
Usaha tidak akan mengkhianati hasilnya, seperti kata pepatah itulah yang dirasakan Sarah sekarang. Setelah sekian purnama ia mencoba mengajak gebetannya kencan akhirnya hari bersejarah itu terjadi.
Sarah memandangi wajah tampan bosnya yang tengah asik memakan makanannya. Mereka baru pulang dari meeting diluar. Ardo yang bertanggung jawab atas proyek tersebut mau tidak mau harus mengajak Sarah untuk ikut meeting membantunya.
Namun saat akan pulang, Sarah merengek untuk tinggal makan siang daripada harus pulang ke kantor dengan perut yang kosong dan waktu ham makan siang yang sudah lewat.
Dengan pertimbangan yang sangat akurat bak mengerjakan fisika, akhirnya Ardo menyetujui usulan Sarah. Senang bukan main yang dirasakann Sarah, walaupun masih belum bisa dikatakan kencan tapi Sarah sudah bahagia bisa makan siang bersama dengan atasannya merangkak gebetannya.
“Kenapa melihat ku terus?” Suara bass Ardo membuyarkan lamunan Sarah.
Menggaruk punggung tangan yang ada dibawah meja, ia terlampau malu kedapatan memandangi wajah atasannya “Pak Ardo ganteng, saya jadi pangling.” Sudah menyebur, sekalian minum air. Itulah yang dilakukan Sarah.
Malu? Entahlah sudah Sarah ikat dirumah nya agar tidak kabur. Nanti dilepas jika sudah diperlukan!
Ardo menatap nya datar. Yah walaupun ia berwajah datar berbeda dengan jantungnya yang sudah akan melompat dari tempatnya. Ia juga tidak tau kenapa tapi ia benar-benar senang dikatakan tampan oleh Sarah.
“Syukurlah matamu tidak buta.” Meninggikan harga diri adalah salah satu cara menetralisir rasa malu
Sarah mencebik ‘Untung cinta!’
“Sudahlah cepat makan makananmu lalu kita kembali ke kantor. Jangan menatap aku terus!” Ia tidak sanggup menghadapi tatapan polos Sarah
“Iya.. iya.. aku kira akan kencan.” Ucap nya dengan nada lesu “Dasar pak Ardo gak peka!” Gerutu Sarah
Ardo Terkekeh dalam hati mendengar gerutuan Sarah. Ada yah orang yang memaki didepan orangnya langsung. Sebenarnya Ardo menyetujui ajakan Sarah untuk tinggal makan siang bersama karena ia merasa tidak enak sudah berapa kali ia menolak dan sialnya wanita itu sama sekali tidak pantang mundur.
Diam-diam Ardo memperhatikan Sarah yang sedang makan, ‘Kenapa semua wanita makannya sangat sedikit! Apa memang perut mereka sekecil itu’ Entah mengapa ia jadi sewot sendiri.
Apalagi mengingat nyonya nya juga yang makan sedikit serta istri sahabatnya yang juga makan sedikit. Padahal masih banyak makanan, kenapa malah seperti tak ada makanan.
Benar-benar, wanita memang sulit dimengerti! Tapi, apakah bukan pikirkan nya yang terlalu berlebihan dan rumit
Hening, mereka makan dalam keheningan. Ingin nya Sarah berbicara namun takut mengganggu Ardo yang sedang makan. Sampai...
“Sarah? Sarah ‘kan?” Seorang pria menghampiri Sarah
Sontak Sarah mendongak mendengar namanya disebut, keningnya berkerut melihat seorang pria tampan didepannya, “emm Darul.. astaga Darul ‘kan? Yang selalu buntutin aku sama Dian dulu!” Pekik Sarah
Darul tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, belum apa-apa aibnya sudah terbongkar “Iya, aku Darul tapi gak usah bongkar aib aku juga kali Sar. Tapi apa kabar? Udah lama banget kita gak ketemu.” Tanpa permisi Darul menarik kursi dan duduk di samping Sarah
Sarah tertawa geli “Sorry.. sorry.. hahah Tapi kamu udah berubah banyak yah, jadi makin ganteng ciaaa.. ”
Darul tersenyum bangga “Ehkhem.. pastinya dong.” Nada suaranya ia buat seangkuh mungkin
“Hahahah... Kamu gak berubah yah, masih songong ajah kalo dipuji dikit!”
“Oh yah Dian apa kabar? Udah hampir 5 tahun loh kita gak tukar kabar.” Darul adalah teman dekat Dian dan Sarah dari jaman SD sampai SMA, satu kelas lagi.
“Alhamdulillah, Dian baik kok sama suaminya. Tapi selama ini kamu kemana ajah sih.”
Nampak wajah terkejut Darul “Dian udah nikah? Kapan? Sama siapa? Kok aku gak di undang!” Cecar Darul, ia sudah menganggap Dian adiknya sendiri secara mereka sama-sama dari panti asuhan.
