
Ilyas berjalan cepat masuk kedalam mansion diikuti oleh sang istri. Ia masih kesal mengingat Istri nya yang membela Malik kundang.
“By.. tunggu dulu..” Mengejar Ilyas yang sangat terlihat dia sedang marah
Ilyas tak menghiraukan dan tetap berjalan. Dian mempercepat langkahnya “By.. kumohon..” berlari secepat mungkin.
Para pelayan hanya terdiam melihat tuannya untuk pertama kalinya seperti kesal terhadap Dian
Ilyas masuk kedalam lift, dengan langkah cepat Dian pun masuk mengikuti. Didalam lift sangat hening
Sampai Dian pun angkat bicara “By.. hubby kenapa? Dian ada salah?” Memegang lengan sang suami
Ilyas lagi-lagi hanya diam, hatinya masih dongkol. Saat ia mengingat bagaimana Dian menghentikan Mike saat itu untuk memukul Malik.
Masuk kedalam kamar, lagi-lagi Ilyas tak banyak bicara semakin membuat Dian kalang kabut. Walaupun suami nya itu irit bicara, namun Ilyas sama sekali tidak pernah mengabaikannya.
Tiba-tiba sesak menghantam sanubari Dian, jantung serasa diremaas melihat Suaminya terang-terangan mengabaikan panggilan nya.
“By...”
Buukk..
“Ahkk..” tersandung kakinya sendiri, akhirnya ia jatuh bebas dilantai yang dingin.
Sontak Ilyas langsung berbalik, dengan langkah cepat ia menghampiri sang istri yang terduduk dilantai. jongkok, mensejahterakan diri nya dengan istrinya “Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang sakit ‘kan?” Kekhawatiran mulai melanda. Rasa kesalnya hilang begitu saja
“Hiks.. hiks.. Maafin Dian kalau Dian udah bikin kesalahan.. hiks.. ” Luruh juga air mata yang sedari tadi ditahan. Mana kakinya juga sakit, semakin kencanglah ia menangis.
Ilyas segera memeluk tubuh istrinya. Dielusnya kepala Dian dengan sayang, ada rasa sesal yang menghantam saat melihat air mata Dian jatuh.
“Hiks.. Dian gak sanggup lihat hubby cuekin Dian. Mending hubby marah-marah ajah daripada cuekin Dian.” Membenamkan wajahnya didada bidang sang suami
Mengeratkan pelukan “Iya, berhentilah menangis. Aku memang marah padamu, karena itu berhentilah menangis dan aku akan mengatakan alasan aku marah padamu.”
Ilyas yang memang tidak tau bagaimana caranya membujuk seseorang akhirnya mengeluarkan apa Yang ia pikirkan. Dian mendongak menatap suaminya “Benar?”
Menghapus air mata sang istri lalu mengangguk “Iya.”
Secepat kilat Dian menghapus air matanya, ia sangat penasaran alasan suaminya marah. Padahal tidak pernah sekalipun Ilyas marah padanya sampai mengabaikan nya.
“Katakan alasannya by.” Ia sudah tidak sabar
Ilyas tidak menjawab, di gendong sang istri lalu meletakkan nya dengan perlahan diatas ranjang. Ia pun ikut naik dan mengukung tubuh mungil istrinya.
Melepas hijab Dian lalu dibuangnya begitu saja “Apa kamu masih mempunyai rasa dengan mantan suamimu?” Menyebut nama Malik saja ia tidak Sudi.
Dian menggeleng cepat “Tidak. Perasaan itu sudah lama mati.” Jawabnya dengan tegas
Ilyas tersenyum tipis “Aku harap seperti itu.” Mencium kening Dian
Dian memejamkan mata menikmati ciuman Suaminya di kening “Tapi kenapa hubby marah pada Dian?” Tanyanya setelah Ilyas melepas ciuman tersebut
“Kamu membela Malik kundang itu saat Mike ingin memukul nya." Ketus Ilyas
Kening Dian berkerut. Malik kundang? Ia terkekeh, ada-ada saja julukan yang keluar dari mulut pria yang sedang mengukungnya.
