
“ Lanjut tidur yuk.” belum mendapatkan persetujuan dari Dian, Ilyas sudah mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang.
“ Kyaa by...” protes juga tak akan di indahkan. Dian hanya diam saat Ilyas membuka mukenah serta rok yang ia pakai.
“ gak usah lanjut tidur yah by. Kita udah mandi soalnya, nanti gak segar lagi.” tetap ia layangkan protes saat Ilyas sudah melelas peci dan menaruh nya diatas nakas.
Ilyas tetap bergeming tak mengindahkan perkataan sang istri. Ia pun naik ketas ranjang lalu melebarkan sarung nya dan membawa tubuh Dian masuk kedalam sarung bersama dengannya membuat tubuh mereka menempel tanpa ada yang bisa menghalau.
“ begini lebih nyaman.” dengan santainya memeluk Dian lalu memejamkan mata.
Berbeda dengan Dian yang wajahnya sudah semerah tomat. Kenapa suaminya sangat romantis sih " By.. sejak kapan kamu berubah jadi romantis sih.." membalas pelukan suaminya dan membenamkan wajahnya di leher Ilyas
Kening Ilyas berkerut. Romantis? Siapa? Tanyanya dalam pikiran. Ia benar-benar memasukkan sang istri kedalam sarung yang sama dengannya karena itu memang nyaman, bukan karena ia merasa ini romantis.
Dan memangnya ini romantis? Pikir Ilyas. Hal sesederhana ini romantis?
“ Aku tidak tahu bagaimana kamu mendefinisikan perlakuan romantis. Tapi aku hanya melakukan semauku.” ucapnya dengan nada datar. Ilyas yang datar kembali tidak seperti semalam yang sangat lembut.
Dian mencebik dalam diam. “ Ingat lain kali jika ingin keluar harus ada pengawal yang menemani mu.”
Sontak Dian mendongak “ yah gak bisa gitu dong by. Gak nyaman kalau ada pengawa.”
Menatap datar Dian “ Kamu masih tidak bisa belajar dari kejadian yang baru saja menimpa mu. Kalau terulang lagi baru kamu menyesal.”
“ Ya iyalah penyesalan, kalau didepan itu namanya pendaftaran.” gumamnya namun masih bisa didengar telinga tajam Ilyas
Menunduk melihat istrinya yang tengah membenamkan wajah dileher “ Oh.. siapa yang mengajarkan mu kata-kata tidak etis itu.”
Melihat suami nya dengan tatapan bingung “ Etis? Yang mana by? Perasaan Dian gak ngomong yang enggak-enggak deh.”
“ Ck. Terus apa maksudnya dengan pendaftaran.”
Menyengir kuda “ Hehe yang itu toh. Itu masih sah-sah ajah by. Kata Sarah sih ” memang sahabatnya yang satu itu selalu mempunyai kata-kata aneh bin ajaib
“ Sarah? Siapa dia? ” Beo Ilyas merasa tak asing dengan nama itu.
“ Sahabat aku by.”
ah.. akhirnya Ilyas ingat. Namanya tidak asing sebab selalu disebut istrinya.
“ Eh? Tu.. tunggu dulu. Dian sama Sarah sama-sama diculik. Terus Sarah kemana by? ” ia sampai lupa dengan Sahabatnya
Memejamkan mata “ Tenanglah. Sahabat mu aman ditangan Ardo.” merengkuh erat-erat tubuh sang istri “ Tidurlah lagi.” Dian mengangguk dan mulai kembali menyelami mimpi dalam satu sarung bersama suaminya. Benar-benar membuat pergerakan terbatas.
.
.
Menyusun satu stel pakaian kerja suaminya diatas ranjang. Suami tampan nya sekarang berada didalam kamar mandi, ia kembali mandi karena wajah bantal nya terlalu terlihat berbeda dengan Dian yang tetap segar walaupun bangun dari tidur subuh.
Ceklek...
Seperti biasa, Ilyas keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang istri yang tengah bengong entah memikirkan apa.
Plak..
Handuk kecil yang dipegang Ilyas untuk mengeringkan rambut dilempar tepat didepan wajah Dian membuat wanita itu terkesiap.
Mengambil handuk kecil itu “ Astagfirullah.. by..” menggeram kesal. Lagi-lagi ia dilempari handuk oleh suami datarnya.
Dengan santai Ilyas duduk di pinggir ranjang “ Makanya jangan melamun pagi-pagi.” beo Ilyas menatap datar istrinya “ Cepatlah. Keringkan rambut ku.” Dian hanya pasrah dengan tingkah suaminya yang kadang-kadang lembut kadang-kadang datar.
