Dream Wedding

Dream Wedding
Kepolosan Dian



Dua jam berlalu, Dian masih setia duduk dikursi loby. Menggosok-gosokkan tangannya, ia mulai jenuh. Hanya memainkan ponsel tanpa melakukan apapun.


Melihat jam diponsel “Udah mau masuk jam makan siang.” Dian mulai gusar. Akhir-akhir ini suaminya sudah jarang pulang makan siang sebab sibuk dengan pekerjaannya.


Semua karyawan disana mulai bisik-bisik menggunjing Dian, namun wanita berhijab itu mencoba tidak mengindahkan.


“Ck! Dia masih disitu.” Gerutu resepsionis wanita berambut panjang


“Keras kepala bangat sih.” Timpal resepsionis yang rambutnya diikat keatas.


Darjo, resepsionis pria disana menatap iba kearah Dian. Ia ingin mengizinkan wanita cantik itu, tapi ia takut salah langkah dan berakibat ke pekerjaan nya.


Dian meregangkan otot-otot kakinya. Ia mulai pegal. Memberanikan diri, wanita itu kembali menghampiri ketiga resepsionis disana “Permisi, apa Ilyas sudah selesai meeting nya?”


Menatap sinis “Sudah dari satu jam yang lalu.” Ketus resepsionis berambut panjang yang bername tag Bunga


Tentu Dian yang mendengar jawaban dari Resepsionis Bunga terkejut “Kalau begitu saya bisa menemuinya sekarang ‘kan?”


“Ya ampun mbak. Mbak gak sadar apa, mana mungkin tuan Ilyas mau menemui mbak, yang seksi ajah dianggurin apalagi..” Menatap sini Dian dari atas sampai kebawah lalu memutar bola matanya


Dian menunduk. Ia sangat malu, apa pakaian yang ia pakai salah? Bukankah pakaian yang tertutup lebih indah dipandang.


“Maaf mbak, tuan Ilyas sekarang ada tamu.” Darjo mengambil alih dan menjawab dengan jujur dan tutur kata yang lembut


Dian tersenyum manis “Apa setelah ini saya bisa menemuinya?” Dian benar-benar ingin memberikan makanan yang ia buat kepada suami tercintanya


Darjo terdiam, ia tidak tau harus jawab apa. Diam nya pria yang ada didepannya membuat Dian mengambil kesimpulan. “Terima kasih, saya akan menunggu nya.” Ucap Dian bersemangat dan kembali ketempat duduknya tadi.


“Ck! Udah jelas-jelas diusir tapi tetap ajah keras kepala.” ketus resepsionis wanita yang rambutnya diikat dengan name tag Indah.


“Bisa gak kalian sopan dikit. Cewek kok banyak tingkah.” Darjo jadi sewot sendiri melihat kedua rekan kerjanya. Ia menggerutu “Namanya cantik-cantik tapi tingkahnya naudzubillah”


.


.


Stengah jam berlalu, lagi Dian kembali merasa suntuk. Karena merasa bersalah dan iba, Darjo mendekati Dian lalu memberikannya minuman


“Mendingan mbak pulang ajah. Kayanya tuan Ilyas gak bisa ditemuin sekarang.” Darjo mengatakan nya dengan sangat hati-hati takut menyinggung perasaan Dian


Dian Tersenyum “Terima kasih.” mengambil minuman tersebut “Apa Ilyas memang sangat sibuk?”


Darjo mengangguk sebagai jawaban. Dian berpikir sejenak ‘Apa aku pulang ajah yah, aku takut menganggu’


Berdiri “Yaudah deh mending saya pulang. Makasih yah mas Darjo.” Melihat name tag didada bagian kiri Darjo. Ia Masih sempat-sempatnya ia tersenyum manis membuat Darjo jadi salah tingkah plus semakin merasa bersalah.


