
Rencana yang sudah Ilyas susun kemarin hampir tertunda akibat kondisi Ilyas yang tidak memungkinkan untuk ke konsultasi ke rumah sakit.
“Biar Dian ajah yang pergi barang bu Mega, hubby tinggal di mansion ajah.” Membujuk Ilyas yang tengah memakai jaketnya
“Tidak! Aku akan tetap pergi.” Menggandeng tangan sang istri. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang hanya datang sekali dalam seumur hidupnya ini.
“Baiklah, tapi jangan dipaksakan.” Dian pasrah. Apapun yang akan ia katakan tentu tidak akan di dengar oleh suaminya
Dan disinilah sekarang Mereka di sebuah rumah sakit. Kedua orang itu sudah ada didalam sebuah ruangan dimana di depan mereka sudah ada seorang wanita paruh baya berjas putih
Dokter dengan nama tag Melati tersebut pun mulai memeriksa Dian. Segala macam pemeriksaan ia lakukan
“Hmm semuanya sehat, baik ibu dan bayinya. Tapi sepertinya tubuh nyonya sedikit lemah, saran saya jangan terlalu lelah tapi jangan dibawa manja. Apalagi sekarang masih dalam trimester pertama.”
“Sudah berapa bulan dok?”
“Masih 7 Minggu.”
Dian dan Ilyas mengangguk mengerti “Tapi semuanya baik-baik saja ‘kan dok? Walaupun tubuh istri saya sedikit lemah tapi tidak ada yang membahayakan.” Hal yang memang benar-benar harus ditanyakan. Kalau kehamilan istrinya membahayakan tubuh sang istri, tentu tak ada ragu bagi Ilyas untuk menggugurkan nya.
“Syukurlah sejauh ini tidak ada yang salah. Tapi seperti yang saya katakan tadi, usahakan agar tidak terlalu lelah tapi jangan hanya tidur dan duduk saja.”
“Baik dokter. Terima kasih.” Balas Dian “Emm dok, bisakah saya melakukan pemeriksaan USG? Saya ingin melihat calon bayiku.”
Dokter Melati tersenyum “Tentu saja. Silahkan ke sebelah sini.” Menujuk kearah brankar
Dian dibantu Suami nya naik keatas brankar. Setelah semua persiapan selesai, dokter Melati mulai menggerakkan alatnya diatas perut Dian
“Lihat nyonya, tuan. Wah.. ada dua titik disini.”
“Dua? Maksudnya?” Ilyas yang tak mengerti pun angkat bicara
“Maksud saya, didalam perut nyonya ada dua nyawa yang sedang hidup.” Ucapan Dokter Melati membuat kedua pasutri tersebut saling pandang tak percaya
Dua? Maksudnya...
“Ke.. kembar dok?” Dian masih tercengang
Dokter Melati mengangguk “Iya, nyonya.”
Tanpa kata Ilyas berdiri dari duduknya kemudian memberikan hujam ciuman di wajah sang istri tanpa menggubris dokter Melati serta dua perawat disana
“Terima kasih sayang.. terima kasih..” ungkap nya penuh haru
Dian mengangguk. Ia tidak menyangka akan Langsung diberikan dua sekaligus. Apakah ini bayaran atas kesabaran atas penungguan nya selama ini?
Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Setelah puas dengan pemeriksaan USG, Dian dibantu turun dari brankar oleh suaminya. Mereka kembali duduk di tempat semula dan dokter Melati kembali menjelaskan apa yang harus dan tidak dilakukan.
“Apa ada pertanyaan lain lagi, tuan nyonya?”
Dian hanya menggeleng pelan berbeda dengan Ilyas yang sepertinya ada yang ingin dia pastikan agar ia selalu sejahtera kedepannya.
Namun sepertinya Ilyas tidak berniat menanyakan nya sekarang. Setelah berpamitan keduanya pun keluar dari ruangan dokter Melati.
Disepanjang lorong rumah sakit, Dian disuguhkan dengan pemandangan dimana para wanita berbadan dua bersama suaminya masing-masing sedang duduk menunggu di depan ruangan dokter Melati.
Terlihat mereka sibuk dengan pasangannya masing-masing. Di beberapa pasangan, terlihat sang suami yang mengelus perut Istri nya atau bahkan mengajaknya bercanda dan dihadiahi tendangan kecil dari ai cabang bayi.
Dian sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari pasangan-pasangan senior tersebut
“Ada apa?” Ilyas bertanya saat istrinya hanya diam. Ia takut ada hal buruk yang terjadi kepada sang istri, mumpung masih di rumah sakit jadi tidak susah untuk langsung memeriksakan keadaan
Dian menggeleng pelan “Lain kali kita juga antri kaya mereka yah by, kayanya seru.” Ujar Dian melirik para jajaran pasangan yang duduk di kursi tunggu
Ilyas ikut Melirik dan melihat pemandangan yang sama persis yang dilihat Dian “Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika kamu kelelahan sayang?”
“Dian malah semangat kalau harus menunggu kaya gitu.” Jika seperti itu ia jadi merasakan kondisi kehamilan yang ia idam-idamkan dari dulu
Ilyas mengangguk “Baiklah.” sebenarnya ia juga iri melihat para Suami disana yang asik bermesraan dengan istri serta cabang bayi mereka
Dian melihat suaminya dengan tatapan berbinar “Benarkah?” Ilyas mengangguk “Aku jadi gak sabar pergi pemeriksaan lagi.”
.
.
