Dream Wedding

Dream Wedding
Mencari tau sendiri



Ilyas melanjutkan pekerjaannya di kursi kebesarannya, sedangkan Dian seperti biasa duduk di sofa ruangan sang suami. Wanita itu menyibukkan diri dengan tugas kampus agar pikiran nya teralihkan dari kehamilan dan semua tentang bayi.


Ilyas selalu curi-curi pandang melihat istrinya. Ia ingin memastikan sang istri baik-baik saja dan tidak memikirkan mengenai masalah bayi yang pasti akan selalu membuat nya bersedih


Tak terasa jam makan siang pun tiba. Dian segera beranjak dari duduknya “By makan siang dulu.” Ajak Dian


Ilyas menghentikan pergerakan tangan di keyboard komputer lalu melihat jam tangan. Memang sudah waktu makan siang rupanya


Pria itu memanggil istrinya untuk mendekat. Tanpa banyak tanya Dian mendekati Ilyas. Dengan sigap pria tampan tersebut menggendong sang istri dan mendudukanya di pengkuan menghadap samping


“Astagfirullah by, jangan kagetin Dian Mulu bisa ‘kan.” mengusap dada. Ilyas menimpali tangan istrinya dan ikut mengusap dada Dian dengan lembut


“Mau makan apa, hmm?”


“Emmm apa ajah. Tapi kita makan di kantin yah by, biar rame.” usul Dian. Belum tau saja Dian, jika mereka sudah sampai di kantin tentu saja keadaan yang ramai tadi langsung hening dan tidak akan ada yang berani memakan makanannya


“Untuk apa? Kita malah akan mengganggu mereka makan. Tidak akan ada yang berani mengangkat sendok nya kalau aku disana.” Penjelasan logis Ilyas membuat Dian terpaksa membenarkan. Lagipula Ilyas ingin menghabisi jam makan siang bersama Dian sebelum kembali bekerja


Padahal suaminya tidak semenakutkan itu, mengapa semua orang malah takut? Pikir Dian. Ia melupakan bagaimana dirinya waktu pertama kali bertemu Ilyas


“Baiklah kita makan disini ajah. Hmm Dian pengen pecel sama pake lontong.” Seru Dian “Kamu mau apa by?” Tanya Dian. Mereka sedang mendiskusikan akan makan apa nanti


“Hmm nasi yang berwarna kuning seperti yang pernah kamu buatkan.” Ucapnya ambigu. Untung saja Dian mengerti


“oh maksudnya nasi kuning. Kalau nasi kuning mah Dian jagonya by.”


“Aku tau. Nanti kita pesan ke ob.” Tentu Ilyas sangat tau bagaimana kemampuan memasak istrinya. Ia tidak pernah melupakan saat pertama kali ia makan nasi kuning buatan sang istri saat hari pertama mereka menikah.


...***...


Pagi-pagi, Dian keluar mansion. Ia menunggu tukang sayur yang biasa lewat di kompleks perumahan mewah seperti Mansion nya. Walaupun kompleks Mansion sangat mewah, bukan berarti ada larangan tukang sayur untuk masuk kedalam. Malahan para ibu-ibu yang suka memasak sangat menyukai jika ada tukang sayur yang lewat


Tak lama menunggu, ia bisa mendengar suara khas ibu-ibu yang tengah berbicara satu sama lain mengelilingi sebuah mobil van tukang sayur Tersebut.


Dian pun menghampiri mereka “Assalamu'alaikum.” Salam Dian


“Wa'alaikum salam.” Jawab kelima beserta dua pria yang penjualnya


“Eh? Dian, mau beli juga?” Tanya salah seorang ibu-ibu yang paling glamor


Dian tersenyum “Iya bu, seperti biasa.” Jawabnya santai


“Hmm pak itu kangkungnya tiga ikat, sama kentang satu kilo, wortel nya juga satu kilo yah.”


“Baik nyonya.” Jawab pria paruh baya tersebut. Ia sangat mengenal Istri dari seorang pengusaha sukses yang sangat berkuasa itu, makanya sebisa mungkin dirinya bersikap sopan santun. “Masih ada lagi, nyonya?”


