
Setelah lama menunggu, nasi Padang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan semangat empat lima Dian menekan nasi Padang tersebut ke piring setelah nya barulah ia membuka bungkusan nya.
Piring serta sendok dan alat-alat makan lainnya sudah dibawakan oleh Samuel saat datang memberikan pesanan Dian.
Tepatnya di atas ranjang. Kini nasi Padang tersebut ada diatas pangkuan Dian. Setelah membaca doa sebelum makan, Dian pun mulai memasukkan sesendok nasi Padang beserta lauknya.
Ia manggut-manggut sambil mengunyah, diwajahnya terlihat ia puas akan makanan yang sedang ia makan.
Tangan lentik Dian kembali Mengambil satu sendok nasi Padang, namun bukan untuk dimakan sendiri. Ia malah menyodorkan sendok itu ke depan bibir Suami nya yang sedari tadi hanya memperhatikan.
“Aaa...”
Mengerti maksud sang istri, Ilyas pun membuka mulut.
“Bismillah..” Ucap Dian seraya memasukkan makanan tersebut kedalam mulut Ilyas “Gimana by? Enak gak?”
Ilyas mengangguk “Enak, apalagi disuapi sama istri sendiri.”
Dian tersenyum lebar. Ia kembali mengambil satu sendok makanan dan kembali menyuapi Ilyas. Lagi, hal itu selalu berulang.
Lama-lama kening Ilyas mengerut. Ia menahan suapan yang akan dimasukkan kedalam mulutnya lagi “Kenapa jadi aku yang memakannya. Bukannya kamu yang ingin makan nasi Padang tadi?”
Dian mengangguk “Tadi, tapi sekarang Dian jadi suka lihat hubby makan. Nah.. buka mulut lagi by, Aa...”
Ilyas kembali membuka mulutnya, setelah mengunyah makanannya ia kembali menatap istrinya penuh tanya “Makanlah juga. Bagaimana jika kamu kelaparan tengah malam?” Ia melirik nasi Padang itu yang tinggal setengah. Dan ia yang mengambil alih nasi Padang tersebut kedalam perut, sedangkan istrinya hanya makan satu suapan pertama.
Dian menggeleng “Dian udah kenyang. Dian lebih suka hubby yang makan.” Ia tetap keras kepala
“Tapi sayang....”
“Gak ada tapi, tapi-an! Pokoknya makan ajah!” Tegas Dian menatap suaminya garang.
Sedangkan yang ditatap bukannya takut ia malah gemas melihat mata bulat Istri nya yang melotot serta pipi chubby bak bakpao yang menggembung membuat Dian terlihat berkali-kali lipat menggemaskan.
“Bagaimana kalau kita buat kesepakatan.” Ilyas menawarkan
Memiringkan kepala “Kesepakatan apa?”
“Saat kamu menyuapi ku, kamu juga harus makan? Bagaimana? Dengan begini kita jadi dapat keuntungan masing-masing bukan?” Jiwa pebisnis Ilyas keluar tepat waktu saat ini
Dian mengetuk-ngetuk dagunya, memejamkan mata sembari bersedekap dada. Ia nampak berpikir keras, seakan-akan keputusan yang akan ia ambil nanti akan memperoleh sesuatu yang sangat besar.
Ilyas masih menunggu, ia beberapa kali berdehem agar tidak mengeluarkan tawa yang akan jadi bumerang bagi dirinya sendiri.
“Bagaimana hmm?”
Dian membuka mata “Hm baiklah.” Putusnya. Menurutnya tak salah, apalagi memang dirinya yang meminta ingin nasi Padang, ia juga mempunyai rencana sendiri di otaknya.
Ilyas menyunggingkan senyum tipis. Setidaknya sang istri makan dan tidak akan bangun dini hari untuk minta makan.
Dian mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut Ilyas dan dengan senang hati Ilyas menerimanya. Setelah nya ia juga menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, namun ia hanya menyendok sedikit saja, bahkan setengah sendok saja tidak sampai.
Ilyas masih diam melihat tingkah istri nya. Sampai ia mulai resah karena Dian selalu saja seperti itu. Bukannya sama saja? Istrinya hanya makan seperempat sendok sedangkan ia sendok nya sampai tidak bisa menampung nasi dalam satu suapan.
