
Cengok, Dian mematung mendengar perkataan Malik. Apa yang sebenarnya dikatakan Malik?! apa lagi yang ingin diperbuat mantannya yang tidak bisa bercermin ini.
Dian tertawa geli “Haha mas.. mas.. jangan ngadi deh, aku yang paling tau gimana suami ku. Jadi tolong jangan tuduh suami yang baik-baik dan setia melakukan hal yang pernah mas lakuin.” Jawaban yang mampu membuat Malik membeku.
Hatinya tersentil dengan jawaban yang diberikan Dian. Ia tidak menyangka jawaban yang diberikan mantan istrinya malah balik menyerang nya.
“Dian, mas gak bakalan nuduh suami mu yang tidak-tidak kalau mas gak punya bukti.” Ia masih kekeuh dengan opininya
“Jangan membual mas, selama ini aku selalu bersama suami ku. Dan aku juga tau gimana suami ku.” Wanita itu menggeleng tak percaya. Bisa-bisanya dia dulu mencintai pria seperti mantan suaminya
“Mas gak membual dek. Mungkin untuk saat ini kamu masih belum tau bagaimana rupa sebenarnya suami mu itu. Tapi bagaimana dia saat sebelum menjadi suami mu? Saat masih lajang?”
Dian terdiam. Lalu menggeleng kepala pelan “itu dulu mas. Apapun yang dilakukan suamiku sebelum menikah itu sah-sah saja baginya, tapi setelah menikah satu tahun ini, aku tau gimana rupa suami ku sendiri. Jadi tolong jangan ganggu rumah tangga ku lagi.”
Dian dengan tegas membantah, ia percaya pada suami nya. Lagipula tidak ada yang benar-benar suci di dunia ini, semua orang pasti punya masa lalu yang kelam yang tidak bisa diceritakan, dan Dian Maupun Ilyas tak akan luput dari itu.
Ilyas Tersenyum tipis saat melihat dan mendengar setiap bantahan yang diberikan pada ucapan tak mendasar Malik.
Dian berbalik dan hendak masuk kedalam rumah, namun langkahnya terhenti saat Malik memegang lengannya. Dian segera menepis tangan Malik kasar.
“Apa-apaan kamu mas! Jangan melebihi batasan mu!!!” Mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak
Malik gelagapan, ia tak sadar tiba-tiba menarik lengan Dian “Ma.. maaf, mas gak sengaja.”
“udah mas, tolong Jangan katakan apapun lagi dan sebaiknya mas pergi dari sini.” Ia mengusir Malik yang terlihat tak punya kapok
“Iya mas akan pergi, tapi sebelum itu coba lihat ini dulu dan kamu bisa nilai suami mu sendiri.” mengeluarkan ponsel lalu memberikannya pada Dian.
Dian menghela nafas jengah, ia pun mengambil ponsel itu agar Malik puas dan segera pergi dari rumah nya
Dian terdiam melihat foto itu, hatinya tersentil namun sedetik kemudian ia segera menepisnya. Semua orang punya masa lalu, hal itu yang selalu Dian tanamkan pada dirinya
“Bagaimana? Mas benarkan, suami mu tak lebih dari seorang brengsek!!.._”
“Cukup!!” bentak Dian “Sudah puas mas? Apa kamu pikir Aku bisa berubah pikiran hanya Karena foto itu? Dan lagi foto itu sudah ada sebelum kami menikah.” Dian meninggikan suara.
Foto yang ia lihat adalah foto saat dimana sang suami sedang duduk di sebuah sofa club bersama beberapa pria dan ditemani banyak wanita-wanita kekurangan baju yang belahan nya benar-benar terlihat seakan-akan tidak dapat menahan dua gundukan alami itu. Belum lagi paha mereka yang terekspos Begitu saja.
“Dian? Kamu gak ngerti apa? Suami mu itu bukan..__”
“Malik!!!!!” Teriak Dian. Kesabarannya sudah menipis, wanita itu mengatur pernafasan nya.
Malik tersentak mendengar teriakan Dian. Ini pertama kalinya ia melihat Dian berteriak, padahal saat dulu dirinya kedapatan selingkuh pun Dian tak pernah berteriak seperti ini. Tapi hanya karena dia menghina suaminya, Dian bisa semarah ini
‘Apa kamu sudah benar-benar mencintai dia’
”Astagfirullah haladzim... Astagfirullah haladzim... ” Lirih Dian menenangkan diri yang sudah kelepasan.
“Mas sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku sudah tidak mau melihat mu lagi!” Tegas Dian
Malik terdiam, ini sudah kedua kalinya dia di usir. Padahal niat awalnya ia hanya ingin mengetahui siapa sebenarnya suami dari Dian. Setelah mengetahui siapa sebenarnya seorang Ilyas, Malik putus asa. Ia sudah tak punya harapan lagi.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, yah Malik yang sudah tak punya celah lagi tiba-tiba mendapat ide untuk mencari kebobrokan seorang Ilyas, walaupun tak mudah ia bisa mendapatkan apa yang di inginkan nya.
Sisi kelam seorang Ilyas
Namun harapan nya yang setinggi harapan orang tua langsung jatuh tatkala mendengar perkataan Dian yang menolak dengan tegas dan bahkan sangat mempercayai suaminya.
Dian berbalik namun Malik lagi-lagi menahan lengannya “Tidak! Kamu pasti udah di cuci otaknya. Buka mata mu dek!” mengguncang lengan Dian
“Ahk mas! Lepasin! Sakit.” Mencoba menarik kembali tangannya namun Malik menahan.
