
Setelah kesedihan yang mendera hampir dua Minggu, akhirnya Dian bisa tersenyum dengan tulus juga.
Dan disinilah sekarang, Dian duduk di samping ranjang sang suami yang tengah tertidur. Terdengar dengkuran halus dari mulut Ilyas membuat Dian semakin berbinar.
Tak henti-hentinya wanita itu menciumi wajah tampan suaminya, berharap agar Ilyas segera bangun dari tidurnya
“Haha udah dek, nanti kakak bangun kok.” Seru Said Melihat Dian yang tidak henti-hentinya memenuhi wajah Ilyas dengan air liurnya
“Hehe maaf kak, aku kesenangan.” Mereka semua hanya tertawa geli sambil geleng-geleng Melihat tingkah Dian
‘Bagaimana reaksi kak Ilyas dapat hujaman ciuman yah? Apa jangan-jangan mukanya tetap datar? Atau malah marah? Bisa jadi malah senyum-senyum sih’ Batin kedua kembar berbeda gender tersebut.
“Sudah.. sudah.. mendingan kita sholat dulu, sudah masuk waktu sholat Isya.” Ujar kakek Arnold yang duduk di sebelah kanan ranjang Ilyas
Semua yang duduk di sofa lantas berdiri untuk menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim, namun Dian hanya diam. Ia lagi-lagi mengelus perut.
Niat hati ingin cepat hamil, namun sepertinya takdir tak berpihak padanya. Kemarin ia baru saja datang bulan. Menghembuskan nafas panjang ‘Sabar Di! Aku yakin pasti ada jalannya’
Dian tinggal sendiri dengan suaminya. Ia menggenggam erat tangan sang suami dan beberapa kali menjatuhkan ciuman di punggung tangan Ilyas yang lebar
“Dian tau kamu gak akan rela meninggalkan ku sendiri, by.”
Tiba-tiba tangan yang digenggam Dian bergerak, sontak Dian mendongak melihat wajah suamnya, terlihat mata yang tengah terpejam itu mulai bergerak-gerak. Perlahan namun pasti kelopak matanya terbuka
Dian tak bisa menyembunyikan wajah kebahagiaan nya, ia lantas bangkit dari duduknya “By? Kamu udah sadar?” Memegang wajah Ilyas
Sedangkan Ilyas masih Mengerjapkan mata membiasakan matanya menatap lampu yang tengah bersinar menyinari.
Setelah membuka penuh matanya ia menatap bingung ruangan yang ia tempati, semuanya berwarna putih.
Dimana dia? Apa yang sudah terjadi? Memegang kepala, rasanya kepalanya ingin pecah mengingat dan melihat hal asing yang terjadi tiba-tiba. Belum lagi dengan bau obat yang khas, apa ini rumah sakit? Pikirnya
Namun keterkejutan nya kian mendera tatkala seseorang terjatuh ke dadanya dan melingkarkan tangan ke lehernya sembari terisak.
Dan ‘by?’ kata-kata yang entah mengapa selalu terngiang-ngiang di kepala saat ia tidur
Tunggu? Apa yang terjadi? Mengapa semua nya terasa asing.
Ilyas mencoba mendorongnya seseorang yang tengah memeluk lehernya, dadanya terasa berat karena tubuh wanita itu
Dapat Ilyas lihat seorang wanita cantik tengah menatap nya dengan wajah yang penuh air mata dengan tersenyum? Apakah itu air mata bahagia?
Ilyas perlahan bangkit dari tidur, ia ingin menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang rumah sakit.
“By, hati-hati. Sini biar Dian bantu.” Wanita itu pun dengan sigap membantu Ilyas untuk duduk. Namun sungguh Dian dibuat terkejut saat suami yang sudah ia tunggu-tunggu membuka mata menepis tangannya
Dian terdiam, ia mencoba mengerti dengan keadaan suaminya. ‘mungkin hubby lagi butuh proses buat mencerna semuanya’
Dilihatnya Ilyas yang susah payah mencoba untuk bangkit. Ingin sekali rasanya Dian membantu namun selalu mendapat tepisan tangan dari laki-laki itu.
Hingga, ia teringat sesuatu “Tunggu yah by, biar Dian panggil dokter dulu.” Seru Dian bersemangat dan langsung keluar dari sana melupakan tombol merah yang dapat di bunyikan saat ingin memanggil dokter.
Ilyas hanya terdiam melihat wanita tersebut keluar. Ia mengerutkan kening lalu memencet tombol nurse call yang ada di atas sandaran ranjang
“Wanita bodoh!”
Sedangkan Dian yang sudah buru-buru keluar berpapasan dengan dokter Beno dan dua orang perawat perempuan dan laki-laki yang berniat ingin pergi ke ruangan Ilyas karena mendapati tombol tersebut di pencet.
“Dokter, kebetulan. Suami saya... Sudah siuman!” Seru Dian
“Alhamdulillah, tapi apa yang anda lakukan di luar nyonya? Bukannya anda sudah memencet tombol nurse untuk memanggil dokter nyonya?”