Dian dan Ilyas masuk kedalam mobil, namun belum juga Ilyas masuk sepenuhnya ia berhenti di ambang pintu
“Maaf, ada yang harus aku urus sebentar. Tunggu disini dan jangan kemana-mana.” Ucapnya di depan pintu yang masih terbuka
Beralih melihat supir yang membawanya “Jaga istriku, jangan sampai ada yang lecet sedikit pun.”
“Baik tuan.” Jawab pria muda itu mantap
“Kamu mau kemana by?” Tanya Dian
“Sebentar ada yang harus aku urus. Hanya sebentar.” Mengecup kening istrinya “Ingat! Jangan kemana-mana.”
Dian duduk diam didalam mobil sembari melihat foto USG yang tadi dia minta. Ia tersenyum haru. Diambilnya ponsel lalu mencari gambar-gambar bayi yang masih ada didalam perut.
Di usap perutnya yang masih rata “Tumbuh yang baik didalam yah anak-anak ibu.” Gumam Dian
“Oh yah, kayanya aku harus kasi tau kabar gembira ini pada yang lain deh.” Seru Dian bersemangat. Ia pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang yang jauh di sana
Tut.. tut..
“Halo, Assalamu'alaikum kak.”
“Wa'alaikum salam. Tumben, ada apa dek?” Sindy menjawab Salam sembari bertanya
“Ada berita sangat baik yang pengen aku sampein.” Jawab Dian
“Berita baik? Oh.. apaan tuh?” Terdengar nada suara Sindy yang sangat penasaran
“Coba tebak kak. Kira-kira kabar baik apa yang pengen Dian kasi tau sampai nelpon kak Sindy.” Menaik turunkan alis walaupun tidak dilihat siapapun
Sindy di seberang sana terkekeh geli mendengar jawaban Dian “loh kak kok ketawa sih.” Sungut Dian. Emosinya jadi tidak stabil karena hamil
“Haha maaf Dian, emangnya kapan Dian gak ngabarin gue kalau ada kabar baik?” Yang diseberang nampak menggoda ibu hamil yang sedang duduk manis didalam mobil sembari menunggu suaminya
“Haha iya juga yah kak.” Menepuk jidat. Bisa-bisanya ia lupa kalau selama ini ia akan selalu menghubungi Sindy jika mempunyai kabar baik.
“Jadi, kali ini. Kakak ipar punya kabar baik apa nih?” Kali ini Sindy yang menggoda Dian
Dian tersenyum lebar “Aku.. aku.. aku Hamil kakkk.” Pekik Dian. Suaranya melengking memenuhi ruang mobil. Supir bahkan geleng-geleng kepala melihat tingkah sang nyonya
‘ingat. Nyonya sedang hamil’ bisik nya dalam hati.
Setiap pelayan di mansion pasti akan membisikkan kalimat seperti itu saat melihat Dian melakukan tingkah yang aneh bin ajaib.
“Apa!!!?? Lu Hamil!!” yang diseberang tak kalah heboh.
Namun, ada yang salah. Dian terdiam “Tu.. tunggu.. kak Sindy sekarang masih ada di Yogyakarta ‘kan?” Tanya Dian
Sindy yang ditanya merasa aneh namun tetap menjawab “Iya, memang nya kenapa?”
“Hah? Ta.. tapi tadi aku dengar suaranya kak Said? Bukannya kak Said masih ada di kota ini?”
“Lah dek. Lu ngelindur? Atau udah pikun? Lusa yang lalu ‘kan gue udah pamit. Bahkan gue sampai datang ke mansion.” Said menjawab diseberang sana. Sindy dan Said memang sekarang sedang bersama di ruang keluarga mereka.
Dian terdiam lalu menepuk jidatnya “Hehe maaf kak, aku lupa. Kok bisa yah aku lupa.” Ia sendiri heran akan dirinya sendiri
“Hahaha gue yakin ini bawaan dari bayinya. Lu udah kaya nenek-nenek ajah Di.” Celetuk Said
Dian mencebik “Isshh jangan mulai lagi deh kak.” Sungut Dian
“Yeee emang benar. Cieee yang udah tua, udah banyak makan garam dan micin kehidupan hahahhaha.” Tawa Said menggelegar. Ia sangat suka menggoda Dian
Dian, wanita itu hampir saja menangis mendengar ejekan Said. Ia tiba-tiba melow hanya karena hal sekecil itu. Tepat saat matanya berkaca-kaca, Ilyas membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil.
Belum sempat ia mengucapkan salam, Ilyas dikejutkan dengan istrinya yang sudah berkaca-kaca. Air mata sang Istri sudah ada di pelupuk mata
“Sayang, ada apa?” Tanya Ilyas khawatir
Melihat suaminya yang perhatian padanya, bukannya berhenti Dian malah semakin ingin menangis. Dan..
Tes..
“Hiks.. by..”
Ilyas jadi semakin khawatir. Ia memeluk erat tubuh istrinya “Ada apa hmm? Ada yang sakit? Kita masuk lagi periksa keadaan mu?"
Dian menggeleng pelan “Ada apa sayang? Bilang.”
Mengangkat kepalanya “Hiks.. kak Said.. hiks.”
“Ka.. kakak ipar? Kakak ipar kenapa?” Ilyas dibuat kaget saat mendengar suara Said di belakang istrinya
Diambilnya ponsel Dian “Dek? Dian, kamu baik-baik ajah ‘kan?” Sekarang suara Sindy yang terdengar
“Hiks.. kak Said nakal by, kak Said minta di omelin.” Adu Dian
“Lah? Kakak ipar????”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...*PENJET TANDA LOVE DIBAWAH**👇*...