Dream Wedding

Dream Wedding
Kalau jodoh gak bakalan kemana



Sesuai perkataan Ilyas, mereka semua keluar dari ruangan kecuali Dian yang memang kekeuh ingin tinggal. Dan ajaibnya Ilyas sama sekali tidak keberatan. Entah apa yang terjadi padanya.


Namun melihat Dian, ia menjadi tenang dan merasa tentram.


Keadaan hening, Dian masih duduk ditempatnya sembari menunduk dalam. Sedangkan Ilyas hanya melihat tanpa berkata apa-apa.


Dian menghirup nafas panjang, lalu beralih melihat bubur yang ada di atas nakas. Ah ia baru ingat, suaminya belum makan apa-apa semenjak sadar dari koma.


Dengan keberanian yang sudah ia kumpul selama sepuluh menit, Dian pun angkat bicara “emm tuan, anda belum makan sedari tadi bukan? Bagaimana kalau sekarang anda makan.” Mengambil mangkuk bubur yang ada diatas nakas


Ilyas hanya diam, entah mengapa ia sangat tidak menyukai panggilan tuan yang disematkan Dian ”Bukankah kita suami istri?”


Dian mendongak melihat suaminya dengan raut wajah yang sedikit berbinar, lalu ia mengangguk “Iya kita memang suami istri.” tersenyum manis. Dianggap sebagai istri dari Ilyas saja sudah membuat Dian senang.


‘cantik’ tanpa sadar ia membatin. Namun mengoreksinya juga ia tidak mau.


“Rupanya kau tidak bodoh. Jadi hentikan pembicaraan formal mu.” Ia tetaplah Ilyas. Si datar dan arogan.


Dipanggil Bodoh, bukannya kesal Dian malah tersenyum manis. Suaminya memang seperti itu, Dian malah menganggap Ilyas tsundere “Baik. Kalau gitu hubby makan dulu yah.”


Ahh ada rasa hangat yang menjalar tatkala mendengar suara lembut Dian, apalagi mendengar panggilan hubby itu. Sangat merindukan. Mungkinkah dia sudah jatuh cinta pada wanita cantik ini sebelumnya? Sebelum dia kehilangan ingatan.


Karena masih tidak berani dengan suaminya, Dian meletakkan mangkuk bubur tersebut di pangkuan Ilyas.


Tangan kanan Ilyas di infus, “Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat tangan ku sekarang tidak bisa digerakkan.”


Dian terdiam, benar juga yah. Pikirnya “Hmm jadi, Dian harus gimana?” Sebenarnya ia sudah tau. Namun, entah dari mana pikiran egois tersebut datang. Dian ingin agar Ilyas yang lebih dulu meminta untuk di suapi.


Ilyas Menghembuskan nafas kasar. Apakah semuanya harus dijelaskan “Suapi aku!” tandasnya. Sayang seribu sayang, Ilyas adalah perawakan orang yang tidak mempunyai malu.


Dian semakin tersenyum lebar, ia kembali mengambil mangkuk bubur itu lalu menyuapi Ilyas pelan-pelan.


“Ceritakan bagaimana kita bisa menikah.” Beo Ilyas sesaat satu sendok bubur sudah ia telan


“Apa kamu benar-benar gak ingat, by?“ tetap ada rasa sesak didada. Pernikahan yang sangat sakral itu tidak di ingat suaminya.


“Aku tidak akan menyuruh mu menceritakannya kalau aku mengingat nya!” kembali menerima suapan dari Dian


Dian menarik nafas dan mulai menceritakan semuanya secara rinci sambil menyuapi Ilyas. Dari yang ia tidak sengaja menolong Ilyas yang tengah terkapar di ujung jalan lalu membawanya pulang sampai pada saat mereka dituduh melakukan hal yang iya-iya. Lalu berakhir dinikahkan.


Menaruh mangkuk kosong di atas nakas “Dan yah seperti itulah by.” Memberikan gelas berisi air minum


Ilyas Mengambil gelas tersebut dengan kening yang berkerut. Memang ada yang salah dari cerita itu, tidak mungkin dirinya ingin dituduh melakukan hal yang tidak senonoh. ‘Sebenarnya apa yang aku pikirkan saat itu’ memberikan kembali gelas kosong ke Dian.


