
Hari terus bergulir, tak terasa sudah satu Minggu pernikahan Dian dan juga Ilyas. Hubungan mereka kian hari kian dekat. Dian bahkan sudah tidur satu ranjang dengan Ilyas. Bahkan mereka selalu melakukan ritual malam sebelum tidur.
Pagi ini Dian sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya bekerja. Setelah menyusunnya di atas ranjang, wanita cantik tersebut berjalan menuju balkon kamar.
Diperhatikan setiap inci kamar tersebut " Benar-benar hampa yah. Putih semua." Tak ada furniture ataupun interior yang menarik.
Saat tengah melamun, tiba-tiba sebuah lengan kekar memeluk dirinya dari belakang. Tentu saja Dian kaget, namun ia tahu siapa itu. Sebuah kepala mendarat di bahunya.
Ilyas menghirup aroma tubuh sang istri dalam-dalam " apa yang kamu lakukan disini? "
" Tidak ada. Oh yah by, hubby emang suka warna putih polos? " Pertanyaan yang sudah lama Dian pendam akhirnya ia keluarkan
“ Tidak. Kenapa? "
" Bukan, tapi kok semua interior di mansion berwarna putih yah, sampai ke gordennya pun warna putih. Bahkan tidak ada furniture dimansion. Bahkan satupun lukisan juga gak ada. Jadi aku kira hubby suka warna putih." Tangan nya naik mengelus pipi sang suami yang ada di bahu
Ilyas terdiam. Bukan karena perkataan Dian benar, tapi ia hanya tak pernah memikirkan hal yang menurutnya tidak penting seperti itu. Dan salahnya lagi, para pelayan tak ada yang berani bertanya kepadanya ataupun merubah sesuatu di mansion tanpa seizin nya.
" By? "
" Hmm." Diambilnya telapak tangan sang istri lalu dikecup telapak tangan mungil tersebut " Itu tidak penting jadi aku tidak memperhatikan nya."
Dian manggut-manggut. Iya juga yah, tidak mungkin suaminya yang datar dan mempunyai tatapan yang menyeramkan akan memikirkan hal seperti interior dan furniture di mansion.
" Lakukanlah sesukamu. Mansion ini juga mansion mu sekarang." Nah kan lagi-lagi perkataan polos dan jujur ini selalu membuat Dian meleleh.
" Kamu yakin? Tapi enggak deh, mansion ini terlalu luas Kalau aku sendiri yang rombak pasti butuh waktu." Melihat luar nya saja Dian sudah menyerah, apalagi kalau disuruh semuanya. Sudahlah ia angkat tangan saja.
Membali tubuh istrinya, tangannya ia lingkarkan kembali di pinggang sang istri " Bodoh! Lalu gunanya pelayan dan uang yang banyak itu untuk apa. Kamu tinggal mengawasi dan menyuruh-nyuruh mereka, biarkan para pelayan yang bekerja."
Satu lagi semburan keluar dari mulut tajam suaminya. Tapi sepertinya Dian sudah sedikit biasa, ia sudah tidak terlalu jengkel bila di sembur menggunakan kata-kata tajam sang suami.
Dian manggut-manggut " ahhhkk by..." Pekik wanita itu saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang suami yang tampannya pari purna namun sifatnya tak kalah pari purna, bikin sakit tenggorokan.
Dengan santai Ilyas mendudukkan tubuh istrinya di atas ranjang. Lalu mengambil dasi " Pakaikan."
Dian mengambil dasi tersebut. Lalu bangun dan bertumpu pada kedua lututnya di atas ranjang. Ilyas sedikit membungkukkan badan, posisi ini lebih nyaman untuk memasang dari daripada dilakukan berdiri. Wanita itu fokus memakaikan suaminya dasi.
Ditepuk nya pelan " Nah sudah selesai." Tersenyum manis. Ilyas juga ikut tersenyum tipis, ditangkup wajah sang istri lalu melabuhkan ciuman bertubi-tubi di wajah Dian.
Walaupun Ilyas kerap kali melakukannya, namun tentu saja Dian tak akan bisa langsung terbiasa. Wajahnya akan tetap memerah diperlakukan manis namun dengan wajah datar suaminya.
