
Di sebuah ruangan, tepatnya disofa duduklah lima orang disana. Nampak tiga orang duduk dengan wajah tegang, sedangkan dua orang duduk dihadapannya dengan tatapan intimidasi.
“Kalian tau kesalahan kalian!” Sentak Ardo membuat ketiga orang yang kini bagaikan seorang napi semakin ketakutan tak berani angkat kepala
“Padahal kinerja kalian selama ini cukup bagus, tapi aku tidak percaya kalian terang-terangan menghina nyonya.” timpal Mike, terlihat kecewa menatap ketiga orang disana
Mereka sudah melihat cctv loby, direkaman terlihat jelas bagaimana Bunga dan Indah menghina Dian terang-terangan. Mereka tidak akan membayangkan jika Ilyas sampai melihat rekaman itu.
Memberanikan diri “Ma.. maafkan saya pak, saya tidak tau kalau wanita itu adalah Istri tuan Ilyas.” Bunga angkat bicara, mengangkat kepala lalu kembali menunduk saat melihat tatapan tajam dari kedua atasannya
“Tetap saja kalian salah.” Dengan suaranya yang khas, Ardo menyahut
“Maafkan kami pak. Kami menyesal.” Seru Indah yang tidak ingin kehilangan pekerjaannya begitu saja
“Oh, jadi kalau misalkan bukan istri tuan Ilyas melainkan orang lain, kalian tidak akan menyesali perbuatan kalian.” Mike yang selalu tersenyum ramah kini menampilkan tatapan tajam ke ketiga orang yang sedang dihakimi
Kedua wanita tersebut semakin menunduk, merutuki diri yang salah bicara
“Maafkan saya pak, seharusnya saya tidak membuat nyonya menunggu.” Darjo yang dari tadi hanya diam pun angkat bicara
“Darjo, aku tidak tau bagaimana tuan Ilyas akan memberikan mu hukuman. Tapi kerja bagus, kau sudah membela nyonya. Perilaku mu itu tidak akan dilupakan tuan Ilyas begitu saja.” Ucapan Mike, setidaknya bisa membuat Darjo sedikit bernafas lega.
Asalkan dia tidak dipecat, hal itu sudah membuatnya bersyukur.
Melempar dua amplop keatas meja “Itu pesangon kalian berdua. Mulai detik ini, Bunga dan juga Indah dipecat.” suara yang dingin menusuk kegendang telinga kedua wanita tersebut
Indah dan juga Bunga sontak mendongak dengan tatapan tak percaya “Ta.. tapi pak...”
“Bagaimana dengan keluarga kami?” Bunga angkat bicara, ia masih mempunyai dua adik dan seorang ibu untuk dinafkahi.
“Bersyukurlah kalian berdua, ini adalah hukuman paling ringan yang bisa diberikan. Masih untung kalian diusir dengan baik-baik, seharusnya mulut kalian berdua sudah dijahit agar tidak mengatakan omong kosong belaka.” Sarkas Ardo membuat kedua wanita itu langsung menuduk takut.
Tubuh mereka gemetar mendengar perkataan atasannya. Mike menghela nafas panjang, menyikut lengan Ardo “Jangan menakuti-nakuti mereka.”
“Aku tidak menakuti nya, itu memang pantas untuk keduanya. Kau yang terlalu baik.”
Sekarang Mike menghela nafas berat, memang susah berbicara dengan orang dingin seperti sahabatnya yang satu ini
“Keluarlah dari perusahaan ini dengan baik-baik, dan pergunakan otak kalian untuk mencari uang setelah ini. Dan jangan berharap akan ada perusahaan lain yang menerima kalian.”
Walaupun Mike memperlakukan mereka lebih baik daripada Ardo, tapi bukan berarti ia akan menoleri kelakuan tidak sopan keduanya.
Bunga dan Indah pergi dengan pesangon yang ada ditangannya. Keduanya tidak menyangka, hanya karena mereka menghina istri pemilik perusahaan membuat mereka kehilangan pekerjaan yang sangat bagus serta ijazah dan pendidikan yang mereka jalani bertahun-tahun tidak berguna.
Tidak ada lagi perusahaan yang akan menerima jasa keduanya, seberpengalaman dan sehebat apapun mereka tidak akan ada perusahaan yang akan menerima keduanya.
Tinggllah Darjo dan dua orang atasannya yang masih menghakimi.
“Bersyukurlah karena kau tidak dipecat, tapi bukan berarti kau tidak punya kesalahan. Acuh tak acuh mu membuat nyonya harus menunggu sampai tiga jam lamanya.” Ucap Ardo yang kini menghakimi Darjo
Darjo hanya diam sembari menunduk, dia juga tau akan kesalahan yang ia perbuat.
“Tapi syukurlah kau membela nyonya dan bahkan berinisiatif memberikannya minuman. Jadi bersyukur bukan kami yang menentukan hukuman mu tapi tuan Ilyas langsung yang akan memberikan mu hukuman.” Timpal Mike.
Yah walaupun sebenarnya bukan Mike sendiri geli dengan kata-kata bersyukur yang ia sematkan. Siapapun yang akan mendapatkan hukuman langsung dari Ilyas tidak pantas diberi kata-kata syukur
Glek..
“Te.. terima kasih pak.” Jawabnya takut-takut
Saat ketiga orang itu masih dengan keadaan tegang, berbeda denga kedua pasutri disini.
Dian tak henti-hentinya berdecak kagum melihat ruangan Ilyas yang sangat luas. Kaca besar transparan disana menyuguhi pemandangan kota dari atas.
Duduk disofa seraya melepas jas dan juga dasinya “Apa yang kamu buat?” membuka paper bag
“Sambal cumi pedas sama ayam kecap. Semuanya makanan kesukaan mu.” Seru Dian mengeluarkan minuman berwarna dari dalam kantong kresek hitam lalu menaruhnya diatas meja.
