Dream Wedding

Dream Wedding
Kemarahan Ilyas



Terlihat seorang pria menghisap batang rokok disebuah apartemen " Fyuuhhh Ilyas sialan!! " Maki pria tersebut


" Semua anak buah kita ditangkap oleh Ilyas tuan." Lapor bawahannya


Prang...


" Ck. Dasar tidak berguna! " Sentak pria tersebut


Bawahannya semakin menunduk " Maafkan ketidak becusan bawahan saya tuan Nizam."


" Sudahlah. Keluar." Bawahannya pun undur diri


Nizam kembali duduk di sofa. Di pijat pangkal hidung yang tiba-tiba sakit mendengar laporan bawahannya. " Sialan! Ini semua gara-gara Ilyas sialan!! Lihat saja!! " Meremas rokok yang masih mengeluarkan asap.


Nizam adalah salah satu rekan bisnis Ilyas, namun karena sifat Ilyas yang kurang ajar padanya membuat Nizam tersinggung dan dengan Berani mencoba mencelakai Ilyas.


Namun, semuanya tak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Ilyas berhasil kabur dengan luka yang tidak parah, bahkan anak buahnya yang harus jadi korban.


Tok.. tok..


Melirik kearah pintu " Masuk." Sahutnya


Ceklek..


" Permisi tuan Nizam." Seorang pria berjas hitam masuk kedalam sembari membawa sebuah dokumen ditangannya


" Hmm ada apa? " Menyalakan kembali sepuntung rokok


" Ada informasi yang sangat menarik tentang Ilyas, tuan." Tersenyum bangga. Seakan-akan apa yang ia dapatkan benar-benar sangat memuaskan.


" Ho? Apa itu? "


" Dari informasi yang didapatkan anak buah saya yang mengawasi mansionnya, pria itu katanya sudah menikah. Dan terlihat sangat menyayangi istrinya." Nizam terdiam tak lama ia tertawa


" Hahahahaha."


Prang...


Membanting asbak rokok " Kau bercanda." Menatap tajam bawahannya " Tidak mungkin seorang seperti Mahendra Ilyas Sam terpikat dengan seorang wanita." Ia sama sekali tidak mempercayai informasi itu


" Ini kenyataan tuan, mata-mata yang sudah saya masukkan dikediamannya mengatakan hal tersebut. Bahkan untuk melirik istrinya saja Ilyas sudah sangat marah." Kekeuh pria berjas hitam


Nizam terdiam. Jika memang benar, bukankah itu hal bagus? Pria itu membuat kelemahannya sendiri. Bodoh, umpat nya " Berikan informasi tentang wanita itu."


Dengan sigap pria tersebut memberikan dokumen yang ia pegang. Nizam mulai membaca dan melihat dokumen " Heh! Tidak kusangka seleranya seorang wanita berhijab. Apa dia sudah taubat." Gumamnya


" Apa tidak ada fotonya? " Yang ada hanya informasi tanpa foto yang mengatakan bahwa wanita yang menjadi istri Ilyas berhijab


" Maaf tuan. Tapi sangat sulit untuk menemukan fotonya."


" Biarlah. Aku punya rencana." Senyum smirk terlihat di bibir Nizam. Didalam pikiran nya sudah memikirkan rencana picik nan licik membuatnya tak sabar.


.........


Dian memasuki pasar swalayan. Ia ingin berbelanja bahan masakan bersama bu Mega. Mereka berdua mulai memilih bahan-bahan yang akan dibeli.


" Masak apa yah nanti." Ucap Dian memilih beberapa daging sapi


" Beli baha yang banyak-banyak Nyonya. Biar jadi stok dimansion." Seru bu Mega


Dian manggut-manggut. Mereka pun mulai memilih-milih.


Brukk..


" Aduh, maafkan saya." Ujar Dian terjatuh ke lantai. Ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


" Saya juga minta maaf." Sepertinya yang ditabrak juga jatuh


" Nyonya.." seru Bu Mega


Mereka berdua terdiam " Diannnnn..." Sarah langsung memeluk Dian


" Sarah. Kamu apa kabar." Mengelus punggung sahabatnya yang kini memeluknya dengan erat


" Alhamdulillah baik." Melepas pelukan " Bagaimana dengan mu? "


Dian tersenyum " Alhamdulillah, sama aku juga baik."