Dian menunduk mengambil paper bag tempat makanan dan juga kantong kresek hitam. Saat mengangkat kepalanya, bersamaan dengan lift terbuka. Mata Dian melebar antusias, ia langsung tersenyum lebar


“Hubby..” Seru Dian sedikit kencang, ia terlalu bahagia melihat suaminya sampai-sampai tidak sadar hampir berteriak


Ilyas beserta kedua asisten dan juga salah seorang pria muda yang mungkin tamu disana, seketika melihat sumber suara. Ilyas mengerutkan keningnya, kenapa bisa ada Istri nya disini? Bukan, kenapa sang istri tidak langsung naik saja.


Kedua resepsionis wanita disana tersenyum menang saat melihat sang CEO turun ‘rasakan. Jadi orang kok ganjen bangat’ batin keduanya


Dian hendak menghampiri sang suami dengan menenteng paper bag dan kantong kresek tersebut. Namun tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan “Aduh, kaki ku kesemutan.” keluh Dian


“Kenapa mbak?” dengan sigap Darjo memegang lengan Dian yang hampir jatuh.


“Maaf tuan, kami sudah..__” ucapannya terpotong saat Ilyas berjalan dengan cepat kearah Dian.


“Lepaskan tangan mu!” Suara Ilyas menggelegar memenuhi lobu perusahaan membuat orang-orang yang ada disana terdiam dan fokus kearah sumber suara.


Sontak Darjo melepa pegangannya. Ilyas berjalan cepat lalu merangkul istri nya dan memasukkan Dian kedalam dada bidangnya, membuat orang-orang yang ada disana melongo tak percaya.


Sedangkan Ilyas menatap tajam kearah Darjo yang kini menunduk takut bak tikus yang dihadapkan dengan seekor singa. Tatapan Ilyas seakan-akan ingin memakan Darjo saat itu juga.


Dian melepas paper bag dan juga kantong kresek yang ia pegang lalu melingkarkan tangannya di pinggang Ilyas. Ia terlampau bahagia melihat suami tampan nya, berlebihan memang namun ini yang memang Dian tunggu-tunggu dari tadi bukan?


Mendongak “By, akhirnya aku bisa ketemu hubby juga. Udah gak sibuk ‘kan?” tanya Dian dengan polos nya, ia tidak tau saja suaminya sekarang sedang cemburu.


Tatapan tajam Ilyas pindah, turun ke wajah lelah istrinya yang sedang memeluk pinggangnya “Kenapa kau berkeringat Seperti ini?” Mengelap keringat yang ada di dahi Dian


Melepas pelukannya lalu memanyunkan bibir “Yah aku nunggu kamu lah by, Tapi kamu udah gak sibuk ‘kan. Dian datang bawa makan siang buat hubby.” Ucap nya antusias lalu mengangkat paper bag yang tadi dilepas


Ilyas mengambil paper bag tersebut lalu membukanya dan meraba Tupperware tersebut ‘Sudah dingin’


“Berapa lama kamu menunggu disini.”


“hmm hampir tiga jam.” Jawabnya polos “Tapi katanya kamu sibuk banget. Makanya aku nunggu disini. Hampir ajah aku pulang tadi.” ia masih meneruskan perkataannya tanpa memandang wajah sang suami yang sudah berubah menyeramkan. Aura hitam bisa terlihat membuat semua orang disana menelan salivah nya susah-susah kecuali Dian seorang.


“Kenapa tidak langsung naik saja?” Tanya Ilyas dengan nada lembut.


“Katanya hubby lagi meeting, jadi gak bisa diganggu.”


“Jadi karena itu kamu menunggu disini?” Dian mengangguk Dengan polosnya.


Tangan Ilyas mengepal erat, rahangnya mengeras, tatapan matanya sangat tajam menyapu semua orang yang ada di loby, aura hitam terkait jelas dari pria tersebut, membuat semua orang lagi-lagi harus menundukkan kepalanya bahkan kedua resepsionis wanita tadi sudah ingin menangis.


Kedua resepsionis wanita Tersebut menunduk dalam-dalam. Saling meremaas tangan dibawah meja resepsionis. Sungguh kali ini mereka ingin menangis melihat kemurkaan tuannya.


