Dream Wedding

Dream Wedding
Sahabat Ilyas?



Hari-hari berjalan lancar. Semenjak kehamilan Dian, Ilyas sudah tidak pernah pergi ke kantor. Ia akan mengerjakan pekerjaannya di mansion. Apalagi ia juga yang harus mengalami morning sick di pagi hari membuat nya sering merasa lemah, hanya dengan berdekatan dengan sang istri lah yang membuatnya kembali sehat.


Said, Sindy, Bagaskara ayah dari kedua twins tak identik serta kakek Arnold sudah datang berkunjung. Bahkan satu hari setelah mengetahui kabar kehamilan Dian mereka sudah ada di mansion.


Dian juga sudah dilarang untuk masuk kuliah selama hamil dan semua itu tentu pengaturan dari suami tercintanya. Jika Ilyas saja tidak masuk kerja maka jangan harap Dian bisa pergi kampus leluasa.


Alhasil Dian harus mengajukan cuti pada pihak kampus. Ingin protes, pihak kampus tak berani saat melihat latar belakang Dian. Mereka hanya bisa pasrah dan menyetujuinya, apalagi kampus juga sudah ada dibawah kendali seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Yap siapa lagi kalau bukan Ilyas


Kehamilan Dian sudah masuk bulan kelima Karena didalamnya terdapat dua kehidupan maka perut Dian juga lebih besar dibanding dengan kehamilan yang Biasanya.


Kaki Dian juga sudah sering sakit. Perutnya sudah seperti hamil berusia sembilan bulan. Berat, iya memang berat namun setiap mengingat ada dua nyawa didalamnya, rasa berat tadi langsung sirna terbawa kebahagiaan yang melimpah menunggu bayinya lahir.


Malam ini...


Dian yang sedang asik dengan mimpinya tiba-tiba terbangun. Ia dengan perlahan membuka mata. Menyapu seluruh kamar dan berhenti di jam dinding besar yang ada di samping tempat tidur.


Pukul 11 malam


Pandangan Dian turun kearah lengan kekar yang melingkar di pinggang nya. Ia perlahan berbalik dan mendapati suaminya yang tertidur pulas


“ehmm gimana nih..” Gumam Dian.


Pelan-pelan menyingkirkan tangan sang suami lalu ia mendudukkan diri sembari bersandar di sandaran kasur.


Dian terlihat gelisah, ia mengambil ponsel diatas nakas lalu mulai mengetik pencarian.


'Nasi padang'


Saat menekan tombol pencarian, berbagai macam gambar serta cara membuat nasi Padang muncul di halaman pencarian.


Dian memilih membuka gambar-gambar yang ada tanpa ia sadari air liurnya hampir menetas.


Glek..


“Ini pasti enak bangat.” Mengusap gambar nasi Padang yang tengah ia lihat.


Karena belum puas, Dian sampai melihat acara mukbang nasi padang. Mengelus perut yang semakin berbunyi, air liurnya benar-benar tidak bisa untuk tidak turun


Semakin lama menonton, bukannya puas Dian malah semakin mau makan nasi Padang.


Ilyas menggeliat, ia terusik dengan pergerakan sang istri. Apalagi saat tangan nya mulai mencari keberadaan Dian di samping namun yang ia dapatkan malah kaki Istri nya yang menjulur


Pelan-pelan Ilyas membuka mata “Hmm sayang? Ada apa?” Tanya Ilyas mencoba untuk duduk. Ia harus melawan kantuknya


“Ah! By, maaf Dian ganggu yah?”


Ilyas menggeleng sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang istri yang tengah bersandar di sandaran ranjang.


“Ada apa hmm?” Ilyas kembali bertanya dengan mata yang terpejam. Tangannya ia lingkarkan di perut besar Dian


“Ini, Dian pengen makan ini.” Menunjuk ponselnya


Perlahan Ilyas membuka mata, ia ikut menatap layar ponsel Istri nya yang menampilkan orang yang sedang makan nasi Padang dengan porsi yang tidak dapat dicerna oleh pikiran


“Nasi padang?” Celetuk Ilyas. Setidaknya ia tau makanan yang mempunyai nama kota tersebut


Dian mengangguk antusias “Mau.”