" Kamu ngapain kesini? " Tanya Dian


" Belanjalah pake nanya. Untung aku gak ketularan kamu nanyea.. kamu bertanyae.. tanyae.." menirukan suara yang lagi viral.


" Hahahah apa sih Sar. Yah taulah kamu pasti datang belanja, maksud aku kok belanjanya jauh amat. Kan ada pasar tradisional dekat rumah." Sahabatnya memang ada-ada saja


" Hehe sebenarnya aku lagi nginep di rumah Tante aku yang dekat sini." Dian hanya manggut-manggut mendengarkan


" Nyonya..." Akhirnya Bu Mega menghampiri kedua orang yang sedang melepas rindu tak tahu tempat.


" Ah! Aku sampai lupa sama ibu. Bu kenalin ini sahabat aku Sarah. Sar, kenalin bibi diruma suamiku bu Mega."


" Salam kenal bu." Menyalami tangan bu Mega


" Iya, syukurlah tadi saya kira orang asing. Untunglah." Mengusap dada lega, kalau tuannya sampai tau sang nyonya dipeluk orang asing bisa habis dia.


" Apa sih bu. Ada-ada ajah, kaya lega banget."


" Yaudalah ayo kita belanja sama-sama." Mereka pun akhirnya berbelanja bersama.


.........


" Wisss sekarang udah jadi nyonya kaya raya nih." Menaik Turunkan alisnya


Dian terkekeh " Apa sih. Tapi kayanya benar sih hahah." Sarah tersenyum haru melihat sahabatnya yang nampak lebih bahagia sekarang. Wajahnya memancarkan cahaya yang membuat Sarah semakin mengulum senyum


" Oh yah kamu udah gak punya niat buat pulang kerumah mu yang dulu? " Meminum jus yang ada di atas meja


" Aku juga gak tau. Lihat kondisi ajah sih dulu, soalnya suamiku juga lagi sibuk-sibuknya nih." Mengaduk jus mangganya. Memang Ilyas kerap lembur akhir-akhir ini.


Sarah nampak manggut-manggut " Tapi bang Ibra sama langganan diwarung mu cariin kamu mulu."


" Yah mau gimana lagi. Aku udah jadi pengangguran kaya deh." Terkikik geli membayangkan dirinya menjadi milyarder


" Hahah kayanya sih. Soalnya tadi ART mu manggil nyonya.. aseekkk nyonya..." Menggoda Dian adalah hal yang paling disukai Sarah


" Ishh apaan sih. Bu Mega emang kaya gitu orangnya." Ucap Dian meneguk jusnya kembali " Oh yah sekarang kamu lagi kerja apa? "


Menghembuskan nafas kasar " magang disalah satu perusahaan besar." Seharusnya senang karena di perusahaan besar, namun entaj mengapa ia malah terlihat lesu


" Bagus dong. Itukan perusahaan besar."


" Iya sih bagus. Cuman bos aku itu dinginnya ya sallam.. ac pun kalah dingin ama tuh orang." Dengan satu kali hisap, semua jus jambunya di minum


Kening Dian berkerut " Dingin? kamu ajah kali yang suka cari masalah, makanya bos mu dingin bangat."


" Enggaklah. Soalnya teman-teman aku pun ngomongnya kaya gitu. Katanya bos aku itu gak pernah senyum." Membayangkan nya saja sudah membuat Sarah ingin muntah


Dian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya " tapi CEO di perusahaan aku gak dingin-dingin amat si. Cuman auranya itu loh... Behh... Bikin merinding... Mukanya datar bangat."


Datar? Entah mengapa Dian jadi ingat satu orang " hahah bisa ajah kamu Sar." Melihat jam di ponselnya " Wah suamiku aku udah mau pulang nih buat makan siang. Aku duluan yah."


