Dream Wedding

Dream Wedding
Pernikahan Sarah & Ardo



“Sah..”


“Sah..”


“Sah..”


Suara Sah, menggema di sebuah ballroom hotel. Nampak semua orang tersenyum senang. Hari ini adalah hari yang sudah sangat Sarah nanti-nanti. Yap hari pernikahan nya dengan sang pujaan hati. Sungguh ia masih tidak percaya bahwa hari ini ia benar-benar sudah dipersunting oleh atasannya sendiri


“Baik, pengantin wanita bisa mencium tangan suaminya.” Seru penghulu di samping abi Rizal Yang baru saja menyerahkan Putri semata wayangnya pada seorang pemuda yang sudah ia pertimbangkan dengan sangat matang


Dengan Tersenyum malu-malu, Sarah mengambil tangan kanan suaminya dan mencium punggung nya. Ah... Hatinya berdesir tatkala bibir menyentuh punggung tangan yang besar ini.


Tanpa diminta, Ardo mengecup kening Sarah takzim. Ia meresapi setiap moment yang terjadi hari ini.


Akhirnya, akhirnya... Perjuangkan mereka berdua berujung baik. Walau begitu, ini barulah awal dari biduk sebuah rumah tangga yang akan mereka jalani. Masih banyak kerikil-kerikil kecil yang akan menghalangi keduanya kedepan.


Selesai itu, acara sungkem Pun tak pernah absen untuk dilaksanakan. Tangis haru kemudian menyelimuti acara sungkeman ini. Ardo yang hanya punya seorang ibu pun tak kuasa menahan tangis di pangkuan ibunya, begitu pun Sarah. Para tamu undangan juga tak kuasa menahan tangis


Ilyas mengelus punggung istrinya yang menangis. Padahal bukan dia yang menikah namun ia yang paling pilu tangisannya, kecuali kedua pengantin disana.


“Sudah.. sudah.. bukan kamu yang menikah loh, sayang.” Mengecup puncak kepala istrinya yang tertutup hijab.


Kesempatan ini membuat Ilyas menenggelamkan kepala Istri nya di dada. Ia tak terima wajah cantik sang istri harus dilihat banyak orang yang sejak tadi melihat kearahnya karena penasaran akan seorang wanita yang berada di pelukan nya.


Ilyas memang sudah mengumumkan pernikahannya karena sudah setahun lebih. Namun tidak ada yang tau bagaimana rupa istri dari seorang Mahendra Ilyas Sam yang di agung-agungkan.


Sejak masuk kedalam ballroom hotel keduanya memang sudah menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, seorang Ilyas yang pernah mengumumkan bahwa sudah menikah tidak pernah sekalipun menunjukkan siapa Istri nya kepada publik. Usut punya usut, katanya Ilyas terlalu mencintai istrinya dan tidak rela memperlihatkan pada publik, namun ada juga spekulasi yang lain.


Ada yang mengatakan karena istrinya yang buruk rupa, atau istri seorang Ilyas yang dari kampung. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Ilyas malu mempublikasikan Istri nya yang buruk rupa.


Namun, sepertinya semua imajinasi buruk dari para netizen pecah saat melihat seorang wanita berhijab panjang dengan wajah yang sangat cantik dengan pipi yang kemerah-merahan alami.


Dian menarik diri dari pelukan suaminya. Ia menghapus air mata yang keluar, untunglah make up yang digunakan tidak mudah luntur hanya karena air mata.


“Bukan kamu yang menikah tapi kamu yang menangis.” Seru Ilyas mengusap air mata di pipi sang istri


“Maaf by, Dian cuman terharu.”


Ilyas mengecup kening istrinya dan seluruh wajah sang istri berakhir di bibir ranum Dian membuat mereka jadi pusat perhatian.


Mereka semua melongo melihat Ilyas yang begitu menyayangi istri nya. Bahkan pemandangan yang disuguhkan Ilyas lebih menarik daripada acara pernikahan itu sendiri.


Apakah benar dia seorang Mahendra Ilyas Sam? Tidak! Itu pasti hanya tiruan, begitulah pemikiran mereka. Sampai Ilyas menatap tajam orang-orang yang melihatnya, membuat mereka semua memalingkan wajah melihat kearah panggung


‘Dia memang tuan Ilyas’ Batin mereka semua


Jujur saja, ada rasa iri didalam hati Ilyas melihat bagaimana megahnya pernikahan Ardo. Ia membandingkan dengan pernikahan nya yang sangat jauh dari kata mewah.


Kembali ke ratu dan raja hari ini. Selesai acara sungkeman mereka kemudian duduk diatas panggung. Para tamu datang bergulir memberikan Selamat untuk keduanya


Mike, Siti berserta anaknya pun naik ke atas panggung. Menepuk pundak Ardo “Selamat Do. Sekarang kamu Sudah jadi seorang suami.”


Ardo menjabat tangan Mike “Thank's untuk bantuan nya selama ini.” Kalau tidak ada Mike yang membantu mengurus pekerjaan, mungkin ia tidak akan bisa leluasa untuk memperjuangkan restu dari ayah mertua.


“Tidak perlu sungkan.”


