
Akhirnya bisa up lagi setelah sekian purnama awokwowk😁🤣
yaudah lah yah, othor cuman pengen bilang Happy New Year🥳 (telat sih:v)
...Happy Reading...
Sarah masih fokus dengan pekerjaannya. Ia hanya akan istirahat apabila sudah waktunya sholat maka ia akan menghentikan pekerjaannya dan memilih untuk menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Meregangkan otot-otot tubuhnya “Ahkkkk akhirnya selesai juga.”
Bunyi kretek-kretek dari perpaduan tulangnya berbunyi nyaring. Merapikan meja kerjanya yang bak kapal pecah. Diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya
Mengembuskan nafas panjang “Udah jam 11 malam lagi. Emangnya masih ada taksi yah jam segini.” tiba-tiba kepalanya pusing memikirkan bagaimana ia pulang tengah malam begini
Ia berdiri sembari mengambil tas yang ada di atas meja “Huh! Ini gara-gara Antartika sialan!” gerutu nya lalu keluar dari dalam ruangan.
Lampu diluar sudah dimatikan semua, hanya beberapa meja yang terlihat masih terang. Entah mengapa tiba-tiba Sarah jadi mengingat perkataan Ayu tadi sore
“Tenanglah Sarah, aku gak percaya sama yang namanya demit. Okey, tenang.. fyuuhhhh.” Menghembuskan nafas pelan lalu mulai melangkah pelan pula.
Lorong-lorong perusahaan mulai sepi, semakin ia berjalan semakin gelap pula pemandangan yang ada.
Langkah Sarah terhenti, di ujung lorong ada lift yang akan ia naiki. Namun lorong tersebut terlihat sangat gelap, ia jadi takut untuk melangkah. Ingin lewat tangga darurat, tapi pasti akan lebih menakutkan
“Astagfirullah.. tenang Sar, istighfar..” memegang tali tas samping yang ia gunakan dan melangkah pelan-pelan menuju ke lift yang ada diujung lorong yang gelap.
Glek..
Sesekali Sarah melihat kanan-kiri lorong. “Ya Allah, lindungilah hamba mu yang lemah ini.” Suaranya mulai bergetar saat ia mendengar suara barang jatuh.
Brakk..
“Astagfirullah..” Mengusap dada yang kian terdengar suara jantung nya yang berdegup kencang.
Kakinya gemetar namun tak menyurutkan langkah Sarah untuk sampai ke lift yang terlihat terang disana.
Tap.. tap.. tap..
Terdengar suara langkah kaki dibelakang nya semakin membuat Sarah bergidik. Tanpa melihat kebelakang ia mempercepat langkahnya.
Keringat dingin sudah mengalir di dahinya, lelah yang tadi ia rasakan tiba-tiba sirna saat mendengar langkah tersebut semakin cepat. Sarah juga tak ingin kalah, dengan langkah yang mulai berlari ia berkomat-kamit membaca ayat kursi didalam hati.
Hingga bruk..
Menjatuhkan kelantai lift, Sarah segera bangkit untuk menutup kembali lift tersebut “Ayolah.. cepat.. cepat..” Menekan-nekan tombol tersebut
Saat lift mulai tertutup langkah tersebut kian mendekat.
“Please.. Cepatlah..”
Tepat saat Tinggal Beberapa senti lift tersebut tertutup, tiba-tiba ada tangan yang menghalanginya.
“Kyaaaa tolong.. ada demit...” Teriak Sarah menutup wajah menggunakan tas samping yang ia punya.
Terdengar seseorang masuk kedalam lift. “To.. tolong, jangan makan saya. Daging saya alot.” Suara Sarah gemetar.
Hening, tak ada jawaban tapi Sarah tau ada sesuatu didepannya. Sangat tinggi, Sarah bahkan masih menutup wajahnya tak berani memuka mata.