Setelah mengeringkan rambut suaminya, Dian turun dari ranjang dan masuk kedalam walk closet untuk mengganti pakaian.
“ Cepatlah.. dasiku masih harus dipasang.” Seru Ilyas dari luar. Dian menghela nafas panjang, buru-buru ia memakai gamisnya dan keluar dari walk closet tanpa memakai hijab.
“ Nah sudah selesai.” Dilihatnya pergelangan tangan sang suami. Kembali lagi Dian merapikan kemeja di bagian pergelangan tangan besar suaminya.
Tersenyum manis “ ini baru benar-benar selesai.”
Ilyas pun ikut tersenyum tipis. Tak lupa ia melabuhkan ciuman dikening serta bibir iatrinya. Selalu ia melakukan hal itu, sungguh sudah menjadi candu. Mengambil ponsel di atas nakas lalu mulai melihat beberapa jadwal yang sudah tidak terlalu padat.
Dian menatap sendu ponsel suaminya. Dengan ragu ia membuka suara “ By..” lirih Dian, sangat pelan bahkan hampir terdengar menggumam.
Namun telinga tajam Ilyas tentu dapat mendengar nya dengan baik “ Ada apa? ” duduk disamping sang istri
Dian menunduk. Diremasnya jari-jari tangan yang sedang ia pangku “ Maaf..”
Kening pria itu berkerut. Maaf? Untuk apa? Pikirnya “ Katakan yang jelas.” ia tak suka sesuatu yang berbelit-belit
“ itu.. tentang ponsel yang hubby belikan. Maaf.. Dian menghilangkan nya. Kata Sarah ponsel itu mahal bangat.” membuang nafas kasar
“ nanti Dian coba ganti deh. Emangnya berapa? ” menatap sendu kemanik mata sang suami yang malah menatap nya dengan tatapan datar seperti biasa.
'kenapa istriku sangat polos' padahal jelas-jelas Ilyas membelikannya bukan untuk dapat imbalan tapi tetap saja istri kecilnya itu kekeuh.
“ Memang nya kau punya uang untuk menggantinya? ” Tapi Ilyas sangat suka menggoda Dian
Dian terdiam. Ia kembali mengingat perkataan Sarah tempo hari. Ia mengingat kira-kira berapa harga ponsel yang dikatakan Sarah saat itu. Matanya membulat mengingat hal itu “ Emm cicil bisa? ” Menatap suaminya malu-malu
“ Aku bukan rentenir. Black card yang aku berikan saat menikahimu kemana? ” Belum pernah rasanya Ilyas mendapat notifikasi mengenai pembayaran kartu itu.
“ Ada, Dian taruh di dompet.” Jawaban polos itu berhasil membuat Ilyas gemas. Ingin rasanya ia memakan Istrinya sekarang
“ Kenapa tidak digunakan? ”
“ Emm.” Menggaruk pipi nya yang tiba-tiba gatal “ Dian gak tau cara pakainya.”
Ilyas menghela nafas panjang “ Belajarlah menggunakannya. Kartu itu sangat berharga. Dan tentang ponselmu, tidak perlu kau pikirkan. Akan aku belikan lagi. Tidak perlu diganti, aku memberikannya ikhlas, lagipula kau ini istri ku.” Jelas Ilyas panjang lebar
Dian hanya mengangguk. Menghela nafas lega 'Untunglah. Aku kira harus ganti rugi'
.
.
Ilyas berpamitan pada Dian sebelum berangkat kerja. Sebenarnya ia enggan untuk meninggalkan sang istri mengingat apa yang telah menimpanya. Namun ada hal penting yang harus ia urus di perusahaan, hal yang pasti sangat menyenangkan.
“ Jangan keluar mansion hari ini.” Nasehat Ilyas sebelum pergi
“ Iya by. Tenang ajah.” Mencium tangan kanan sang suami dan dihadiahi kecupan manis di kening serta di bibir Dian.
“ Assalamu'alaikum.”
“ Wa.. Wa'alaikum salam.” Lagi-lagi wajah Dian dibuat memerah. Ahh... Ingin rasanya ia teriak namun malu dilihat banyak pelayan.
Setelah mobil sang suami tak terlihat lagi, Dian memutuskan untuk masuk kedalam dengan wajah yang memerah. Namun ia mencoba untuk stay cool.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...subscribe yah manteman😖...