Dian terdiam lalu menepuk jidatnya, bisa-bisa nya ia melupakan alat canggih tersebut. Kalau begitu, sang suami yang memencet nya? Ah! Dia malah melupakan suaminya
“Maaf dok, tapi bisakah kita segera memeriksa keadaan suami saya.”
Dokter Beno mengangguk, mereka pun bergegas masuk kedalam ruangan Ilyas. Terlihat Ilyas yang sedang duduk Menyandarkan punggung di Sandara ranjang.
“Bagaimana, keadaan anda tuan? Apa ada yang tidak nyaman?” Tanya dokter Beno mulai memeriksa Ilyas
“Tidak ada.” Singkatnya
Dokter Beno memeriksa mata Ilyas lalu setelah nya ia membuka mulut Ilyas. Manggut-manggut, terlihat lengkungan lebar di sudut bibir.
“Bagaimana dok?” Tanya Dian harap-harap cemas, walaupun ada rasa bahagia saat melihat sang suami akhirnya membuka mata
“Alhamdulillah nyonya, tuan Ilyas dinyatakan sembuh. Hanya tinggal menunggu impusnya habis.” ucapan pria berkacamata tersebut membuat senyuman bahagia Dian semakin merekah
“Alhamdulillah ya Allah..” Lantas Dian ingin segera memeluk Ilyas yang sedari tadi hanya diam tanpa ekspresi
“Kenapa by?” Menelengkan kepala
“Siapa kau?”
Deg...
“A.. apa? Ini aku, Dian. Istri mu by!” Ujar Dian, suaranya bergetar menahan tangis. Apa lagi ini?
Kening Ilyas berkerut dalam “Omong kosong! Siapa kau! Dimana Ardo dan Mike. Bisa-bisanya mereka mengizinkan orang asing seperti mu masuk!” Sentak Ilyas membuat Dian yang sedari tadi menahan air mata untuk tak jatuh gagal.
“Ja.. jangan bercanda sekarang by, Di.. dian bukan orang asing. Aku ini istri mu by.” Ketakutannya ternyata benar
Dokter Beno yang memang masih disana pin ikut menyerngit heran, lantas dia mendekati Ilyas “Tuan bisa tolong jawab pertanyaan saya?” Ilyas hanya mengangguk
“Berapa usia anda sekarang?”
Pertanyaan Dokter Beno semakin membuat Ilyas heran. Semuanya terasa asing, walau begitu ia tetap menjawab “26 tahun, apa ada yang salah?”
Dian hanya diam mendengarkan, walaupun air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. 26? Bukan, sekarang usia Ilyas seharusnya 29 tahun!
“hal terakhir yang anda ingat?”
“Aku baru pulang perjalanan bisnis.” Santai Ilyas tanpa mengingat lebih, karena memang itu yang ia tahu
“Status anda saat ini?”
“Belum menikah! Apa ada yang salah?!”
Tubuh Dian semakin bergetar mendengar jawaban suaminya. Kalau sang suami belum menikah! Jadi, siapa yang mengijab kabulnya saat itu? Makhluk gaib!!?
‘sangat salah tuan, anda menyia-nyiakan istri anda yang sangat cantik!’ bisakah ia sekarang menggetok kepala Ilyas?
“Tahun berapa sekarang?”
“Apa kau bodoh?! Apa gunanya kalender jika kau bertanya padaku!” Umpatnya.
Dokter Beno memejamkan mata menahan kesabaran, “Apa benar sekarang tahun 2019?”
Ilyas mendengus “Syukurlah kau bisa membaca kalender!”
Dokter Beno manggut-manggut “Terima kasih tuan atas jawaban nya. Ilyas hanya diam tanpa melihat dokter Beno, ia sedari tadi melihat seorang wanita cantik dengan hijab panjang yang mengaku sebagai istri nya.
Ada rasa sesak tatkala melihat air mata itu jatuh tak berkesudahan.
“Baiklah nyonya Sepertinya saya tau apa yang terjadi. Bisa ikut saya sebentar?”
Dian terdiam, ia ingin menemani Ilyas yang entah mengapa tak mengenal nya namun ia juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi pasa suaminya. Akhirnya dengan berat hati Dian mengangguk.
Tak lama kepergian Dian dan juga dokter Beno beserta kedua perawat yang tadi memang infus terdengar ketukan di balik pintu dan langkah yang terdengar ramai
“Assalamu'alaikum.” salam mereka
Ilyas terdiam melihat mereka semua. Bukan hanya Ilyas tapi orang-orang yang baru masuk pun sama.
1 detik...
2 detik...
3 detik..
“Apa yang kalian lakukan disini?” Suara barinton Ilyas menyadarkan mereka
“Sudah sadar!!!” Pekik mereka semua, apalagi suara Sindy yang cempreng mendominasi ruangan.
“Bodoh! Kalian ingin memecahkan gendang telinga ku!”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...