Ilyas menatap jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 11.45 malam


Ilyas turun dari ranjang. Ia masuk kedalam walk closet. Dian hanya diam memperhatikan suaminya, ia sedikit bingung apa yang ingin dilakukan sang suami.


Tak lama Ilyas yang keluar sudah lengkap dengan jaketnya, pria yang memperistri janda tersebut menghampiri sang istri


“Kamu tunggu di mansion saja. Biar aku yang keluar.” Ucapnya mencium kening sang istri. Sudah sangat biasa Ilyas menghadapi ngidam Istri nya di tengah malam, biasanya Ilyas dan Dian yang akan pergi keluar namum sekarang Ilyas tidak ingin Istri nya yang tengah hamil besar harus terkena angin malam


“Hah? Kamu mau kemana by?” Menahan tangan suaminya


“Mau kemana lagi, aku ingin mencari nasi Padang.”


Dian menggeleng “Gak usah. Suruh ajah anak buah mu by, hubby temani Dian disini ajah.”


Sebelah alis Ilyas tersangkat “Yakin?” kembali memastikan. Bukan karena apa, tapi biasanya Dian tidak ingin makan jika bukan suaminya yang Langsung turun tangan mencari makanan tersebut.


Dian mengangguk “Iya.” Singkatnya


“Tumben.”


Mencebik “Isshhh di kasi kemudahan malah banyak tanya.” Menarik tangan suaminya untuk duduk kembali di samping “Ayo by, hubungi anak buah mu. Dian udah gak sabar nih.” Menggoyang-goyangkan lengan Suaminya


“iya.. iya..” saat akan mengambil ponsel, kening Ilyas berkerut saat tidak mendapati ponsel nya dan malah ponsel istri nya Yang ada di atas nakas


“Hubby cari ini?” Mengangkat ponsel Ilyas yang ia pakai menonton acara mukbang tadi


Ilyas mengangguk “Coba kamu yang hubungi mereka.”


Dian mengangguk dan mulai mencari nomor yang sering ia lihat Ilyas hubungi saat ia membutuhkan sesuatu kecuali nomor Ardo dan Mike


Setelah mendapatkan nya, Dian mulai mendial nomor tersebut. Nomor yang bertuliskan ‘Sampul’


“Ha..__”


Dian tersentak mendengar seseorang Yang berani berbicara dengan menaikkan beberapa oktaf suaranya


Dian sontak menoleh melihat suaminya “By..”


Ilyas tersenyum tipis “Bicaralah.” Bisiknya


Walaupun merasa aneh. Bagaimana tidak aneh, Suaminya sama sekali tidak tersinggung atau marah saat mendengar penuturan bawahannya yang sedikit... Kasar?


“Halo? Ilyas? Yas? Lu masih disana?”


Dian pelan-pelan membuka suara “ Halo, Assalamu'alaikum.”


Terdengar suara sebuah barang yang jatuh dari seberang telepon “Nyo.. nyonya?”


“emm Assalamu'alaikum..”


“Ah, wa'alaikum salam. I.. ini nyonya?”


Dian mengangguk pelan, walaupun yang diseberang tak melihat “Iya,”


“Astaga nyonya. Maafkan saya, saya tidak bermaksud berbicara kasar seperti tadi. Saya kira tadi yang ada disana tuan Ilyas.”


Kening Dian semakin mengerut, bukannya lebih aneh lagi kalau ada orang yang berani berbilcara kasar kepada seorang Ilyas?


Dian terdiam, ia bingung mau bicara apa. Kembali Dian melirik suaminya, melihat lirikan sang istri. Ilyas Mengambil ponsel yang masih terhubung dengan salah seorang bawahannya


“Halo..”


