
Ilyas yang saat itu tengah fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba dikejutkan dengan deringan ponsel. Dilihatnya sang pemanggil, buru-buru ia mengangkatnya.
“Apa? Kakek ada dirumah.” Menggebrak meja
“Awasi istriku. Jangan biarkan dia terluka.” Buru-buru bangkit dari kursinya.
Ia sangat mengenal kakeknya yang keras. Walaupun tak sampai membunuh, Ilyas takut Dian yang terlalu lembut akan tersakiti oleh perkataan kejam sang kakek. Walaupun ia juga sering berkata kasar padanya.
Dengan stengah berlari Ilyas keluar dari ruangan. Ardo dan Mike yang melihat nya ikut berlari mengikuti langkah sang tuan. Semua karyawan yang melihat hal itu bertanya-tanya. Tidak biasanya seorang Ilyas berlari-lari.
Sesampainya di mobil, Mike dengan cepat melajukan mobil “Tuan sebenarnya ada apa? ” Mike membuka suara
“Kakek ada dimansion sekarang.” Perkataan Ilyas sontak Membuat keduanya menoleh ke arah Ilyas dan fokus kembali.
Mereka akhirnya tau hal apa yang sampai membuat seorang Mahendra Ilyas Sam berlari terbirit-birit. Memang hanya Istri nya seoranglah yang mampu membuat Ilyas seperti sekarang.
.........
Arnold Sam, nama yang akan selalu di ingat para pengusaha sampai sekarang. Pria yang bersinar pada saat muda, bahkan namanya masih sangat diingat. Semua orang akan sungkan padanya.
Pria yang tak tersentuh, kecuali dengan istri dan juga menantu nya. Aura kepemimpinan yang ia keluarkan membuat orang-orang sungkan dan otomatis menghormatinya.
Senyum nya bagaikan berlian yang terlalu berharga. Perkataannya tak ayal selalu ditelan bulat-bulat oleh orang yang mendengarnya. Dialah cerminan cucunya. Tapi, lihatlah sekarang tak akan ada yang percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.
Dian duduk disofa panjang sendiri, sedangkan didepannya kakek Arnold duduk disofa tunggal. Hening tak ada pembicaraan, jujur saja Dian masih sungkan terhadapnya.
“Aku dengar kau sudah mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.” Melihat sudut bibir Dian yang terlihat terluka.
Dian memegang sudut bibirnya karena selalu dipandang “Iya kek. Alhamdulillah tidak terjadi yang membahayakan.” Menutupi kejadian sebenarnya.
'dia berbohong. Apa dia tidak ingin membuatku khawatir' monolog dalam hati
“Itu masih bukan apa-apa. Ingat! Sekarang kau istri dari seorang Ilyas, ada banyak yang tentunya mengincar mu yang sekarang adalah kelemahan Ilyas. Seperti kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon tumbuh maka angin yang menerpanya juga semakin kencang. Kau mengerti 'kan.” Suaranya benar-benar penuh wibawa
“Em.. kakek apa aku boleh bertanya?”
“Ada apa?”
“Sebenarnya, suamiku itu siapa? Dian memang tau kalau suamiku adalah orang kaya, tapi apakah suamiku sangat berkuasa hingga mempunyai banyak musuh?” tanyanya polos
Pertanyaan polos itu benar-benar membuat kakek Arnold membeku. 'Hah! Jadi dia tidak tau siapa suami nya sendiri' kejutan dari kepolosan cucu menantu nya sungguh tak dapat ia duga
“Kau tidak tau siapa suami mu tapi tetap bersedia menikah dengannya?”
'ah.. pernikahan ku 'kan terpaksa' Dian tidak tau harus jawab apa. Tidak mungkin dia jujur sekarang.
Tak mendapatkan jawaban, kakek Arnold kembali buka suara “ Kemana Ilyas? ” Merubah pertanyaannya. Lebih baik ia tanyakan nanti kepada cucunya.
“Masih kerja kek. Nanti jam makan siang pasti pulang.”
“Pulang? Jam makan siang?” Lagi-lagi ia dibuat terkejut. Cucunya yang gila kerja pulang untuk makan siang. Diliriknya cucu mantunya yang sangat cantik.
'pasti dia hanya ingin melihat istrinya kecilnya'
“Apa kakek ingin bertemu dengan nya sekarang? Perlu aku telpon 'kan?” memegang ponsel, bersiap menelpon Ilyas
Menyunggingkan senyum tipis “Tidak perlu. Sebentar lagi dia pasti akan muncul.” perkataan kakek Arnold membuat Dian bingung.
Benarkah suaminya akan datang padahal belum waktunya makan siang?
Saat akan angkat bicara tiba-tiba...
“Dian..” Seru Ilyas.
Kedua orang berbeda generasi nan gender menoleh melihat Ilyas yang tengah berjalan cepat menghampiri istrinya.
Dian berdiri “By..” Menyambut tangan suaminya lalu dicium “Assalamu'alaikum....”
“Wa'alaikum salam.” jawab Ilyas lalu menuntun sang istri untuk duduk.
“Kok cepat bangat pulang nya, by?”
Merangkul posesif pinggang Dian “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin bertemu denganmu, tapi siapa sangka rupanya ada kakek juga disini.” Melihat kakek yang duduk di depan.
