" Jauhkan tubuh kotormu dari tubuh sahabatku." Teriak Sarah


Nizam menatap tajam Sarah yang tidak akan membuat wanita unik bin ajaib itu takut " Apa?! Hah! Matamu ingin kucolok." Teriak lagi Sarah memenuhi ruangan.


" Jalangg! " Nizam tak kalah berteriak. Senyum licik mengembang di bibirnya " Kau sungguh tidak beruntung kali ini nona kecil. Seharusnya kau tidak berteman dengan istri si sialan."


" Yah setidaknya tubuhmu pasti enak juga." Mengangkat kedua bahu seolah-olah ia tak akan memikirkan apa yang akan terjadi pada Sarah


" Hei! Lepaskan sahabatku. Dia tidak terlibat disini." Dian yang tadi mencoba tidak berteriak akhirnya mengeluarkan suaranya saat Nizam mengancam Sarah


Geram, Sarah benar-benar geram " Sialan! Brengsek! Lepaskan kami. Atau ku bacakan surat Yasin kau!!! " Pekik Sarah


" Pfffhhh." Dian benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Sarah. Sempat-sempatnya wanita itu mengeluarkan guyonannya


Rahang Nizam mengeras. Ia tidak bodoh, ia tahu surat Yasin biasanya dicakan saat acara apa " Kau ingin mati."


" Huh! Kau yang akan mati sialan! Tenang saja aku orang pertama yang akan melayat mu." Sungguh urat takut Sarah sudah putus


Dian semakin ingin tertawa membuat Nizam naik pitam " Diam!! " Bentak pria tersebut " bungkam mulut ****** itu."


Anak buah Nizam mengangguk dan segera mengambil lakban lalu membungkam mulut Sarah. Mencoba untuk melawan namun tak bisa, kakinya memar bekas tendangan saat dia melawan tadi.


" Lepaskan sahabatku." Menatap tajam Nizam yang kini tersenyum menyeringai kepada nya


" Diamlah cantik. Siang ini kita akan bersenang-senang." Melepas paksa hijab panjang Dian


Sarah semakin berontak namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sama, Dian juga memberontak namun apalah daya kekuatannya kalah jauh. " Lepaskan aku! " Lirih Dian. Wanita itu mulai takut saat rambutnya mulai terurai


" Woww kau sangat cantik. Cih beruntung sekali si sialan mendepatkan mu." Membela pipi mulus Dian


Dian memalingkan wajah " A.. aku mohon lepaskan aku. Jangan sentuh aku." Bibirnya bergetar.


" Hmm sekarang baru kau takut? Heh Baguslah. Memang ini yang ku inginkan." Menarik paksa wajah Dian untuk melihat kearah nya


Tanpa ba-bi-bu lagi, Nizam melumaat bibir Dian. Dian mencoba untuk memalingkan wajahnya, ke kiri dan ke kanan. Air mata tak bisa ia bendung. " Lepaskan aku. Aku mohon." Bibirnya keluh


" Ck Diamlah." Kembali melabuhkan ciuman nya namun lagi-lagi Dian menghindar membuat kesabaran Nizam yang setipis daun jeruk habis


Plak..


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Dian hingga wajah wanita itu terhempas ke kanan membuat sudut bibirnya robek. Dian bisa melihat Sarah yang ada di sebelahnya menangis tanpa suara.


'ya Allah selamatkan hambamu'


Mencengkeram kembali pipi Dian dan membawanya ke depan wajah " ini akibatnya kau melawanku." Mencoba untuk mencium bibir Dian namun lagi-lagi Dian menghindar


" Bunuh aku! Aku lebih baik mati daripada di sentuh olehmu. Aku merasa jijik." Perkataan Dian memancing emosi Nizam


Dan..


Plak...


" ******." Tamparannya kali ini berhasil membuat kedua sudut bibir Dian berdarah. Kesal karena tak kunjung berhasil, Nizam mencium leher Dian meninggalkan tanda kepemilikan disana.


" Ahkk lepaskan aku sialan!! " Pekik Dian dengan air mata yang tak bisa dibendung.


Nizam menulikan telinga, di robek paksa pakaian atas Dian membuat bahu serta bagian tulang selangkanya terlihat. Lagi-lagi Nizam memberikan tanda merah di bahu Dian.


" Hiks... Hiks.. aku mohon lepaskan aku. Bunuh saja aku. Aku jijik dengan diriku."


Senyum menyeringai kian mengembang dibibir Nizam. Melihat tanda merah yang ia buat di kulit putih salju Dian membuatnya gairah nya naik. Apalagi ia melakukan nya di hadapan kedua bawahannya serta sahabat korbannya membuat pria gila ini semakin menjadi.


Saat akan membuka kemejanya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan kesal, Nizam mengambil ponsel dan dilihatnya siapa yang menghubungi. " Sialan! " Maki pria tersebut dan kembali mengancingkan kemeja nya.


" Jaga wanita ini. Jangan ada yang menyentuhkan sampai aku kembali." Menatap tajam ke kedua bawahannya yang melihat Dian dengan tatapan bernafsu.


Menunduk cepat " Baik tuan." Nizam pun segera pergi dengan rasa dongkol.


.


.


TBC


Akhirnya berhasil juga😌 udah dari semalam aku upload tapi baru sekarang berhasilnya 😖 Yaudalah yah. happy reading ajah lah🤭


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...subscribe yah manteman😖...