
Pertanyaan Said langsung dijawab oleh Dian tanpa ragu “Pak Arga ngangkat aku jadi asisten dosen nya. Sebenarnya udah aku tolak secara halus sih, tapi pak Arga tetap mau aku jadi asisten nya.”
“Hmm? Kenapa ditolak?” Tanya Sindy. Bukankah jika Dian jadi asisten dosen berarti kemampuan Dian sudah di akui
“Sebenarnya aku juga senang kak. Cuman sekarang ‘kan aku sedang sibuk ngurusin suamiku dirumah sakit. Jadi agak sulit buat bantuin pak Arga yang juga sibuk.”
Mereka manggut-manggut tak terkecuali Ilyas yang nampak tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada yang menyadari. Ia senang karena Dian memilihnya, dan ia kesal dengan dosen yang katanya sibuk itu
‘Aku harus cari tau tentang dosen itu’ ia mempunyai firasat tidak enak mengenai dosen itu.
“Yah kami hanya bisa mendukung lu Di.” Ujar Ayla
Dan diangguki oleh Adil “Asalkan hati-hati sama pak Arga! Udah gue bilang tadi ‘kan?!”
“Memangnya kenapa dengan dosen itu?” Ilyas buka suara saat mendengar perkataan Adil yang cukup aneh menurut nya.
Dian terdiam sedangkan Adil langsung membekap mulut karena sudah salah bicara. Ingin mengelak, namun melihat tatapan tajam Ilyas membuat nyalinya yang bahkan belum tumbuh sudah layu terlebih dahulu.
“Kenapa harus hati-hati!” Ilyas kembali menuntut
Adil mencoba tenang sebelum menjawab. Entah mengapa ia selalu Sungkan dihadapan Ilyas. Entah bagaimana caranya Dian bisa menjinakkan seorang Ilyas yang sudah terlihat sama sekali tak tersentuh.
“Menurut pandangan saya sebagai pria, sepertinya pak Arga sedikit tertarik dengan Dian, tuan.” Menjelaskan dengan menipis-nipiskan kenyataan.
Rahang Ilyas mengeras, tangannya ia kepalkan dengan wajah yang masih terlihat datar namun hawa mematikannya sudah Keluar.
“Heh! Tertarik.” Sarkasnya dengan dingin membuat suasan didalam ruangan yang tadi hangat kini mencekam.
Glek..
Untunglah Adil tadi hanya mengatakan sedikit tertarik bukan benar-benar menyukai, kalau kata-kata itu keluar mungkin detik ini juga keberadaan dosennya itu akan hilang ditelan bumi.
‘Berani-beraninya seorang dosen yang tak seberapa tertarik pada istriku! Sepertinya dia harus diberi pelajaran!’ mengepalkan tangan erat sampai terlihat buku-buku jari pria itu.
“By,..” Mengusap dada Ilyas. Jujur saja Dian takut saat melihat suaminya yang posesif marah.
Sedangkan keempat orang disana langsung bernafas lega tatkala melihat Dian yang sudah ambil alih. Pasti semua nya akan kembali ke keadaan normal
Ilyas Menghela nafas panjang saat merasakan tangan serta suara lembut istrinya. Ia menunduk lalu mengecup bibir Dian singkat sembari tersenyum tipis melihat istrinya yang terlihat khawatir padanya.
Lalu Ilyas kembali menoleh kearah sofa dengan aura yang sudah biasa. “Siapa nama dosen itu!”
“by..”
Ilyas tak mengindahkan dan masih menatap Adil dengan tatapan tajam.
“Pak Arga tuan. Arga Dewantara kusuma.” Jawab Adil gugup
“Kusuma?” gumam Ilyas. Entah mengapa ia seperti tak Asing dengan nama itu.
“Kusuma? Bukannya itu perusahaan yang baru tahun lalu meminta investasi dari perusahaan kakak.” Ucapan Said berhasil menarik sedikit ingatan Ilyas tentang pertanyaan dikepala. Ia juga sempat melihat nama perusahaan itu saat Ardo memberikan data-data perusahaan tiga tahun ini.
“Baguslah!” Seru Ilyas singkat. Ia seperti sudah menyusun berbagai rencana dikepala.
“By, ingat kamu masih sakit.” Seru Dian, ia takut suami nya akan melakukan nekat. Bukan karena dia khawatir pada Arga, namun ia lebih khawatir suaminya akan berurusan dengan pihak berwajib.
Tidak tau saja Dian bagaimana kekuasaan suaminya. Bahkan pihak berwajib pun berkutik dihadapan seorang Mahendra Ilyas Sam.
“Tenang saja, aku tau jaga batasan sayang.” Ujarnya lembut sembari mengelus pipi Dian yang mana malah semakin membuat Dian khawatir.
Lain halnya dengan keempat orang disana yang hanya bisa bertepuk tangan didalam hati melihat kehebatan Dian yang berhasil menjinakkan seorang seperti Ilyas yang datar dan menyeramkan.
Keadaan hening sampai terdengar ketukan dari luar dan nampaklah Sarah beserta dengan Ardo dan Mike disana.
“Assalamu'alaikum.” Salam Sarah diikuti oleh Mike dan Ardo
“Wa'alaikum salam.”
“Eh? Sarah, kok gak bilang kalau mau datang sih.” Ujar Dian Lalu turun dari tempatnya. Ia melihat Ardo, Mike dan suaminya yang sepertinya ingin bekerja sekarang.