" Apa mantan suami mu kerap kali menciummu? " Pertanyaan Ilyas sontak membuat Dian mendongak. Ada apa nih tiba-tiba, pikir Dian
Ingin dijawab tapi sedikit canggung. " Jawab saja."
Dian mengangguk " Yah seperti itulah. Tapi gak sering-sering amat."
" Apa dia selalu mencium kening mu." Dian mengangguk
" Kalau aku salim terus pasti mas Malik cium kening ku." Jawab Dian polos. Tak tahu saja wanita itu bagaimana dalam hati Ilyas yang memaki mantan suaminya
" Kalau bibir mu." Diusapnya bibir ranum sang istri
" Gak terlalu sih. Paling-palingan kalau kami sedang melakukan 'itu' doang baru mas Malik cium bibirku." Entah mengapa ada rasa tak rela dihati Ilyas mendengar perkataan sang istri
'sudahlah itu masa lalunya. Tapi aku tetap tidak rela' sekali lagi Ilyas mencium seluruh wajah sang istri, dan terakhir ia melumaat bibir ranum istrinya
'ini hanya milikku'
Dian pun ikut membalas. Tangan nya ia lingkarkan di leher sang suami. Ciuman mereka semakin panas, Ilyas menggendong Dian ala koala lalu membawanya ke sofa sembari masih berciuman. Pria tersebut mendudukkan diri di sofa, otomatis Dian sekarang ada di pangkuannya mengakangi tubuhnya.
Ciuman mereka masih berlanjut hingga Ilyas menyudahinya. Pria tampan tersebut menyatukan kening nya dengan kening sang istri. Nafas mereka ngos-ngosan
" Intinya dia tidak terlalu sering mencium mu." Dian kembali mengangguk. Jujur saja ciuman yang diberikan Ilyas selama satu Minggu mereka menikah lebih banyak daripada saat menikah selama 5 bulan dengan Malik.
'laki-laki bodoh! Istri nya secantik dan seori ini tapi tidak dicium. Mana cari yang secen' ia menggerutu memaki Malik, tapi ia juga bersyukur. Itu artinya dialah pria pertama yang paling banyak menyentuh istrinya
" Apa setiap malam kalian juga melakukannya? " Pertanyaan yang dapat membuat batin memanas keluar begitu saja.
Dian terdiam. Ia tidak enak untuk mengatakannya. Melihat kekhawatiran sang istri, Ilyas mencoba untuk mengerti tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja. Tangan pria itu naik lalu menyingkap anak rambut Dian ke belakang telinga
" Katakanlah. Aku tidak akan marah." Tentu itu hanya di dalam hati
" Gak terlalu sering. Tidak setiap malam kami melakukannya, soalnya kadang-kadang mas Malik kecapean pulang kerja terus langsung tidur pas sampai rumah."
'pria lemah' Ilyas saja yang seorang CEO, masih bisa menggarap istri nya setiap malam, bahkan kadang dilanjut pas pagi telah datang.
" Jadi, kapan kalian melakukan nya? "
" Hmm hari Minggu. Hanya setiap malam Minggu, kalau Sabtu juga gak bisa. Kadang mas Malik juga sibuk malam sabtunya." Jujur Dian. Bahkan kadang mereka tidak melakukan apapun selama satu bulan. Heran juga kok bisa sang suami menahan hasratnya
Senyum tipis menghiasi bibir Ilyas 'pasti dipuaskan selingkuhan nya. Ck! Laki-laki bodoh, wanita secantik dan seseksi Dian di anggurin' yasudah, Ilyas ambil saja.
Ilyas kembali memagut bibir istrinya lembut lalu melepaskannya. Di kecup kening Dian untuk menghilangkan bekas mantan suaminya, yah walaupun sebenarnya sudah tidak ada " Bersiaplah. Aku tunggu dibawah, tidak perlu buat sarapan. Aku buru-buru."
Dengan perlahan Ilyas menurunkan Dian dari pangkuannya. Dian segera masuk ke walk closet untuk berganti pakaian, ia sudah mandi pagi-pagi buta saat setelah melakukan aktivitas ranjang bersama sang suami.
.........
Ilyas duduk di kursi depan mansion. Ia sedang fokus dengan jadwal-jadwal yang ada di ponselnya. Semua pelayan hanya diam berdiri dan tak ada yang berani menegur ataupun bertanya.