“Dian cuman gak pengen bang Mike kena masalah udah mukulin mas Malik dihadapan banyak orang. Nanti kalau bang Mike dilaporkan ke kantor polisi, istri sama anaknya pasti sedih. Karena itu Dian hentiin bang Mike. Lagian satu pukulan ajah udah buat hidung mas Malik berdarah, gimana kalau diterusin?” Membayangkan nya saja sudah membuat Dian bergidik
“Pasti patahlah.” Celetuk Ilyas
Dian terkekeh “Nah itu tau.” Mengelus rahang tegas suaminya.
Diambilnya tangan mungil Dian lalu lagi-lagi ia kecup. Hal yang selalu ia lakukan.
“Untuk menghukumku yang sudah membuat istriku menangis, aku akan menyerahkan tubuh ku malam ini. Lakukanlah semau mu.” Mengerling nakal
Blushh..
“Ishh mana ada hukuman yang menguntungkan!” Mencebik. Sejak kapan suaminya pandai bermain kata untuk menggoda nya?
Dengan sekali hentakan, Ilyas membalik posisi mereka. Sekarang tubuh mungil Dian sudah duduk diatas perut kotak-kotak sang suami.
Membuka satu persatu kancing kemejanya membuat Dian semakin kalang kabut. “By.. jangan dibuka..” Lirih Dia, ia sama sekali tidak bisa Meninggikan suara
Diambil nya tangan kanan sang istri lalu menempelkan nya di dada bidang yang sudah terekspos “Aku milikmu malam ini, sayang.” dengan tatapan menggoda dan senyuman menyeringai yang menggoda
Semakin merona lah wajah Dian. Tanpa ba bi bu lagi Ilyas langsung menerkam istrinya. Mencari kenikmatan surga dunia, bersama-sama Menggapai puncak kenikmatan tatkala semburat keluar dari dalam Tower Ilyas dan masuk memenuhi tubuh bagian bawah sang istri. Disertai dengan suara nakal yang menggoda.
.........
Dian berinisiatif ingin membelikan Ilyas pakaian santai. Semua pakaian suaminya kecuali piyama hanya kemeja, karena itu Dian ingin membeli beberapa pakaian santai untuk sang suami.
Dian masuk kedalam sebuah butik. Ia mulai melihat-lihat beberapa pakaian santai, setidaknya Dian tau pakaian yang harus diapakai Ilyas bukanlah pakaian yang harganya tiga seratus.
Selesai berbelanja pakaian, dengan menenteng dua paper bag Dian keluar dari sana. Ia melangkahkan kakinya dengan senang, setidaknya ia ingin jalan-jalan. Apalagi sekarang akhirnya ia bebas setelah hampir dua bulan ia dikurung akibat penculikan waktu itu.
“Hmm sekarang kemana lagi yah?” Gumam nya melihat-lihat.
Sangat banyak orang yang datang. Tidak ada yang sendiri seperti dirinya. Menghela nafas panjang lalu membuangnya
“Seandainya ada Sarah, aku pasti gak akan kesepian.” ia tetap melangkah sampai langkahnya terhenti disebuah toko boneka
“Wah... Imut-imut.” Tanpa sadar ia masuk kedalam. Ada banyak Boneka dan pengunjung yang rata-rata bersama anak kecil.
Seumur hidupnya, baru kali ini Dian melihat boneka yang asli. Selama ini ia tidak pernah mengutarakan keinginannya yang sebenarnya. Walau bagaimanapun Dian juga seorang wanita, apalagi usianya baru 21 tahun, jiwa kegadisannya tentu meronta melihat banyaknya benda menggemaskan didepannya.
“Gimana nih? Aku pengen, tapi..” ia bimbang, takut jika apa yang ia beli akan mengganggu suaminya.
“Ada yang bisa saya bantu, nona?” Seorang karyawan disana mendatangi Dian yang terlihat bingung.
“Apa anda sedang mencari Boneka untuk adik atau keponakan anda?, Atau nona sendiri yang ingin boneka?”
