Dream Wedding

Dream Wedding
Tidak ada yang salah



Setelah kejadian menegangkan yang berakhir pertempuran diranjang itu, Dian sudah tidak pernah membahas atau menyinggung sedikit pun mengenai momongan.


Namun semenjak kejadian itu Dian jadi semakin aneh. Wanita itu semakin emosional. Hanya karena hal sepele Dian bisa langsung emosi, atau menangis tanpa alasan yang jelas membuat Ilyas bingung akan perubahan signifikan sang istri.


Ia berpikir, mungkin saja Istri nya berubah karena masalah momongan lagi? Tapi setahu Ilyas, Dian-nya tak akan memperpanjang sesuatu jika sudah memutuskan tak akan membahasnya lagi.


Jadi, sebenarnya kenapa sang istri berubah?


Seperti saat ini, dengan langkah cepat Ilyas masuk kedalam mansion. Ia baru saja mendapatkan telepon bahwa istrinya tengah menangis di halaman belakang membuat Ilyas segera pulang


“Mana istriku?”


“Nyonya ada di taman belakang, tuan.” Jawab bu Mega yang memang selalu mengawasi nyonya nya sesuai perintah sang tuan


Ilyas tak banyak bicara, ia segera berjalan ke taman belakang. Dari jauh sudah terdengar suara seorang wanita menangis. Dan benar saja terlihat istrinya sedang menangis di tanah menghadap ke hamparan bunga yang ada didalam pot.


Di beberapa tempat banyak pelayan yang melihat, mereka ingin membantu Dian namun sang nyonya sungguh tak ingin pindah dari tempatnya. Karena itu mereka lebih memilih mengawasi Dian agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nya.


“Assalamu'alaikum.” Seru Ilyas berjongkok di depan istri nya


Dian mendongak, tangisnya semakin kencang saat melihat suaminya “Huaa by.. hiks.. wa.. wa'alaikum salam.” Melompat, melingkarkan tangannya di leher sang suami


Mendapat serangan yang tiba-tiba hampir membuat Ilyas terjengkang ke belakang. Untunglah ia mempunyai keseimbangan yang bagus dan juga refleks yang terbaik, alhasil ia tidak terjatuh kebelakang


Mengelus punggung istri tercintanya “Ada apa hmm?” Sebenarnya Ilyas tau hal yang membuat istrinya menangis adalah hal sepele. Namun, ia tak ingin menganggap sepele hal-hal yang membuat air mata istrinya jatuh


Dian pelan-pelan mengurai pelukan. Ia menatap suaminya lalu menghirup kembali ingus yang sempat jatuh hampir mengenai bibir.


Bukannya Jijik Ilyas malah gemas melihat tingkah lucu istrinya. Ia mengambil dasi yang sedari tadi di gantung di pundak lalu melap ingus istrinya


“Hiks.. i.. itu by.” menunjuk sebuah pot yang berisi bunga yang sudah layu


“Kenapa dengan pot itu?” Tanya Ilyas lembut


Dian menggeleng lemah “Bukan potnya tapi bunganya. Hiks.. bunganya layu by, pa.. padahal Dian udah coba rawat baik-baik tapi tetap ajah layu. Harusnya Dian gak usah beli waktu itu, kalau saja bunganya masih ada di toko Waktu itu pasti bunganya juga masih hidup. I.. ini salah Dian hiks.. huaa..”


Ilyas menghela nafas lega. Untunglah masalah kali ini juga hanya masalah sepele, bukan hal yang dapat membahayakan Istri nya


Di elus punggung sang istri “Itu bukan salah mu sayang, itu sudah jadi takdir bunga itu.” Ilyas menjelaskan dengan lembut dan ringkas. Ia seakan-akan sedang membujuk anak kecil


“Jadi, bunga itu layu bukan karena salah Dian?” Tanya nya dengan wajah yang memerah


Ilyas mengangguk “Bukan.”


“Tapi bunganya kasian by, kita harus kubur bunga itu baik-baik.” Ucapan Dian sontak membuat para pelayan disana tersedak ludahnya sendiri


Mengubur? Bunga? Tidak salah kan? Bukan menanam, tapi mengubur? Pikir mereka semua


Ilyas mengusap wajah istrinya yang basah karena air mata serta keringat “Baiklah, nanti pelayan yang menguburnya. Kita masuk saja, kamu harus membersihkan badan mu.”