“Tadi aku cuman pengen ketemu kak Beno, yah karena mumpung kesini mendingan aku sekalian jenguk tuan Ilyas. Itung-itung bisa ketemu sama kamu.” Perkataan awal Sarah berhasil membuat hati seseorang panas mendengarnya
“hmm Beno?” Gumam Dian merasa tidak asing dengan nama itu
“Udah rame ajah nih.” Celetuk Sarah
“Yee lu ajah yang sibuknya gak karuan makanya gak punya waktu kumpul.” Seru Said
“Hehe mau gimana lagi kak. Seminggu lagi masa magang ku habis, yah semua kerjaan harus aku selesaikan dengan cepat bukan?” Jawab Sarah masuk akal
“Oh yah Sar. Kenalin mereka berdua teman aku di kampus. Adil sama Ayla.” Dian memperkenalkan Adil dan Ayla
“Dil, Ay kenalin ini sahabat aku dari kecil. Namanya Sarah.” balik memperkenalkan Sarah kepada dua orang itu.
Ketiga nya kemudian sama-sama saling menganggukkan kepala lalu bersalaman.
“Wah jadi kalian teman Dian di kampus yah. Tolong jaga Dian yah, soalnya anaknya terlalu polos. Tiap kali mikirin Dian saat di kampus, pasti aku gak tenang.” Sarah bagaikan kakak yang selalu ingin melindungi adiknya.
“Polos dari mana nya sih Sar? Perasaan aku gak polos- polos amat deh.” Bantah Dian
“Kamu ajah yang gak sadar Di. Udah cantik eh polos lagi! Siapa yang gak kepincut.”
Ayla dan Adil manggut-manggut membenarkan perkataan Sarah “Iya itu benar. Gue harus kerja kerasa karena Dian terlalu polos.” seru Ayla
“Nah benar bangat tuh. Untung ada kita-kita, kalau enggak pasti Dian udah di jadi bahan kejaran bagi laki-laki lain.” Timpal Adil membenarkan perkataan Ayla dan Sarah
Dian berenggut. Memangnya dia sepolos itu? Tapi bisa jadi ia juga. Ia terlalu polos mempercayai Malik yang sudah menduakannya. Sekarang ia tidak ingin di anggap polos lagi dan harus mempertahankan pernikahan nya. Namun sepertinya itu tidak berjalan sempurna, coba lihat ia masih di anggap polos
“Memangnya Dian sepolos apa sih?” Sindy yang tadi hanya mendengarkan pun angkat bicara
“Biar aku ceritakan gimana polosnya Dian waktu SMA dulu. Aku masih ingat pas ada teman sekelas aku yang populer katanya suka sama adik kelas, masih kelas sepuluh lagi. Dia udah percaya diri bangat ‘kan. Eh! Rupanya di tolak. Otomatis viral dong. Aku yang penasaran cari tau siapa adik kelas yang berani nolak seorang cowok populer.”
“Pasti Dian ‘kan?” Said menebak sembari memicingkan mata.
Mereka ber empat manggut-manggut membenarkan tebakan Said.
“Sebenarnya bukan itu yang penting. Masalah nya Dian nolak sambil bilang ‘maaf kak tapi aku gak suka kakak’ Hahahhaha aku sampe terpingkal-pingkal dengarnya.” Perkataan Sarah berhasil membuat mereka tertawa bersamaan.
Dian membuang nafas kasar “Aku ‘kan cuman nurutin perkataan mu ajah Sar. ‘kan kamu yang bilang kalau gak suka yah bilang gak suka, kalau suka yah bilang suka. Yaudah aku bilang ajah gak suka, kak Dino jadi sedih. Hahhh aku jadi gak tega sama kak Dino waktu itu.”
“Hahah tapi gak gitu juga konsepnya Dian yang cantiknya seantero bima sakti!” Seru Sarah gemas
“Yah mana aku tau kalau yang kamu ajarin bukan menjurus kesana.”
Perkataan Dian sontak membuat tawa mereka meledak membuat keenam orang itu jadi pusat perhatian ketiga pria yang sedang bekerja.
‘Dino? Siapa lagi dia? Sebenarnya ada berapa banyak pria yang mencoba mendekati istriku’ hatinye geram mendengar sang istri yang terlalu populer. Belum tau saja Ilyas, kalau sekarang istri nya sudah jadi kembang kampus.
Tok.. tok.. tok..
Sontak mereka berhenti melakukan aktivitasnya dan menoleh kearah pintu yang mulai terbuka. Terlihatlah dokter Beno yang ingin memeriksa kondisi Ilyas
“Selamat siang semuanya.” sapa Dokter Beno. Dokter yang biasanya selalu memperbaiki kacamata nya kini sudah tak lagi memakai kacamata, bahkan terlihat jelas kaos santai yang sedang ia pakai tertutupi dengan jas kebanggaan nya.
“Kak Ilyas mau diperiksa lagi dok?” Tanya Said berdiri menyambut dokter Beno yang kini terlihat lebih muda tanpa kacamata dan rambut yang terlihat acak-acakan.
“Iya, seperti yang saya katakan tadi pagi. Kalau infus nya sudah habis, tuan Ilyas sudah diperbolehkan pulang.” Sembari memeriksa denyut nadi Ilyas
Dian berdiri dan menatap lekat dokter Beno ‘Gak asing..’
Dan tingkah sang istri tentu terlihat jelas dimata Ilyas yang menatap tajam Dian namum yang ditatap sama sekali tak merespon tatapan suaminya. Atau lebih tepatnya ia tidak menyadari tatapan tajam itu
“Hah?! Kak Abra?” pekik Dian tanpa sadar
‘siapa lagi'
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...