
Arga duduk di ruang kerjanya sembari memperhatikan ponselnya. Ia sedang menunggu balasan dari salah satu siswinya yang ia kejar-kejar dalam diam. Belum tau saja siapa suami wanita yang sedang ia kejar-kejar.
Ting..
Dengan sigap Arga mengambil ponselnya. Keningnya berkerut melihat balasan yang dikirim dari siswinya
“Apa maksudnya? Jangan bilang Dian sudah menikah? Tidak.. itu pasti tidak mungkin.” Ia memegang kepala.
Lalu kembali melihat dalam-dalam pesan yang terlampir disana
‘Dian tidak bisa membantumu? Dia terlalu sibuk dengan SUAMINYA!’
‘JANGAN GANGGU ISTRI KU!!!’ pesan terakhir semakin membuat Arga bingung. Siapa yang di chat siapa yang membalas.
“Siapa suaminya? Aku harus cari tau!”
Sedangkan di sisi lain
Ilyas dan Dian masuk kedalam mansion. Para pelayan sudah menyambut didepan pintu. Kening Ilyas berkerut tatkala melihat interior dan furniture di mansion nya.
Ia juga sedikit kaget saat tidak sengaja melihat sebuah taman bunga di samping mansion. Apakah dia tak salah alamat?
Keduanya terus berjalan hingga sampai ke dalam kamar. Lagi, Ilyas semakin dibuat bingung melihat kamarnya yang masih tertata seperti dulu namun warna dinding serta furniture nya terlihat berbeda
“Ada apa by?” Pernyataan Dian berhasil mengeluarkan Ilyas dari lamunannya, pria itu menatap lekat wajah istrinya yang sekarang merangkul lengannya
‘Ah.. pasti karena ini’ Ia langsung bisa ngeh saat melihat istrinya. Pasti semua interior serta furniture di mansion di ubah karena sekarang ada sang istri. Dan lagi taman bunga itu pasti ia sengaja buat untuk istrinya yang cantik
Menelengkan kepala “Hmm ada apa by? Apa ada yang salah? Jangan bilang Hubby memang lupa sama rumah sendiri?” Memicingkan mata
Ilyas tersenyum tipis “Bukan apa-apa. Aku hanya tidak percaya punya istri cantik.” Ucap jujur Ilyas dengan wajah datar
Blushh..
Ahh kenapa suaminya sangat suka menggombal dengan wajah yang datar. Setidaknya berikan ekspresi yang lebih mendukung dengan perkataan.
“e.. ehem.. a.. aku memang ca.. cantik.” Mengalihkan pandangan nya. Wajah nya sudah memerah
Menaikkan sebelah alis “Oh.. sombong.”
Beralih Melihat wajah suaminya “Hehe aku belajar darimu by.” Menaikkan jarinya berbentuk peace
Ilyas Terkekeh kecil “Hmm istriku memang yang paling menggemaskan.” Ia semakin gencar menggoda Dian saat melihat wajah imut istrinya yang memerah
“Ihhh byyy..” Dian memeluk pinggang sang suami dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami
Tinggi Dian yang hanya sedada dan sangat kecil di banding dengan tubuh besarnya mampu membuat tubuh Dian tenggelam didalam pelukan.
“Kenapa? Aku benar ‘kan” Menaik turunkan alisnya menggoda Dian
Dian mendongak “Aku heran deh by. Yang berubah itu ingatan hubby atau sifat mu, by? Aneh bangat. Sejaka kapan hubby suka ngegombal kaya gini?” Masih setia memeluk erat pinggang Ilyas yang dibalas pelukan di pinggang dari sang suami
“Mau makan malam?” Menoel hidung kecil Dian
Dian mengangguk “Biar Dian yang masak.”
“Tidak perlu. Ada pelayan yang akan memasak.”
Dian menggeleng “Enggak. Pokoknya Dian yang bakalan masak.” Kekeuh Dian. Kata orang, dari perut naik ke hati. Walaupun sang suami sudah mengatakan cinta padanya, Namum bukannya lebih bagus menambah bumbu cinta di cinta yang sudah bersemi?
“hmm yakin?”
Dian mencebik “Iyalah! Bukannya hubby udah coba masakan Dian? Kan selama ini Dian selalu bawa masakan Dian ke rumah sakit, buat hubby makan.”
Kening Ilyas berkerut “Maksudnya makanan rasa restoran bintang lima yang selalu kamu bawa?” Ilyas kira makanan itu di pesan langsung dari restoran bintang lima, rupanya dari tangan kecil nan lentik sang istri
“By.. jangan gombal lagi deh.” Wajah Dian semakin merah mendengar nya
“Aku serius! Hmm baiklah masakan mu sudah teruji dari lidah yang tepat.” Yah dan sekarang Ilyas benar-benar jujur. Ia tidak menyangka makanan yang selalu ia makan saat di rumah sakit adalah buatan Dian.
