Dream Wedding

Dream Wedding
Dunia Milik mereka berdua



Jika dalam hubungan ada fase jenuh, maka saat masih pdkt disebut fase apa? Mungkinkah fase kesabaran, ketabahan dan penuh doa serta usaha?


Yah mungkin memang seperti itulah yang dirasakan Sarah. Namun semua usaha dan doanya seakan-akan tak menghasilkan apapun. Karena itu ia akan mulai menempati diri di kodrat yang benar. Dimana seharusnya seorang pria lah yang mengejar atau melamarnya.


Sarah pun mengubah sikapnya seperti dahulu. Dan perubahan yang signifikan itu sangat dirasakan oleh Ardo sebagai tersangka yang membuat Sarah seperti ini. Dan hal itu berhasil membuat Ardo kalang kabut.


“Maaf pak, tapi saya bawa bekal.” Jawab Sarah sopan layaknya seorang bawahan yang berbicara dengan atasannya.


Ardo menghela nafas kasar. Dia bukan Ilyas yang punya sikap terang-terangan yang akan mengungkapkan apapun yang ada di kepala.


“Baiklah, kalau begitu lain kali saja.” Sarah hanya mengangguk dan bertanya dalam hati.


Lain kali? Apakah atasannya akan mengajak nya lagi? Dia segera menggeleng. Itu tidak mungkin! Pikirnya


“Kalau begitu saya permisi pak.”


Setelah mendapat anggukan, Sarah pun keluar dari dalam sana dan menuju ke mejanya dengan perasaan yang campur aduk.


Ada rasa senang karena untuk pertama kalinya Ardo mengajaknya untuk makan siang bersama, bukankah itu sudah seperti ajakan kencan? Namun, sekali lagi ia ingin menjaga batasan agar tak terlihat menyedihkan.


.........


Sindy menatap Ilyas dengan tatapan menyipit. “Apa benar kak Ilyas lupa ingatan sebagian?” Ia masih tak percaya akan kenyataan yang baru saja di lontarkan kakak kembarnya yang sedang menjaga Ilyas tanpa disuruh, sendiri lagi. Kurang apa lagi coba dirinya?!


“Yah lihat sendiri ajah. Tapi tenang ajah lu pasti masih diingat kok, sialnya Kak Ilyas cuman lupa tiga tahun terakhir.” Jawab Said santai yang tengah duduk di sofa sembari bermain game


Seperti biasa, Ilyas hanya diam menatap datar wanita itu. “Ada apa?” Ilyas Kurang suka ditatap dengan tatapan mencurigakan seperti itu.


Sindy terkesiap. Ia jadi salah tingkah, Kalau boleh jujur ia sebenarnya sangat takut dengan tatapan Ilyas. Ia pasti tak bisa menatap mata tajam Ilyas.


“Ti.. tidak kak, aku gak natap kak Ilyas kok. Aku natapnya cicak.. iya.. cicak.. yang ada di tembok belakang kakak.” Ia terbata-bata pusing ingin menjawab apa dan tak sengaja melihat cicak yang ada di belakang tembok membuat nya menjadikan cicak sebagai tumbal.


Ilyas hanya diam menatap datar adik sepupunya. Ia juga bingung setiap berhadapan dengan Sindy yang terlihat tak berani menatap matanya langsung.


“Pffhhhh..” Said menahan tawanya mendengar jawaban sang adik yang selalu tidak jelas setiap berhadapan dengan Ilyas.


Sindy segera duduk di samping Said dan sengaja merapatkan duduknya untuk melindungi diri dari Ilyas yang terlihat menyeramkan namun tetap ia sayang sebagai kakaknya.


“Hahaha jangan terlalu melihat Sindy dengan tajam kak. Dia kan takut sama kakak!” Kelakarnya mendapat siku Sindy di Perutnya.


Tok.. tok.. tok..


Ketukan dari luar membuat ketiga orang disana beralih menatap pintu. Tak lama terlihat pintu terbuka dan Terdengar pula salam dari arah pintu.


“Eh? Ada kak Sindy juga rupanya.” Ujar Dian setelah salam tadi.


“Baru pulang kuliah Di?” Tanya Sindy dan dijawab anggukan kepala oleh Dian.


Wanita itu berbalik melihat pintu yang masih belum terbuka sepenuhnya “Ayo masuk!” Ajak Dian kepada kedua temannya yang seperti enggan untuk masuk.


Terpaksa Dian kembali ke ambang pintu yang masih terbuka sedikit lalu berbisik “Ada apa sih? Ayo masuk! Katanya pengen ngucapin selamat buat suamiku”


“Ini beneran Di?” Tanya Adil sembari berbisik dan dibalas anggukan oleh Dian


“Gila! VVIP 1. Laki lu beneran tajir!!” Ayla jadi heboh sendiri


Dian hanya menggelengkan kepala pelan melihat tingkah temannya yang satu ini.


