Dream Wedding

Dream Wedding
Hari pertama masuk kuliah



Sudah satu Minggu lamanya Ilyas tak sadarkan diri. Dian dengan sabar selalu menjaga dan menunggu suami nya. Bahkan rumah sakit sudah menjadi rumah kedua bagi Dian, hari-harinya ia lalui untuk menjaga suaminya.


Besok Dian sudah masuk kuliah, semua perlengkapan kuliahnya di urus oleh Ardo. Sungguh Dian tidak ingin berpaling melihat suaminya sedetik saja.


Hari kian gelap, bintang-bintang mulai menampakkan diri memenuhi langit malam. Hening, tangan Dian terangkat mengelus pipi kurus suaminya.


Air mata Dian kembali jatuh, menggigit bibir bawah agar ia bisa meredam tangisannya “By,... Bangunlah by. Sampai kapan hubby membuat Dian menunggu?”


Hening, tak ada balasan. Dian benar-benar tak tau harus apa, hanya berdoa pagi siang sore malam ia panjatkan. Tak luput dalam doanya meminta agar sang suami Segera sadar.


Setelah mengunci pintu, Dian merangkak naik kesamping Ilyas. Membuka hijab nya lalu menaruh di kursi samping ranjang. Untung nya kamar VVIP di rumah sakit ini menyediakan ranjang yang besar, jadi tubuh Dian yang mungil bukan masalah untuk tidur bersama suaminya dalam satu ranjang.


Seperti malam-malam biasanya, Dian tidur sambil memeluk suami nya setelah membaca Al-Qur'an terlebih dahulu.


“Cepat bangun yah by, Dian selalu menunggu mu.” Mengecup pipi suaminya lalu menutup mata.


...***...


Pagi-pagi sekali Dian pulang ke mansion untuk menyiapkan perlengkapan kuliahnya serta mengganti pakaian. Dengan di antar Mike, Dian kembali ke rumah sakit.


“Bang Mike masih ada kerjaan ‘kan? Gak usah antar sampai dalam rumah sakit, cukup sampai di parkiran ajah.” Ucap Dian


Mike melihat sekilas dari balik spion depan mobil “Tapi nyonya, saya harus memastikan anda sampai dengan selamat.”


“Gak usah bang, lagian masih pagi juga. Ada banyak orang, Dian bisa sendiri kok.”


Berbagai alasan Dian lontarkan, Mike yang keras kepala tetap kekeuh namun Dian juga tak kalah keras kepalanya akhirnya mengalah.


“Makasih yah bang, Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikum salam.” Melihat punggung Dian yang berjalan menjauhi mobil, setelahnya Mike pun melajukan mobil ke kantor setelah menghubungi anak buahnya untuk menjaga sang nyonya.


Dian membuka pintu ruangan Ilyas, ia sedikit terkejut saat melihat sudah ada Said di dalam. Bagas sudah kembali ke Yogyakarta karena perusahaan membutuhkan nya, sedangkan kakek Arnold pun sama sudah kembali ke New York dan akan kembali lagi ke Jakarta satu Minggu lagi, sedangkan Sindy seperti nya masih mempunyai pekerjaan di butiknya.


“Assalamu'alaikum kak.” Salam Dian melangkah mendekati ranjang suaminya yang nampak disana terlihat Said tengah duduk di samping ranjang Ilyas


“Wa'alaikum salam, udah rapi ajah dek, mau kemana?” Menurut Said, panggilan adek yang ia sematkan pada Dian sangat cocok karena itu dia memanggil Dian seperti itu.


Awalnya Dian sedikit risih mengingat mantan suami yang juga memanggilnya dengan sebutan adek, tapi ia juga tak enak menolak permintaan Said. Tapi sekarang Dian sudah sedikit terbiasa


Duduk di samping ranjang Ilyas berseberangan dengan tempat yang ditempati Said “Hari ini hari pertama masuk kuliah kak,”


Said ber-oh ria “Jam berapa?”


