
Sesuai perkataan nya semalam, Sarah datang ke rumah sakit untuk menjenguk atasannya. Dengan membawa buah tangan ia melangkahkan kakinya di loby rumah sakit.
Namun langkah gadis itu terhenti tatkala melihat tambatan hatinya yang sedang jalan didepannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan lewat mulut.
“Ingat Sar! Jaga batasan!” Setelah mengatakan hal itu ia pun mempercepat langkahnya, menghampiri Ardo yang tengah fokus dengan ponsel sembari berjalan
“Assalamu'alaikum pak.”
Suara seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu mengintai dikepala tiba-tiba terdengar “Wa'alaikum salam.” jawabnya singkat tanpa melihat sumber suara
“Aku dengar tuan Ilyas sudah sadar.” Sarah mencoba basa-basi
“Alhamdulillah, tuan Ilyas sudah sadar.” Balasnya singkat
Sarah hanya mengangguk. Mereka pun berjalan sejajar tanpa sepatah katapun membuat Ardo sedikit heran, kenapa terasa sangat sepi? Padahal biasanya Sarah tidak akan habis topik pembicaraan nya.
Namun Ardo tidak terlalu memikirkannya. Mungkin saja Sarah sedang sariawan? Pikirnya.
“Kak Beno!” Sapa Sarah kepada pria berkacamata tersebut.
Dokter Beno berhenti lalu menoleh kearah Sarah sembari tersenyum “Sarah. Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik. Kak Beno sendiri gimana?”
“Alhamdulillah baik, datang jenguk tuan Ilyas?” Sarah mengangguk “Iya kak, gimana kerjaan kakak? Pasti sibuk bangat yah.”
“Yah namanya juga kerjaan dek. Gimana kabar Uma sama abah?” Dokter Beno terlihat sangat akrab dengan Sarah
“Tanya ajah sama orangnya. Makanya sering-sering ke rumah dong, ini udah hampir satu bulan kakak gak ke rumah.” Memonyongkan bibirnya.
Dokter Beno terkekeh geli “Iya.. iya.. maaf, lain kali kakak datang deh.” Mengusap kepala Sarah
“Udah yah kak, aku pergi dulu.” Dokter Beno mengangguk. Setelah nya Sarah pun pergi dari hadapan Beno.
Tanpa keduanya sadari ada hati dan mata yang memanas melihat kedekatan keduanya. Ardo, yah pria itu tak langsung pergi meninggalkan Sarah begitu saja. Dia mengintip di balik tembok memperhatikan Sarah dan Beno yang terlihat sangat akrab
“Apa karena laki-laki itu kau menjaga jarak!” Geram Ardo mengepalkan tangannya. Ada rasa sesak di hati tatkala melihat kedekatan keduanya. Makin sesak saat membayangkan Sarah bersanding dengan pria lain.
“Perasaan apa ini?”
Ardo menghembuskan nafas kasar. Ia segera berlalu saat melihat Sarah yang kian mendekat.
Sedangkan di sisi lain
Setelah menyuapi sang suami, Dian kembali duduk di samping Ilyas sembari menyandarkan kepala di bahu pria tersebut.
Said masih terdiam, mencerna pemandangan yang dilihatnya sekarang. “Kak? Lu udah ingat semuanya?” Tanya nya
Ilyas hanya melirik sekilas lalu kembali merangkul pundak istrinya “Tidak, masih ada yang tidak aku ingat.” Jawabnya kemudian
“Tapi syukurlah, hubby gak ngusir Dian kaya di sinetron-sinetron. Terus cinta masa lalu hubby datang dan hanya dia yang hubby ingat.” Ia mengingat film yang pernah ia tonton. Bukan dirinya yang merasakan namun ia yang merasakan sesak didada, walau begitu untuk di skip juga terasa sayang.
Said dan kakek Arnold tertawa geli “Ini dunia nyata dek, ya kali ada yang kaya gitu.”
“Dan tidak mungkin Ilyas punya cinta masa lalu. Lihat saja wajahnya yang tampan tapi menyeramkan.” Timpal kakek Arnold
Sedangkan Ilyas tak mengindahkan perkataan kedua nyamuk disana, ia hanya fokus melihat istrinya yang terlihat menggemaskan ‘Sudah ku duga. Tidak mungkin diriku dulu tidak jatuh cinta padanya’
“Oh yah by, kalau misalkan kamu belum bisa mengingat tentang Dian. Gimana kalau kita ke rumah Dian setelah keluar dari rumah sakit.” Ajaknya mengeluarkan ide semalam
“Rumah mu?” Beo Ilyas
Dian mengangguk “iya, rumahku. Tempat kita pernah menikah dulu.”
Ilyas terdiam lalu memegang kepalanya, ada sebuah ingatan yang tiba-tiba terlintas. Hanya sepersekian detik dan itu hanya memperhatikan air mata Dian saat mencoba menjelaskan kejadian sebenarnya. Ada rasa kesal yang hadir di diri Ilyas saat mengingat wajah istrinya yang penuh air mata saat itu.
“Eh? Jadi kalian menikah di rumah mu dek?” Said angkat bicara. Ia memang tak tau bagaimana proses sampai kakaknya dan Dian bisa menikah.