“Ja.. jangan bawa saya ke alam mu Mbah, saya cerewet, gak guna, malas, makannya banyak, mbah pasti kerepotan.” Dalam kepanikannya, Sarah masih sempat-sempatnya bernegosiasi.
“Pfffhhh memang nya siapa yang menginginkan mu.” Suara yang sangat tak asing itu membuat Sarah memberanikan diri membuka wajahnya dari tasnya
Matanya berbinar-binar, untuk kedua kalinya ia sangat bersyukur melihat wajah tampan nan menyebalkan atasannya “Hiks.. huaaa Alhamdulillah ternyata cuma pak Ardo.. hiks.. aku kira dem.. hiks.. mit..”
Ardo Terkekeh pelan “Setakut itu kau dengan hantu?”
Sarah menghapus air matanya sembari mengangguk. Ia benar-benar takut tadi, bahkan ia sampai ingin kencing celana. Untunglah hal memalukan itu belum terjadi, kalau tidak mungkin sekarang Ardo akan benar-benar terlihat menyeramkan.
“Hiks.. hiks.. huaaa aku gak mau lembur lagi hiks...” Tangis Sarah tidak bisa berhenti malah semakin keras
“He... Hei.. berhentilah menangis, sudah tidak apa-apa.” Ardo jadi cemas, takut ia dituduh telah membuat Sarah menangis
“Hiks.. air mata saya gak bisa berhenti pak.. hiks..” Kenangan buruk Sarah tentang supranatural dulu membekas didalam diri gadis itu, membuat nya selalu parno dalam hal-hal gaib.
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ardo jadi semakin bingung. Ia memencet tombol lift yang sudah ada dilantai dasar kembali naik. Sekali lagi, Ardo tak ingin ada orang yang melihat Sarah menangis bersama nya, takut ia dituduh telah menyakiti karyawan magang itu.
“Huaa pak gimana dong.. hiks.. air mata saya gak bisa berhenti hiks..”
Bukannya menghindar, Sarah malah membalas pelukan Ardo dengan erat. Trauma yang pernah ia alami membuat nya parno level dewa.
Ardo sedikit terkejut saat mendapatkan balasan dari Sarah, perlahan tangan nya naik mengelus punggung Sarah yang gemetar. Ini kali kedua mereka sedekat ini.
.
.
Setelah acara drama di dalam lift tadi, disinilah mereka sekarang. Didalam mobil yang hening.
‘Ahhkkk tenggelamkan saja aku kedalam laut!!! Malu bangat! Rasanya pengen lompat keluar dari mobil’ Berteriak dalam mobil
Setelah sadar sepenuhnya, Sarah benar-benar malu bukan kepayang. Ia masih mengingat jelas dimana dirinya menangis dalam pelukan Ardo, pria berlebel menyebalkan.
Berbeda dengan Ardo yang malah tenang-tenang saja tanpa beban. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan sedikit cepat mengingat sekarang sudah tengah malam.
“Hmm pak, untuk yang tadi terima kasih dan maaf..” Lirih Sarah menghadap atasannya
Ardo melirik sekilas “Hmm aku hanya melakukan yang seharusnya.” Jawab singkat Ardo “Tapi kenapa kau sangat takut dengan hantu?”
Sarah menunduk sembari saling meremaas-remaas kedua tangannya. Ia ingin bercerita namun entah mengapa ia sedikit takut.
Melihat itu Ardo jadi sedikit mengerti “Tidak perlu kau ceritakan jika itu berat. Aku tidak memaksa mu.”
Sarah mendongak melihat Ardo yang kini juga menatapnya. Tatapan mereka bertemu sejenak sebelum akhirnya Sarah kembali menunduk dan Ardo kembali melihat jalanan.
“Sebenarnya saya punya trauma dengan hal gaib.” Menghela nafas panjang lalu kembali menghirup nya “Waktu kecil saya punya kemampuan yang kata orang mata batin atau indra keenam. Awalnya saya bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang normal, dan semuanya tidak mengganggu saya apalagi bentukannya juga masih normal layaknya manusia biasa...