“Sayang..”
“Hmm?” Memberikan wajah polos dengan mata bulat yang berkedip-kedip membuat kemarahan Ilyas yang tadi sudah di ubun-ubun lengap seketika.
Ia menghela nafas panjang. Lalu merebut sendok yang dipegang istri nya “By..” Protes Dian namun Ilyas menulikan telinga.
Dengan telaten Ilyas menyuapi Dian dengan sendok yang sampai menggunung, wajah Dian tertekuk dalam melihat tingkah Suaminya namum tak ayal ia tetap membuka mulut saat makanan sudah ada didepan bibir.
Tak ingin kemarahan istri nya semakin menjadi, Ilyas juga menyendokkan makanan kedalam mulut nya dengan porsi yang sama seperti sang istri membuat wajah Dian yang tadi tertekuk langsung berubah dengan penuh senyuman sampai memperlihatkan gigi kelinci nya.
Dengan Dian yang memangku piring dan Ilyas yang menyuapi dirinya sendiri serta sang istri. Mereka makan dengan penuh tawa di isi celotehan Dian yang tidak pernah habis.
...***...
Hari ini adalah hari jadwal Dian chek up. Ia bersama suaminya duduk didalam mobil dengan di supiri oleh Samuel.
Dian sedari tadi curi-curi pandang ke arah Samuel, ia penasaran dengan cerita suami nya yang mengatakan bahwa Samuel sendiri yang ingin menjadi bawahannya padahal ia mempunyai pendidikan yang tinggi.
Bagaimana dengan Ilyas? Yap sedari tadi pria itu sudah menatap Samuel dengan tatapan tajam. Ia tidak bisa melarang istrinya untuk tidak menatap Samuel. Alhasil ia hanya bisa memberikan tatapan tajam kepada sahabat plus bawahannya.
Tak berbeda jauh dengan Samuel, pria itu juga merasakan perasaan yang tak nyaman saat dilihat dua dengan intens dua orang dibelakang. Yang satu memberikan tatapan penuh tanya Dan ragu-ragu sedangkan yang satunya memberikan tatapan tajam seolah-olah ingin menelannya.
Keringat sebesar biji jagung keluar dari dahi. Ia pelan-pelan mengusap nya “Emmm nyo.. nyonya, apa anda butuh bantuan?” Tak tahan dilihat ia pun membuka suara
Dian terkesiap, ia tidak menyangka Samuel mendapati nya “Emm.. emm.. Gini ada yang ingin aku tanyakan, boleh?” Ucapnya ragu-ragu
Dengan kening berkerut Samuel menjawab “Tentu saja Nyonya.” Jawabnya, walaupun bingung ia tetap harus mengiyakan
Dian masih terlihat ragu-ragu, ia melirik suaminya. Ilyas yang tadi memberikan tatapan tajam pada Samuel langsung merubah air wajahnya menjadi teduh dan lembut. Pria itu mengangguk.
Melihat anggukan dari sang suami, Dian pun memberanikan diri untuk bertanya “Emm bang Samuel ‘kan sahabat suamiku. Apalagi pendidikan abang juga tinggi. Tapi... Tapi kenapa bang Samuel malah ingin jadi bawahan suamiku?” Mana jadi Supir lagi! Aneh ‘kan?
Samuel terlihat tersenyum tipis “Saya orangnya sederhana dan apa adanya nyonya. Dari dulu saya tidak terobsesi untuk jadi kaya.” Melirik dua majikannya, kemudian kembali melihat jalanan
“Kalau di suruh kerja di perusahaan dan malah jadi budak perusahaan mending saya jadi supir Ilyas saja.”
“Kenapa?”
“Karena gajinya lebih tinggi nyonya. Apalagi saya juga tidak setiap hari kerja, saya hanya kerja jika Ilyas atau anda ingin keluar. Itu pun kalau Ardo atau Mike sibuk, kalau tidak yah saya jadi tidak ada kerja tapi gaji saya tetap mengalir. Enak ‘kan?”