“oh yah.” Mencari sesuatu di dalam kantong “Ini hadiah dariku. Sorry aku lupa membungkusnya.” Memasukkan kedalaman kantong tuxedo Ardo


Kening Ardo mengerut “Apa ini?” Ingin mengambil nya dari dalam kantong tapi Mike segera menahan tangan Ardo


“Sudah, nanti malam saja kamu lihat. Aku yakin kau akan berterimakasih padaku.” Mengedipkan sebelah mata


Mata Ardo memicing. Ia jadi curiga dengan sahabatnya yang satu ini. “Jangan memasukkan yang aneh-aneh.”


Mike berdecak “Aku membantu mu, tenang saja. Aman lancar dan sejahtera pasti!” Ardo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya


“Selamat yah Sarah, semoga pernikahan nya sakina mawadah warahmah.”


“Aamiin..” Selesai berbincang-bincang keduanya pun turun


Kini giliran Ilyas berserta istrinya yang naik keatas panggung. Saat keduanya naik keatas panggung, tidak ada satupun tamu yang berani mengantri di belakang


“Sarah..” memeluk Sahabatnya erat


“Dian.. akhirnya aku nyusul juga.” Pekik Sarah melompat-lompat bak anak kecil


Dian tertawa geli “Kamu udah kaya anak kecil ajah Sar.” Melerai pelukan “Ingat! Sekarang kamu udah jadi seorang Istri. Tanggung jawab mu sekarang berpindah ke suami mu.”


“Iya.. iya.. yang udah berpengalaman.”


Dian terkikik “Tau ajah kamu Sar. Ini memang yang kedua.”


Dian membuang nafas kasar “Iya.. iya..”


Ia melirik suaminya yang kini sibuk dengan Ardo. Dian mendekati telinga Sarah “Sar, kamu gak ngundang mas Malik?” Tanya Dian berbisik. Ia bukan nya khawatir dengan Malik, hanya saja bukankah aneh jika satu kompleks ada yang menikah namun Malik tidak datang


“Katanya mas Malik pindah ke Papua sama istri dan anaknya. Cuman umi Halimah, abi Aburizal dan bang Thalib yang datang.” jawab Sarah ikut berbisik


Dian mengangguk “oh..”


.


.


“Lapar sayang?” Tanya Ilyas kepada istri nya yang sedang duduk di samping


“Iya by, belum makan dari siang soalnya." Sudah dari tadi perutnya berbunyi, Untunglah sang suami cukup peka


“Tunggu disini.”


“Eh? Kamu mau kemana, by?”


“Tenang saja, aku pasti kembali." Mengecup dahi istrinya dan pergi dari sana meninggalkan Dian yang hanya terdiam melihat punggung suaminya yang menjauh dan para wanita yang sudah dari tadi memekik dalam hati melihat keromantisan seorang Ilyas kepada istrinya


“Assalamu'alaikum, nak.” Suara seorang wanita yang sangat dikenali Dian membuat wanita itu menoleh


“Wa'alaikum salam, umi.” Berdiri lalu memgecup punggung tangan mantan mertuanya


“Apa kabarmu?”


“Alhamdulillah baik. Duduk dulu umi.” Mempersilahkan umi Halimah untuk duduk di tempat Ilyas tadi


“Gimana kabar umi sama abi?”


Umi Halimah tersenyum. Keluarga nya sudah mengecewakan Dian namun wanita itu masih berlapang dada untuk menerimanya, bahkan tak ada setitik dendam dimana mantan menantunya “Alhamdulillah, umi sama abi baik.”


“Oh yah, abi kemana umi? Biasanya berdua Mulu.” Goda Dian sembari mencari laki-laki paruh baya mantan mertuanya


Umi Halimah tertawa kecil “Lagi ngobrol sama ustadz Rizal.” melirik Suami nya yang sedang berbicara dengan ayah sang pengantin wanita. Dian juga ikut Melirik, dan benar saja disana abi Aburizal dan abi Rizal sedang mengobrol


“Oh yah, nak Dian sendiri ajah datangnya?”


“Enggak umi. Datangnya bareng Suami.”


Umi Halimah mengangguk mengerti. Ia sebenarnya sangat penasaran dengan sosok suami Dian yang Katanya sangat kaya dan berkuasa tersebut


“Suaminya kemana?”


“Lagi ambil makan umi.” Jawab Dian “Nah itu disana suami Dian.” Umi Halimah menoleh kearah yang dikatakan Dian


“Ini sayang.” Seru Ilyas, pria itu kemudian melihat seorang wanita paruh baya di samping Istri nya. Ia tahu siapa wanita itu


“Oh yah by, kenalin dia umi Halimah. Umi nya mas Malik.”


“Umi ini Ilyas, suami Dian.”


Ilyas mengangguk “Ilyas.”


Umi Halimah tersenyum “Kenalin nak Ilyas, saya umi Halimah.” Kembali lagi, Ilyas hanya mengangguk


Umi Halimah bisa tau, pria tampan didepan sedikit terusik dengan kehadiran nya “Kalau gitu umi ke abi dulu yah.”


“Loh? Kenapa buru-buru umi?”


“Kayanya abi udah selesai ngobrol nya. Umi juga mau ngasih selamat sama Sarah.” Sarah pun jadi tumbal alasan untuk pergi


“Yaudah umi. Titip salam buat abi sama bang Thalib.”


Setelah mengucap salam, umi Halimah pun pergi dari sana.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...