Bahkan Mike dan Ardo pun sama. Mereka hanya melihat sang tuan dengan tatapan heran, kenapa tuannya hanya duduk, padahal mereka buru-buru sekarang.
Sampai Dian datang dari dalam mansion " By, aku kira tadi hubby udah pergi." Mendengar suara istrinya, Ilyas menyimpan ponsel didalam saku dan berdiri
" Hubby gak sarapan dulu by? " Merapikan jas suaminya.
Mereka semua yang ada disana akhirnya mengerti kenapa sang majikan belum berangkat. Rupanya sedang menunggu istrinya datang. Mereka memang bisa melihat hubungan keduanya yang sangat cepat akrab dan dekat, tapi tetap saja setiap perlakuan sesuka hati Dian kepada Ilyas tetap membuat mereka melongo dan menelan salivah nya
'nyonya anda memang sangat berani' yah begitulah kira-kira suara hati mereka
" Tidak, aku buru-buru." Jawab Ilyas santai
" Baiklah, tapi pulang makan siang 'kan? "
Ilyas mengangguk " Pasti." Jawabnya
Dian mengambil tangan suaminya lalu seperti biasa, Dian menyalami tangan kanan sang suami sebagai bentuk hormat dan sopan nya. " As.__"
Tak diduga, Ilyas menangkup pipi istrinya lalu di labuhkan satu kecupan di dahi, kedua pipi nya serta melumaat bibir ranum Dian di depan para pelayan disana. Mata Dian melebar, bukan hanya Dian namun semua orang disana pun sama terkejut nya.
Hanya sebentar, Ilyas pun melepaskan nya " Aku pergi. Assalamu'alaikum."
Dengan wajah yang masih syok " Wa.. wa'alaikum salam." Jawab Dian. Dengan sangan santai, Ilyas masuk kedalam mobil. Ardo yang juga masih terkejut mencoba untuk menyadarkan diri dan ikut masuk kedalam mobil.
Berbeda dengan Mike yang sempat-sempatnya menggoda Dian " nyonya anda memang hebat. Pepet terus nyonya, jangan kasi kendor." Setelah mengatakan itu ia pun bergegas masuk kedalam mobil dan melajukan mobil keluar dari kawasan mansion.
Dian dan para pelayan masih bengong. Saat sadar, rupanya beberapa pelayan disana sudah senyum-senyum malu dengan wajah yang memerah melihat live yang baru saja terjadi
Blushh...
Asap menyembur dari kepala Dian. Wajahnya sangat merah " Wa.. wah.. disini sangat panas.. yah." Mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya
" Haha.. aku masuk dulu yah pak, buk." Dengan jalan cepat, Dian masuk kedalam mansion. Ia benar-benar malu sekarang. Ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya di dalam laut.
Berbeda dengan seseorang di dalam mobil. Seperti tak terjadi sesuatu, Ilyas bersikap seperti itu. Ia melihat-lihat jadwalnya yang sedikit padat. Mengembuskan nafas kasar
" Siapa yang mencat warna putih di mansion? "
" Itu cat aslinya tuan. Memang tidak pernah di ubah selama ini." Jawab Ardo. Kenaoa tiba-tiba bertanya hal tidak penting? Pikir pria itu
" Kalau gorden dan barang-barang lainnya, kenapa semuanya berwarna putih."
" Itu semua inisiatif para pelayan. Mereka hanya menyamakan dengan cat mansion."
" Dian tidak suka dengan furniture mansion. Dia selalu bilang terlalu hampa."
Tentu mereka berdua kaget mendengarnya. Tidak ada yang berani mengeluh selama ini ke tuannya, bahkan terlihat sang tuan sangat memikirkan pendapat istri nya.
" Apa kita ganti saja tuan? "
" Aku memang berencana menggantikannya. Tapi biarkan istriku yang menentukan bagaimana gaya interior, furniture dan pajangan di mansion. Bahkan cat mansion juga ganti."
" Baik tuan. Nanti saya akan menyuruh anak buah saya membantu nyonya."
" Bagus."
Keadaan kembali hening. Tuannya benar-benar berbeda jika berhadapan dengan istrinya. Apapun yang menyangkut sang istri pasti sikap Ilyas akan melembut. Namun itu hanya berlaku untuk istrinya, yang lain masih sama.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...subscribe yah manteman😖...