
Dian duduk ditaman yang ada didalam mall tersebut. Banyak orang yang juga ikut beristirahat disana, ada juga yang sekedar foto-foto mengabadikan momen bersama teman atau orang yang berharga.
Berbeda dengan Dian, wanita cantik itu sedang menenangkan pikirannya. Ia masih belum berbelanja barang lain selain beberapa stel pakaian untuk sang suami.
“Permisi, maaf bisa tolong fotokan kami gak?” Tiga orang perempuan sebaya Dian datang menghampiri sembari menyodorkan ponsel
Dian tersenyum “Boleh.”
Ketiga wanita itu nampak bergaya untuk berfoto. Setelah itu Dian mengembalikan ponsel tersebut “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Jawab Dian. Jujur saja ia juga ingin seperti ketiga wanita itu, bersenang-senang layaknya seorang anak muda namun masih dalam batas wajar.
Kehidupan yang selama ini ia jalani selalu serius dan sangat jarang ia menikmati hidup.
Dian kembali duduk ditempatnya. Dikeluarkan ponsel yang pernah Ilyas berikan padanya lalu mengirim pesan untuk sang suami.
“Hahhh capek banget gue.”
“Sama, skripsi gue ditolak mulu. Huaa hiks.. hidup memang keras.”
“Yealah gitu ajah ngeluh lu pada.”
“Ck lu mah gampang. Otak lu kan pintar nah kami yang bisanya cuman nyontek pas ujian sekolah. Gimana.”
“Hahhh udahlah kita hura-hura untuk hari ini sebelum menghadapi kenyataan yang sangat amat pahit. Huaa tugas gue banyak bangat.”
Samar-samar Dian bisa mendengar percakapan yang tengah merundungi nasib mereka, sebelum akhirnya ketiga wanita itu pergi dari sana.
“Kuliah?..” Menunduk, tiba-tiba ia juga jadi ingin kuliah seperti orang-orang pada umumnya.
.........
Ilyas melepas jas serta dasinya sebelum keluar mobil. Ia juga menggulung lengan kemeja hitam yang ia gunakan Sampai siku, sedangkan rambut klimakss nya ia acak-acak agar lebih berantakan berharap nanti istri nya bersedia membenarkan nya. Dua kancing atas kemeja ia buka memperlihatkan sedikit bagian dada bidangnya.
Dengan langkah yang tegas, Ilyas keluar dari dalam mobil menggunakan kaca mata hitam. Lagi-lagi Ilyas selalu menjadi pusat perhatian. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas, berperawakan dingin membuatnya semakin digilai kaum hawa.
Ilyas terus berjalan, dan sekali-kali melihat pesan yang dikirimkan anak buahnya tentang lokasi sang istri sekarang.
Ilyas tersenyum tipis tatkala Melihat Dian yang duduk sendiri ditaman Mall memunggunginya.
Ting..
Satu pesan muncul, rupanya itu dari istrinya. Hati Ilyas semakin berbunga-bunga saat melihat isi pesan Dian yang mengatakan rindu kepada nya.
Dengan langkah cepat Ilyas ingin menghampiri istrinya. Dilihatnya sang istri yang duduk dikursi taman mall. Setengah berlari, Ilyas segera menghampiri sang istri
“Enaknya, aku juga pengen kuliah.” Gumam Dian tanpa sadar. langkah Ilyas terhenti saat mendengar gumaman Dian.
Lalu kembali melangkahkan kaki nya “Sayang.” Panggil Ilyas cukup keras membuat orang-orang yang dari tadi memperhatikan Ilyas menjadi salah tingkah.
Dian berbalik, bukannya senang Dian malah heran mengapa Ilyas ada disini “Hubby?” Ilyas berjalan Cepat, pas tepat didepan istrinya ia langsung memeluk tubuh Dian semakin membuat orang-orang berteriak gemas.
Merasa terganggu dengan bahasa isyarat, Ilyas menyuruh anak buahnya untuk mengamankan lokasi.
“By, ini tempat umum.” Mendorong dada Ilyas namun lagi-lagi suami keras kepala nya itu malah semakin mengeratkan pelukan
“Aku memeluk istriku sendiri. Itu tidak salah ‘kan?” Entah darimana sikap cuek Ilyas
“Tapi kok hubby bisa ada disini?” Mendongak melihat suaminya
“Aku datang menemani istriku berbelanja.” Jawaban Ilyas membuat Dian Tersenyum lebar, dibalasnya pelukan sang suami.
Dian melepas pelukannya lalu mendongak melihat wajah tampan sang suami. Dilepasnya kacamata Ilyas lalu merapikan rambut berantakan sang suami. Sepertinya rencana mencari perhatian Dian berhasil.
“Hmm bagaimana pun gaya rambut hubby tetap ajah tampan.”
Ilyas yang masih belum melepas pelukannya dari pinggang Dian hanya mengulum senyum dalam hati ‘Istriku memang yang paling cantik’
“Hanya itu yang kamu beli?” Menunjuk dua paper bag yang ada diatas kursi taman
“Hmm kita-kita jalan yuk.” Melepas pelukan suaminya lalu mengambil paper bag tersebut.
Dengan bergandengan tangan mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan didalam mall, entah apa yang akan mereka lihat sehingga memutuskan jalan-jalan didalam mall.