“Yee dasar norak!” Menoyor kening Ayla


Ayla mencebik “Kaya lu gak ajah!” Balasnya membuat Adil terkekeh sembari menggaruk tengkuk nya salah tingkah.


“Udah.. udah.. ayo masuk” Dian menengahi sembari membuka lebar pintu.


Keduanya pun masuk kedalam. Terlihat Said yang mereka sudah kenal karena sering mengantar Dian ke kampus sedangkan gadis cantik di sebelah Said mereka sama sekali tidak mengenal nya.


“Eh?! Rupanya kalian berdua. Udah gue duga sih, sini masuk-masuk.” Said berdiri menyambut keduanya


“Hahah tadi pagi kita udah ketemu, masih nanya.”


Dian Tersenyum melihat mereka lalu beralih melihat sang Suami yang sedang menatapnya tajam. Seakan-akan menyiratkan perkataan sebenarnya suami mu yang mana!


Glek..


Dian tersenyum manis dan melangkah mendekati suami nya.


“Assalamu'alaikum by.” Mencium punggung tangan Ilyas


“Wa'alaikum salam.” Ketus Ilyas. Terlihat jelas pria itu tengah kesal padanya. Kalau seandainya Ilyas pria yang manja, mungkin sekarang dia sudah merajuk memonyongkan bibir.


Dian naik keatas tempat pembaringan lalu sengaja memeluk Ilyas dari samping. Cara membujuk klise yang sering dia gunakan sebelum Ilyas hilang ingatan.


“Maaf, Dian udah mengabaikan Hubby.” Ucapnya dengan suara yang terdengar menyesal. Ia mendongak menatap sang suami dengan tatapan memelas, matanya berkaca-kaca semakin membuat Dian menggemaskan di mata Ilyas


Ilyas memalingkan wajah dengan kuping yang sudah memerah ‘Sialan! Dia terlalu menggemaskan!’ ia selalu bertanya-tanya, mengapa bisa ada makhluk si lucu istrinya.


“E.. ehm.. untuk kali ini aku maafkan. Tapi tidak ada lain kali!!” Berbalik memeluk Istrinya lalu mengelus kepala Dian sembari melabuhkan kecupan di pucuk kepala sang istri.


Dian semakin melebarkan senyuman. Didalam hati ia bernafas lega ‘Hilang ingatan, atau enggak. Rasanya hubby sama sekali gak berubah’


Dan semua adegan romantis mereka dilihat oleh keempat makhluk jomblo disana. Niat hati baik yang ingin menjenguk suami dari temannya malah disuguhkan live drakor. Keduanya serasa punya dunia sendiri, biarlah mereka yang mengontrak.


“Ehem!! Ahh tenggorokan gue kering! Butuh soda!” Seru Said


“Kurang pop corn juga nih!” Timpal Ayla


“Kacamata 3d nya terlalu nyata.” Celetuk Adil


Berbeda reaksi, Sindy malah tercengan dengan adegan romantis dihadapan nya. Siapa pria yang sedang malu-malu kucing itu? Apakah benar dia kakak sepupunya yang ia sayangi namun bersamaan ia juga takut padanya!


Dian berdeham, ia jadi salah tingkah. Selalu saja seperti ini, ia pasti akan melupakan orang-orang di sekitar jika sudah bermesraan dengan sang suami.


Ilyas? Tentu saja orang bermuka tembok sepertinya, pasti tidak akan mempermasalahkan orang-orang disekitar asalkan tidak menyakiti istrinya. Iya, istrinya! Ahh hati Ilyas jadi berbunga hanya dengan kata-kata istri dan wajah istrinya yang terlihat semakin cantik karena sedang merona


“oh yah by, kenalin mereka berdua teman-teman Dian.” Yang disebut segera bangkit dari duduknya


“Halo tuan, kita bertemu lagi. Perkenalkan saya Adil dan cu.._”


“Saya sahabatnya tuan, Ayla." Seru Ayla memotong perkataan Adil yang pasti akan menyebutnya dengan panggilan yang benar-benar membuat Ayla ingin menampol Adil saat itu juga.


“Hmm.” Seperti biasa, itulah yang pasti akan keluar. Ilyas juga tidak mengingat keduanya


.


.


“Oh yah Di, lusa ‘kan pak Arga ada kelas lagi tuh di kelas kita. Kayaknya lu bakal sibuk bangat deh.” Ucap Ayla kepada Dian yang masih duduk di samping ranjang Ilyas karena pria itu sama sekali tidak mengizinkan Dian untuk jauh darinya


Dian menghela nafas panjang “Kayanya deh.”


“Tenang ajah, bakalan kami bantu kok..... Pake doa tapi. Heheh.” Seru Adil Mengangkat tangan berbentuk peace sembari menyengir


Dian hanya menggeleng pelan. “Memangnya kenapa dengan lusa?” Tanya Said seperti mewakilkan Ilyas yang juga ingin bertanya seperti itu.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...