Kening Ilyas menyerngit heran “Dari mana kamu tau aku suka sambal cumi pedas dan ayam kecap?” Seingatnya, Ilyas sama sekali tidak pernah mengatakannya
Dian Terkekeh “Yah karena ‘kan aku lihat hubby kalau makan pasti matamu selalu tertuju pada kedua lauk itu.”
Mengulas senyum tipis, sangat tipis setipis benang “Oh, jadi selama ini kamu memperhatikan ku?”
“Hmm.” Dian mengangguk malu-malu
Ilyas jadi gemas dan melabuhkan ciuman di pipi Dian semakin membuat wajah Dian merah bak tomat.
Kening Ilyas lagi-lagi mengerut “Dari mana kamu mendapatkan minuman ini?” Mengangkat minuman berwarna kuning
“Ohh tadi aku beli dilampu merah.”
“Jangan minum ini, kita tidak tau ini sehat atau tidak.” Ingin melemlarnya kw tempat sampah
Menahan tangan Ilyas yang ingin membuangnya ditempat sampah “Jangan dibuang by, aku yakin ini sehat. Pasti minuman ini langsung dari sari buah yang dibuat sendiri. Dan pastinya tanpa pengawet.” ia bagaikan aktris yang sedang mengiklankan produk nya
“Bagaimana kau tau?”
“Hmm tentu saja Dian tau, karena dulu Dian juga sering menjajalkan barang dagangan ku di lampu merah.”
“Apa sih by, tentu ajah buat cari uang.”
Menyiapkan makanan diatas meja “Ayo kita makan by.”
Ilyas hanya diam membuat Dian menoleh melihat nya “Ada apa by?”
“Suapi aku.”
Menaikkan sebelah alis, Dian terkekeh “Baiklah..”
Dian pun menyuapi Ilyas dengan telaten, ia juga kadang kala menyuapi dirinya sendiri. Sungguh Ilyas tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah istrinya yang cantik
.
.
Selesai makan, Dian kembali nengemas Tupperware dan barang-barang yang ia gunakan tadi. Sedangkan Ilyas sudah sibuk dengan beberapa berkas namun masih duduk disamping istrinya
“Oh yah by, gimana dengan tamu mu yang tadi ditinggalkan di loby.”
“Dia bisa pulang sendiri.” Menjawab tanpa melihat Dianra
Dian menjadi tidak enak karena merasa sudah mengganggu. Menghembuskan nafas halus ‘Kakiku masih sakit’ memijat-mijat betisnya yang masih sedikit kesemutan
Ilyas melirik melihat istrinya, Menaruh berkas diatas meja lalu berjongkok tepat dihadapan istrinya “Kenapa dengan kakimu?”
“Kesemutan kayanya by.”
Ilyas menyingkap dress Dian lalu memegang betis Dian “ahkk by.." ia merasakan hal aneh aaat Ilyas memijat betisnya
“Tenanglah biar suami mu ini yang melakukannya.” Dian hanya diam memberiarkan suaminya yang melakukan nya
Selesai memijat, Ilyas kembali ketempat duduknya di samping Dian. “Terima kasih by.” Tersenyum manis
“Aku tidak menerima terima kasih ucapan.” Saatnya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan
“Eh? Jadi gimana Dian harus berterima kasih?” Menelengkan kepala
“Pikirkan sendiri.” Ketus Ilyas membuat Dian kalang kabut.
‘Gimana nih.. ah! Sarah pernah bilang’ Melirik suaminya. Ia kemudian pelan-pelan mendekati Ilyas lalu..
Cup...
Satu kecupan dilabuhkan dipipi suaminya “Terima kasih by.”
Wajah Ilyas memerah, memalingkan wajah sembari berdehem “Yah, ini lebih baik.”
Ilyas kembali ke kursi kebesarannya, melakukan pekerjaannya kembali dengan fokus. Sedangkan Dian yang tidak mempunyai pekerjaan hanya duduk sembari bermain ponsel. Biasalah, ini pertama kalinya ia memiliki ponsel yang bisa apa saja.
Merasa jenuh, Dian mengirim pesan ke Sarah berharap sahabatnya itu tidak sibuk.
Senyum Dian mengembang melihat pesan yang dikirim Sarah. Setelah membalasnya ia pun kembali menaruh ponsel dan beralih melihat suaminya yang masih sibuk dengan komputer didepannya
“By, apa masih lama?”
“Iya.” Singkat Ilyas tanpa melihat istrinya
“Hmm apa Dian boleh jalan-jalan? Katanya Sarah juga bekerja disini, jadi Dian pengen ketemu sama Sarah." izin Dian
Ilyas menghentikan pekerjaannya, ia mendongak menatap istri cantiknya “Dimana sekarang sahabat mu itu.”
“Katanya di kantin perusahaan.” Jawab Dian
Kening Ilyas berkerut, ia melihat jam dan masih jam kerja. Untuk apa seorang karyawan di kantin saat masih jam kerja? Pikirnya
Berdiri lalu menghampiri sang istri “Baiklah, aku akan mengantarmu.”
Dengan cepat mengibaskan tangan didepan dada “Gak perlu by, kamu masih punya banyak kerjaan ‘kan? Dian gak mau ganggu.”
“Memangnya kamu tau letak kantin dimana?” Dian terdiam lalu menggeleng pelan
“Yasudah apa yang kamu tunggu, ayo aku antar.” mengulurkan tangan
Dian tersenyum lalu berdiri, di terima uluran tangan suaminya. Mereka pun berjalan beriringan ke arah kantin.
.
.
TBC
Follow ig othor🤭😅🙏 \=> HimaSun_05
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...