Dream Wedding

Dream Wedding
Hukuman untuk Malik



Ardo berdiri dari duduknya, ia menghela nafas panjang setelah berbicara berdua dengan calon mertuanya


“Eh? Udah mau pulang?” Uma Tuti dan Sarah keluar dari arah dapur


Terlihat wajah Sarah yang khawatir. Bagaimana pembicaraan mereka? Apakah lancar atau?.. ah Sarah tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuknya


“Saya ada urusan bu,” Jawab Ardo


“Hati-hati dijalan, jangan lupa dengan apa yang bapak bilang tadi.”


Ardo mengangguk “Pasti pak. Kalau begitu saya pamit pulang.” Mencium tangan kanan Abi Rizal lalu menyusul dengan tangan kanan uma Tuti


“Aku pulang Sarah.” Sarah hanya mengangguk. Terlihat jelas kekhawatiran dan keingin tahuan yang jelas


“Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikum salam.”


Entah apa yang mereka bicarakan, namun yang pasti semuanya akan selesai jika pembicaraan mereka berujung pada keputusan yang baik.


Ardo masuk kedalam mobil. Ia tersenyum senang “Setidaknya ada kesempatan.” Walaupun tak banyak, ia tetap harus bersyukur. Sekarang giliran dirinya yang berjuang untuk Sarah setelah Sarah berjuang untuk nya.


Drtt.. drrtt.. drrtt...


Ardo mengambil ponselnya yang bergetar. Nampak Mike sedang menghubungi nya


“Halo Mike..”


“...”


”Wa'alaikum salam.”


“...”


“Apanya yang bagaimana?”


“...”


Ardo menghela nafas panjang “Yah seperti itulah. Tidak mudah meminta anak gadis ke orang tuanya.”


“...”


Ardo mendengus saat mendengar Mike menertawakan nya. Namun Detik kemudian ia dibuat heran dengan lanjutan perkataan Mike


“Untuk apa? Apa kau sakit?”


“....”


Mata Ardo membulat sempurna, ia yang tadi menyenderkan punggungnya di sandaran jok mobil segera menegakkan tubuh “Apa??! Apa yang terjadi? Jangan bercanda!!” Padahal tuannya masih baik-baik saja beberapa jam yang lalu, kenapa sekarang jadi masuk rumah sakit lagi


“....”


“Hahhh baiklah. Kau berhutang penjelasan padaku!” Setelah mengucap salam Ardo segera mematikan sambungan telepon dan menancap gas menuju ke rumah sakit yang dikatakan Mike tadi


.


.


“Assalamu'alaikum Mike.”


“Wa'alaikum salam. Akhirnya datang juga.” Memegang bahu Ardo “Jaga nyonya, ada yang harus aku urus.” Lalu pergi begitu saja


“Hei.. kau mau kemana?” Teriak Ardo, Mike hanya melambai tanpa menoleh.


Menaikkan sebelah alis, bingung lalu mengedikkan kedua bahu. Pria itu kemudian mengintip dari balik pintu, terlihat tuannya dan sang nyonya tengah bermesraan didalam


“Aku kira ada yang bahaya.”


Kembali ke Mike


Dengan wajah yang tak seramah biasanya, Mike masuk kedalam sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang pria berbadan kekar


“Mana dia?” Tanya Mike dingin


“Ada didalam tuan.” Jawab salah satu dari mereka berdua


Tanpa bicara banyak lagi, Mike membuka pintu. Terlihat seorang pria dengan wajah yang sudah babak belur


“Kau... Apa yang kau lakukan padaku!! Lepaskan aku!!” Malik, pria yang sudah babak belur itu berteriak kencang. Tangan berserta kedus kaki terikat di kursi yang sedang ia duduki


Mike menyerngit heran. Sepertinya ia harus memarahi anak buahnya yang sudah membuat Mike babak belur, bahkan wajahnya hampir tak bisa dikenali


Masih dengan wajah dingin, Mike duduk di hadapan Malik


“Hei.. kau tuli!!” Sekali lagi suara Malik memenuhi ruangan


“Kau tidak lupa bukan, aku pernah memperingati mu untuk tidak lagi mengusik nyonya dan tuan kami. Dan kau pasti sangat tau apa yang akan terjadi padamu jika melanggar nya ‘kan!!” Menekankan perkataannya. Mike menatap tajam kearah Malik membuat pria itu bergidik ketakutan


Glek..


