
Setelah Nizam keluar. Kedua anak buah Nizam mendekati Dian dengan senyum mesum. Tubuh Dian beringsut ketakutan. Keadaan nya sudah amburadul.
Rambut yang tak tertata rapi, pakaian nya sudah robek bagian atas dan tanda merah dileher dan pundaknya serta air mata yang tak bisa berhenti.
" Ja.. jangan mendekat. To.. tolong jangan sentuh aku." Bibir wanita itu bergetar. Tubuhnya ikut bergetar, ia takut sangat takut. Jijik, dirinya benar-benar jijik dengan tubuhnya sekarang.
" Hehe tenang ajah. Kami gak akan bantah perintah tuan Nizam." Seringaj muncul dibalik bibir pria bertubuh besar tersebut dengan kepala plontos
Saling Menggok-gosokkan kedua telapak tangan " Tapi setelah tuan Nizam, tentu kami juga bakalan kebagian." Mengusap air liurnya yang menetes melihat wajah cantik serta kulit putih milik Dian
Dian menunduk takut " hiks.. hiks.. jangan sentuh aku."
Setelah itu kedua orang tersebut pun keluar dari dalam ruangan tersebut tanpa mematikan lampu. Dian menangis, ia menangis benar-benar menangis kali ini. Takut, jijik rasanya ia tidak akan melihat dunia besok.
" Emmpphh hiks.." Sarah pun tak kalah syok nya. Air matanya juga tak bisa tak jatuh. " Hiks.. Di maafin aku.. maaf gak bisa bantu kamu." Lakban yang terkena air liur dan air mata akhirnya terlepas bebas.
Dian hanya diam. Pelan-pelan ia menoleh melihat sahabatnya yang banjir air mata. Wanita itu menggeleng pelan " aku yang harusnya minta maaf udah libatin kamu." 'maaf Sar. Maaf.. by, cepattan datang'
.........
" Ayo kita masuk." Titah Ilyas saat mereka baru sampai disebuah rumah tua yang lumayan besar didalam hutan. Menurut GPS yang terpasang di cincin sang istri, disinilah tempatnya berada.
Dengan membawa pistol, Ilyas dan kedua asisten serta anak buahnya masuk kedalam gundang. Ardo yang berjalan paling depan, Ilyas ditengah sedangkan Mike paling belakang. Semua anak buah Ilyas mengepung disegala penjuru, ada juga yang masuk lewat pintu belakang. Sedangkan ketiga orang itu masuk lewat depan dengan santai.
" Siapa kali__" Dor...
Satu tembakan melesat mengenai bagian pundak pria tersebut. Dengan wajah datar, Ilyas melakukannya. Pria yang tertembak jatuh lunglai
Teman-teman nya yang mendengar suara tembakan langsung berlari kearah suara " Ada penyusup.." teriak salah seorang sebelum tumbang terkena timah panas dari Ilyas
" Tuan, tolong jangan membunuh mereka." Ucap Mike dari belakang. Walau bagaimanapun membunuh bukanlah sesuatu yang patut diacungi jempol
" Kau kira aku bodoh." Yah Ilyas hanya menembak bagian sebelah dada atau kaki agar tidak mati. Saat mereka lumpuh dan kehilangan banyak darah, jika mereka mati saat itu. Itu bukanlah tanggung jawab Ilyas karena mereka mati kekurangan darah bukannya mati terkena tembakan nya.
Mereka bertiga kembali berjalan. Santai, benar-benar santai. Dibelakang terdengar suara tembakan bersahut-sahutan.
Dor..
Sebuah tembakan hampir mengenai Ilyas untunglah pria itu sangat gesit menghindar.
Dor..
Ardo menembak balik, acara saling tembak menembak tak bisa dielakkan lagi.
.
.
.
Setelah acara penumpahan darah tersebut, akhirnya pihak Ilyas berhasil memenangkan nya. Dilihat diponsel nya dimana letak sang istri. Ilyas dengan langkah cepat menuju ke sebuah ruangan tersebut.
Mike dan Ardo mengurus masalah yang ada diluar. Dengan terburu-buru Ilyas membuka ruangan tersebut.