Dian menggeleng “Gak mau, Dian mau lihat bunganya di kubur.” Ia kekeuh tidak ingin pergi sebelum benar-benar melihat bunga anggrek berwarna putih itu sudah dikuburkan.


“Baiklah.” Pasrah Ilyas


.


.


Dian dan Ilyas dengan setia melihat tukang kebun mansion mengubur bunga anggrek tersebut. Iya, mengubur bukan menanam! Memang yah Dian ada-ada saja.


“Sudah selesai nyonya, tuan.” Ucap tukang kebun tersebut. Walaupun perintah kali ini sangat aneh ia tetap melakukan nya tanpa membantah


“Alhamdulillah, makasih yah mang.” Jawab Dian. Akhirnya ia bisa bernafas lega.


Tukang kebun tersebut mengangguk sambil tersenyum.


Setelah semuanya selesai Ilyas mrmbawa tubuh istrinya masuk kedalam mansion. Ia tidak kembali ke kantor, pria yang menjabat sebagai presider di perusahaan Sky Group tersebut memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah menemani istrinya.


Dan kejadian aneh bin ajaib yang di sponsori oleh Dian selalu terjadi akhir-akhir ini. Entah hanya karena ia tidak menyukai masakannya lalu menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, atau hal lain yang membuat orang-orang di kediaman hanya bisa Menggeleng tak percaya.


Pagi ini, Ilyas dan Dian turun kebawah untuk sarapan. Kali ini Dian tidak memasak karena katanya terlalu malas untuk masuk kedalam dapur. Dan Ilyas juga tak keberatan.


Saat duduk di meja, Tiba-tiba perut Ilyas bergejolak menatap makanan yang ada diatas meja


“Hoek.. hoek..,” Karena tidak tahan Ilyas langsung muntah sembari berlari ke wastafel dapur


Dian segera berlari mengikuti suaminya. Ia memijat tengkuk sang suami “Kenapa by? Ada yang sakit hmm?” Tanya Dian sembari masih memijat tengkuk sang istri


Ilyas mengangguk, ia kemudian mencuci mulut lalu memeluk tubuh istrinya “Bau makanannya tidak enak. Singkirkan nasi goreng yang ada dimeja.” titah Ilyas pada pelayan yang ada di dapur namun masih memeluk tubuh istrinya


Tanpa banyak bertanya para pelayan segera melakukan apa yang dikatakan sang tuan. Mereka ketakutan. Bagaimana jika karena makanan yang dimasak membuat Ilyas sakit? Sudah pasti kerajaan nya yang jadi taruhan.


“Kita kembali ke meja makan yah.” Mengelus lembut kepala suami nya


“Bagaimana dengan nasi gorengnya?” suara Ilyas teredam karena masih memeluk Dian


Dian melihat para pelayan dan melihat pelayan mengangguk, Dian kemudian mengangguk “Sudah di singkirkan. Ayo kita kembali ke meja mskan.”


“Aku mau kembali ke kamar.”


“Baiklah.” sembari jalan Dian memegang kening suaminya namun tidak panas. Ia jadi sedikit heran dan tambah khawatir.


“Hati-hati by.” Menurunkan Ilyas diatas ranjang, ia pun ikut duduk disamping sang suami


“Kamu sakit by? Kita ke dokter yuk.” Mengusap wajah suami nya. Kali ini Dian menghadapai nya dengan tenang dan tidak panik agar Ilyas juga tidak panik


Ilyas menggeleng pelan “Tidak usah, aku baik-baik saja. Hanya mual dan sedikit sakit kepala.” Ucap Ilyas memegang tangan istrinya yang ada di pipi


“Tapi kamu pucat bangat by,” Melihat wajah suaminya yang nampak tak baik-baik saja tetap menimbulkan rasa khawatir. Apalagi ini pertama kalinya Dian melihat Ilyas sakit sampai wajahnya memucat


“Tidak apa-apa, hanya perlu tidur sebentar.” mulai membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Sungguh kepala nya sangat sakit dan ingin sekali rasanya ia tidur


Tak lama suara dengkuran halus terdengar “Apa? Kamu udah tidur by? Hah?” Dian menggaruk pipinya melihat sang suami yang tiba-tiba tidur.


