
Jam 4 pagi, Dian terbangun dari tidur. Ia mengerjap beberapa kali, wajah pertama yang ia lihat tentu wajah suaminya yang tidur dengan lelap dihadapan nya.
Ia mengulas senyum, walaupun Ilyas tak mengingat nya namun setidaknya sang Suami juga tak menolak kehadirannya.
Dilayangkan kecupan singkat di kening Ilyas lama dan turun mengecup bibir suaminya. Setelah itu Dian turun dari ranjang. Ia membersihkan badan lalu membuka buku kuliahnya yang sudah ia beli kemarin. Karena Dian sedang datang bulan jadi dia tidak sholat.
Wanita muda itu lebih memilih belajar karena akan di adakan kuis didalam kelas nanti. Syukurlah setidaknya sang dosen tak terlalu keras dan masih berbaik hati memberikan bocoran kepada mereka.
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang memperhatikan nya. Ilyas, pria tersebut terbangun saat Dian mulai menggeliat dan mengerjakan Mata.
‘Rambutnya sangat panjang, cantik’
Namun bukannya langsung bangun, ia malah memperhatikan gerak-gerik Dian dan sangat kaget saat mendapatkan ciuman singkat di bibir. Jantung nya kian berdetak cepat.
“Apa aku benar-benar memperistri nya? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat nya?” Gumam Ilyas.
Melihat keberanian Dian, ia bisa menyimpulkan bahwa selama ini dirinya tak pernah marah atau protes saat dicium atau di apa-apakan oleh Dian. Bahkan mungkin saja ia malah senang mengingat jantung nya yang kini kian berdetak kencang.
Dian masih tak menyadari, ia asik mempelajari materi yang akan masuk kedalam kuis nanti. Tiba-tiba ia melirik kearah ranjang dan dilihatnya sang suami yang sudah terbangun
Sontak Dian menaruh buku yang ia pegang “Kamu udah bangun by,?” Tanyanya berjalan menghampiri Ilyas
Ilyas mencoba untuk duduk di bantu oleh Dian. Saat pertama kali ia tidak ingin disentuh oleh wanita itu sekarang ia malah berpura-pura kesusahan untuk mendapatkan bantuan
“hati-hati by.” Merangkul Ilyas untuk duduk
“Terima kasih.” singkat pria itu
Dian memgambil air minum diatas nakas dan memberikannya kepada Ilyas, setelah nya ia pun duduk di kursi samping ranjang sang suami sembari membaca buku.
Lagi, Ilyas diam memperhatikan istrinya. Sungguh ada rasa yang aneh setiap melihat wanita yang ada di depannya sekarang. Ia seakan-akan ingin memeluk nya erat, mencium nya sampai bibir ranum itu membengkak, mengukung nya di bawah tubuhnya yang kekar. Ahh tiba-tiba pikiran kotor terlintas didalam pikiran nya.
‘apa ini?’ entah dari mana, tapi sebuah bayangan memory terlintas di kepala nya. Panggilan by.. by.. dapat ia dengar. Namun tidak bertahan lama ingatan itu kembali Hilang. Tapi Ilyas bisa menarik kesimpulan, wanita yang selalu memanggilnya dengan by.. by.. adalah wanita yang sekarang sedang ada disampingnya.
Ilyas pria cerdas, dan bertanggung jawab. Ia tak akan menyia-nyiakan setiap informasi yang bisa dia dapatkan. Apalagi ia juga harus bersikap dewasa.
Kembali, Ilyas memperhatikan Dian. Merasa di perhatikan, lantas Dian mendongak menatap sang suami. Netra keduanya bertubrukan dan saling tatap “Ada apa by? Ada yang salah dengan wajah Dian?” Meraba-raba bagian wajahnya. Ia baru bangun takut masih ada sisa iler atau mungkin kotoran di mata. Walaupun ia sudah membersihkan tubuhnya.
Ilyas diam “Ada banyak yang salah.” menatap lekat wajah Dian
“Salah? Bagian mana by?” Ahhkk kalau memang ada bekas iler atau apapun itu, Mending Dian kubur diri Sekarang juga.