Ardo dan Mike yang tepat berada di samping meja resepsionis melirik kedua orang itu. Ilyas puj ikut melihat keduanya


“Kalian..” melangkah menuju meja resepsionis


Brak...


Digepraknya meja resepsionis membuat kedua wanita disana terkesiap.


“Ma.. maaf tuan.. ka__”


“Kalian bodoh! Bagaimana bisa kalian membiarkan istriku menunggu.” Ilyas sangat kesal, jika seandainya yang ada didepannya adalah pria sudah pasti bogeman mentahnya mendarat ke pipi kedua wanita itu.


Semua orang terdiam, tidak ada yang berani angkat bicara. Bahkan bergerak seinci pun mereka tidak berani.


Diam pun ikut Terkejut, dengan perlahan ia berjalan mendekati suaminya. Semua orang tentu melihat wanita cantik itu berjalan mendekati sang CEO yang sekarang tengah marah bak iblis Satan.


Menarik lengan Ilyas “By..” memperlihatkan wajah memelas, ini pertama kalinya ia mendengar suara suaminya yang berteriak.


Ilyas membuang nafas kasar, lalu memeluk sang istri “Ada apa?”


Mengelus punggung Ilyas “Jangan marah, mereka hanya melakukan tugasnya.”


Ilyas terdiam menatap istrinya yang terlalu baik “Haisss kenapa kamu terlalu baik.” Mencubit kedua pipi Dian gemas


“hehe lepas by, sakit.”


“by?”


“Hmm.”


Mendongak “Makanannya udah dingin, tapi masih belum basi. Ayo kita makan siang bareng.” Dian tidak ingin Suaminya meluapkan emosi kepada kedua resepsionis tersebut.


Ilyas mengalah “Baiklah." Membawa paper bag beserta kantong kresek yang ada diatas kursi tunggu.


Dian Tersenyum senang merangkul lengan suaminya.


“Kau.. jaga jarak 5 meter dari istriku.” Menatap tajam kearah Darjo yang sama sekali tidak bisa mengangkat kepalanya


“Ba.. baik tuan..”


Mengelus lengan sang suami “By.. ” beralih Melihat Darjo “Makasih yah mas buat minumannya.”


“Tidak perlu berterima kasih nyonya.”


Kening Dian berkerut, kenapa tiba-tiba berbahasa formal? Saat angkat bicara, Ilyas segera menarik tangan Istrinya


“Benar yang dikatakannya, tidak perlu berterima kasih. Sebaliknya, harusnya bukan hanya air mineral yang diberikan kepada istri dari pemilik perusahaan.” Menekankan perkataannya pada bagian akhir dengan mengeraskan suara agar semua orang disana menyadari siapa wanita yang sedang bersamanya.


Saat melewati Bunga dan juga Indah yang masih menunduk, Ilyas memberikan tatapan tajam. Lalu berbisik saat melewati Ardo dan Mike.


Ardo dan Mike mengangguk paham, pria yang juga melihat semua adegan tadi melongo tak percaya.


Sejak kapan seorang Ilyas mempunyai istri?


Kedua pasutri Tersebut masuk kedalam lift “Eh? Bang Mike sama bang Ardo kok gak ikut?”


“Mereka masih punya pekerjaan.” singkat Ilyas


“Kalau begitu tunggu dulu.” keluar kembali dari lift yang masih belum tertutup.


Dian merogoh kantong kresek yang dibawanya lalu mengeluarkan dua botol minuman berwarna oranye kemerahan dan warna kuning.


“Ini untuk bang Mike sama bang Ardo.” Menampilkan senyuman polos membuat kedua orang itu tidak tahan dan akhirnya mengambil minuman tersebut


“Terima kasih nyonya.”


“Gak perlu berterima kasih. Aku yang harusnya berterima kasih karena selama ini udah bantu suamiku. Diminum yah.” perkataan polos Dian hampir saja membuat Mike tak dapat menahan tawa


“Sudah?” Menggenggam tangan istrinya


Dian mengangguk “Ayo..”


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...