Entah memang makanannya yang enak atau karena Dian yang membuat nya? Rasanya makanan yang selama ini ia makan tak ada apa-apanya di banding makanan yang dia makan saat di rumah sakit.
.
.
Sarah memasuki sebuah restoran, ia celingak-celinguk mencari seseorang yang ingin ia temui. Tak lama senyumannya mengembang tatkala melihat orang yang ingin ia temui melambaikan tangan kepadanya.
Beno meletakkan kacamata di atas meja “Gak papa, aku juga baru sampai kok tadi.”
Sarah tersenyum manis “Gimana kabar kak Beno?” Tanya Sarah basa basi seperti biasa
“Seperti yang kamu lihat. Alhamdulillah aku baik, kamu pasti baik juga ‘kan? Buktinya kamu udah ada di depan mataku.” Seperti inilah kepribadian Beno. Dia yang bertanya namun dia juga yang menjawab
Sarah terkekeh geli “Kak Beno emang gak berubah yah. Seperti yang kakak bilang tadi, aku baik-baik ajah.” untuk kesehatan fisik Sarah memang baik-baik saja, namun untuk kesehatan hati, sepertinya hati Sarah tidak sedang baik-baik saja.
“Oh yah kapan kakak bisa mampir ke rumah?” Tanya Sarah
Beno menghentikan mulut saat ia ingin menjawab, terlihat seorang waiters datang membawa pesanan minuman serta makanan yang sempat ia pesan sebelum Sarah datang
“Terima kasih mbak.” Ucap Beno, pria yang berhasil mendapatkan jas kebanggaan berwarna putih tersebut menyodorkan Sarah sepiring pasta
“Makanan kesukaan mu.”
Sarah tersenyum “Tau ajah. Makasih yah kak.” Mengambil pasta tersebut “Jadi, kapan kakak mai mampir ke rumah?” Pertanyaan pertama Sarah pun kembali terlontar
“Nanti, InSya Allah kalau ada waktu deh. Lagi sibuk nih soalnya.”
“Yaelah sibuk tapi masih punya waktu buat makan disini.” Sindir Sarah
“eh.. eh.. eh.. jangan salah yah Sar, untuk makan beda lagi. Kata orang, jangan pelit kalau soal makan. Nah walaupun aku sibuk pasti aku sempatin buat makan.”
“ya iya lah kak. Kalau kakak gak makan mana mungkin kakak masih bisa duduk disini, mungkin kakak udah ada di dalam tanah.” Sarah tertawa geli setelah mengatakan nya
“Astagfirullah Sar. Memang harus punya stok kesabaran sekebon kalau ngomong sama kamu.” Mengusap dada. Masa dia di sumpahi mati.
Mengangkat kedua bahu, acuh “Kan aku ngomong kenyataan kak.”
“huh! Tapi jangan jujur-jujur juga!” Mencebik
“Ye.. si bujang lapuk marah nih yeee..” Wajah Sarah yang mengejek sungguh ingin di jitak Beno.
Lagi, Beno mengusap dada “Sabar.. sabar.. orang sabar banyak duitnya.”
“Aamiin...” seru Sarah
“Aamiin..” Timpal Beno
Keduanya saling pandang lalu tertawa bersamaaan. Memang tidak ada yang berubah dari keduanya. Hanya badannya saja yang lebih besar, namun sifatnya masih sama seperti dulu.
Keduanya pun melanjutkan acara berbincang nya dengan tawa yang mengiringi. Mulai dari kisah saat mereka masih kecil bersama Dian dan berbagai macam lagi.
“Kamu ingat gak Sar, waktu kecil kita pernah main rumah-rumahan. Terus yang jadi emaknya aku,”
“Aku yang jadi anak emak terus Dian yang jadi anak tetangga. Ceritanya tuh tentang emak yang selalu banding-bandingin anaknya sama anak tetangga ‘kan?” Timpal Sarah
“hahah ngakak bangat gak sih waktu itu. Masa aku yang cowok jadi emaknya, lah.. mana aku serius bangat lagi aktingnya.”
“Hahhaha aku ingat, aku ingat! Coba praktekkin lagi.”
Beno meminum air putih yang ada di atas meja sebelum membuat ekspresi yang marah layaknya seorang ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya
“Sebenarnya kamu bisa apa sih nak? Gak bisa ini, gak bisa itu! Coba lihat anak tetangga, si Dian. Dia di suruh masak bisa, gak bar-bar, lemah lembut.” Mendengus di akhir kalimat.
“Iya mak, maaf.” Mengambil tangan Beno lalu menaruhnya di kening layaknya saat menyalami tangan orang yang lebih tua
Keduanya kemudian saling pandang lalu tertawa kembali.
Saat masih asik tertawa, tiba-tiba..
“Lepaskan tanganmu dari calon istriku!”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...