Dream Wedding

Dream Wedding
Keluarga hangat



Kakek Arnold berjalan pelan menghampiri Dian yang duduk memunggungi pintu menghadap ke ranjang yang ditempati suaminya. Ia menunduk masih dengan menggenggam erat tangan Ilyas, menangis tangisannya Masih terdengar jelas berharap suaminya bangunan dan mengatakan hal yang selalu ia katakan saat Dian menangis.


'aku paling benci air mata kesedihan mu! Jangan pernah menjatuhkan nya lagi!'


Dian sangat rindu dengan suara tegas namun lembut suaminya saat berbicara padanya. Ia rindu mata Ilyas yang nampak tajam namun membawa kehangatan.


“Assalamu'alaikum.”


Dian tersentak kaget saat mendengar suara seorang pria tua dibelakang. Sontak ia menoleh kebelakang


“Wa'alaikum salam, kakek?” Dian berdiri lalu mengecup punggung tangan kakek Arnold


“Kakek..” Lirih Dian, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia ingin menumpahkan segalanya.


Kakek Arnold tersenyum lembut lalu mengelus mengelus punggung Dian. Dian semakin sedih dibuatnya, ia lantas menghambur memeluk pinggang kakek Arnold yang masih tegap dan tinggi diusianya yang sudah senja.


Punggung Dian bergetar, ia menangis di dalam rengkuhan pria tua tersebut “Ilyas, kek suami Dian.. hiks.. hiks..” Dian mengadu layaknya anak kecil


Kakek Arnold mengusap punggung Dian lalu beralih ke kepala cucu menantunya yang mengenakan hijab “Menangislah nak, tumpahkan segalanya. Jangan ada yang tersisa.” Agar nanti dan seterusnya sudah tidak ada air mata yang jatuh kecuali air mata bahagia.


.


.


Setelah di izinkan masuk, Bagas, Said, Sindy dan kedua asisten Ilyas pun masuk. Dilihatnya kakek Arnold yang sedang duduk di sisi kiri ranjang menghadap ke pintu, sedangkan seorang wanita berhijab yang memunggungi pintu di sebelah kanan Ilyas.


Mereka semua terdiam menatap pemandangan langka didepannya. Seorang Mahendra Ilyas Sam yang selalu berpenampilan gagah sekarang terlihat berbaring dengan wajah yang pucat.


Kakek Arnold melihat paper bag yang dibawa salah satu asisten cucunya, lalu beralih melihat Dian yang nampak kelelahan.


“Nak Dian, kamu istirahat saja dulu. Kamu belum makan ‘kan?”


Dian menggeleng lemah “Dian pengen disini ajah sampe hubby siuman, kek.” Jawabnya lirih


“Tapi kamu belum makan ‘kan?” Dian mengangguk lemah


“Belum membersihkan badan juga?” Lagi, Dian mengangguk


“Pasti tidur mu hanya beberapa jam.” Dian terdiam, lalu mengangguk pelan. Salah bukannya Dian hanya tidur beberapa jam saja, namun ia belum tidur sama sekali.


“Yaudah, sana gih makan, istirahat, sama mandi dulu. Nanti bagaimana kalau Ilyas bangun sedangkan kamu yang malah sakit.” seru Kakek Arnold lembut agar Dian tak tersinggung.


Dian terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk “iya kek,” Jawabnya lemah


Ardo pun mendekat “Ini nyonya, makanan dan juga pakaian ganti untuk anda.” Dian menoleh kebelakang lalu tersenyum tipis


“Makasih bang.” Serunya


Said, Sindy dan Bagas hanya menyimak dari tadi. Dan sudah dari tadi juga Said dan Sindy penasaran dengan wajah wanita berhijab tersebut, suaranya yang lembut semakin membuat mereka penasaran. Dan saat Dian menoleh.