“Emm.. ti.. tidak, saya hanya melihat-lihat. Emm kalau boleh tau Boneka yang ada gambar bulat-bulat nya itu...” Menunjuk kesalah satu Boneka yang dipajang disana. Benda yang sudah menarik perhatiannya
“Oh.. itu namanya boneka boba nona. Sesuai namanya, boneka boba dibuat berdasarkan minuman boba. Boneka itu salah satu yang paling diminati, karena terlihat sangat menggemaskan dan juga lembut. Walaupun trend nya sudah lewat satu tahun lalu, tapi tidak menyurutkan kepopuleran nya. Panjangnya sekitar 55 cm.” Jelas panjang lebar karyawan wanita itu.
Dian manggut-manggut. Boneka boba berwarna cokelat yang terlihat sangat besat itu menarik perhatiannya, tapi lagi-lagi ia harus memikirkan bagaimana pendapat suaminya.
Dian tidak ingin barang-barang yang ia beli membuat Ilyas tidak nyaman. Apalagi boneka boba yang lumayan besar.
“emm maaf mbak, dompet saya ketinggalan.” Alasan klasik yang selalu digunakan saat tidak punya uang akhirnya keluar. Walaupun sebenarnya Dian membawa black card yang diberikan Ilyas.
Karyawan wanita itu hanya tersenyum. Ia melihat kepergian Dian dengan wajah yang tetap melukiskan senyuman tulus. “Yah hidup memang gak gampang. Perlu kebohongan untuk mempertahankan harga diri.”
.........
“Aturan yang baru akan dilaksanakan tiga hari lagi! Selama waktu yang diberikan, kalian harus mempersiapkan diri.” Ucap Ardo tegas pada para ketua departemen.
Hari ini Ilyas mengadakan rapat kedisiplinan sesuai dengan rencananya saat Dian datang berkunjung. Bukan hanya tentang masalah bolos, namun juga mengenai pakaian yang menurut Ilyas sangat tidak sopan.
Akhirnya Ilyas sadar apa yang membuat istrinya kesal saat dikantor kala itu. ‘Untunglah Mike memberitahukan nya’
Setelah rapat, Ilyas segera masuk kedalam ruangan nya. Menjatuhkan bokong kekursi kebesarannya.
Menghembuskan nafas panjang. Ia baru sadar, rata-rata para karyawan perempuan yang tidak berhijab semuanya memakai pakaian mini. Bagian rok yang setinggi diatas lutut dengan spam yang terlalu ketat membuat bokongnya tercetak jelas. Belum lagi dengan kemeja yang sangat ketat. Bahkan dua aset berharga itu nampak tumpah dari tempatnya.
Semakin memikirkan hal itu semakin membuat kepala Ilyas sakit. Ia lebih suka melihat perempuan berpakaian tertutup sama seperti sang istri. Tidak, tidak akan ada yang bisa mengalahkan Istri nya.
Membayangkan wajah cantik nan teduh Dian membuat Ilyas tak dapat menahan senyum. Ia tiba-tiba merindukan istri nya
“Hmm istri ku memang yang tercantik.” menatap langit-langit ruangan membayangkan wajah istrinya yang sedang tersenyum kearahnya.
Ting...
Satu pesan muncul dari ponsel, karena sekarang memang sedang senggang. Ilyas tak lama-lama dan langsung melihat isi pesan.
Senyumnya kian mengembang tatkala melihat pembayaran yang dilakukan black card yang sempat ia berikan pada Dian
“Berbelanja dengan istri juga tidak buruk.” Bangkit dari duduknya sembari menelpon Ardo untuk datang ke ruangannya.
Ia menyerahkan urusan perusahaan pada Ardo. Sekarang perusahaan sudah sedikit santai, jadi Ilyas bisa lepas tangan. Setelah itu dengan segera Ilyas Keluar dari dalam perusahaan dan masuk kedalam mobil.
Ilyas berniat mengemudi sendiri. Setelah menelpon bawahannya yang menjaga Dian dari jauh, Ilyas pun berangkat ke pusat perbelanjaan yang dikatakan bawahannya.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...