Ia memperhatikan wajah istrinya. Cantik, memang sangat cantik. ‘apa mungkin aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama? Atau aku hanya tertarik padanya saat itu?’ pikirannya berkecamuk.


Ilyas mencoba untuk mengingat namun, “Ahhhkkk” memegang kepala


“by, kamu gak apa-apa? Dian panggil dokter yah.”


Ilyas menahan nya “Tidak perlu.“ lalu berbaring memunggungi Dian. Kepalanya selalu sakit saat mencoba mengingat tiga tahun terakhir.


“Tidurlah, aku juga akan tidur.” Seru Ilyas tanpa melihat Dian.


Dian terdiam, ia menatap nanar punggung Ilyas. Seharusnya hari ini ia bisa kembali bermanja-manja kepada suaminya, atau ia ingin sang suami yang bermanja-manja padanya.


Menghembuskan nafas panjang, ia lantas mengambil ponsel yang ada diatas nakas. Dian ingin mencari cara agar ingatan suaminya dapat cepat kembali tanpa harus dipaksa


“hmm membawanya ke tempat-tempat yang mempunyai banyak kenangan?, Apa aku harus membawanya kembali ke ruamah ku yah.” Gumam Dian dan kembali menscrool ke bawah


“Apa harus digetok juga kepalanya?” ia segera menggeleng keras. “bisa-bisa aku yang digetok kembali!”


Setelah puas bermain ponsel, Dian mengunci pintu ruangan lalu membuka hijabnya. Dilihatnya sang suami yang sudah tertidur, setelah cuci muka dan kaki ia pun pelan-pelan naik keatas ranjang lalu masuk kedalam selimut suaminya.


Ilyas yang sebenarnya masih belum tidur tersentak saat merasakan ada yang naik ketempat tidur dan masuk kedalam selimut yang sama ia pakai. Namun Ia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Ia kembali tersentak tatkala merasakan sebuah lengan mungil melingkar di pinggang nya. Terdengar juga hembusan nafas di tengkuk Ilyas, ada rasa nyaman yang sekarang dirasakan pria tersebut. Rasa yang tidak pernah ia rasakan selama ini.


“Maafkan Dian yang naik tanpa izinmu ke atas ranjang by, tapi Dian benar-benar gak tahan kalau gak tidur bersama mu. Dian harap kamu cepat ingat semua nya by.” Semakin mengeratkan pelukan


“Aku mencintai mu by, sangat-sangat mencintai mu.” mencium pipi Ilyas “Selamat tidur, my husband.“ Bisiknya dan ia pun tertidur.


Jantung Ilyas berdetak tak karuang mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Dian. Apalagi saat ia mendapati ciuman hangat di pipinya, telinganya memerah ‘perasaan apa ini?‘


Tanpa sadar senyum tipis terpampang di wajah nya “Segitu cintanya kau padaku? Padahal jelas-jelas aku yang salah.” Ia mengingat cerita Dian yang mengatakan Ilyas lah yang tidak mengatakan yang sebenarnya sehingga mereka berakhir di hadapan penghulu.


Entah bisikan malaikat dari mana, Ilyas mencium kening Dian lama


“Good night, my wife.” Dan Ikut memejamkan mata tanpa bisa membalas pelukan Dian karena tangan yang di infus.


.........


Disaat masalah yang menimpa Dian seperti tak berkesudahan, sepertinya hal yang sama dialami oleh sang sahabat.


Sarah termenung menatap bintang yang bertebaran diatas langit. Ia melamun memikirkan banyak hal.


Dimulai dari sahabatnya yang selalu sedih namun ia hanya bisa menenangkan dan menghibur tanpa bisa membantu lebih. Dan hubungan nya dengan Ardo yang kian menjauh karena Ardo disibukkan dengan pekerjaan kantor dan menggantikan Ilyas.


Haaaahhhh


“Kalau seandainya bintang bisa membawa kembali kebahagiaan kepada Dian, pasti sudah aku ambil dari dulu.” Menopang dagu di jendela kamar sambil melihat langit malam yang bertaburan bintang.


Menghembuskan nafas panjang sekali lagi “Seandainya dengan aku memberikan pak Ardo bintang dapat membuatku lebih dekat dengan nya, sudah aku curi semua bintang.”