Diambilnya ponsel kemudian menghubungi Ardo. Di panggilan pertama langsung tersambung. Setelah mengucap salam Dian langsung mengatakan intinya


“Apa bang Ardo bisa panggil dokter?”


“Baik nyonya, dokter Aldi akan datang 20 menit lagi.” Jawab Ardo. Ia juga sudah bersiap-siap akan pergi ke mansion setelah mendapat berita, tuannya sakit.


“Terima kasih bang. Yaudah aku Tutup, Assalamu'alaikum.”


“Baik nyonya, Wa'alaikum salam.”


Dian kembali beralih Melihat suaminya yang sedang tertidur dengan lelap. Wajah Ilyas masih pucat. Menghela nafas panjang, sekarang baru terlihat kekhawatiran yang jelas diwajah Dian. Ia memang tidak ingin memperlihatkan kekhawatiran nya kepada sang suami agar Ilyas khawatir Padanya.


.


.


Tok.. tok.. tok..


Dian segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Dibalik pintu terlihat dokter Aldi dan bu Mega.


“Katanya tuan Ilyas sakit, nyonya.” Tanya Aldi


Dian mengangguk “Iya dok, suami saya sakit. Tiba-tiba saja dia muntah.”


“Yasudah kita masuk dulu.” Ujar Aldi


Dian menepuk jidatnya “Haha maaf dok, silahkan masuk. Ilyas sedang tertidur didalam.”


Aldi hanya tersenyum menanggapi. Ia pun masuk kedalam kamar diikuti oleh Dian, sedangkan bu Mega sudah pamit undur diri.


Aldi cukup terkejut melihat kondisi sang tuan. Wajahnya pucat dan terlihat lemah, dan ini pertama kalinya ia melihat Ilyas selemah ini.


Apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Aldi


Tanpa banyak bicara lagi, Aldi segera mengecek kondisi Ilyas. Ia mulai mengeluarkan alat-alatnya untuk memeriksa Ilyas. Namun setelah diperiksa sana-sini tak ada yang mengganjal, Ilyas sehat walafiat. Tidak ada yang aneh.


Tapi, mengapa wajah Ilyas terlihat sangat pucat?


“Apa yang terjadi dengan suami saya dok?”


Kening Aldi mengerut dalam, lalu memandang istri tuannya dengan wajah bingung “Tidak ada yang salah dengan kondisi tubuh tuan Ilyas, nyonya.”


Dian ikut mengerutkan kening “hah? Maksudnya? Tapi wajah Ilyas terlihat pucat, tidak mungkin tidak ada yang salah.”


“Saya juga bing..__” Aldi terdiam lalu melihat Dian dari atas sampai bawah


“Ada apa dok,?” Jujur saja ia merasa risih dilihat seperti itu


“Apa anda merasa aneh akhir-akhir ini?”


“Aneh? Hmm sebenarnya saya merasa sedikit sensitif akhir-akhir ini.” Jawab Dian jujur. Ia juga merasa perubahan didirinya, tapi ia tidak tau cara menghentikan nya


Baru Aldi ingin angkat bicara tiba-tiba suara Ilyas menghentikan nya


“Apa yang kau lakukan disini.” Ucap Ilyas dingin kepada Aldi


Dian segera mendekati Suaminya “Udah gak ada yang sakit kan by? Dian yang panggil dokter Aldi kesini buat meriksa tubuhmu, by.”


Pelan-pelan Ilyas bangkit dan duduk “jadi, aku sehat?”


Aldi dengan sigap menjawab “Semuanya sehat tuan, tidak ada yang salah. Jadi, saya berpikir mungkin yang perlu diperiksa disini adalah nyonya.”


Ilyas yang tadi santai tiba-tiba berubah serius “Istriku sehat! Jangan mengatakan omong kosong.”


“Tenang saja tuan, saya juga yakin nyonya sehat. Hmm hanya ada pemeriksaan yang sepertinya harus dilakukan, apa anda punya tes pack nyonya?”


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...