‘Gila! Ada bidadari!’ Batin mereka bersamaan


Dian berdiri lalu beralih Melihat wajah tampan suaminya yang nampak pucat, di kecupnya kening Ilyas “Cepat bangun by.” Gumamnya


Melihat hal tersebut membuat kedua orang yang sedari tadi penasaran akan sosok Dian semakin dibuat tercengang dengan apa yang dilakukannya. Bagaimana bisa ada wanita yang berani melakukan hal tabu tersebut?


Dian ingin beranjak dari tempatnya, tersentak! Sejak kapan ada banyak orang disana? Ia sama sekali tidak merasakan nya.


Melihat wajah terkejut Dian, Bagas mencoba menjelaskan “Halo nak Dian, kenalin paman adalah paman Ilyas, Bagaskara. Lalu laki-laki itu anak paman, sepupu Ilyas namanya Said, yang perempuan disebelah nya saudara kembar Said, Sindy.”


Sindy dan Said tersenyum manis dan dibalas Dian dengan senyuman tipis. Said menyodorkan tangan namun Dian hanya mengatupkan tangan nya di depan dada.


Sindy yang melihatnya tentu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan senyuman mengejek, seolah-olah mengatakan ‘Liat gue! Pasti gak ditolak’ dan benar saja, Dian menyambut tangan Sindy membuat Said kesal bukan kepalang kepada adiknya.


Dian mengangguk “Iya paman, saya Dian. Maaf karena Dian gak bisa memberikan sambutan yang lebih bagus,” Ia jadi tak enak mengingat Dian tak merasakan kehadiran mereka disana.


“It's okey, benar yang dikatakan papa sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar paman dan kedua adik sepupu Ilyas yang menjaga Ilyas.” tutur kata Bagas yang lembut membuat Dian nyaman mendengarnya, namun ia lebih rindu tutur kata suami nya yang ketus tapi perhatian.


Dian mengangguk “Terima kasih paman, kak Sindy, kak Said.” setelah itu Dian pun pamit undur diri untuk ke sebelah ruangan VVIP tersebut. Ia tetap menolak untuk pulang.


“Pi, cewek cantik tadi siapa?” Tanya Said antusias


Sedangkan Sindy duduk di tempat yang tadi ditempati Dian “Haaahhh lu kalau liat yang bening-bening ajah melotot tuh mata!” Ujar Sindy ketus namun Said tak mengindahkan


“Pi? Cewek yang tadi siapa? Kakek kenal juga ‘kan?” Tak mendapatkan jawaban dari papinya, ia pun beralih ke kakek Arnold


“Memangnya kenapa?”


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Hehe kali ajah dia mau sama aku, langsung aku jadikan istri!” Ucapnya bersemangat


Ardo yang sudah ingin angkat bicara segera ditahan oleh Mike yang baru saja tiba Setelah mengantar Dian ke sebelah ruangan.


“Yaudah nikahin ajah nak Dian, kalau kamu sudah tidak sayang nyawa mu.” Memberikan senyuman mengejek kearah anaknya


Kening Said berkerut heran “Maksudnya?”


“Apa sih? Gua gak ngerti!”


“Maaf tuan muda, sepertinya anda tidak akan pernah bisa mempersunting istri dari tuan Mahendra Ilyas Sam!” Seru Mike menekankan kata-kata nya.


“Apa!!!” Bukan hanya Said yang teriak namun Sindy pun ikut teriak.


“tolong jangan berisik!” Tegur Ardo dengan nada dan tatapan yang dingin.


“Apa maksudnya? Sejak kapan kak Ilyas nikah? Terus gimana caranya kak Ilyas yang datar bisa berhubungan dengan cewek?” Said mencecar pertanyaan.


“Yah namanya Ilyas juga manusia, pasti dia juga bisa menikah lah.” Santai Bagas,


“Haaahhh otak gue jadi ngellek!” Celetuk Sindy


“Loh? Sin, bukannya tadi kamu udah tau yah?”


“Sindy kira tadi, Dian itu pacar kak Ilyas! Tapi udah jadi Istri toh.”