Ceklek...
" Dian.." teriak Ilyas saat membuka pintu. Matanya membulat melihat apa yang terjadi pada sang istri. Rahang nya kembali mengeras, wajahnya memerah. Dengan langkah Tegap, pria itu menghampiri Istrinya.
" By.." lirih Dian. Air matanya kembali jatuh melihat sang suami ada didepan mata.
Menangkup wajah istrinya dan melabuhkan ciuman dikening serta kedua pipi Dian. Ia kembali menggeram kesal melihat kedua sudut bibir istri nya mengeluarkan darah. 'Shiit'
" B.. by.. kamu beneran suami aku 'kan." Suaranya bergetar, tangan Dian terangkat mengelus pipi suaminya.
Diambilnya tangan sang istri lalu mengecup telapak tangan tersebut dalam-dalam " Aku sudah datang. Jangan khawatir." Menghapus air mata Dian yang tak bisa berhenti.
Dilepas jas yang ia gunakan lalu menutupi tubuh bagian depan istrinya, Ilyas juga memunguti hijab panjang Dian yang tergelak diatas lantai lalu dengan perlahan menakaikannya.
Setelah itu, Ilyas langsung menggendong Dian " Kita pulang kerumah." Bisiknya saat akan menggendong wanita nya.
Dian hanya mengangguk, air matanya kembali jatuh. Beribu-ribu syukur ia panjatkan. " Sarah..." Lirih Dian. Pelan-pelan matanya mulai terpejam, sepertinya wanita itu tertidur, terdengar dengkuran halus dari mulutnya.
Sarah hanya diam. Ia hanya menyimak adegan romantis yang hanya dapat ia lihat di Drakor kini terpampang jelas dimatanya. Terkejut? Tentu, tapi yang paling membuatnya terkejut adalah 'itukan tuan Ilyas..' pekik wanita itu tertahan
" Tu.. tuan.." seru Sarah
Ilyas berbalik " Sejak kapan kau disana." Pertanyaan pria tersebut berhasil membuat Sarah membeku.
Ingin sekali rasanya ia berteriak 'matamu kau taruh dimana' " Saya sudah sedari tadi disini, tuan. Saya bersama Dian diculik." Masih sempat-sempatnya ia terkekeh pelan.
" Tu.. tuan.." lirih Sarah ingin memanggil namun tak berani. Aura yang dikeluarkan CEO nya itu sungguh membuat nya ketar-ketir.
Sedangkan diluar sudah menunggu Mike dan juga Ardo. Keduanya sangat terkejut melihat keadaan sang nyonya yang amburadul didalam gendongan Tuannya. Terlihat jelas mata sembab, bekas tamparan dan sudut bibirnya yang terluka.
" Ardo, lepaskan wanita lain yang ada didalam." Lalu melanjutkan langkah keluar dari dalam sana.
Ardo mengangguk dan segera masuk kedalam, sedangkan Mike mengikuti langkah sang tuan keluar dari rumah tua tersebut.
Didalam mobil, Ilyas memeluk erat-erat tubuh mungil istrinya yang sedang tertidur pulas. Beberapa kecupan ia layangkan di pucuk kepala serta didahi sang istri.
Sungguh, baru kali ini Ilyas merasakan ketakutan yang besar akan kehilangan kecuali saat ia masih kecil saat kedua orang tuanya tewas kecelakaan pesawat.
Mengelus pipi sang istri, kembali lagi ia memggeram kesal " Cari dalang dibalik penculikan ini. Tangkap dia dan seret dihadapan ku." Api amarahnya tak akan bisa padam saat ada orang yang berani mengganggu orang yang ia sayangi.
" Baik tuan. Saya sudah mendapatkan informasi dari dalang dibalik penculikan ini. Anak buahnya yang saya interogasi sangat lemah dan juga tidak setia. Hanya diiming-imingi keselamatan, mereka sudah mengkhianati majikannya." Senyum licik terlihat dibibir pria yang selalu tersenyum
" Bagus. Segera tangkap dan seret kehadapan ku. Ingat! Dia harus masih hidup." Tak akan ia biarkan siapapun yang berani bermain api dengan nya.