“Ho.. aku kira kau sudah melupakan ku.” Aura yang keluar dari keduanya benar-benar mirip
“Maaf aku tidak mengingat seseorang yang selalu memaksakan kehendaknya.” Sarkas Ilyas
Dikecupnya tangan mungil tersebut membuat Dian Malu bukan kepalang. Padahal ada kakek disana tapi bisa-bisanya sang suami bersikap tak tau malu.
Berdehem, Dian mengalihkan pandangannya melihat kakek “Kakek juga, pasti kakek lapar habis perjalanan jauh. Ayo kita makan sama-sama.” Walaupun ia tak tau kakek Arnold berasal dari mana.
“Baiklah. Karena sudah terlanjur disini.” Seru kakek Arnold berdiri dari duduknya.
Dian bernafas lega “Ayo by.” Ilyas mengangguk. Mereka bertiga ke meja makan. Setelah duduk, Dian melayani sang suami setelah itu melayani kakek Arnold.
Mereka makan dalam keheningan. Hanya dentingan sendok dan garpu yang bertabrakan dengan piring menimbulkan bunyi khas tersendiri. Makan yang entah siang tapi belum siang, sarapan tapi sudah tak pagi lagi. Entahlah lagipula tak ada yang protes.
Dalam hati, Ilyas was-was akan kedatangan kakeknya yang tiba-tiba. Ia sangat tau bagaimana sifat keras sang kakek. Walau kakeknya sekalipun tidak akan ia biarkan jika berani menyakiti istrinya.
Selesai makan. Masih dimeja makan..
“Aku sudah membelikan mu ponsel baru. Ponselnya ada didalam mobil, ambillah.” Menyentuh kepala Istri nya dengan lembut.
Dian terdiam, ia tidak enak meninggalkan kakek suaminya. Tapi sepertinya Dian paham kalau ada yang akan mereka berdua bicarakan empat mata.
“Terima kasih, by. Yaudah aku ambil dulu.” Beralih menatap pria tua didepannya
“Mari kek.” Tersenyum manis. Kakek Arnold pun membalas dengan ikut tersenyum.
“Baik-baiklah bicara dengan kakek.” Berbisik ditelinga Ilyas lalu bangkit dari kursinya. Kening Ilyas berkerut. Ia menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
'sejak kapan Istri ku jadi sedikit pintar'
Sedangkan Dian mengedipkan sebelah mata lalu bergegas pergi meninggalkan kedua orang itu. Ilyas tersenyum tipis, Istri nya memang Benar-benar menggemaskan.
“Rupanya kau bisa tersenyum juga.” Sindir kakek Arnold
Ilyas menatapnya datar “Apa mau mu datang ke mansion Ku tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.” Bahkan berbicara dengan kakeknya tak membuat seorang Ilyas melembut.
“Bukannya Dianra terlalu baik untuk pria datar dan kejam seperti mu.”
“Katakanlah dengan jelas. Aku sudah menikah sesuai permintaan mu, sekarang tidak ada alasan lagi untuk mu menjodohkan ku dengan wanita tidak benar.” ia benar-benar kerepotan dengan perjodohan yang diatur kakek tanpa persetujuannya
Mengedikkan kedua bahu “Yah syukurlah kau mendapatkan istri baik-baik seperti Dian. Tapi bukannya istrimu terlalu polos?” Bahkan Arnold sendiri takut melihat orang seperti Dian berkeliaran diluar sana. Di Dunia yang terlihat indah namun sungguh menyedihkan bahkan sangat kejam.
“Karena itu dia cocok dengan ku. Aku yang akan melindunginya.” tegas Ilyas
Samar terlihat senyum dibibir tua itu “Sepertinya kau sudah jatuh hati padanya. Yah Siapa pun pasti akan jatuh hati padanya hanya dengan melihat wajah nya yang cantik.” Mungkin jika ia masih muda, ia pun akan jatuh hati pada Dian
Tatapan nyalang diberikan untuk kakek “Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Dian istriku, sekarang dan selamanya.”
“Tenanglah son.. tidak akan ada yang berani mengambil nya darimu.” Tertawa geli melihat tingkah keposesifan cucunya “Jadi, kapan kau akan mengenalkan nya pada publik?”
Ilyas terdiam “Tidak perlu. Lagipula kami juga sudah berstatus suami istri.” Meminum air putih dihadapannya
“Tingkat keposesifan mu sudah diatas rata-rata rupanya. Sudah kubilang bukan, tidak akan ada yang berani merebutnya darimu.”
'Sial!' Entahlah rasanya Ilyas kalah berdebat dengan kakeknya 'aku tetap tidak rela wanita ku dilihat pria lain' Batinnya meronta-ronta
“Tekan ego mu untuk kali ini saja. Kau harus melakukan nya agar tidak ada yang semena-mena terhadap nya, dan biar keluarga yang lain juga bisa mengenal nyonya Ilyas.”
Ilyas terdiam “Akan aku pikirkan.” Berdiri, ia hendak pergi dari sana. Berbalik “Sampai kakek akan disini?”
“Entahlah. Tidak akan lama, aku hanya datang menemui wanita seperti apa yang bisa menjinakkan mu.”
Ilyas berdecak kesal “Jangan terlalu lama disini.” Setelah mengatakan itu ia pun pergi menyusul istrinya.
Sedangkan kakek Arnold hanya geleng-geleng kepala “Tidak kusangka wanita seperti Dian bisa bertahan dengan nya.”
Lalu naik ketas lift. Ia ingin mengistirahatkan tubuh nya yang sudah renta diranjang empuk bak awan melayang.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...