Ia bermonolog sendiri, membuat puisi dengan menyalakan bintang yang terlalu indah namun tak tergapai. Bagaikan kisah cinta nya yang tak kunjung mendapatkan pencerahan. Kapalnya selalu tersendat saat akan berlayar.


“Bintang gak bakalan bisa ngabulin doa mu,”


Suara yang tak asing itu sontak membuat Sarah menoleh. Lalu menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal sembari memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi “Hehe uma,”


Uma Tuti menggeleng-geleng melihat tingkah anak semata wayangnya tersebut. Ia lantas duduk di samping Sarah “Ada apa nak? Cerita sama uma.” Mengelus rambut Sarah yang Sepinggang.


Sarah menunduk lalu kembali menoleh melihat bintang “Sarah cuman bingung ajah uma. Kok kayanya kisah cintaku gak kaya Romeo dan Juliet yah.” Serunya tanpa melihat uma Tuti


Ikut memandangi bintang-bintang “Bagus dong kalau gak mirip dengan kisah Romeo dan Juliet. Emangnya kamu mau kisah cinta mu berakhir tragis?”


Sontak Sarah melihat umanya dan menggeleng keras. Uma Tuti terkekeh kecil “Kamu ingat gak tentang kisah Zulaikha Yang mengejar-ngejar cinta nabi Yusuf alaihi salam, Semakin dia kejar semakin cintanya menjauh.”


Sarah mengangguk “Iya uma.”


“Nah waktu itu apa yang dilakukan Zulaikha Untuk bisa mendekatkan dirinya dengan nabi Yusuf?”


“Mengejar cinta Allah SWT. maka Allah datangkan nabi Yusuf padanya.” Jawab Sarah masih tidak mengerti apa yang akan dikatakan uma Tuti


“hmm itu tau. Ingat nak, semua yang ada di alam semesta ini bukan milik siapa-siapa melainkan pencipta kita. Kalau kamu ngejar-ngejar orangnya tanpa persetujuan dan izin dari pencipta-Nya, tidak akan membuahkan hasil. Izin dulu sama pencipta-Nya baru serahkan semua kepada-Nya. Kita hanya makhluk ciptaannya, berderah diri kepada sang pencipta adalah yang terbaik.” Uma Tuti memberikan wejangan kepada sang putri agar tidak menjadi apa yang dilakukan Sarah tidak menjadi aib dan membuat dirinya sendiri kesusahan.


Sarah terdiam “Jadi, Sarah harus melepaskan nya uma?” Baru mengatakan nya saja sudah menimbulkan rasa sesak didada


Uma Tuti menggeleng pelan “Bukan melepaskan. Tapi dekatilah dengan sewajarnya. Lagian kalau pun jodoh gak akan kemana kok. Ingat nak, apapun yang kamu rasakan padanya sebelum adanya tali yang halal, yakinlah itu hanya hawa nafsu semata.”


“Kamu cantik sayang, walaupun bar-bar...”


“Sedikit bar-bar uma.” mengerucutkan bibir. Ia mana terima di katai bar-bar walaupun itu benar adanya.


Uma Tuti tertawa kecil “Iya.. iya.. anak uma yang kalem.” ucapan uma Tuti berhasil membuat Sarah semakin memonyongkan bibirnya


“Jangan patah semangat berdoa pada yang kuasa, uma yakin kalau jodoh pasti akan ketemu bagaimana pun caranya.”


Sarah tersenyum, ia terenyuh mendengar penuturan sang ibu. Benar apa yang dikatakan uma Tuti, selama ini Sarah terlalu agresif dan terkesan sangat membutuhkan kekasih. Walau bagaimanapun ia seorang perempuan, mempunyai kodrat yang tidak bisa dilewati begitu saja.


“hmm uma benar. Sarah bakalan jaga batasan kok, Sarah masih waras untuk gak ngelakuin hal yang tidak-tidak.”


Mengelus puncak kepala anaknya lalu melabuhkan ciuman di kening Sarah “Bagus, gih tidur sana. Udah malam, katanya besok pengen jenguk suami Dian.”


Sarah mengangguk “Makasih yah uma.” memeluk uma Tuti dengan erat. Akhirnya beban yang selama ini ia pikul seperti menghilang, raib ditelan wajangan uma Tuti.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...