... tapi lama-kelamaan bentukan mereka.” Mengangkat kedua tangannya berbentuk V sembari menggoyangkan nya naik turun saat menyebut mereka.
“Semakin lama semakin menyeramkan. Awalnya mereka mengabaikan saya, namun entah sejak kapan mereka mulai mengajak saya berkomunikasi. Awalnya saya senang-senang saja apalagi saya merasa dapat teman baru. Saya sangat senang mereka dapat mengerti dan membantu saya, yah awalnya saya sangat senang sampai saat mereka mulai mengajak saya ke alamnya....” Ardo masih diam mendengarkan Sarah bercerita
“...Tentu saja saya menolak, apalagi saya disuruh tinggal disana. Waktu itu mereka masih belum memaksa saya namun lama-kelamaan mereka mulai memaksa bahkan berniat mencelakai saya. Dan yang paling fatalnya saya hampir dibuat innalilahi saat mereka sengaja mendorong saya ke jalan raya yang saat itu tengah lampu hijau. Walaupun tabrakan itu berhasil, untung saja saya juga berhasil selamat. Dan mulai saat itu mata batin saya ditutup.” Sarah bercerita panjang kali lebar
‘Pantas saja dia terlihat sangat ketakutan tadi’ Monolog Ardo dalam hati
“Tapi Syukurlah, kau masih selamat. Lain kali kalau kau lembur, sebelum pulang datanglah ke ruanganku. Aku akan mengantarmu pulang.” Entah dari mana pikiran itu berasal. Ardo merasa bersalah dan juga ingin melindungi Sarah
Perkataan Ardo sontak membuat Sarah menoleh melihat nya. Apakah dia tidak salah dengar?
“Emm oh yah pak, bukannya pekerjaan pak Ardo sudah selesai tadi sore? Kenapa pak Ardo ambil jatah lembur?” Padahal semua pekerjaan dilimpahkan kepadanya, mengapa atasannya itu ambil lembur juga.
Ardo terdiam ”... terserah saya mau lembur atau tidak. Memangnya ada larangan untuk lembur?” Suara dinginnya yang khas keluar lagi
Memicingkan mata, Sarah masih tidak percaya. ‘Apa mungkin pak Ardo sengaja menunggu ku? Tapi itu tidak mungkin’ masih bergelut dalam pikirannya
‘Kalau begitu bagaimana bisa pak Ardo bisa ada di lift pegawai biasa? Kenapa tidak memakai lift khusus petinggi perusahaan yang biasa pak Ardo pakai?, Apa memang mungkin...’ Entah darimana rasa kekaguman itu datang.
Wajah yang selalu terlihat menyebalkan dimata Sarah, kini berubah menjadi kekaguman. Menatap lekat wajah tampan atasannya ‘Dia memang tampan’
Deg...
Dadanya bergemuruh, sontak ia langsung menurunkan pandangannya menatap jari-jari tangan yang masih saling remaas diatas pangkuan. Suara jantungnya kian bergemuruh hebat. Ia jadi gugup berdekatan dengan Ardo.
“Kau kenapa?” Tanya Ardo saat melihat Sarah yang hanya menunduk
Sontak ia mendongak menatap wajah tampan didepannya. Lalu buru-buru ia kembali mendunduk “Apa sudah sampai pak?”
“iya, kau kenapa?”
Menggaruk kepalanya yang tertutup “Hehe gak apa-apa pak. Kalau gitu makasih untuk tumpangannya pak.” Keluar dari dalam mobil
Setelah berpamitan, mobil Ardo pun berlalu pergi. Sarah masih disana memandangi mobil Ardo hingga tak terlihat.
“Hahhh... Kok aku gugup sih..” Memegang pipinya yang entah mengapa terasa panas
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...