“Tunggu yah pak, masih lihat-lihat dulu.” Jawab Dian. Awalnya ia canggung saat di panggil nyonya oleh pria paruh baya itu, hanya saja pria tukang sayur tidak ingin merubah panggilan nya walau sudah berapa kali di tegur


“Gak sekalian sawi nya Dian? Biasanya beli.” Seru seorang ibu-ibu disana yang bisa dibilang sedikit akrab dengan Dian


“Kalau sawinya masih ada bu Kla.”


Bu Klara, mengangguk mengerti


“Kalau Bayamnya nyonya?” tukang sayur kembali menawarkan. Jika Dian ada di sana maka Dian lah yang akan menjadi prioritas membuat beberapa ibu-ibu yang juga dari kalangan atas itu tak terima.


Seperti sekarang, beberapa ibu-ibu melihat tak suka kearah Dian dan bu Klara yang memang tak pernah iri dengan Dian.


Wanita yang paling glamor disana pun angkat bicara “Oh yah jeng Mita, itu si bungsu udah ngisi yah.”


“Iya, padahal baru tiga bulan nikah tapi udah ngisi.”


“Sehat bangat tuh berarti.” Melihat kearah Dian “Oh yah Dian, kamu masih nunda sampai kapan? Jangan ditunda-tunda. Noh lihat Sela, baru tiga bulan udah ngisi.”


“Iya, kasian tuh tuan Ilyas. Pasti dia butuh keturunan.”


“Apalagi kekayaan keluarga Sam bukan main-main. Harusnya ada keturunan langsung yang bisa mewarisinya.” Salah seorang ibu-ibu yang memang tidak terlalu menyukai Dian membuka suara. Ia pernah ingin menjodohkan putrinya pada Ilyas namun ditolak mentah-mentah oleh Ilyas sendiri


Dian terdiam, ia tau perkataan mereka bukan untuk kebaikan nya. Hanya untuk meledeknya, walaupun mencoba untuk tidak sakit hati. Hati Dian pasti akan sakit jika dihadapkan dengan masalah anak


Wanita itu tersenyum manis “Belum dikasi amanah sama yang maha kuasa. Terus suamiku juga gak terlalu maksa, kami juga pelan-pelan ajah kok.” Jawab Dian


Beberapa ibu-ibu disana terdiam mendengar jawaban Dian


“Ah, saya ambil tomatnya juga yah pak.”


“Oh, satu kilo nyonya?” Dian mengangguk. Setelah mengambil semua pesanan nya Dian pun pamit dari sana.


.


.


Dian menghempaskan badannya di kursi makan. Menghela nafas panjang “Sabar Di. Kamu sehat, in Syaa Allah, pasti ada waktu nya.”


“Sayang, dari mana saja?” Ilyas yang baru saja dari ruang gym menghampiri Istri nya. Pria itu duduk di samping Dian


Ia Masih memakai kaos tanpa lengan dan juga celana pendek diatas lutut. Keringat masih menetes di tubuhnya


“itu dari beli sayur di tukang sayur depan.” Menunjuk kantong plastik tempat sayur-sayur yang tadi dibeli


“Udah berapa kali aku bilang, belanjanya biar para pelayan yang melakukannya. Kamu tinggal duduk menikmati.” Mengambil air minum lalu meminumnya hingga tandas


“Gak papa by, Dian juga suka. Lagian kan yang masak biasanya Dian, jadi aku yang paling tau bahan masakan apa yang kurang.”


Menghela nafas panjang. Istrinya semakin di ingatkan semakin keras kepala. Apalagi akhir-akhir ini Ilyas merasa Istri nya sangat aneh “Yasudah terserah kamu saja.” Melirik sang istri yang hanya mengangguk dan kembali menunduk


Menggenggam tangan Dian membuat empunya mendongak menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu


“Ada apa lagi, hmm?” Tanya Ilyas lembut mengelus pipi Dian


Dian menggeleng pelan sambil menunduk menatap tangannya yang digenggam erat oleh sang Suami. Ia tidak ingin lagi-lagi membuat Ilyas kesal karena ia bersedih mengenai momongan.


Menghela nafas pelan. Mengapit dagu Dian lalu mengangkat nya “Sayang, jangan buat aku jadi khawatir. Katakan ada apa?”


