Dream Wedding

Dream Wedding
Ekstra part 1



Tangisan bayi kembali menggema di kamar Ilyas dan Dian. Dian langsung terbangun saat mendengar tangisan salah satu bayinya.


Dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri keranjang bayi yang ada di samping ranjang


“Ulululu... Putra ibu kenapa hmm?” Mengambil baby Dylan dari keranjang bayi. Menimang-nimang baby Dylan yang menangis kencang.


“Lan haus hmm?” Tidak ingin mengganggu Suaminya yang terlihat sangat lelah. Semenjak dua bulan lalu Ilyas sama sekali tidak pernah absen bangun tengah malam saat baby triple menangis.


Dian memilih duduk di sofa untuk menyusui baby Dylan yang nampak kehausan Dilihat dari bibir mungilnya yang ingin menyedot sesuatu.


Untuk kali ini Dian ingin membantu suaminya yang terlihat sangat lelah dengan pekerjaan di perusahaan serta mengurus baby triple saat tengah malam.


Dian memilih duduk di sofa untuk menyusui baby Dylan yang nampak kehausan Dilihat dari bibir mungilnya yang ingin menyedot sesuatu.


Baby Dylan melepas sumber makanannya lalu menatap wajah sang ibu dengan tawa receh. Sangat menggemaskan “kenapa hmm?”


Baby Dylan semakin tertawa, semakin gemaslah Dian. Dian mengunyel-unyel wajahnya di perut sang putra. Tawa receh baby Dylan kembali terdengar. Setelah lama bermain akhirnya baby Dylan kembali tidur.


Dian pelan-pelan membaringkan tubuh bayinya kedalam keranjang. Tak lama baby Ilmy ikut menangis, Dian dengan sigap menggendong si bungsu. Bukan haus tapi sepertinya baby Ilmy terganggu akibat popoknya yang basah


“Hmm perahu putri ibu udah hampir tenggelam yah hihihi..” Menghujani wajah Putri nya dengan ciuman lalu cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi.


Saat sedang asik di kamar mandi ia tiba-tiba mendengar suara salah satu putranya yang menangis kencang. Dengan cepat Dian membasuh bagian bawah sang putri lalu keluar dari dalam kamar mandi.


Nafas Dian tertahan saat melihat suaminya tengah menggendong baby Delon dan mencoba untuk menenangkan nya.


“Sayang, harusnya kamu membangunkan aku.” Seru Ilyas Mengecup kening istrinya yang mendekat kearah nya dengan menggendong baby Ilmy yang ingin dipakaikan popok.


“Maaf by, Dian gak tega bangunin kamu.”


Ilyas mengulas senyum “Yasudah mending kita duduk di ranjang.” Ia juga ingin duduk dan lelah untuk terus berdiri.


Dian mengangguk, sebelum itu ia sempat mengambil popok serta beberapa perlengkapan bayinya.


“Sepertinya Delon haus. Biarkan aku yang mengganti popok Ilmy, biar kamu yang susui Delon.” Seru Ilyas saat mereka sudah duduk di ranjang


“baiklah. Ini tisu basa nya.”


Mereka pun mulai melakukan tugasnya masing-masing.


“Kamu yakin gak ambil baby sitter sayang?” tanya Ilyas mulai memakai kan popok baby Ilmy yang terlihat menendang-nendang sang ayah


Ilyas menggendong putrinya yang sudah ia gantikan popok lalu membenarkan tidurnya “Aku tidak apa-apa. Yang aku khawatir kan itu kamu.”


Dian menoleh melihat suaminya dengan senyum lebar “Dian gak papa by,” menaruh putra sulungnya di samping putrinya


Ia mengelus pipi sang suami “Kamu keliatan lelah bangat by, jangan dipaksakan. Besok gak usah ke kantor yah.”


Menangkap tangan Dian yang ada di pipi lalu mencium telapak tangan istrinya “Baiklah. Besok kita habiskan hari bersama triple.” Dian mengangguk kecil menanggapi.


Ilyas menarik tengkuk sang istri lalu melabuhkan ciuman lembut yang disambut baik oleh Dian. Mereka berciuman tanpa hasrat, hanya menyalurkan kerinduan serta cinta dan kasih sayang yang semakin hari semakin melimpah


Kedua bayi yang ada di tengah-tengah mereka hanya menatap kedua orangtuanya yang sedang berbagi Saliva dengan mata bulat sambil berkedip-kedip tak mengerti.


“oeekk... Oeekk...”


Sontak Dian melepas ciuman nya lalu turun dari ranjang menghampiri putra keduanya yang terlupakan.


“Ohh sayang nya ibu..” Menggendong dan membawanya ke ranjang untuk dibaringkan bersama dua saudara kembarnya yang lain.


“Ada apa sayang? Dylan kenapa?”


Menaruh pelan-pelan di samping putrinya. Alhasil, Baby Ilmy berada di tengah-tengah kedua kakaknya


“Hahah kayanya Lan juga gak mau ketinggalan.”


Ilyas ikut tertawa kecil. Ia memperhatikan ketiga bayi kembarnya yang juga sedang menatap mereka. Dylan dan Ilmy mempunyai mata yang sama persis dengan Dian, warna cokelat terang yang sangat indah sedangkan Delon sangat mirip dengan mata yang ia punya, warna grey yang tajam.


Dylan nampak tertawa keras saat tak sengaja tangan Ilmy menyentuh dadanya, diikuti oleh kekehan Ilmy yang tidak terlalu keras berbeda dengan Delon yang sangat tenang. Ia melihat kedua adiknya lalu menaruh tangan nya yang mungil di dada Ilmy membuat Ilmy yang tadi hanya terkekeh jadi tertawa keras di ikuti tawa Dylan.


Sedangkan Delon Terkekeh kecil. Mereka bertiga bermain dengan caranya masing-masing. Dian dan Ilyas yang melihat tingkah ketiga anaknya tentu di buat gemas


“Ahh.. rasanya pengen Dian karungin.”


“Bukan hanya kamu sayang. Siapapun yang melihat mereka pasti berpikiran seperti itu.”


.


.


Lanjut ekstra part yang lain😆