
Seperti pada pagi-pagi sebelumnya, dikediaman Ilyas. Mereka selalu sarapan bersama, yang beda dihari ini hanya kedatangan satu anggota baru yang tidak lain adalah kakek Arnold.
Tak ada perbincangan yang berarti selama sarapan, semuanya fokus dengan makanan serta pemikiran masing-masing.
Selesai sarapan, Kakek Arnold pamit ke depan untuk melihat-lihat halaman. Katanya ingin menghirup udara segar. Sedangkan Dian membersihkan beberapa bekas makanan dimeja makan. Walaupun ada pelayan, Dian tetap merasa sungkan untuk menyuruh pelayan.
Selesai dengan aktivitas nya, Dian bersiap untuk mengantar kepergian suaminya bekerja. Seperti biasa didepan pintu.
“Kau sudah akan berangkat.” Kakek Arnold yang saat itu duduk dikursi depan melihat cucunya yang bersiap akan pergi.
“Hmm.” Ilyas hanya bergumam.
Dian memakaikan jas yang sedari tadi dipegang. Menepuk-nepuk bagian dada untuk memastikan bahwa memang sudah rapi.
“Nah udah selesai. Hati-hati yah by.” Mencium tangan kanan sang suami
Saat Ilyas hendak mencium wajahnya, Dian menghentikan dada suami nya untuk mendekat “Ada kakek, malu.” Gumam Dian
Tak mengindahkan perkataan Dian, Ilyas menangkap tangan istrinya lalu melabuhkan ciuman di setiap sudut wajah sang istri. Bahkan sempat melumaat bibir istrinya didepan semua orang. Memang dasar tak tau malu
“Ehem... Lihat kondisi.” Sindir kakek Arnold. Dian menunduk malu, wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Sedangkan Ilyas cuek seperti biasa, bahkan menampilkan wajah datar. Mencium kening istrinya “Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikum salam.” Jawab Dian bersamaan dengan kakek Arnold yang juga mendengarnya.
.
.
.
Dian duduk dikursi samping kakek Arnold atas perintah beliau. Hening, tak ada yang memulai percakapan.
Hingga beberapa menit sudah berlalu..
'Sebenarnya kenapa aku dipanggil kesini'
“Katakan dengan jujur pada kakek.” Pria tua membuka percakapan terlebih dahulu.
Dian menghadap pria tersebut “Ada apa kek?”
Melihat Dian “Apa kamu dipaksa oleh Ilyas untuk menikah dengannya?” Suaranya terdengar serius
Dian terdiam. Memang mereka terpaksa menikah, tapi bukan Ilyas yang memaksakan namum para warga yang salah paham saat itu.
“Katakanlah dengan jujur. Tenang saja, kakek ada dipihakmu.”
Mengambil nafas dalam-dalam “Sebenarnya, pernikahan Dian dan Ilyas memang bukan berlandaskan cinta. Tapi bukan Ilyas yang memaksa Dian untuk menikah dengan nya.”
“jadi?” Kalau bukan Ilyas, siapa lagi yang bisa memaksakan kehendaknya? Tidak mungkin Dian 'kan pikir pria tua itu
“Aku menyelamatkan Ilyas malam itu. Tubuh Ilyas terkena sayatan dan aku berinisiatif untuk menyelamatkan nya. Karena kala itu hujan turun, aku membawa Ilyas pulang kerumah ku. Tapi, siapa sangka para warga mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak, dan dinikahkan saat itu juga.” Menjelaskan serinci-rincinya.
Kakek Arnold merasa ada yang aneh dengan cerita cucu menantunya. Tidak mungkin seorang Ilyas ingin difitnah bahkan dipaksa oleh orang-orang. Tapi mendengar pernyataan Dian, tak mungkin wanita polos seperti Dian berbohong.
“Begitu rupanya. Kakek kira Ilyas yang memaksakan kehendaknya. Tapi, apa Ilyas tidak mengelak saati itu?”
Dian menggeleng “Aku juga tidak mengerti kenapa Ilyas malah setuju menikahiku padahal kami tidak berbuat yang dituduhkan. Bahkan kami baru mengenal saat itu.”
“Itu fakta yang mengejutkan. Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama?”
Dengan tatapan penuh tanda tanya, Dian menjawab “Sebenarnya aku gak terlalu yakin dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi, kalau misalkan kita gak percaya sama cinta pada pandangan pertama, bagaimana bisa kita mencintai Rasulullah Saw, yang bahkan tidak pernah kita lihat.”
Jawaban bijak dari Dian semakin membuat kakek Arnold kagum 'sungguh beruntung bocah itu mendapatkan istri nya'
“Jadi, apa kamu percaya kalau aku bilang suamimu jatuh cinta pada pandangan pertama padamu.” ia sangat tau bagaimana watak cucunya, tidak mungkin seorang Ilyas akan menikah begitu saja tanpa ada sesuatu yang menggetarkannya.
Perkataan kakek Arnold sontak membuat Dian menoleh melihat nya dengan tatapan tak percaya “Hahah kakek bercanda yah. Gak mungkin suamiku yang menyeramkan bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Pria tua itu hanya mengulum senyum, memang tidak akan ada yang percaya. Namun kesimpulan itu yang dapat kakek Arnold ambil.
“Tapi apa kau menyukai cucuku? ” Tawa Dian terhenti. Ia melihat serius kakek Arnold.
Mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan “Aku juga gak tau bagaimana perasaan ku sekarang. Yang pasti aku suka disini, aku juga nyaman berada disisinya.”