“A.. apa yang akan kau lakukan! Jangan macam-macam atau aku laporkan kau ke polisi!!” Suaranya gemetar ketakutan


Mike tertawa mengejek. Lalu menggeleng-geleng tak percaya. Polisi? Huh! Yang benar saja! Memangnya Mike takut?.... Iya sih dia takut, tapi hanya dengan menyebut nama Ilyas semuanya pasti akan beres.


“kehilangan satu orang seperti mu tidak akan membuat dunia berhenti bergerak. Malahan mungkin alam semesta akan merasa sangat bersyukur satu orang pencemar seperti mu hilang dari dalam dirinya.” Sarkas Mike


Brakk..


Malik tersentak mendengar meja yang ada didepannya di gebrak cukup keras “Bicara saja kau gagu, masih ingin melawan!”


Berdiri dari duduknya lalu melihat Malik tajam “Tinggalkan pulau ini besok.”


“Apa?!! Memangnya siapa kau bisa seenaknya mengusirku!!” Bentak Malik yang tiba-tiba Suara nya meninggi


Dengan santai Mike menjawab “Laki-laki yang sudah beristri bahkan sudah mempunyai anak masih menggoda istri orang lain. Ckckck menjijikkan!” Menatap Malik dengan tatapan jijik, lebih Jijik dari kotoran hewan


Malik tersentak “Jangan sentuh anakku!!” Walaupun dia tidak mencintai Serly, Istrinya. Tapi ia sangat menyayangi anaknya


Mike menampilkan senyuman smirk “Pergi dari pulau Kalimantan ini dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi. Ingat! Aku tau semua tentang keluarga mu!” Ia terpaksa mengancam Malik agar menyerah tanpa harus melakukan kekerasan


Malik terdiam, ia tidak ingin Pergi. Tapi, pria itu tidak ingin hanya karena dirinya keluarganya harus menerima bayaran yang seharusnya tidak mereka terima


“Ba.. baiklah, setelah aku pergi jangan menyentuh keluarga ku.” Lirih Malik


“Tenang saja, aku bukan laki-laki pengecut. Aku akan memegang janjiku tidak seperti seseorang.”


Sekali lagi Malik tersentak mendengar sindiran yang dilayangkan kepadanya. Malik hanya diam dan mengangguk, dan menatap punggung Mike yang sudah hilang dari balik pintu.


Rasa perih di wajah tak sepadan dengan luka dihati yang sudah ia goreskan sendiri. Seharusnya dia tidak mengganggu Dian lagi, harusnya dia bisa ikhlas melepas Dian karena mantan istrinya meninggalkan dirinya karena kesalahannya sendiri.


Seperti biasa, penyesalan akan selalu datang diakhir. Karena jika didepan namanya pendaftaran bukan penyesalan.


.........


Suara ketukan dari pintu ruangan membuat dua orang yang sedang kasmaran menoleh kearah pintu. Belum dijawab, pintu sudah terbuka lebar menampilkan Said dan Sindy beserta Ardo yang sepertinya hendak menahan dua saudara kembar tersebut.


“Kak katanya lu masuk rumah sakit lagi.” Seru Said langsung masuk diikuti Sindy dan Ardo


“Kau sudah datang, untuk apa bertanya lagi.” Seperti biasa, respon Ilyas akan selalu datar


“Gue serius kak. Lu gak apa-apa ‘kan? Ingatan lu baik-baik ajah ‘kan? Atau jangan-jangan malah tambah parah? Haisss tenang ajah kak, biar gue yang jaga Dian. Kakak bisa beristirahat dengan tenang.” Menampilkan senyuman jahil seperti biasa


Dian menahan tawa mendengarnya, berbeda dengan Ilyas. Ia ingin segera turun dari ranjang menghampiri Said yang tengah tertawa geli mendengar penuturan nya sendiri


Menahan tangan Ilyas “By.. kamu mau kemana?”