“Halo? Ilyas? Akhirnya, lu kalau ngasih teleponnya ke bini lu bilang-bilang dong. Jadi bawahan kurang ajar kan gue di mata nyonya.”


Ilyas memutar mata malas mendengar omelan bawahan atau bisa dibilang sahabatnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar sampai saat di perguruan tinggi. Karena itu hanya dia seorang lah yang berani berbicara seenaknya seperti itu pada Ilyas, tentu saja jika mereka hanya berdua.


Samuel, nama pria itu. Walaupun ia lulusan sarjana s1 tapi Samuel lebih memilih membantu Ilyas menjadi bawahannya. Bukan bekerja di perusahaan dengan ruangan ber-Ac, Samuel malah lebih memilih menjadi suruhan Ilyas.


“Istriku ingin makan nasi Padang. Cepat Carikan.” Titahnya dingin


Hening, tidak ada yang balasan sampai... “Tu.. tunggu ja.. jangan bilang istri lu ada disana?”


Ilyas melirik istri nya “Ada yang salah?”


Terdengar umpatan pelan dibalik telepon untuk Ilyas “Baiklah, katakan pada nyonya agar menunggu. Haisss gara-gara lu citra bawahan yang baik dan ramah jadi hilang. Huh!” Ia mendengus diakhir kalimat.


“Bergegaslah jangan banyak bicara.”


“Baik.. baik.. Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikum salam.” Jawab Ilyas sembari kembali mencari video mukbang yang tadi dinonton istrinya


“By.. itu tadi..” Dian masih menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya


Ilyas tersenyum tipis, “Dia temanku, bisa dibilang sahabat mungkin. Sam sudah berteman dengan ku sejak masih Sd dulu. Yah ada beberapa hal yang terjadi hingga membuat Sam menempel padaku.”


Dian kembali tercengan mendengar cerita sang suami. Ia tidak menyangka Suaminya yang datar dan sedikit menyeramkan mempunyai teman? Bahkan sa.. sahabat??!


“Itu benar by?”


Kening Ilyas mengerut “Tentu saja. Kami selalu satu sekolah. Dari Sd sampai masuk kuliah. Walaupun Sam hanya sampai S1 dan lebih memilih menjadi bawahanku dibandingkan mencari tempat kerja yang lain.”


Dian manggut-manggut, “Tapi Dian kayanya belum bertemu Sam itu ‘kan by? Soalnya gak ada satupun bawahan hubby yang pernah Dian lihat bicara seenaknya.”


“Kamu udah sering ketemu. Bahkan mungkin hampir setiap hari.” Perkataan Ilyas sontak membuat kening Dian berkerut berlapis-lapis. Ia semakin penasaran.


Dari balik wajahnya, Ilyas bisa melihat tatapan penuh tanya sang istri “Yang setiap hari mengantar mu ke kampus jika aku tidak bisa. Yang selalu mengantar kita saat ke rumah sakit.”


Dian terdiam “Ha? Ma.. maksudnya bang Samuel? Supir yang selalu bawa kita ke mana-mana itu?” ia tercengang. Bagaimana bisa? Suaminya menempatkan sahabatnya sendiri menjadi supir pribadi


“Iya, dia sendiri yang ingin menjadi supir. Kalau mau tau alasannya tanyakan saja saat bertemu. Lagipula dia juga tidak perlu berpura-pura untuk menjadi bawahan yang patuh dan hormat dihadapan mu.”


“Jadi selama ini dia hanya pura-pura sopan?”


“Yah seperti itulah. Sudah! Tidak perlu dibahas lagi.” Menyodorkan kembali ponselnya yang sudah menampilkan orang berbadan gempal tengah makan nasi Padang dengan porsi yang diluar nalar


Mengerti, Dian memgambil ponsel sang suami dan lanjut menonton. Sedangkan Ilyas membawa kaki Istrinya yang semakin bertambahnya usia kehamilan Dian semakin membengkak ke pangkuan lalu memijat-mijat pelan, hal yang selalu ia lakukan beberapa bulan terakhir.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...