
Tok.. tok.. tok..
Ardo mengetuk pintu ruangan sang tuan. Setelah mendapatkan sahutan dari dalam ia pun masuk.
Sebelum melapor, Ardo yang terlebih dahulu membungkuk hormat “ Tuan, Bram datang menemui anda.” Ucapnya
Ilyas menghentikan pekerjaannya. Ia mendongak dan tersenyum miring. Akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga “ Suruh dia masuk.”
Ardo mengangguk dan undur diri. Tak lama pintu kembali diketuk. Setelah menyahut masuklah seorang pria paruh baya.
“ Kita bertemu kembali tuan Ilyas.” Brama mencoba untuk tetap santai.
Ilyas berdiri dan duduk di sofa “ Duduklah Bram.” Walaupun Bram lebih tua, yang pasti orang yang harus dihormati disini adalah Ilyas.
Brama pun duduk tepat dihadapan Ilyas “ Apa yang membuat mu datang kesini.” Walaupun sudah tau ia mencoba untuk berpura-pura
“ Tuan saya ingin anda menjelaskan kenapa anda menyerang perusahaan saya. Saya rasa saya tidak pernah menyinggung anda.” Lihatlah, Padahal dia datang untuk mencari penjelasan namun ia yang harus bersikap hormat.
Ilyas tersenyum miring “ Kau memang tidak pernah menyinggung ku.” menjeda ucapannya
“ Kalau begitu..__”
“ Tanyakan pada putramu apa yang sudah ia lakukan.” Perkataan Ilyas Sontak membuat Brama terdiam.
'apa lagi yang kau lakukan Nizam' Gerutu Brama yang sudah tak habis pikir dengan kelakuan putranya
Bram segera membungkuk 'kan badan meminta maaf “ Maafkan putra saya apabila sudah menyinggung anda, tuan.”
Ilyas hanya diam sembari menatap pria paruh baya tersebut. Tak ada rasa kasihan saat melihatnya ia malah muak. Minta maaf? Enak saja, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang lebih buruk kepada istrinya akibat Nizam?
Tak mendapatkan jawaban, Bram semakin dibuat panik “ Akan saya suruh putra saya untuk meminta maaf kepada anda. Karena itu, saya mohon hentikan penyerangan terhadap perusahaan saya.”
Menampilkan senyum menyeringai “ Kau yakin? Memangnya kau tau dimana sekarang anak mu berada.” Sarkas pria tersebut sontak membuat Bram mendongak
“ Ma.. maksud anda tuan.”
“ Mungkin sekarang putramu sudah di fonis penjara seumur hidup.”
Mendengar perkataan Ilyas semakin membuat Bram syok. Ia lantas menatap mata tajam pria tersebut “ Kalau begitu bukankah putra saya sudah mendapatkan hukuman nya? Mengapa anda tetap menyerang perusahaan saya. Padahal saya jelas-jelas tidak ikut campur dalam kekacauan yang dibuat putra saya.” Sudahlah. Ia akan membuang putra bungsunya yang selalu berbuat masalah.
Ilyas menatap nya datar. 'dia membuang putranya bagaikan membuang sampah' Yah walaupun Nizam memang sampah.
“ Bukankah dia putra mu. Kesalahan putra mu Tentu saja akan menjadi kesalahan mu juga yang tidak bisa mendidik nya dengan benar.”
Tak terima perkataan Ilyas “ Tidak tuan, saya sudah tidak menganggap nya sebagai putra saya.”
'menjijikan'
“ Keluarlah. Tidak ada toleransi.” Ucapnya datar
Menangkup kedua tangan didepan dada “ Tuan saya mohon. Hentikan penyerangan anda. Saya akan memastikan putra saya dan keluarga saya tidak akan menyinggung anda lagi.”
Menatap dingin kearah pria paruh baya tersebut “ Putra bejatmu sudah menyentuh istriku. Kira-kira aku akan memaafkan kesalahan mu dan juga keluarga mu begitu saja.”
'i.. istri? Sejak kapan. Tapi tidak mungkin seorang Ilyas akan berbohong mengenai hal itu'
Diberikan tatapan dingin nan tajam membuat nyali Bram menciut. Menunduk dalam-dalam, ia takut namun jika menyerah sekarang sudah pasti ia akan hidup dijalan
Berlutut di lantai “ Tuan saya mohon. Tolong hentikan penyerangan anda.” Ucap nya dengan menyentuhkan kening kelantai.
Bukannya iba, Ilyas malah menikmati nya. Inilah mengapa ia ke perusahaan hari ini. Memanggil bawahannya untuk mengusir Bram yang masih setia berlutut dan terus meminta maaf
Ceklek..
Ardo datang bersama dua orang pengawal berbaju hitam.
“ bawa dia keluar dari sini.” titah Ilyas
Bram sontak bangkit “ Tuan, saya mohon.” ingin memegang kaki Ilyas namun kedua pengawal tersebut langsung mencegah dan menariknya keluar.