Dian sudah ingin angkat bicara namun, “Dian kakak iparmu. Panggil istriku dengan benar!” Tandas Ilyas kesal mendengar panggilan yang disematkan Said kepada istri nya.
Panggilan 'adek' yang sama dengan panggilan yang disematkan Malik dulu. Entahlah walaupun tak mengingat nya namun Ilyas merasa kesal mendengar panggilan itu.
“Terus harus panggil kakak ipar, kak? Tapi aneh banget loh. Dian baru berusia 21 tahun, sedangkan gue udah 26 tahun.” protes Said
“Gak papa by, lagian benar yang dibilang kak Said.” Dian menyela
“Tidak ada bantahan!” Ilyas tetaplah Ilyas. Walaupun masih terserang amnesia sementara ia tetap tidak ingin dibantah
Said akhirnya mengalah daripada haus berurusan yang lebih panjang dengan kakak sepupunya tersebut “Salah sendiri nikahin daun muda” Gerutunya dengan menggumam sangat kecil
“Dasaf posesif!” Umpat Said. Hilang ingatan saja sudah posesif bagaimana jika sudah mengingat semuanya, mungkin Dian sudah di kurung.
Dian hanya tertawa kecil mendengar umpatan Said sedangkan Ilyas seperti biasa tidak mengindahkan, hanya menganggap nya angin lalu.
“Gimana by? Mau kan ke rumah ku?” Dian mengulang pertanyaan.
“Aku ikut saja.” Seru Ilyas santai.
Said hanya bisa melongo “Ckckck kamu apakan kak Ilyas, kakak ipar. Kenapa jadi sangat! penurut?” menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dilihatnya
“Apa kau sudah mengoceh? Sekarang pulanglah!” Ucapan Ilyas berhasil membuat Said mendengus kesal
“Maaf kak, tapi gak bisa. Gue harus nganterin kakak ipar ke kampus.” Kali ini Ilyas yang mendengus. Ada rasa tak rela saat mengingat Istri nya dalam satu mobil dengan pria lain.
Tapi apalah daya ia masih harus beristirahat terlebih dahulu. Dan entah sampai kapan ia harus berbaring ditempat pembaringan orang sakit.
“Benar juga yah.” Melihat jam di dinding ruangan tersebut. “Tinggal satu jam lagi.” Ia membuang nafas panjang, ada rasa tak rela meninggalkan suami tampannya, namun ia tak mungkin bolos kuliah ‘kan? Apalagi dirinya sendiri yang menginginkan berkuliah terlebih dahulu.
“Bersiaplah nak. Biar kakek yang menjaga suamimu, jangan khawatir.” Seru kakek Arnold yang dapat melihat keraguan dikedua mata Dian
Dian masih nampak ragu, apa ia tidak bisa bolos hari ini? Tapi, kalau ia bolos pasti bisa dapat masalah lagi. Yah tapi jika pihak kampus tau siapa suami Dian, sudah pasti mereka akan sangat memaklumi.
“Apa gak apa-apa? Tapi, Dian..”
“Sudahlah, pergilah.” Mengusap kerudung Istri nya
Dian menghembuskan nafas panjang lalu mengangguk, ia pun masuk kedalam kamar mandi sembari membawa paper bag yang terdapat pakaian ganti.
Tok... Tok... Tok...
Tak lama muncullah Ardo membawa tas dan juga beberapa perlengkapan kuliah Dian. Ardo menaruhnya di atas meja, lalu membungkukkan badan nya kearah sang bos
“Kirimkan perkembangan perusahaan tiga tahun ini. Dan jelaskan poin-poin pentingnya.” Titah Ilyas
“Baik tuan.” Ardo pun mulai menjelaskan serinci-rincinya sembari memberikan ponselnya kepada Ilyas untuk memeriksa langsung perkembangan perusahaan.
Said dan kakek Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Ilyas yang tak pernah berubah. Selalu gila kerja, dimana dan kapanpun itu. Pekerjaannya bagaikan istri kedua baginya.
Tak lama terdengar lagi ketukan dari pintu dan tak lama muncullah Sarah sembari membawa buah tangan.
Setelah salam, Sarah masuk lalu menaruh buah tangan yang ia bawa di samping tas Dian. Ia lalu menundukkan kepalanya di hadapan Ilyas
“Selamat atas kesembuhan anda, tuan.” Ucapnya
Ilyas mengerutkan kening, melihat Sarah dengan tatapan penuh tanya. Siapa wanita ini?
Melihat kebingungan sang tuan, Ardo pun menjelaskan “Dia karyawan magang di perusahaan tuan. Dan sekaligus sahabat nyonya.”
Ilyas hanya Manggut-manggut lalu mengibas-ngibaskan tangan, Sarah yang mengerti kode dari atasannya pun memilih duduk di sofa samping Said
“Apa kabar Sar?” Tanya Said. Sarah sering datang saat Ilyas masih koma, karena itu keluarga Ilyas sudah mengenalnya sebagai sahabat Dian dan bawahan Ilyas.
“Alhamdulillah baik. Oh yah, Dian kemana?” Celingak-celinguk mencari keberadaan Dian.
Ceklek..
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...