Dream Wedding

Dream Wedding
Akhirnya Sadar



Setelah cukup lama bercerita dari a sampai z, Siti akhirnya memutuskan untuk pulang karena Mike sudah menjemput.


“Biar aku antar sampai bawah yah kak.” Dian menawarkan diri untuk mengantar Siti sampai loby karena Mike menunggu di loby rumah sakit.


“Enggak perlu dek, kamu disini ajah.” Tolak Siti halus


Dian menggeleng pelan “Gak apa-apa kak, aku antar sampai bawah. Nanti para pengawal yang jaga disini.”


Berapa kali pun di tolak, Dian tetap kekeuh mau mengantar, mau tidak mau Siti pun mengalah.


Dian melambaikan tangannya pada Siti dan Mike yang semakin lama punggungnya semakin menjauh. Membuang nafas kasar, ia lantas berbalik pergi dari sana.


Namun langkahnya terhenti saat melihat beberapa orang yang dikenalnya tengah berlari menyusuri koridor rumah sakit, Dian ingin menghampiri semata-mata untuk silaturahmi tapi ia tidak berani menemui mereka Tanpa suaminya.


Dian pun memutuskan untuk melanjutkan langkah ke ruangan sang suami.


“Dian...”


Dian berbalik melihat Sumber suara “Kak sindy?” Lirihnya


“Mau ke ruangan kak Ilyas ‘kan?”


“iya kak,” Jawab Dian


“Kalau gitu kita sama-sama ajah kesana nya.” Serunya melingkarkan tangan di lengan Dian. Gadis berambut sebahu itu pun melangkah bersama Dian.


“Gimana kerja nya kak?” Tanya Dian


Terdengar helaan nafas panjang yang terdengar sangat kelelahan “Hahhh klien baru aku sangat merepotkan! Huh! Rasanya pengen aku tampol!” Sungutnya yang hanya dibalas tawa kecil dari Dian.


Mereka terus berjalan bersama dengan saling mengobrol satu sama lain. Hingga tak lama...


“Nak Dian?” Suara yang amat dikenal Dian memanggil dari belakang


Sontak Dian dan Sindy menoleh melihat sumber suara “Umi? Assalamu'alaikum umi.” Salam Dian berjalan mendekati umi Halimah


“Wa'alaikum salam.” Umi Halimah sungguh sangat merindukan Dian. Wanita yang terlihat sangat lembut nan teduh dan tidak akan bisa di lupakan begitu saja.


Dian lantas mencium punggung tangan umi Halimah “Apa kabar umi?” Tanyanya


Umi Halimah terlihat tersenyum tipis “Alhamdulillah baik,” Jawabnya melihat Dian dengan tatapan penuh rindu


“ Apa yang umi lakukan di rumah sakit? Umi gak sakita ‘kan?” Dian juga sempat melihat beberapa keluarga umi Halimah di rumah sakit dan terlihat berjalan terburu-buru


Umi Halimah menggeleng pelan “Enggak umi gak sakit apa-apa. Dian sendiri ngapain disini nak?” Umi balik bertanya


“Maaf anda siapa yah?” Sindy yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya angkat suara


“Oh Astagfirullah, maaf kak. Kenalin dia Umi Halimah, guru ngaji Dian terus.... mantan mertua ku dulu.” Dian memperkenalkan umi Halimah, untunglah Dian sudah menceritakan tentang siapa dirinya. Ia tak ingin menutup-nutupi apapun pada keluarga sang suami yang sekarang sudah menjadi keluarga nya juga.


Sindy manggut-manggut “Maaf bu, saya gak tau tadi. Kenalin saya Sindy keluarga baru Dian.” Mengulurkan tangan dan di sambut dengan baik oleh Umi Halimah


Kening umi Halimah berkerut. Keluarga? Bukannya Dian itu yatim piatu? Pikir umi Halimah. Dian yang mengerti kebingungan wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri walaupun ia sempat dikecewakan yang sangat dalam pun mencoba menjelaskan.


“Kak Sindy ini sepupu suami Dian, umi.” Ucap Dian membuat alis umi Halimah yang tadi saling menyatu sontak terangkat


“Maksudnya? Jadi berita tentang Nak Dian yang...” Ia tak dapat berkata-kata. Walaupun hanya rumor belaka ia tetap tidak percaya akan pernikahan tiba-tiba mantan menantunya, namun kenyataan benar-benar menampar kali ini.


Dian hanya tersenyum menanggapi “Oh yah umi ngapain disini? Kalau umi gak sakit terus umi buat apa datang ke rumah sakit? Jenguk seseorang?” Mencoba mengalihkan pembicaraan


Umi Halimah terdiam, keterkejutan nya tadi terganti dengan wajah yang ragu. Mengambil nafas dalam “Serly akan melahirkan.”


“Alhamdulillah... selama ini janin nya baik-baik ajah ‘kan? Semoga mbak Serly dilancarkan persalinannya.” Memang benar, orang baik tidak akan pernah menyimpan dendam.


Umi Halimah mengaminkan. Ia ingin mengajak Dian namun tak ada keberanian yang timbul, umi Halimah masih merasa bersalah akan tutup mulutnya terdahulu semakin membuat Dian kecewa.


Sindy yang sebenarnya kurang suka dengan keluarga mantan suami Dian tak ingin lama-lama. Sungguh ia sangat marah saat mendengar cerita lengkapnya dari Mike sebab Dian hanya menceritakan hal yang baik-baik saja tentang keluarga mantan suaminya Namun menutupi aib mereka.