“Insya Allah kek. Lagian hidup dan mati seseorang sudah diatur sama yang maha esa.”
“Aku juga sangat bersyukur karena Ilyas mau menikah dengan janda seperti ku. Mungkin saja aku juga gak bisa memberikannya keturunan.” menghembuskan nafas kasar
Kening pria tersebut mengerut “Janda? Kamu janda?” Sekali lagi hal yang mengejutkan terdengar. Rupanya sang cucu lebih tertarik dengan janda.
Tersenyum kaku “Iya kek. Aku janda. Mantan suamiku berselingkuh sampai selingkuhan nya hamil. Mungkin dia selingkuh karena aku ga bisa ngasih keturunan.” Rasanya Dian ingin menangis mengatakan bagian akhirnya
Kakek Arnold berdecak kesal “Pemikiran kolot! Dia kira kita hidup di jaman situ Nurbaya apa! ” Kesal sendiri ia mendengar perkataan cucu menantu nya
Dian tertawa kecil “Hahah kakek bisa aja.” Siti Nurbaya? Kenapa malah bawa-bawa nama orang lain.
“Tapi, kakek tetap bakalan anggap aku walaupun gak bisa ngasih keturunan?” bertanya dengan sangat hati-hati.
Kakek Arnold terdiam “Kau sudah periksakan kondisi tubuhmu?” Pertanyaan kakek Arnold membuat Dian menggelengkan kepalanya
Ia terlalu takut untuk memeriksakan kondisinya. Takut jika ketakutan nya menjadi kenyataan.
Menghembuskan nafas panjang “Apapun yang terjadi di alam semesta ini sudah atas izin yang maha kuasa. Bahkan daun yang jatuh pun atas izin Allah SWT. jadi kita sebagai manusia tidak boleh mengambil kesimpulan yang belum tentu terjadi. Di dunia ini pasti ada yang namanya keajaiban.”
Dian menatap kagum kearah kakek Arnold “ wah.. kakek sangat bijak berbeda dengan Ilyas.” Celetuk Dian membuat pria tua itu tertawa kecil
“oh yah kek. Suamiku punya saudara lain gak?” Kalau bertanya kepada suaminya, ia yakin tak akan mendapatkan jawaban apa-apa.
“Ilyas anak tunggal. Kedua orang tuanya meninggal di kecelakaan pesawat saat bocah itu berusia 12 Tahun.” Menjeda ucapannya lalu kembali melanjutkan
“Saat itu kakek berpikir, Ilyas harus mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Karenanya kakek meninggalkan nya sendiri di Indonesia sedangkan kakek pergi ke New York kampung halaman Ilyas. Kakek menyerahkan semua urusan perusahaan padanya yang masih sangat belia.”
Menatap Dian sendu “Jadi, jangan salahkan Ilyas kalau sekarang dia mempunyai sifat yang sangat keras dan terkesan kejam. Itu semua karena kakek, dan sekarang kakek menyesalinya.”
Dian bisa melihat penyesalan Dimata pria tua tersebut “Yah aku gak ingin membela kakek, tapi semua orang punya kesalahan yang pasti disesali. Jangan terlalu dipikirkan kek, lagian sekarang Ilyas sudah berhasil 'kan.”
“hmm benar juga.” 'yah itu berkat kamu yang membuatnya ceria akhir-akhir ini'
“Kakek punya dua orang anak. Semuanya laki-laki, yang satu ayahnya Ilyas sedangkan yang satunya masih hidup.”
“Wah.. berarti suamiku punya paman dong.” Dian jadi antusias
Mengangguk “Bahkan dia punya sepupu laki-laki yang seumuran.” Dian semakin antusias mendengar nya. Apakah sepupu sang suami mempunyai sifat yang tidak beda jauh dengan suaminya? Pikir Dian
Tertawa kecil “Tapi mungkin kamu gak akan percaya kalau mereka sepupu. Ilyas dan Said benar-benar berbeda.”
“Berbeda?”
“iya, saat kalian bertemu pasti kamu tidak akan percaya. Kakek saja masih belum percaya mereka sepupuan.” Mendengar penuturan kakek Arnold semakin membuat Dian penasaran akan sosok Said tersebut.
“Sekarang emm sepupu suamiku ada dimana kek? ” Bukannya apa-apa, dia hanya penasaran.
“Di Yogyakarta. Nanti sore kakek akan berangkat ke sana. Hitung-hitung jalan-jalan.” Ia memang berencana mengunjungi semua keluarganya yang ada di tanah air, mumpung ia pulang 'kan.
“Eh? Nanti sore kek? Kakek cuman sehari disini?” Terkejut, tentu Dian sangat terkejut.
“Yah kakek juga banyak kerjaan di New York. Jadi mumpung disini, kakek ingin mengunjungi semua keluarga dan kerabat kakek.”
Dian manggut-manggut mendengar nya “Ilyas udah tau, kakek akan pergi nanti sore?”
“Walau tidak diberitahu, Ilyas sudah tau pasti bagaimana kakek saat pulang ke tanah air.”
“Begitu yah. Yaudah, kakek hati-hati yah disana, jaga diri, semoga sehat selalu.” Mendapatkan doa dari cucu menantunya tentu membuat kakek Arnold tak bisa menahan senyum.
“iya, kamu juga jaga diri. Tahan yah sama suamimu yang datar itu.” Tertawa cekikikan diikuti Dian yang juga tak bisa menahan tawa.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...