
Dian memasuki ruang kerja suaminya yang sekarang juga sudah menjadi ruang belajar nya. Ia melihat ke dinding ruangan. Tanpa sadar Dian Tersenyum lebar saat melihat lukisan wajah suami nya yang saat itu ia lukis telah tertempel di dinding dengan bingkai indah menghiasi.
“Ada-ada ajah kamu, by.” Ucapnya menggelengkan kepala. Setelah ia lihat-lihat rupanya gambarnya memang bagus, apalagi setelah dibingkai.
Ia pun bergegas duduk ditempatnya lalu mulai belajar kembali. Syukurlah ia masih muda, jadi menggampangkan untuk menghapal atau memahami materi.
.
.
Ilyas yang telah selesai dengan kewajibannya sebagai seorang muslim pun menyusul istri nya yang sedang ada di ruang kerja miliknya yang sekarang juga sudah berubah menjadi tempat belajar Dian.
Ceklek..
Dibukanya pintu tersebut, Ilyas mengedarkan pandangannya dan jatuh kearah sang istri yang sedang tertidur di kursi sedangkan kepalanya ada diatas meja.
Ilyas tersenyum tipis lalu menghampiri sang istri. Dibelainya pipi mulus Dian “Sepertinya kamu sangat kelelahan sayang.” Beo Ilyas.
Mengecup kening Dian lalu setelah nya ia menggendong Dian kembali kedalam kamar untuk beristirahat. Sebelum keluar, Ilyas mengecup seluruh permukaan wajah cantik Dian lalu bergegas kembali ke ruang kerja untuk bekerja.
.........
Hari yang ditunggu-tunggu Dian akhirnya tiba. Yah hari ini Dian akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Sekarang dia Sudah ada didalam mobil bersama Ilyas dan juga kedua bawahan Suaminya.
Keadaan hening, Dian yang biasanya selalu membuka suara pun tak sempat melakukannya karena terlalu fokus dengan buku yang ia baca sekarang.
Ilyas daritadi hanya diam sambil memperhatikan wajah istri nya yang nampak fokus dengan buku. Tangannya sedari tadi melingkar di pinggang ramping Dian
Merebut buku yang sedari tadi menjadi fokus sang istri, sontak membuat si empunya menatap Ilyas. Ilyas melabuhkan kecupan di pipi Istri nya
“By.. ingat tempat! Kembalikan buku ku.”
“Belum masuk kuliah, kamu sudah mengabaikan suamimu. Bagaimana kalau sudah masuk?.. mungkin saja kamu sudah melupakan suami mu ini.” Ketus Ilyas
Dian terdiam lalu terkekeh geli “Maaf by, Dian lagi tegang. Ini kan pertama kalinya lagi Dian akan ikut ujian setelah beberapa tahun lalu.”
Diusapnya pipi suaminya “Maaf yah by. Dian gak sadar udah mengabaikan suami Dian sendiri. Janji deh lain kali gak gitu lagi.” Menunjukkan tanda peace
Mendengus “Jangan ada yang lain kali.” Balasnya hampir merengek. Mike dan Ardo yang sudah biasa melihat atasannya yang sangat manja kepada istrinya hanya bisa mengulum senyum.
“Hehe iya maaf. Tapi doa ‘kan Dian yah by, semoga ajah Dian lulus.” ia kembali tegang memikirkan ujian yang akan ia hadapi nanti.
Memegang tangan Dian lembut lalu mengecup nya singkat “Jangan tegang, kalau kamu tidak lulus. Aku pastikan kamu tetap akan diterima.”
Dian berenggut mendengarnya “Kasi kata-kata yang lebih bagus by, masa Dian di doain gak bakalan lulus.”
“Aku hanya mengatakannya, bukan berarti aku mendoakan mu.”
“iya.. iya..” Sekali lagi Dian selalu kalah dalam adu mulut dengan suaminya. Entah mengapa, walaupun sikap Ilyas yang apa adanya dan datar malah membuat Dian nyaman dan leluasa mengekspresikan perasaan nya.
.
.
“Ingat pesanku, jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain! Siapapun itu! Baik kamu mengenal nya atau tidak!” Menangkup wajah istri nya.
Mereka sudah sampai di parkiran depan gedung tempat ujian yang akan dilaksanakan. Mike dan juga Ardo sudah keluar dari dalam mobil.
Dian mengangguk cepat “Iya by. Lagian hubby lebih tampan daripada laki-laki lain, jadi Dian gak bakalan sudih buat lirik yang lain.” Jawaban Dian membuat Ilyas tersenyum senang, untuk pertama kalinya ia mensyukuri wajah tampannya yang selalu ia umpat karena sering menjadi pusat perhatian.
