Dream Wedding

Dream Wedding
Hanya Sementara



Setelah gempa maka tsunami pun datang. Setelah cobaan yang lain usai maka cobaan yang lebih berat menimpa. Begitu kah yang di hadapi Dian sekarang?


Syok, wanita cantik itu yang dirasakan setelah mendengar perkataan dokter Beno tadi mengenai kondisi suaminya.


Apalagi ini?


Setelah beberapa saat diam, akhirnya Dian membuka suara “Tapi ini hanya sementara ‘kan dok?” Tanyanya memastikan


Dokter Beno mengangguk “Alhamdulillah, ini hanya sementara.” Sebenarnya pria muda itu tak tega melihat Dian cobaan yang lagi-lagi di dapatu wanita bertubuh mungil itu. Tubuhnya yang terlihat rapuh hanya sekali dekap pasti hancur itulah yang bisa dilihat dokter Beno.


“Baiklah, terima kasih dok.” Menundukkan kepala lalu mengangkat nya lagi


“Itu sudah tugas saya, nyonya.”


Setelah berpamitan Dian pun keluar dari ruangan dokter Beno dengan menyisakan sesak didada. Dian bersandar di pintu ruangan sang dokter, ia memegang dadanya lama ‘Ya Allah kuatkan lah hamba mu ini’


Lalu mulai berjalan, ia limbung dan hampir jatuh untung saja ada seorang perawat yang memegangnya agar tidak jatuh


“anda tidak apa-apa nona?” Tanyanya dengan khawatir. Ia sudah biasa mendapati orang yang keluar dari ruangan dokter dengan keadaan yang tidak baik-baik saja, baik itu keluarga pasien maupaun pasien itu sendiri


Dian tersenyum “Tidak apa-apa, terima kasih.”


Sedangkan di sisi lain


Kakek Arnold duduk di samping ranjang Ilyas bersama Sindy. Sedangkan ketiga pria lainnya hanya berdiri di dekat ranjang.


Ilyas menatap mereka satu persatu dengan kening yang berkerut “Ada apa dengan kalian?” Ia yang sedari tadi di penuhi tanda tanya hanya bertanya hal ini.


“Apa ada yang sakit kak? Sejak kapan kakak bangun?” Tanya Sindy dengan wajah cemas. Walaupun kakaknya itu sangat datar dan sedikit menyeramkan ia tetap khawatir dengan kondisinya


“Apa yang kalian lakukan disini? Dan kenapa aku juga ada disini?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya


“tunggu dulu? Dian kemana?” tanya Said tak mendapati Dian disana


Mereka semua membenarkan dan mulai celingak-celingukan mencari Dian.


“Apa yang kalian maksud wanita bodoh itu?” Ilyas buka suara


“bodoh?” mereka semua bengong di buatnya. Siapa lagi wanita bodoh yang dimaksud Ilyas?


“Dasar! Istri mu sendiri kau katai bodoh!” Sentak kakek Arnold kesal. Baru buka mata sudah membuat kesal, memang yah cucunya yang satu ini tidak ada obatnya.


Lagi, kening Ilyas berkerut lebih dalam “Istri? Istri siapa?” tanya nya heran


“apa? Tuan, apa jangan-jangan anda tidak mengingat istri anda sendiri?” Mike yang gatal ingin bicara akhirnya mengeluarkan suara


“Hentikan omong kosong mu Mike! Kali ini tidak lucu! Aku tidak pernah menikah?” Ilyas sungguh dibuat geram dengan perkataan mereka semua. Belum lagi, tidak ada yang menjelaskan mengapa ia bisa berbaring di ranjang rumah sakit.


“Apa!!?” pekik mereka semua


Ilyas menatap datar mereka. Apa-apaan mereka, dosa kah dia menggetok kepala mereka satu persatu?


“Tu.. tunggu, yang benar saja! Kau. Kau lupa ingatan?!!!” Ujar Said tak percaya


Ilyas Berdecak kesal. Mana mungkin ia lupa ingatan! Tapi tunggu, ia memang merasa melupakan banyak hal. Tapi apa?


“Ah! Sudahlah. Kenapa aku bisa ada disini? Dan bagaimana dengan kerja sama kita dengan perusahaan J corp, Ardo?” Ia masih memikirkan tentang pekerjaan nya di saat-saat seperti ini.


Ardo semakin yakin ada yang salah dengan tuannya “Maaf tuan, maksud anda kerja sama yang dilakukan tiga tahun lalu? Bukankah anda sudah menyetujui nya?” perkataan Ardo berhasil membuat Ilyas menoleh dengan tatapan heran.


“Jangan ikut-ikutan tidak jelas sama seperti mereka Ardo!“ Sentak Ilyas “Aku masih belum menandatangani nya! Dan itu baru dicetak kemarin setelah pulang dari Jerman!”


“Otak mu kau tinggalkan di dengkul mu?! Dari dua Minggu yang lalu kau terbaring di ranjang, Bagaimana bisa kau pergi ke Jerman?!”


“Kalian bercanda dengan ku!!!” Sentak Ilyas keras membuat mereka semua mengelus dada.


“Kak? Umur kakak sekarang berapa?” Tanya Sindy hati-hati. Ia benar-benar takut saat melihat kakak sepupunya marah


Ilyas menatap nya dengan tajam. Mengapa semua orang sangat penasaran dengan usianya? Apa ada yang salah?