“Jam 8 kak,”


“Mau kakak antar? Kayanya nanti adek bakalan ospek yah.” Menawarkan diri tanpa rencana apapun. Murni sebagai kakak.


Dian terdiam “Maaf kak, kayanya gak perlu. Takut ngerepotin.” Menolak secara halus


“Memangnya adek naik apa nanti?”


“Naik angkot atau taksi kak.” Jawab Dian polos


“Hahahhaha kamu dek ada-ada ajah! Masa nyonya Ilyas naik angkot! Gak lucu ah. Mending nanti kakak yang antar biar gak telat, oke?!” Tegas Said


“Gak apa-apa kak, Dian juga udah bia..__”


“No!” Menaikkan jari telunjuknya lalu menggoyang-goyangkan nya. “Gak ada penolakan! Kamu mau saat kak Ilyas bangun dan tau kamu naik angkutan umum? Bisa kamu bayangkan gimana marah nya kak Ilyas?” Menaikkan sebelah alis


Dian terdiam, berpikir sejenak. Memandangi wajah tampan suaminya yang mulai kurus lalu Membuang nafas panjang “Baiklah kak,”


“Good girl!”


“Tapi naik mobil ‘kan?” Tanya Dian memastikan, ia tidak mau naik motor dengan menggunakan rok panjang. Apalagi Dian pernah melihat Said datang menggunakan motor


Said yang mengerti arah pembicaraan Dian langsung mengangguk “Tenang ajah, hari ini kakak bawa mobil.”


Setelah berbincang-bincang akhirnya mereka memutuskan berangkat. Sebelum pergi Dian menyempatkan mencium seluruh wajah suaminya “Cepat bangun by.” Lirihnya di depan wajah Ilyas


Pemandangan yang sudah sangat biasa bagi Said tapi tetap saja membuat jiwa jomblonya meronta-ronta ingin dikeluarkan ‘Enaknya punya istri kaya Dian, haahhh cepat bangun kak, kalau gak mau aku tikung’


Setelah menyuruh pengawal untuk menjaga pintu kamar Ilyas, mereka berdua pun benar-benar pergi dari sana.


Dian dan Said masuk kedalam mobil. Inginnya Dian duduk di bangku belakang namun tidak enak kepada Said yang malah seperti supir, alhasil ia harus duduk di samping kemudi.


Mobil pun melaju membelah jalan, suasan sepi tak ada yang angkat bicara


“Oh yah kak, Kak Sindy kemana?” Dian memecah keheningan


“Seperti biasa, Sindy sekarang pasti lagi di butik.“ Menoleh sekilas, lalu kembali ke jalan raya “Memangnya kenapa?”


“Memangnya kamu gak pernah rasain waktu SMA?” Tanyanya tanpa menoleh


“Pernah sih kak, cuman penasaran doang. Kayanya Dian yang paling tua yah di antara mahasiswa baru yang lain.” Entah mengapa ada rasa ketidak percaya diri dari dalam diri Dian mengingat umurnya sekarang.


Said tergelak mendengar perkataan Dian “Apa sih Dek, kamu lucu banget. Kakak jadi spechles kamu beneran istri kak Ilyas.” Ucapnya dengan tawa yang masih mengiringi


Kening Dian berkerut “Kenapa ketawa kak?”


Menghentikan tawanya “Kamu salah ngomong kamu yang paling tua di antara mahasiswa baru, yakin deh masih ada yang lebih tua! Lagian nuntut ilmu itu enggak harus liat usia, mau tua atau muda sama ajah! Emangnya Dian umur berapa?”


“Tahun ini 21 kak, tapi...__”


“What!!!? 21?!!!” Pekik Said tak percaya ‘Gila kak Ilyas yang namanya ajah bagus tapi kelakuannya enggak itu memperistri daun muda!!’


Dian mengangguk polos “Memangnya kenapa kak? Ketuaan yah?”