“Aku ajah gak di undang apalagi kamu!”
Mereka terus berbicara dan melupakan sekelilingnya, apalagi Ardo sekarang bagaikan orang transparan yang ada tapi tidak dilihat. Ada rasa tak suka saat melihat Sarah berbicara akrab dengan pria didepannya.
‘Ck! Perasaan apa ini!’ Ia geram setiap melihat senyuman manis yang diberikan Sarah pada pria lain.
Dugh..
Menaruh sendok dan garpu dengan sedikit kasar diatas meja menyadarkan kedua orang yang sedang asik mengobrol.
“Eh?! Kenapa pak?” Tersentak kaget ‘Astaga bisa-bisanya aku lupa sama pak Ardo’
Sarah melihat Darul “Rul kenalin atasanku, pak Ardo.” Ujar Sarah
Darul tersenyum lalu mengangguk “Saya Darulassalam, sahabat Sarah.”
Ardo hanya mengangguk “Ardo.” Singkat nya. Entah mengapa ia kesal saat Sarah mengenalkan dengan atasannya, kenapa bukan kekasih sih! Eh? Astaga kenapa jadi dia berharap, Ardo menggeleng keras.
Dia sudah bodoh!
“Eh?! Tunggu pak..” Mengambil tas “Aku duluan yah, ini nomor telepon ku.” Menaruhnya di telapak tangan Darul
“Baiklah.. hati-hati.” Darul hanya diam memandangi sahabat lamanya lari mengejar Ardo.
“Apa mereka sepasang kekasih?”
...***...
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Dian, sejak tadi pagi dia sudah standby didepan laptop. Ia menunggu email nya muncul, email tentang kelulusan atau kegagalannya. Yang mana pun itu, Dian akan tabah menerimanya.
Disini lah Dian, ia duduk di sofa dalam kamar. Ia tak sabar menunggu email nya masuk, namun ia juga takut akan hasilnya.
Ting..
Sebuah email masuk. Jantung Dian berdebar-debar tak karuan, ia memejamkan mata sebelum membukanya. Hatinya masih belum siap untuk melihat hasilnya, namun tangan nya sudah berkoar-koar agar secepatnya ia membuka email tersebut.
“Bismillahirrahmanirrahim..” Ia pun membuka email tersebut dengan mata yang masih terpejam.
“Buka gak yah? Tapi, gimana kalau gak lulus.” Ia tidak ingin membuat suami nya kecewa. “Emmmm ah buka ajah deh.” Detik selanjutnya Dian pun membuka matanya
Deg...
“Lu.. lus.. Alhamdulillah..” Pekik Dian, air matanya tumpah melihat kata-kata lulus disana dengan namanya yang bersanding bersama kata lulus tersebut.
Semua kerja keras serta doanya tak sia-sia, ia sungguh lulus. Ahhk rasanya ia ingin berteriak. “Hubby! Aku harus memberitahukan nya!” Mengambil ponsel nya yang ada disamping laptop.
Niat hati yang ingin menelpon suaminya urung tatkala ia melihat tayangan televisi didepan nya.
“Sebuah mobil tertabrak truk di lampu merah. Diduga truk tersebut menerobos lampu merah.”
Tapi bukan berita itu yang jadi perhatian Dian namun mobil yang terlihat hancur didalam televisi sangat tidak asing di matanya, bahkan plat mobilnya pun sama
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, i.. ini tidak mungkin ‘kan? I.. iya pasti hanya mirip, aku yakin itu.”
Drrtt... Drrtt... Drrtt..
Mata Dian berbinar melihat nomor telepon yang menghubungi nya “ Alhamdulillah, aku yakin pasti mobilnya hanya sama.” Dengan semangat empat lima Dian mengangkat sambungan telepon dari nomor suaminya.
“Halo, Assalamu'alaikum by..”
“....”
“A.. apa.. ti.. tidak, bang Mike pasti bohong ‘kan? Tadi pagi suamiku masih baik-baik saja, masih tersenyum hangat melihat Dian.” suaranya bergetar, air mata lolos begitu saja membasahi pipi
“....”
Tangan kecil Dian bergetar, setelah mengucap salam ponselnya terjatuh keatas karpet lantai. Ia memandang kedepan dengan tatapan kosong.
“Astagfirullah, sadarlah Dian.. yakinlah suamimu pasti baik-baik saja.” Ia segera berdiri dari tempatnya setelah menutup laptop lalu segera berganti pakaian.
Supir sudah menunggunya di bawah atas suruhan Mike untuk mengantarkan nyonya sampai ke tujuan dengan selamat.
.
.
TBC
Maaf bangat yah manteman 🙏 othor lama update soalnya sibuk bangat 😭 😖 Harus cari waktu yang pas buat nulis, itupun kalau mood lagi bagus, mumet bangat pala othor😌
udahlah yah jadi adu nasib deh😙
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...
Follow ig othor🤭😅🙏 \=> HimaSun_05