Dengan santai, Ilyas berkata “Kau terlau cantik.” ‘dan itu bisa membuat para hidung belang di luar sana memangsa mu!’
Blushh...
Dian dibuat salah tingkah dengan perkataan Ilyas. Wajahnya yang memang sudah kemerah-merahan semakin merah saat mendengar pujian dari suaminya. Di tutup wajahnya menggunakan buku yang ia pegang.
Berbeda dengan Ilyas yang malah Terkekeh dalam hati melihat Dian yang salah tingkah.
Dian berdeham lalu melepas buku tersebut, memalingkan wajah “Kamu gak pernah berubah by.” Serunya Salah tingkah dengan wajah yang semerah tomat
Ilyas tertawa kecil mendengar nya. Apalagi melihat wajah cemberut Dian membuat nya kian menggemaskan di mata nya.
Tersentak dengan tawa kecil yang keluar dari bibir seksi suaminya, Dian lantas menoleh dengan cepat kearah suaminya. Senyumnya tak bisa ia tahan saat melihat wajah sang Suami yang kembali hangat kembali, seakan-akan Ilyas tak pernah kehilangan ingatan nya.
Dian naik keatas ranjang lalu menangkup pipi Ilyas “Apa kamu udah ingat semuanya by?” wajahnya memperlihatkan harapan yang besar.
Kening Ilyas berkerut lalu menggeleng pelan “Tidak.”
Wajah yang tadi penuh harap berubah murung menampilkan kekecewaan yang mendalam. Ia menarik kembali tangannya yang ada di pipi sang suami. Namun Ilyas dengan cepat kembali menarik tangan Lentik istrinya dan di kecupnya telapak tangan Dian.
Blushh...
Lagi, Dian dibuat salah tingkah. Ia benar-benar mirip anak SMA yang sedang kasmaran. Di senggol sedikit berubah merah.
“Aku memang tidak bisa mengingat apapun tentang mu. Tapi..“ Membawa tangan Dian kedada “Aku menyadari sesuatu saat ini.”
Dian diam mendengarkan sembari menatap dalam mata pria nya yang juga menatapnya dengan penuh cinta “Jantung ku selalu berdebar kencang saat bersama mu, aku selalu ingin memelukmu, mencium mu, mengurung mu agar tidak dilihat orang lain.”
Bukan hanya jantung Ilyas, jantung Dian pun ikut berdebar kencang tatkala menatap manik mata sang suami.
“Kalau ini yang dinamakan cinta, mungkin saja aku memang sudah mencintaimu.” Ujarnya santai walaupun dalam hati ia sudah ketar-ketir tak karuan
Dian tertawa kecil, memang yah suaminya adalah orang paling jujur yang pernah ia temui.
“by, kau tau? Ada orang yang gak percaya cinta. Terus dia bilang, kalau pasangan mu hilang ingatan maka cintanya juga akan hilang. Tapi, sepertinya kata-kata itu gak benar, karena cinta gak Mandang memory.” Berhambur memeluk Dian
“Dian juga cinta sama kamu by, sangat-sangat.”
Deg.. deg.. deg...
Jantung Ilyas benar-benar tak terkontrol. Tiba-tiba ia mengingatkan sekelebat ingatan-ingatan yang hilang. Walaupun mengingat nya cukup sakit, namun Ilyas akan menahannya agar tak membuat dirinya semakin bingung.
.
.
“Apa dulu kamu sering seperti ini?” Tanya Ilyas mengusap surai panjang sang istri
Dian mendongak menatap wajah tampan suaminya “Apa kamu gak suka, by?” Menarik kepala nya yang bersandar di bahu Ilyas
Menahan kepala Dian “Bukan tidak suka. Hanya saja dalam ingatan yang samar-samar, aku tidak melihat kamu yang semanja ini.”
Dian menghela nafas lega, ia kira Ilyas tidak suka dirinya menempel padanya “Aku cuman kangen sama kamu by. Bayangin ajah dua Minggu hubby koma, terus pas bangun malah lupa ingatan. Kan kesal.” sungutnya
“Astaga! Aku lupa!” Segera mengambil kembali buku yang sempat ia pelajari tadi.