" Baik tuan."
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya mereka sampai dimansion. Ilyas dengan sigap menggendong sang istri masuk kedalam mansion.
Semua pelayan sudah menyambut dengan kekhawatiran akan keadaan Nyonya nya. Disana juga sudah ada seorang dokter pribadi keluarga Sam yang sudah dihubungi Beberapa jam lalu dan sudah sedari tadi stand by disana.
Ilyas naik keatas lift diikuti oleh dokter tersebut.
Dengan sangat perlahan Ilyas membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang
" Apa saya harus memeriksakan keadaan nyonya sekarang, tuan? " Pria muda nan tampan tersebut membuka suara
" Tidak perlu. Berikan aku obat untuk luka luar." Memperlihatkan sudut bibir istrinya yang terluka
Aldi, Dokter tampan tersebut membuka tasnya dan mengambil beberapa antiseptik disana lalu menaruhnya diatas nakas " Untuk lebam diwajah, sebaiknya di kompres pakai air dingin tuan."
Ilyas hanya mengangguk tanpa melihat Aldi. Matanya hanya fokus melihat wajah nyaman sang istri yang tengah tertidur. Diangkat nya tangannya menyuruh Aldi keluar.
Tanpa banyak bicara Aldi keluar dari kamar tersebut 'Tidak kusangka orang datar seperti tuan Ilyas bisa jatuh cinta'
Sedangkan Ilyas pelan-pelan melepas hijab dan pakaian yang digunakan sang istri " hmm eughh." Pelan-pelan membuka mata, ia terkejut saat merasa ada seseorang yang mencoba membuka pakaian nya
" Tidak lepaskan aku.. aku mohon jangan sentuh aku hiks.. hiks.." menggeleng keras. Ilyas segera memeluk tubuh istrinya
Dian kembali memberontak " Tenanglah sayang. Ini aku suamimu." Bisik ditelinga istrinya
" Hubby? "
" Hmm."
Dian membalas pelukan suaminya dengan Sangat erat, menumpahkan air matanya " Huaa.. by.. hiks.. hubby.."
Mengelus kepala dan punggung Dian " Hmm aku disini."
Melepas pelukan lalu menangkup wajah istrinya, dikecupnya seluruh wajah sang istri yang penuh air mata " Aku ganti baju mu dulu." Ucap Ilyas lembut, Dian hanya mengangguk dan mengikuti semua apa yang dilakukan sang suami kepada nya.
Ilyas menggendong tubuh Dian yang sudah tak memakai apapun kedalam kamar mandi. Dimasukkan didalam bathtub dan mulai memandikan tubuh istrinya dengan lembut.
Dian melihat kissmark yang ada di pundak dan lehernya. Air matanya kembali jatuh " Hiks.. aku sudah kotor.. hiks.." mengusap tanda merah tersebut yang mana semakin membuat nya merah
Ilyas menghentikan tangan Dian " Jangan diusap lagi. Kamu tidak kotor, akan aku bersihkan."
" Tapi aku sudah kotor by, pria bejat itu sudah menyentuh ku... Hiks.." ia sungguh tak bisa menahan air matanya setiap mengingat kejadian tadi
Ilyas mengangkup pipi istrinya. Ia yakin bukan hanya fisik istrinya yang terluka, namun batinnya pun ikut terguncang membuat Ilyas kembali marah. Ia semakin kesal dan bersumpah akan menghabisi pria tersebut. Berani-beraninya membuat istrinya menangis.
Diberikan kecupan-kecupan diseluruh wajah istrinya kecuali di bibir. Ia masih tak bisa mencium bibir istri nya yang terluka walaupun sebenarnya ia sangat-sangat ingin melumaat bibir ranum itu.
" Apa kamu jijik dengan bibirku by? Hiks.. pria itu juga sudah mencium ku hiks.. aku tau kamu jijik." Menangkup wajah nya dan kembali menangis, membayangkan suaminya jijik kepadanya, Dian benar-benar tak kuasa menahan air mata.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...*subscribe yah manteman**😖*...