Dian bengong menatap Samuel yang percaya diri dengan jawabannya. Ia tidak tau jadi supir pribadi orang kaya mempunyai keuntungan yang berkali lipat
“Wah.. bang Samuel benar juga yah. Udah kaya jadi pengangguran tapi tetap punya penghasilan tetap.”
“Hahhahah tapi itu karena saya kerja dengan Ilyas, nyonya. Kalau yang lain saya tidak begitu yakin.”
Dian manggut-manggut “Keuntungan orang dalam yah?” Celetuk Dian
Menggaruk belakang kepala “Yah mungkin seperti itu.”
Dian kembali manggut-manggut, ia memang sering mendengar mengenai orang dalam dari Sarah dulu. Namun ia juga kurang mengerti bagaimana cara kerjanya.
.
.
Dian dan Ilyas sudah duduk di kursi tunggu ruangan obygin dokter Melati. Bukan hanya kedua pasangan kita ini, tapi ada beberapa pasangan yang juga ikut duduk di kursi tunggu.
“Eh? Dian? Chek up juga?” Seorang wanita seusia Dian menyapa. Wanita itu bersama suaminya duduk di sebelah Dian
Dian tersenyum “Iya, kamu juga yah.” Dian menjawab
Bunga, nama wanita itu. Pengantin baru yang bertemu Dian saat chek up.
“Iya, gimana kabar si kembar.” Mengelus perut besar Dian
“Alhamdulillah baik, makin lama makin aktif. Suka nendang-nendang.” Jawab Dian bersemangat
“Oh yah?” Mengelus perutnya yang masih rata ”Aku juga udah gak sabar ngerasain.”
“Hahaha awalnya sakit sih waktu di tendang tapi lama-lama jadi pengen terus.”
“Wah... Makin gak sabar nih.” Melirik perut Dian “Ini udah kaya sembilan bulan ajah yah. Apa mungkin karena ada dua?”
Dian mengangguk “Kata dokter Melati sih ini hal biasa kalau hamil kembar. Bahkan katanya ada yang bisa lebih besar. Ini ajah masih lima bulan udah sebesar ini, gimana kalau udah sembilan bulan.”
Bunga manggut-manggut mengerti. Ia jadi tidak sabar melihat perutnya besar “Oh yah, udah tau jenis kelaminnya belum?”
Dian melirik suaminya, sedangkan yang dilirik hanya tersenyum tipis lalu mengangguk “Yang satu katanya cowok tapi yang satunya gak keliatan. Sembunyi katanya.” ucap Dian dengan kekehan di akhir kalimat
Bunga ikut tertawa “Malu-malu tuh pasti.”
“Kamu sendiri gimana? Udah gak morning sick lagi?” Dian bertanya balik
“Udah gak terlalu parah seperti awal-awal dulu. Rasanya mau turun dari ranjang ajah gak bisa.” Dian yang memang tidak merasakan morning sick meringis mendengar nya.
Sedangkan Ilyas manggut-manggut mengerti. Ia yang pernah mengalami morning sick, mengingat nya saja sudah buat pusing. Namun ia tidak menyesal, malah Ilyas lebih memilih ia yang merasakan mual dari pada istrinya
“Ah! Kayanya giliran kami nih.” Ujar Dian saat namanya di panggil “Kami duluan yah.”
Bunga dan suaminya mengangguk. Ilyas dengan hati-hati menuntun Dian untuk berjalan memasuki ruangan dokter Melati.
“Mereka berdua aneh yah. Padahal bisa langsung masuk tapi masih nunggu antri.” Celetuk suami Bunga
“Ye... Mas gak tau sih rasanya duduk di kursi tunggu saat ingin mengecek. Rasanya beda loh daripada Langsung masuk.” Jawab Bunga
“Emang iya?”
Mengedikkan bahu “Gak tau juga, orang aku gak pernah ngerasain. Kalau kata Dian sih kaya gitu. Lebih dapat fell nya.”
Suami Bunga hanya manggut-manggut. Entah ia mengerti atau tidak. Bukannya bisa langsung masuk? Kenapa harus bela-belain ambil nomor antri? Pikirnya
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...