" Tunggu, kita sama-sama ajah. Aku juga udah mau pulang kerumah tante aku." Tak sengaja melirik kearah ponsel Dian " wisss ponsel mu ini yang keluaran terbaru 'kan." Mata wanita itu berbinar melihatnya


" Eh? Hmm gak tau juga si. Suami aku yang beliin."


" Gila.. aku yakin suami mu pasti tajir bangat Di."


" Iya.. iya.. ayolah nanti aku kena marah lagi kalo telat pulang." Berdiri dari tempatnya. Sarah pun ikut berdiri " tenang ajah lah yah, kamu kan istrinya gak mungkin lah kena marah."


'ihh kamu gak tau sih gimana suami aku. Aku pasti kena semprot lagi kalau telat'


Setelah membayar minumannya, mereka pun keluar dari dalam cafe.


.........


Ilyas bersama kedua asisten setianya memasuki mansion. Saat masuk, mata Ilyas menyapu seluruh orang yang menyambutnya namun tak ada sang istri disana.


Terlihat semua pelayan menunduk dan gemetar ketakutan " Kemana istriku." Seru Ilyas dengan nada datar


" Itu tuan... Tadi kami pergi berbelanja, tapi nyonya menyuruh saya pulang lebih dulu sedangkan nyonya tinggal bersama temannya. Tapi sampai sekarang nyonya masih belum pulang." Bu Mega menjelaskan dengan gemetar ketakutan. Sudah hampir dua jam namun sang nyonya belum pulang-pulang juga.


'teman? Siapa?' dirogohnya kantong jas


Tut.. tut.. tut..


Tak ada jawaban, hanya suara operator yang berbunyi. Sekali lagi Ilyas melakukan panggilan namun kali ini ponselnya malah tidak bisa dihubungi. Semua orang masih ada ditempat, tak ada yang berani bergerak seinci pun.


Ilyas mulai panik, ia merasa ada yang salah dan perasaannya mulai tidak enak " Dimana mereka terakhir kali istri ku berada."


" Di cafe cinta itu buta tuan."


" Periksa cctv disekitar cafe itu." Titah Ilyas, ia mencoba untuk tenang. Walaupun ia merasa ada yang janggal, namun panik tak akan menyelesaikan masalah.


" Baik tuan." Ardo segera melaksanakan tugasnya.


" Kita ke cafe itu." Mike mengangguk dan mereka segera masuk kedalam mobil


Dengan langkah cepat, Ilyas beserta Mike masuk kedalam ruang cctv cafe itu. Disana sudah ada Ardo yang siap memberikan rekamannya.


Memang terlihat Dian dan seorang wanita berhijab namun memakai celana masuk didalma cafe. Terlihat mereka asik mengobrol, hingga keduanya keluar dari cafe masih tidak ada yang salah, semuanya terlihat baik-baik saja.


" Ini rekaman saat di jalan tuan." Seru Ardo kembali memperlihatkan rekaman yang lain, ia juga masih belum melihat rekaman itu


Saat melihat rekaman nya. Rahang Ilyas mengeras, tangannya mengepal memperlihatkan buku-buku jarinya, wajahnya memerah menahan amarah.


Brakk..


Meja yang tak punya salah apapun terbanting, membuat meja itu kehilangan kedua kakinya.


" Sialan!! " Maki Ilyas


Ardo dan Mike tak berani angkat bicara. Walaupun tuannya selalu marah-marah, namun marahnya kali ini sungguh berbeda, terlihat jelas kilatan api amarah dalam matanya. Rasanya Ilyas ingin menghancurkan apapun yang ia Lihat.


Pria itu memejamkan mata, ia ingin mengurangi kadar amarahnya walaupun tidak gampang. Ia akan mencoba tenang dan tidak ingin dikuasai emosi. Diambilnya ponsel, Ilyas melihat gps yang sudah ia pasang di ponsel dan cincin sang istri.


Terlihat posisi ponsel dan cincinnya berjalan berbeda arah. Rupanya penculik tersebut mencoba untuk mengecoh Ilyas.


" Mereka ingin main-main rupanya." Senyuman devil keluar dari wajah yang selalu nampak datar membuat semua orang disana, baik satpam dan pemilik cafe merinding dibuatnya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...subscribe yah manteman😖...