“26!“


“Apa!!!” lagi-lagi suara Sindy dan Said beserta Mike menggelegar memenuhi ruangan


“Fix! Kakak Amnesia! Jadi kakak gak ingat dengan Dian? Istri kakak?” Suara Said sedikit meninggi. Membuat mereka semua tersentak dengan apa yang dikatakan Said


“Tuan? Apa itu benar?” Bahkan Ardo yang Sangat jarang mengurus privasi atasannya pun angkat suara.


“Apa kau juga ikut menjadi aneh seperti mereka, Ardo?! Aku tidak tau siapa Dian yang kalian bicarakan!”


Deg....


Kakek Arnold yang dari tad hanya diam akhirnya buka suara “Panggil dokter secepatnya.” Baru Mike ingin keluar memanggil dokter, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk dari luar dan tak lama terbuka menampilkan seorang wanita yang tadi dicari-cari.


Beberapa saat lalu, Dian berdiri didepan pintu mendengar lamat-lamat percakapan didalam ruangan tersebut. Hatinya kian diremass-remass mendengar perkataan Ilyas didalam sana.


“Tenang Dian, hanya sementara!” Menyemangati dirinya sendiri.


Setelah menghirup pasokan udara yang banyak. Dian mencoba berlatih tersenyum manis seperti biasa, setelah nya ia mengetuk pintu dan membuka ruangan tersebut.


“Assalamu'alaikum,” Salam Dian, tak lupa menampilkan senyuman terbaik yang ia punya. Memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Wa'alaikum salam.”


Mereka semua menegang melihat Dian. Sedangkan yang dilihat terlihat tenang dan berjalan mendekati ranjang.


“Alhamdulillah, kata dokter. Hu.. tuan Ilyas baik-baik saja.“ Seru Dian. Ia mengingat saat dokter Beno mengatakan agar jangan terlalu memaksa Ilyas untuk mengingat semua nya dalam tiga tahun ini. Walaupun belum terlihat tanda-tanda ada kesakitan yang nampak di kepala, tetap saja mencegah lebih baik daripada mengobati.


Bukannya senang mendengar berita baik yang dikatakan Dian, mereka malah tercengang mendengar sapaan yang disematkan Dian kepada suaminya sendiri. Bisa di simpulkan, Dian sudah tau semuanya.


Berbeda dengan Ilyas yang entah mengapa ada rasa tak suka saat wanita cantik di hadapannya itu memanggil dengan sebutan tuan.


Sindy lantas berdiri dan langsung berhambur memeluk kakak iparnya tersebut. Walaupun Dian tersenyum, namun pasti wanita itu sedang menahan rasa sesak didada.


Sindy menangis “Sabar dek,”


Dian mengangguk sembari mengelus punggung Sindy dengan seutas senyum tegar terlampir “Jangan nangis kak. Kok jadi kakak yang nangis sih,”


“hiks.. kakak gantiin kamu nangis dek.” Karena Dianra tak menagis malah semakin membuat mereka takut akan keadaan mental Dian. Belum lagi dengan tugas kuliahnya.


Ilyas hanya terdiam, setelah beberapa saat ia pun membuka suara saat mereka semua sudah duduk baik-baik ditempa nya. Dian duduk di kursi samping kiri Ilyas, sedangkan di samping kanan Kakek Arnold yang menempatinya.


Ardo dan ketiga orang lain disana duduk di sofa. Sebenarnya Dian sedikit gugup duduk dekat suaminya, ia merasa kembali ke masa saat mereka baru pertama kali bertemu.


Tanpa Bertanya, mereka bisa tau Ilyas sedang menuntun penjelasan dari apa yang terjadi tiba-tiba disini.


Mike pun menceritakan semua yang ia tau. Ia dipilih menceritakan semuanya karena dia yang paling sabar disana. Mike menceritakan semuanya tanpa di tutup-tutupi, kecuali saat sang bos menikah dengan istri nya. Karena Mike juga kurang tau bagaimana kisah aslinya, ia juga tak ingin menganggu ranah privasi Dian dan Ilyas.


“Yah kakak kecelakaan, seperti di film-film kakak mengalami koma dan setelah sadar malah amnesia. Udah kaya sinetron!” Said menimpali cerita Mike


Lama, Ilyas terdiam. Bukan pada bagian kecelakaan yang ia cerna, melainkan pada seorang wanita yang katanya Istri nya? Hah??! Yang benar saja. Dirinya yang tak pernah membayangkan akan menikah bahkan mencintai seorang wanita bisa menikah?!


Di tatap nya Dian yang tengah menunduk sembari memilin-milin ujung hijabnya. Pemandangan yang entah mengapa sama sekali tidak asing bagi nya.


‘Ada apa ini? Kenapa aku tidak asing dengan wanita ini? Apakah memang..?’


Ia mencoba mengingat nya, namun “Ahhkkk.” bukan ingatan yang ia dapat, melainkan kesakitan yang amat dikepala saat mencoba menggali memorinya.


Mereka semua tersentak kaget mendengar pekikan sakit Ilyas “by? Kamu gak apa-apa?” Refleks Dian bangkit dari duduknya dan memegang kepala Ilyas


Ilyas terdiam lalu menatap wajah yang sedang melihat nya dengan tatapan khawatir.


‘by?’ kata-kata yang selalu ia dengar saat tertidur dan terdengar sangat indah di telinga nya.


Kakek Arnold yang tepat berada di samping Ilyas hendak memencet tombol nurse namun Ilyas segera menahan nya.


“Tidak perlu! Aku baik-baik saja! Keluarlah. Aku ingin istirahat!”


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...