Dian tersenyum manis “Gak papa by, Dian cuman keingat sama almarhum ayah. Cuman itu doang gak ada yang perlu di khawatirin.” Ia masih mencoba menyembunyikan semuanya sehingga ayahnya yang sudah ada di dalam tanah harus jadi korban


Memicingkan mata “Yakin?” Tanyanya curiga


Dian mengangguk yakin “Iya by. Udah ah, Dian pengen masak. Hubby mending pergi mandi deh, bau asem.” Menutup hidung, pura-pura agar suaminya tidak bertanya lebih lagi


Mengangkat sebelah alis “Oh.. aku bau yah.” Menampilkan senyuman licik


“Iya, bau asem. Sana pergi mandi.. kyaa... Ahk by hahahha geli.. hahaha lepasin Dian.” Menggeliat kesana-kemari. Ia menahan kepala suami nya yang entah kapan sudah nendusel di leher dan ketiak nya


“Bukannya aku bau? Sini biar aku ambil baumu agar aku wangi.” Semakin menduselkan kepalanya ke dalam hijab Dian


“Hahaha by geli.. geli.. ahh.. byy.. jangan buat tanda lagi.” Mendorong Ilyas


Ilyas Terkekeh dibalik hijab Dian. Ia kembali mengecup leher sang istri membuat empunya mendesaah. Lalu keluar


“By.. selalu ajah ambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Kesempatan dalam kesempitan? Sejak kapan kesempatannya jadi sempit? Bukannya kamu selalu membukanya lebar Setiap aku mau? Kenapa jadi emmphh.”


Dian membekap mulut Ilyas yang selalu mengatakan fakta yang membuat nya malu kepalang “By.. mending kamu pergi mandi deh. Jangan ganggu Dian lagi. Bagi pebisnis waktu adalah uang!” Menekankan perkataannya dengan makna tersirat yang berarti.


Jangan membuang waktu dan cepatlah mandi! Itulah yang dapat Ilyas dapat dari perkataan dan tatapan tajam Istri nya


“Haha iya sayang. Jangan lupa mandi setelah memasak.” Bangkit dari duduknya lalu mengecup kedua pipi istrinya


Dian mengangguk “Mandi yang bersih. Jangan lama-lama tapi jangan kecepatan juga.” Dian mengingat kan. Ia biasanya mengomel saat mendapati Ilyas yang mandi tak cukup lima menit menyisakan beberapa tempat yang masih bersabun di tubuhnya.


Jika di tanya dengan santaj Ilyas menjawab kalau ia ingin agar Dian yang memandikan nya. Kalau tidak sangat cepat maka akan sangat lama dan hal itu malah membuat Dian khawatir Suaminya masuk angin


“Iya sayangku.” lalu segera pergi dari sana. Ia memang sangat suka mendapati omelan dari istrinya namun ia tidak tega melihat bibir kecil sang istri yang terus berbicara. Takut bengkak, pikirnya


Setelah kepergian sang suami. Dian menghembuskan nafas lega, untunglah Ilyas tidak menanyakan lebih.


Sedangkan Ilyas segera masuk kedalam kamar mandi dan masuk kedalam bathub. Di ambilnya ponsel yang memang tadi dia bawa kedalam kamar mandi


“Cari tau apa yang dilakukan istriku saat berbelanja di tukang sayur tadi.” Titah Ilyas kepada seorang suruhannya di seberang


”Laksanakan!.”


“Kirimkan hasilnya kurang dari satu jam!”


“Baik tuan. Akan saya kirimkan secepatnya.” Jawab yang diserang mantap. Ilyas mematikan sambungan telepon lalu kembali meletakkan ponselnya di dekat bathub


Mengusap kasar wajahnya “Apa yang selalu membuat mu sedih sayang.” Gumamnya.


Walaupun tadi dia tidak menanyakan lebih kepada Dian, bukan berarti Ilyas akan benar-benar tutup mata dan telinga. Ini pertama kalinya sang istri merahasiakan sesuatu darinya dan enggan memberitahukan nya.


Terpaksa ia harus mencari tau sendiri. Jangan sampai memelihara atau membiarkan sesuatu yang dapat membuat istrinya bersedih.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...