Tampak keduanya saling bercanda walaupun kebanyakan Dian yang berbicara sedangkan Ilyas hanya diam dan sesekali menimpali. Lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian, apalagi para gadis yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Ilyas.
Dian melihat sekelilingnya, ada rasa minder yang ia rasakan saat melihat penampilan para gadis yang menatap kagum suaminya. Terlihat sangat modis dan pastinya berpendidikan.
“Aku juga pengen kuliah.” Lirih Dian sangat kecil hampir bergumam, namun gumaman nya itu masih mampu didengar Ilyas yang dari tadi menggandeng erat tangan Dian.
Ilyas diam dan tidak ingin membahas mengenai hal yang sedari tadi digumamkan istri nya. Dian mendongak menatap wajah tampan Ilyas yang sedang memakai kacamata. Lagi, rasa minder mendera tatkala ia mengingat seberapa sempura nya Ilyas berbanding terbalik dengan dirinya yang tak ada apa-apa.
Ilyas balik menatap sang istri “Ada apa?” Tanyanya dengan lembut
“E.. ehem.. yah aku memang tampan.” Memalingkan wajah. Telinganya memerah mendengar pujian dari sang istri.
Dian tertawa kecil. Hal yang selalu ia lakukan kepada Ilyas, wanita itu sangat suka menggoda suaminya.
Langkah Dian terhenti saat melihat sebuah manekin Pakaian anak-anak
“Hmm kenapa berhenti? Apa ada yang kamu inginkan?” Tanya Ilyas mengelus pipi mulus sang istri
“Emm..” Dian nampak ragu ‘duh.. gimana nih, maneken nya imut bangat’
“Ada apa? Katakan jika ada yang kamu inginkan.” Sebisa mungkin, suami siaga seperti Ilyas akan memberikan apapun itu.
“Hmm.” Memegang tangan suaminya yang ada di pipi “Maneken nya imut yah by..”
Melihat kearah tatapan sang istri “Kamu menginginkan nya? Tunggu disini..” Melangkah kearah terpajangnya manekin tersebut.
“Eh by?” Dian dengan cepat mengikuti suaminya
Terlihat Ilyas menghampiri seorang karyawan pria disana “Berapa maneken ini?” Tanya Ilyas pada salah seorang karyawan pria yang tadi menyambutnya ramah.
“ya? Maaf?” Tentu saja pria itu bingung dengan pertanyaan Ilyas
“Be..”
“Astagfirullah by..” Memegang lengan kekar suaminya
Menunduk melihat Dian “Ada apa sayang? Bukannya kamu ingin maneken ini?”
“Haha maaf yah mas, suami saya memang berlebihan orangnya. Manekin cocoknya memang di taruh disini. Sekali lagi maaf yah mas.” Menampilkan senyuman manis yang sangat terlihat dipaksakan.
Bukan Dian yang menawar manekinnya namun dia yang malu. Dasar, suaminya Memang ada-ada saja.
Menyeret tangan Ilyas “Eh? Bukannya kamu ingin menekin itu?”
Dian tidak menghiraukan, ia menarik tangan suaminya dari sana. Terdengar jelas karyawan pria yang tadi menahan tawa melihat tingkah suaminya.
“Ada apa sayang? Bukannya kamu ingin menekin itu?” Langkah mereka terhenti
Dian berbalik, menghembuskan nafas panjang “Enggak by, Dian cuman bilang manekin itu imut. Bukannya Dian pengen beli menekin.” Menepuk jidat
“Kalau begitu kamu mau beli apa? Dari tadi kita hanya jalan-jalan tanpa berbelanja apapun.” Mengusap pipi Dian dengan lembut. Bisa dia lihat jika istrinya menginginkan sesuatu tapi ragu mengatakannya
“Jangan ragu, aku akan memberikan apapun itu.” Ucapan Ilyas membuat Dian tertawa kecil. Memangnya suaminya itu tuhan? Bisa memberikan apapun yang ia mau? Pikir Dian
“Ada apa? Kenapa kamu tertawa sayang?”
“Hehe enggak by. Sebenarnya ada yang Dian inginkan, tapi...” Menggigit bibir bawahnya
Mengelus bibir Dian “Jangan di gigit. Katakan kamu mau apa, aku tidak akan melarang mu.”
“Janji yah jangan marah.” Ilyas mengangguk
.
.
‘Toko boneka? Apa istriku ingin boneka?’ Terkekeh dalam hati ‘bukannya dia lebih menggemaskan daripada boneka’
“Kamu mau yang mana sayang?” Tanya Ilyas saat melihat istrinya hanya diam
“Hmm tunggu dulu by.” Dian menghampiri karyawan wanita yang tadi dia temui
“Ada yang bisa saya bantu nona?” Menampilkan senyuman manis ‘ini wanita yang tadi katanya dompetnya ketinggalan ‘kan? Apa jangan-jangan memang dompetnya ketinggalan’
“Saya ingin beli boneka boba yang tadi saya lihat mbak.” Jawab Dian bersemangat
“Boneka boba? Itu boneka apa?” Tanya Ilyas yang datang dari belakang sang istri
“Hubby liat ajah nanti.”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...*Subscribe yah manteman**😖*...