Mengusap Wajah “Bukan ketuaan Dian, tapi kemudaan.” ‘untuk kak Ilyas’


Beberapa ultimatum diberikan Said kepada Dian, sebagai seorang yang lebih berpengalaman ia membagikan semua nya kepada Dian yang notabet nya masih baru.


Hingga mereka sampai di universitas yang akan di sambangi Dian mulai hari ini dan beberapa tahun nanti. Setelah mengucap salam dan berpamitan Dian turun dari mobil.


Sebuah motor sport melewati Dian yang tengah menatap kepergian mobil Said, Dian melirik motor sport yang ditumpangi dua orang tersebut “kaya kenal?” gumamnya beralih memperhatikan dua orang yang ada diatas motor tersebut.


“Kan... Udah aku duga pasti mereka.” Senyum nya tak dapat ia tahan untuk tidak merekah


Sedangkan dua orang yang baru saja turun dari motor setelah memarkirkan motornya langsung berlari kearah Dian


“Dian... Gue kangen bangat!” Seru Ayla memeluk Dian


Dian terkekeh “Assalamu'alaikum Ay..”


Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Hehe wa'alaikum salam.” Jawabnya


“Assalamu'alaikum Dian.” Salam Adil yang baru tiba


“Wa'alaikum salam,”


“Ahh akhirnya kita ketemu juga setelah sekian rembulan yang muncul!” Ayla mendramatisir keadaan


“Yeee lebay lu!” Menoyor jidat Ayla “Oh yah Di, gue lupa minta nomor telepon lu waktu itu, kita jadi uring-uringan.”


Dian tersenyum “Sama, aku juga lupa. Sini aku kasi tau nomorku.” Adil memberikan ponselnya kepada Dian untuk mengetik nomornya setelah itu Dian mengembalikan nya kepada empunya


“Ehh? Gue juga dong.”


“Udah gue kirimin.”


Mereka terus mengobrol sampai di dalam gedung tempat pelaksanaan ospek hari ini. Semuanya berjalan lancar, Dian terus mengukir senyuman walaupun dalam hati ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu suaminya berharap Ilyas akan menyambut dengan tatapan tajamnya yang hangat seperti biasa.


Membenarkan perkataan Said saat itu, Dian akhirnya bisa bernafas lega saat mengetahui mahasiswa baru banyak yang lebih tua darinya, setidaknya ia jadi sedikit lebih percaya diri.


Setelah acara ospek, Dian beserta Ayla dan Adil pun memutuskan ke kantin terlebih dahulu.


“Hahhhh capek banget.” Menghempaskan bokongnya, Ayla sudah tidak tahan akan tingkah senior serta mahasiswa baru yang seakan-akan menjadikan Dian artis baru disana, sedangkan Ayla berusaha sekuat tenaga menghalangi mereka agar tidak terlalu dekat dengan Dian.


“Maaf yah Ay, gara-gara aku kamu jadi kerepotan.” Dian jadi tidak enak. Dian yang memang antisosial sungguh dibuat terkejut saat banyaknya orang yang memperhatikan bahkan tak sungkan berkenalan serta meminta nomor telepon.


“Hahaha tapi gua gak nyangka hari pertama lu udah jadi primadona Di.” Celetuk Aldi menaruh tiga Porsi bakso di atas meja.


Dian hanya tersenyum, padahal ia sama sekali tidak punya niat untuk itu tapi mengapa sekarang dirinya jadi primadona?


“Untung ajah ada kalian, aku benar-benar gak tau harus apa kalau gak ada kalian. Nolak ajah aku gak enak.” Susahnya menjadi orang yang tidak enak-kan sudah dialami Dian


“Jangan sungkan Di, kita teman! Udah seharusnya saling bantu.” Ujar Ayla segera melahap baksonya


Dian Tersenyum, mengunyah bakso yang ada di mulut “Makasih yah Ayla, Adil. Kalian benar-benar orang baik.” Ucapnya setelah menelan semua bakso yang ada di mulut


Ayla dan Adil tersenyum memperlihatkan barisan giginya “Kita ‘kan teman.” Ujar mereka berdua


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...