“Yah, Udah di embat duluan rupanya.” Wajahnya terlihat kecewa


“Sudah.. sudah.. bukannya kalian datang kesini untuk menjaga Ilyas, kenapa jadi rebutan istri nya Ilyas!” Seru Kakek Arnold membuat Said cengengesan.


Kenapa kesannya ia jadi pebinor?


.


.


Sesuai perintah kakek Arnold tadi, Dian benar-benar mengistirahatkan tubuh nya. Saat bangun ia bergegas membersihkan badan lalu kembali kedalam ruangan Ilyas.


Diketuknya terlebih dahulu pintu ruangan sang suami. Ia membuka nya dengan perlahan dan nampak disana masih ada keluarga Ilyas.


Mendengar pintu terbuka, sontak mereka berempat menoleh melihat pintu. Dian masuk kedalam dengan perlahan


“Assalamu'alaikum.” Salam Dian


“Wa'alaikum salam.” jawab keempat orang yang sedang duduk di sofa.


Dian terlebih dahulu mendekati brankar lalu mengecup kening suaminya, setelah itu berjalan mendekati sofa. Dan duduk tepat disamping Sindy.


“Kakek, paman, kak Sindy sama kak Said istirahat ajah sekarang. Dian udah cukup kok istirahat nya.” Ucap Dian. Hari sudah malam, dan ia ingat tadi Dian tidur saat masih siang.


“Udah kok tadi, kita tidurnya di sini.” Sindy menjawab


Dian manggut-manggut “Kalian udah makan? Biar nanti Dian suruh bang Ardo.” Dian merasa harus mengganti peran suami nya yang sekarang hanya bisa terbaring diatas ranjang.


Kakek Arnold tersenyum “Syukurlah sekarang kamu sudah bisa mengatur posisimu sebagai atasan. Jangan merendahkan diri lagi!”


Dian balas tersenyum, mengangguk “Iya kek, hubby juga kesal liat Dian kalau merendah terus.” ahh membicarakan suami nya membuat Dian kembali rindu dengan suara ketus Ilyas.


“Oh yah, kamu benar-benar istri Ilyas ‘kan?” Memicingkan mata, Said masih tidak percaya kakak sepupunya yang hanya beda tiga tahun darinya sudah beristri.


Dian terlihat bingung namun tetap menjawab “Iya kak, apa ada yang salah?” Tanyanya dengan suara lembut.


Sial!!


Said mengumpat dalam hati, bagaimana bisa Seorang Mahendra Ilyas Sam yang sekarang berusia 29 tahun itu mempunyai istri yang sangat cantik, lemah lembut dan nampak masih sangat muda.


Said tersenyum “Enggak aku hanya masih belum percaya saja.”


“Hahaha iya benar, kak Ilyas senyum ajah aku gak pernah liat. Tapi sekarang udah punya Istri ajah.” Timpal Sindy


Dian tersenyum kikuk mendengarnya, ia membenarkan perkataan sepupu-sepupu Ilyas. Meringis Membayangkan pertemuan pertama mereka yang berujung di ikat dalam hubungan seumur hidup.


“Kalian ini! Jangan mengejek kakak kalian lagi!” Beralih melihat Dian “Maaf yah nak Dian, Upin Ipin kw ini memang tidak bisa di kontrol, jangan dimasukkan didalam hati.”


“Pi...” Protes keduanya di samakan dengan serial kartun kembar yang sangat disukai anak-anak.


Dian tertawa geli mendengarnya “Haha gak apa-apa paman, yang dibilang mereka juga gak salah kok.” Dengan adanya keluarga Ilyas setidaknya bisa mengobati suasana yang selalu terlihat sedih dari kemarin.


‘Aku gak nyangka keluarga hubby sangat hangat seperti ini’ Ia mengira keluarga suami nya mirip dengan Ilyas yang datar dan menyeramkan, apalagi mata tajamnya yang seakan-akan ingin menguliti apapun yang dilihat.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...*Subscribe yah manteman**😖*...