“Ada apa?”
“Hari ini Dian ada kuis di kelas by. Kalau gak bisa jawab bisa berabe!”
Kening Ilyas berkerut. ‘kelas?’ ia semakin penasaran “Memangnya umurmu sekarang berapa?”
Menelengkan kepala, heran dengan pertanyaan Ilyas. Namun ia tetap menjawab “Tahun ini masuk 21.” Jawabnya santai
Sementara Ilyas hampir menganga mendengarnya, untung saja ia cukup handal dalam mengendalikan mimik wajah ‘Bisa-bisanya aku menikahi anak kecil! Bisa jadi tindak kriminal’
“Memangnya kenapa by?”
“Tidak, aku hanya berpikir. Cinta memang tidak memandang usia yah.”
Dian semakin bingung, ia tertawa pelan “Kamu ada-ada ajah by.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar ruangan “Pakai hijab mu kembali.” Titah Ilyas cepat. Entah mengapa ia tidak rela rambut Istri nya dilihat oleh orang selain dirinya.
Dian segera mengambil hijabnya yang ada di atas kursi samping lalu memakainya. Tak lama terdengar suara ketukan pintu
Dengan cepat Dian membuka pintu tersebut dan nampak lah dokter Beno dan juga dua perawat serta kakek Arnold dan Said.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.” Memberikan jalan untuk keempat orang itu masuk
Dokter Beno datang untuk memeriksa kondisi Ilyas. Sedangkan perawat pria disana mengganti infus Ilyas
“Kapan suami saya bisa pulang dok?”
“Tunggu infusnya habis yah nyonya.” Perkataan yang sempat dikatakan dokter Beno kemarin kembali terdengar hari ini.
Dian berserta kakek Arnold dan juga Said manggut-manggut. Setelah kedua orang itu keluar ruangan, kakek Arnold mendekat dan duduk di kursi sebelah kanan Ilyas sedangkan Said duduk di sofa dekat ranjang.
“Bagaimana kondisi mu? Kemarin aku sudah bertanya tentang kepala mu. Katanya kau hilang ingatan sementara karena tumbukan keras di mobil. Bagaimana? Apa sekarang ada yang sudah kau ingat?” Kakek Arnold bertanya sebagaimana karakter kerasnya
“Aku baik-baik saja.” Jawab Ilyas singkat. Ilyas beralih memandang Said yang duduk sembari memperhatikan nya juga
“Ada apa kak?”
“Apa selama ini kau yang mengantar Dian ke kampus?” Pertanyaan Ilyas membuat kakek Arnold dan Said bingung sedangkan Dian hanya diam saja karena ia memang sempat menceritakan keseharian nya.
Said mengangguk “Iya kak, memangnya kenapa?”
“Bukan apa-apa.” Lalu beralih melihat Dian yang sudah datang ke ranjang sembari membawa mangkuk bubur
“Makan by.” Tandasnya.
Kakek Arnold dan Said dibuat tersenyum lega saat mendengar panggilan Dian kepada Ilyas yang kembali ke jalan yang benar.
“Tanganku..” Melirik tangan nya yang sedang di infus
Dian tersenyum “iya.. iya..” Kenapa tidak langsung bilang ingin di suapi sih, pikir Dian.
Menepuk sebelahnya “Naik kesini sayang.” Titah Ilyas lembut berhasil membuat Said melongo.
Siapa pria yang sedang ada diatas pembaringan rumah sakit itu? Apakah kakaknya yang datar? Tidak mungkin ‘kan.
Sedangkan kakek Arnold hanya mengulum senyum. Syukurlah sang cucu bisa berpikir dewasa dan bertanggung jawab walaupun dalam keadaan yang tak bisa mengingat.
.
.
TBC
Nb. ingatan Ilyas cuman sampai Ilyas yang berumur 26 tahun yah, jadi tiga tahun terakhir si bambang datar gak ingat apa-apa ✌️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...