Melepas lembut tangan istrinya “Tenang disini sayang. Aku ingin menghajar bocah itu!” Menatap tajam kearah Said


“by.. kak Said cuman bercanda. Jangan dianggap serius.”


“Hehe iya kak. Canda doang masa gak bisa.”


“Bercanda atau tidak. Jika kau mengatakan ingin mengambil Istri ku lagi, mau kau sepupu atau tidak. Jangan harap bisa melihat dunia lagi!” Ancaman Ilyas tak main-main.


Atmosfer yang tadi baik-baik saja berubah mencekam setelah Ilyas mengeluarkan Suaranya. Sindy dibelakang Said menelan salivah susah-susah


‘Karena ini gue gak mau menjahili kak Ilyas’ Sungguh ia memang akan selalu takut dengan kakak sepupunya walaupun ia juga menyayangi nya


“He.. he.. he.. kak, gu.. gue cuman bercanda doang. Jangan diambil serius.” Menampilkan senyuman nyengir dengan jari terangkat tanda V


“...iya by, lagipula Dian cintanya sama hubby. Bukan sama kak Said.” Walaupun Dian harus menekan rasa malu tapi untuk menyelamatkan keadaan Dian harus turun tangan langsung.


Air wajah Ilyas seketika berubah. Yang tadinya sangat suram dan gelap berubah menjadi sangat terang walaupun masih berwajah datar “Benar kamu hanya bisa mencintai ku, tidak ada pria lain.” Ia pun kembali tenang dan duduk dengan nyaman diranjang


Said dan Sindy sampai melongo melihat Ilyas yang sudah tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu. Dian benar-benar berhasil menjinakkan seorang Ilyas


Berbeda dengan Ardo yang sudah terbiasa melihat tuannya yang sangat patuh dengan istrinya.


“Hebat! Lu memang hebat kakak ipar. Seorang Ilyas bisa tunduk dengan mudahnya. Ckckck, tapi lu kaya gak hilang ingatan ajah.” Tidak mungkin ada orang yang bisa menerima keadaan saat tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan bahwa dia adalah pasangan mu padahal kau tidak ingat apa-apa tentang nya.


“Yang bilang aku hilang ingatan siapa!” Perkataan Singkat Ilyas membuat mereka semua terdiam kecuali Dian yang tersenyum lebar.


Melihat senyuman Dian membuat ketiga orang disana memgambil kesimpulan “Kak? Kamu udah ingat semuanya?” Sindy yang terkejut tak sadar membuka suara


“Aku memang tidak pernah Hilang ingatan.” Gengsi Ilyas kini tinggi saat ia disinggung betapa bodoh dirinya yang bisa-bisa nya melupakan istri cantiknya.


Dian menggeleng pelan melihat tingkah Suaminya. Tidak punya malu saat mengatakan sesuatu yang harusnya membuat dia menyembunyikan wajah, tapi gengsinya sangat tinggi saat ingin mengatakan kebenaran seperti sekarang ini


“Hmm Ilyas sudah mengingat semuanya.” Jawab Dian antusias


“Hah? Bagaimana bisa? Jangan-jangan karena kepala kak Ilyas terbentur?” Said sungguh tak percaya. Bagaimana bisa adegan di film-film bisa jadi kenyataan.


Dian mengangguk Menanggapi semakin membuat Said dan Sindy melongo tak percaya. Berbeda dengan Ardo yang akan membuat semuanya masuk akal jika tuannya ikut terlibat.


“Kalau Begitu seharusnya dari dulu saja kita getok kepala kak Ilyas.. eh!” Menutup mulut nya segera saat melihat tatapan mematikan dari kakak sepupu


“Beraninya..__”


“heheh peace kak.. peace..” Mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...*PENJET TANDA LOVE DIBAWAH**👇*...