“Jangan terlalu tegang. Selama ini kamu sudah belajar mati-matian, aku yakin kamu bisa!”
Dian tersenyum lebar. Ini kata-kata yang sedari tadi dia tunggu “Aamiin... Udah yah by, sebentar lagi ujiannya dimulai.”
Mengecup sekilas bibir istrinya “Nanti aku jemput setelah ujian.” Dian mengangguk, ia sangat suka diperhatikan oleh suaminya yang terkesan datar.
Ilyas kembali memagut bibir istrinya sebelum mereka keluar. Setelah berpamitan, Dian pun berjalan memasuki gedung tempat pelaksanaan ujian nya nanti. Ilyas memandangi punggung istrinya sampai tidak terlihat barulah ia meninggalkan tempat.
Dian salah satu orang yang berwajah tegang. Tak henti-hentinya ia merapalkan materi yang sudah dihapal dan dipelajari. Sangking asiknya menghapal, Dian tidak melihat sekeliling nya dan..
Brukk...
“Ah.. ma.. maaf..” Menunduk dalam. Terlihat minuman tumpah diatas tanah.
“Gak papa, lu sendiri gak terluka ‘kan?” Suara seorang pria terdengar dari orang yang ditabrak.
Dian mendongak “Alhamdulillah gak apa-apa, tapi minuman mu..” Melirik kearah minuman yang sudah jatuh bebas ditanah
Pria muda itu tersenyum, tak dapat ia pungkiri wanita didepannya sangat cantik bak boneka berjalan “I'ts okey, bisa beli lagi kok. Oh yah lu juga mau ikut ujian?”
Dian mengangguk “Kamu juga?”
Pria tampan yang wajah nya bak artis Korea tersebut mengangguk lalu tersenyum cerah menampilkan satu lesung pipi di pipi kanan “Nama gue Syahren Radil. Biasa dipanggil Syah, ren, Radil dan Adil. Terserah sih mau manggil apa, tapi gue saranin mending manggil Adil ajah,” Mengulurkan tangan nya dengan bercanda
Dian tertawa geli, pria didepannya sangat bertolak belakang dengan suaminya. Walau begitu, suaminya tetap yang nomor satu di hati dan mata Dian
“Aku Dianra Akila Rahman, panggil ajah Dian.” Menangkup tangan didepan dada ”Tapi kenapa aku harus manggil kamu dengan Adil? Kenapa gak Ren, Radil atau Syah.”
Menarik kembali tangannya yang tergantung di udara lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan kecanggungan nya “Gak papa sih, cuman keren ajah kan. Daripada Syah, nanti malah kepleset jadi Syahrini hahahah.” Tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Dian yang juga tertawa mendengarnya
“Woi.. Adil...” Seorang perempuan berambut panjang lurus berlari kearah Dian dan juga Adil.
Bugh..
Perempuan itu langsung memukul punggung Adil “Sialan lu.. pergi kemana ajah sih..”
“Ahkk gila! Sakit Ay, lu kenapa sih.”
“Haiss gue yang harusnya nanya!”
Dian hanya menatap heran mereka berdua. “Eh? Wahh ada bidadari, pantasan ajah lu gak ingat gue.”
“Ck!.. maaf yah Dian, kenalkan dia Curut gue,”
Plak..
Memukul lengan Adil “Sembarangan ajah lu.” Beralih melihat Dian “Halo bidadari, kenalin nama gue Namira Aylasyih. Panggil ajah Ayla.” Menyodorkan tangan nya dan disambut dengan senang hati oleh Dian
“Dianra Akila Rahman, panggil ajah Dian.” Balasnya sembari memperlihatkan senyuman manisnya yang mampu membuat orang-orang tersihir, dan itupun terjadi pada Adil dan juga Ayla
“Gila! Pantasan ajah lu betah disini! Ada bidadari toh.” Celetuk Ayla
Dian terkekeh “Kalian pacaran atau gimana?” Tanya Dian dengan wajah bingung kearah mereka berdua
Sontak keduanya tertawa geli “Hahahha gak mungkinlah!” Ucap Adil
“Hahahaha benar tuh! Adil cuman sahabat gue dari kecil udah kaya saudara.” Timpal Ayla
Diana ikut tertawa melihat mereka tertawa “Oh yah kalian juga pengen ikut ujian masuk?”
Ayla dan Adil sontak menghentikan tawanya lalu menepuk jidat “Ujiannya udah mau mulai... Cepat! Kita bisa telat.” Seru Ayla
Dian ikut menepuk keningnya, bisa-bisanya ia lupa “Ayo..” Mereka bertiga pun lari dengan cepat kedalam gedung.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...