Pria gila itu mencengkeram erat lengan Dian “Kamu udah diperbuta sama harta dek! Bangun! Sadar! Gak mungkin presider Sky Group mau sama kamu yang cuma anak yatim piatu!”
Perkataan sarkas Malik berhasil menyayat hati Dian. Dian terdiam, ia menggeleng tak percaya “Aku gak percaya kamu tega menghina ku.” ia kembali mencoba menarik tangan nya namun Malik tetap menahan dengan sekuat tenaga
“Eng.. enggak dek, mas gak bermaksud..__”
“Lepaskan tangan kotormu dari tubuh istriku!!”
Mendengar teriakan itu refleks Malik mendorong tubuh Dian hingga membuat nya ingin jatuh, Ilyas yang melihat hal itu sontak berlari kearah istrinya.
Dan..
Brukk..
“Byy!!!”
“Tuan!!!”
.........
“Tuan, dia sudah kelewatan.” Seru Mike. Ia cukup terkejut saat mendengar teriakan Dian yang dikenal nya selama ini selalu bertutur kata lembut nan halus
“jangan lakukan apapun!” Mike diam dan mendengarkan apa perkataan Ilyas, walaupun sebenarnya ia sangat ingin keluar untuk membantu sang nyonya.
Hingga batas kesabaran Ilyas menipis tatkala melihat istrinya kesakitan saat Malik mencengkeram erat lengan kecilnya. Ilyas keluar dari dalam rumah
“Lepaskan tangan kotormu dari tubuh istriku!!” Teriak nya menatap tajam Malik. Bisa dia lihat Malik tersentak dan langsung mendorong tubuh istri nya.
“Dian...” Lirih Ilyas dan langsung berlari untuk menahan tubuh istrinya. Namun naas saat sudah menahan tubuh Dian, Ilyas yang tak punya persiapan Langsung jatuh ditimpa tubuh Dian dengan posisi kepala yang langsung mengenai batu.
Pandangan Ilyad buram, dapat ia rasakan sesuatu mengalir dari belakang kepalanya. Samar-samar ia dapat mendengar teriakan istrinya yang menangis Melihat nya. Hingga tak lama semuanya menghitam, dia pingsan.
“By.. tidak ... Tolong.. siapapun!!” Teriak Dian memangku kepala Ilyas yang penuh darah
“Kau..” Mike sudah akan maju untuk mengajar Malik yang terlihat membeku ditempat nya
Bugh ...
Bugh..
Bugh..
“Brengsek!! Setelah ini habis kau!!” Teriak Mike. Ia mendarat kan tiga pukulan di wajah Malik. Ia masih waras untuk tidak membunuhnya dan harus membawa tuannya ke rumah sakit
Malik terduduk “A.. aku tidak bermaksud..”
“Bang tolong suami ku hiks...” Malik dengan segera memapah tubuh Ilyas masuk kedalam mobil
“Jika sampai terjadi sesuatu pada suami ku! Aku gak akan memaafkan mu Malik!!” Pekik Dian menatap tajam kearah Malik yang masih terduduk di tanah.
Dian dan juga Mike segera masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah sakit.
...***...
Ardo duduk di sofa, didepannya ada kedua calon mertuanya. Kalau diterima:v. Keadaan masih hening hingga Sarah datang membawa air minum
“Diminum pak,” Serunya lalu duduk di samping uma Tuti. Sarah sama sekali tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi di hidup nya
“Silahkan nak Ardo, dimunum. Mumpung masih hangat.” ucap Abi Rizal ramah, ayah Sarah.
Ardo tersenyum lalu meminum kopi yang tadi disuguhkan Sarah. Ia mencoba menghilangkan kegugupannya ‘ahk lebih baik presentasi di hadapan presiden daripada berbicara berdua dengan calon mertua!’
“Jadi, nak Ardo ini atasan Sarah yah?”
Ardo mengangguk “iya pak, saya atasan Sarah.”
“Tapi yang saya tau, mulai besok masa magang Sarah sudah habis. Apa putri saya melakukan kesalahan?” Abi Rizal masih melakukan acara ramah tamah nya
‘iya, putri bapak yang bar-bar sudah mencuri hati saya’ hahh sayang hal ini hanya bisa dikatakan dalam hati
“Abi, mana mungkin Sarah buat masalah.” Gadis itu mencebik. Walaupun ia bar-bar bukan berarti dirinya pembuat onar
“husstt kamu diam ajah nak.” uma Tuti membuka suara
“Benar pak, Sarah tidak membuat masalah. Saya datang kesini punya niat baik kepada putri bapak.” Ardo mulai serius
Abi Rizal pun ikut serius mendengarkan “Apa yang kamu punya hingga berani datang kesini.” wajah yang ramah tadi berubah, abi Rizal menatap tajam kearah Ardo
Glek..
“Saya memang tidak mempunyai apa-apa, tapi saya janji akan membahagiakan putri bapak dan ibu.” jawab Ardo tulus
Sarah terharu, ia tidak menyangka perjuangan nya selama ini membuahkan hasil. Cintanya terbalaskan
Abi Rizal menatap mata Ardo dalam-dalam, pria paruh baya tersebut menghela nafas “Uma bawa Sarah kedalam.”
“Ayo nak.” Uma Tuti menurut, Sarah hanya diam dan menurut saat uma Tuti menarik tangan nya. Matanya bertubrukan dengan mata sang atasan yang juga melihatnya
Ardo Tersenyum saat Melihat tatapan khawatir dari pujaan hatinya. Ia mengangguk menyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yah setidaknya dari luar, namun sebenarnya Ardo sudah ketar-ketir dari tadi saat melihat tatapan tajam dari ayah sang pujaan hati
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...