Bram terus berteriak meminta maaf namun Ilyas seolah menulikan telinga. Hingga akhirnya pintu kembali tertutup menyisakan Ilyas seorang diri. Dan hari ini juga, Keluarga Mireccle benar-benar hilang bak ditelan bumi.
.........
Dian yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri melihat para pelayan berbondong-bondong keluar mansion.
“ Ada apa? ” Tanya Dian kepada salah seorang pelayan
“ Nyonya, tuan besar tiba-tiba datang.”
“ Tuan besar? Siapa? ”
“ Kakek tuan Ilyas nyonya. Biasanya tuan besar pasti menghubungi jika ingin berkunjung. Tapi sekarang tuan besar datang tiba-tiba. Kalau begitu saya permisi dulu nyonya ingin menyambut tuan besar.” Ucapnya dengan buru-buru dan langsung pergi
Dian bengong ditempat nya. Ia berpikir keras sebelum memutuskan untuk ikut menyambut kakek dari sang suami “ Kenapa hubby gak bilang sih kalau punya kakek.” tunggu bukannya dia memang tidak terlalu mengenal keluarga suaminya.
Sudah berjejer rapi semua pelayan didepan pintu mansion yang berdaun dua besar. Dian segera ambil tempat di samping salah satu pelayan membuat semua pelayan disana tak percaya atas sikap terlalu merendah nyonya nya
'nyonya, anda terlalu baik hati' pekik mereka semua dalam hati
Seorang pria dengan gagahnya masuk kedalam mansion. Menggunakan jas hitam tanpa dasi membuat nya semakin gagah dengan tongkat bercorak naga diujungnya. Rambutnya yang sudah berwarna putih semakin menambah kesan dan aura dingin yang ia punya.
Glek..
Dian menelan salivah nya susah-susah 'Kakek dan cucu sama-sama punya aura yang menakutkan'
Pria tua tersebut berjalan memandangi setiap pelayanan yang ada, Sampai matanya terhenti pada seorang wanita yang tampilannya berbeda sendiri. Dengan langkah tegap walaupun sudah memakai tongkat, pria tersebut melangkah mendekati Dian yang sedari tadi hanya menunduk tak berani angkat kepala
Tepat di depan Dian “ Angkat kepalamu.” suara yang dingin sangat mirip dengan suaminya.
Pelan-pelan Dian mengangkat kepalanya. Dan sekarang dapat ia lihat seorang pria tua yang terlihat masih gagah diusianya yang sudah tak muda lagi.
“ Assalamu'alaikum kek.” Entah keberanian dari mana, Dian mengatakannya. 'Diannnnn apa yang kamu lakukan. Mati.. mati..'
Sampai-sampai semua pelayan dibuat melongo. Mereka semua menelan Saliva nya susah-susah 'keberanian anda sangat luar biasa nyonya'
Terlihat jelas kegugupan dari wanita muda didepannya membuat pria tua itu tersenyum sangat tipis hingga tak ada yang tau “ Wa'alaikum salam.” ia menjawab membuat mereka semua kembali dibuat melongo
'nyonya anda memang luar biasa' yah begitulah pekikan semua orang disana berbeda dengan Dian yang bernafas lega karena salamnya dijawab
“ Siapa namamu.”
“ Dianra kek.” jawab Dian menatap mata tajam yang terlihat sudah banyak keriput disekitar mata
“ Aku dengar bocah itu sudah menikah. Apa kau istrinya? ” Dian terdiam. Bocah? Siapa yang dimaksud? Pikir Dian
“ ma.. maaf tuan besar, saya..__”
“ Aku tidak bicara padamu.” Setengah membentak membuat mereka semua kembali menunduk tak terkecuali Dianra.
Wanita itu semakin takut “ Angkatlah kepalamu. Kau Istri Ilyas bukan? Sebagai istrinya kau tidak boleh menunduk dihadapan orang lain. Harga diri suamimu juga kau bawa.” perkataan tegas tersebut sontak membuat Dian mendongak
“ Maafkan saya kek.”
Arnold Sam, nama pria tua tersebut. Menyunggingkan senyum tipis “ Jangan takut padaku. Aku kakekmu, ayo kita masuk. Tidak baik berbicara didepan pintu.” tatapannya berubah sayu, ia melihat Dian seolah menatap cucu perempuan nya. Suara yang dingin berubah lembut.
Lagi-lagi para pelayan dibuat melongo, namun tak ada yang berani angkat bicara. Dian pun ikut menyunggingkan senyuman manis, Rupanya kakek dari sang suami tak semenakutkan yang ia kira.
“ Ayo kek. Kakek juga pasti lelah.” Ia pun berubah ramah dan mengakrabkan diri. Tanpa Ragu Dian melingkarkan tangan di lengan kakek Arnold.
Arnold terdiam dan menatap tajam kearah tangan Dian yang melingkar di lengannya “ Ah.. maaf kek, kakek gak suka yah.” ingin menarik kembali tangannya namun Kakek Arnold malah mengeratkan nya
“ Tidak. Kakek suka.” tersenyum manis semakin membuat Dian senang berbeda dengan para pelayan yang bengong bahkan ada yang hampir pingsan.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...subscribe yah manteman😖...