Hingga akhirnya Sindy pun mencari kebenarannya sendiri, dan ia sangat-sangat tidak suka dengan keluarga mantan suami Dian.


“Aamiin, semoga persalinan lancar yah ibu. Tapi maaf kami sedang buru-buru, kalau ada waktu pasti kami akan menjenguk nya.” Sahut Sindy yang menolak secara halus


Dian sontak menoleh melihat Sindy dengan tatapan bingung. Sejak kapan mereka sesibuk itu? Pikir nya. Namun ia hanya diam.


Nampak raut wajah kekecewaan dari wanita yang berumur stengah abad itu “Baiklah, lain kali mampir yah.” Menampilkan senyuman manis


“Baik umi, InSya Allah... Kalau gitu kami permisi yah. Assalamu'alaikum.” Balas Dian bersamaan dengan Sindy saat mengucap salam


“Wa'alaikum salam.”


“Kak? Memangnya kakak pengen ngapain, kok buru-buru?” Tanya Dian


Sindy tersenyum melihat istri dari kakak sepupu nya yang terlalu polos dan baik “Yah kita harus cepat-cepat ke ruangan kak Ilyas, siapa tau kak Ilyas udah sadar.” Jawabnya asal


Dian tersenyum “Aamiin.. yaudah ayo,” Mempercepat langkahnya


Sindy menghela nafas lega ‘untunglah Dian percaya’


Berbeda dengan Dian, wanita itu sekali lagi mengelus perutnya berharap akan ada tumbuh buah cintanya bersama sang suami


‘Semoga ada yang tumbuh’


...***...


Dian, kakek Arnold, Said, Sindy, Ardo dan juga Mike sedang menunggu harap-harap cemas di luar ruangan Ilyas.


Dian duduk di kursi tunggu bersama Sindy yang selalu menguatkan nya, membisikkan kata-kata penyemangat kepada Dian yang sudah terlihat tidak karuan. Air mata tak dapat ia bendung, hatinya bergemuruh takut akan keadaan sang suami.


Tadi, tiba-tiba keadaan Ilyas drop. Kebetulan mereka semua berada di dalam ruangan saat kejadian tersebut terjadi.


‘Ya Allah, yang maha pengasih, berikanlah kasih mu kepada suami ku Ya Allah. hamba mohon sembuhkan suami hamba ya Allah. Janganlah engkau mengambil nya terlebih dahulu’ Doa Dian tiada henti dalam hati


Keadaan hening hanya terdengar isakan tangis Dian dan juga Sindy. Keduanya takut terjadi hal yang tak di inginkan kepada Ilyas yang tengah berjuang didalam sana.


Para pria hanya bisa diam tak berbicara, ingin menangis namun masih punya malu untuk tidak melakukannya saat banyak orang seperti sekarang.


Hingga tak lama, dokter keluar dari dalam ruangan. Sontak mereka semua menghampiri dokter Beno berkacamata tersebut.


“Bagaimana keadaan suami saya dok?” Pertanyaan klise yang selalu terucap keluar dari dalam mulut Dian.


Semua orang memberikan tatapan menuntut kepada dokter Beno seolah-olah membenarkan pertanyaan Dian.


Dokter Beno menghela nafas pelan lalu terlihat lengkungan di sudut bibirnya “Alhamdulillah, Allah masih ingin menahan tuan Ilyas di dunia.” Ucapan dokter Beno membuat mereka semua cengo tak paham dengan bahasa putar balik pria berkacamata tersebut.


Ardo yang entah mengapa memang tidak menyukainya dibuat geram,


“Katakan yang jelas dok!” Bukan Ardo atau yang lain yang mengatakannya, melainkan Dian yang juga dibuat kesal dengan kata-kata ambigu dokter Beno.


“Tuan Ilyas sudah melewati masa komanya, dan tadi sempat sadar namun ia kembali tertidur setelah diberi obat tidur. Tenang saja nyonya, tuan Ilyas berhasil selamat.” jelas dokter Beno


Mereka semua terdiam, dan tiba-tiba pikiran mereka blank.


1 detik..


2 detik..


3 detik..


“Alhamdulillah.” Pekik mereka semua membuat dokter Beno tersentak.


Memegang dada lalu mengelus nya ‘reaksinya terlambat everybody‘ ingin sekali ia berteriak seperti itu


“Apa kami bisa melihatnya sekarang?” Tanya Kakek Arnold, Said, dan Sindy bersamaan dengan wajah berbinar


“Silahkan. Asalkan jangan terlalu ribut karena tuan Ilyas baru tertidur lagi.” Mereka semua mengangguk lalu berterima kasih. Dokter Beno pun undur diri


Sindy sontak memeluk Dian dengan erat dan dibalas lebih erat oleh Dian “Sudah aku bilang ‘kan, kakak itu laki-laki kuat. Dia tidak mungkin pergi begitu saja!” ucapnya dengan nada terisak


Dian mengangguk dalam pelukan Sindy, ia tak dapat berkata-kata. Kebahagiaan yang ia rasakan sekarang tak dapat di ekspresi kan.


Said hendak melangkah memeluk kedua wanita itu namun kerah bajunya segera ditarik kakek Arnold “Mau kemana kau?”


Dengan wajah polos “Ikut jadi Teletubbies, kek.” Celetuknya mendapatkan gelak tawa dari mereka semua yang sedang berbahagia.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...


Follow ig othor🤭😅🙏 \=> HimaSun_05