Dream Wedding

Dream Wedding
Sisi lain istriku



Tak lama kemudian karyawan Wanita itu datang sembari membawa sebuah boneka yang lumayan besar.


“Ini by, bonekanya. Gak papa ‘kan Dian beli.” Meminta izin seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan. Sangat polos dan menggemaskan


Ilyas mengulum senyum dalam hati “Tentu saja.” Jawab nya. Ia kemudian membayar boneka boba yang entah terlihat menggemaskan dari sisi mananya menurut Ilyas, namun istrinya terlihat sangat menyukai boneka berwarna cokelat tersebut.


“Hanya ini?” Tanya Ilyas lagi. Dian nampak berpikir


“Kita keliling lagi dulu.” Ilyas mengangguk menyetujui usulan istri nya, ia malah senang jika Dian memenuhi mansion nya dengan boneka atau hal-hal yang sang istri suka.


Ilyas memanggil salah satu bawahannya disana untuk membawa boneka boba tersebut kembali kedalam mobil terlebih dahulu, tidak mungkin mereka akan membawanya kemana-mana padahal bonek boba itu terlihat cukup besar.


“Tinggalkan kami berdua saja.” Titah Ilyas pada karyawan wanita yang hanya melongo melihat dua orang didepannya yang rupanya sangat kaya berbanding terbalik dengan apa yang sempat ia pikirkan mengenai Dian.


“Baik tuan, panggil saya apabila anda berdua membutuhkan sesuatu.” Setelah berpamitan ia pun undur diri membiarkan kedua pasutri itu berdua.


Dian dan juga Ilyas berjalan beriringan menyusuri toko Boneka tersebut. Ada sangat banyak macam boneka, bukan hanya boneka ada banyak juga pengunjung yang terlihat berbelanja disana.


“Kamu mau itu juga sayang?” Menunjuk kearah boneka berbentuk bayi


Dian bergidik melihat Boneka tersebut, boneka yang sangat tidak disukai Dian sebab seperti akan hidup apabila terus melihat nya “Enggak ah by, nakutin. Dian lebih suka boneka yang bukan berbentuk makhluk hidup.”


Ilyas manggut-manggut mengerti, ia memang tidak terlalu tau apa saja yang disukai istri nya dan bagaimana selera sang istri. Tapi satu hal yang ia dapatkan hari ini, Dian tidak menyukai perhiasan melainkan menyukai Boneka yang harganya tak sampai satu juta. Bahkan boneka boba tadi hanya seratus dua puluh empat ribu.


“Wah kayanya itu juga bagus deh.” Menunjuk dua buah boneka boba kecil yang besarnya hanya sebesar telapak tangan Ilyas


‘Bukannya itu juga boneka boba yah. Hanya bentuknya yang kecil’ Batin Ilyas. Ia mengambil dua buah boneka boba berwarna cokelat tersebut. Yang satu terlihat mempunyai merah pipi berwarna pink dan yang satunya tidak ada.


“Kita beli ini juga yah by.” Ilyas lagi-lagi hanya mengangguk. Bahkan jika perlu ia akan membeli toko bonekanya langsung.


.


.


Mereka kembali berjalan-jalan didalam mall. Semua barang belanjaan sudah diambil bawahan Ilyas.


“Ada lagi yang kamu inginkan?” Tanya Ilyas merangkul pinggang sang istri


Dian mendongak melihat suaminya “Kita jalan-jalan ajah dulu.” Ilyas hanya menuruti kemauan istrinya. Asalkan Dian bahagia maka itu sudah cukup untuk nya.


“Wah.. by, kita beli pancake yuk. Kayanya enak tuh.” Melihat sebuah toko pancake diujung lorong.


“Seperti keinginan mu.”


Sampai di toko itu, Dian mulai melihat-lihat didalam lemari kaca yang terdapat banyak macam pancake lucu-lucu.


“Mau yang mana?” Tanya Ilyas ikut mensejajarkan diri nya melihat isi lemari kaca


Memegang dagu “Hmmm.” Ia masih berpikir “Kayanya yang ini enak deh by, lucu lagi.” Menunjuk sebuah pancake berbentuk es krim


“Ada lagi?”


“Itu juga by.”


“lagi?” Dian menggeleng


“Yang tadi ditunjuk istriku masing-masing dua.” Beo Ilyas kepada karyawan disana


“Baik tuan.” Setelah memasukkan pancake tersebut kedalam kotak, karyawan itu pun memberikan nya kepada Ilyas.


Setelah dibayar keduanya kembali berjalan-jalan mencari tempat yang bagus untuk beristirahat “Kita ke taman tadi ajah yah by, sekalian makan pancake nya.”


Kening Ilyas menyerngit dalam, ia nampak tak suka dengan usulan istrinya “Kamu tidak lelah?” Ilyas tidak ingin istri nya sampai kelelahan


Dian menggeleng “Enggak tuh.” Tidak mungkin dia lelah kalau ditemani suami nya.


“Baiklah, setelah itu kita pulang.” Dian mengangguk. Ia juga sudah lama di mall.


Sampai di taman, mereka pun duduk bersebelahan. Dian membuka isi kotak pancake tersebut. Matanya berbinar melihat beberapa pancake yang menggemaskan dan terlihat enak


Diambilnya pancake berbentuk mangkuk dan diatasnya ada gambar beruang “Ihhh aku gak tega makannya, lucu bangat.” Ia heboh sendiri melihat pancake tersebut


“Kalau tidak tega, Bagaimana bisa kamu memakannya?”


“hehe iya juga yah. Hmm tapi gimana dong. Pancake nya lucu ‘kan by. Beneran deh aku gak tega makannya.”


Ilyas semakin dibuat bingung, padahal yang ia lihat biasa saja tapi bagaimana bisa istri terlihat sangat tidak tega untuk memakannya. Tak ingin ambil pusing, diambilnya pancake yang dipegang sang istri dan memasukkan nya kedalam mulut.


“Terlalu manis.”


“Ahhkk by.. kok dimakan sih. Kepalanya jadi hilang.”


Dian tersenyum senang, rasa kesalnya tadi hilang begitu saja saat di suapi dari suaminya “Aa...hmm enak..”


“Kamu juga by, Aaa...” Ilyas yang sebenarnya tidak terlalu suka yang manis-manis hanya bisa menurut tatkala istri nya menyuruh untuk membuka mulut.


‘Hmm tidak buruk’


Tanpa mereka sadari, lagi-lagi pasutri itu menjadi pusat perhatian disana. Namun keduanya tidak menghiraukan, mereka mempunyai dunianya sendiri.


...***...


Dian duduk ditepi ranjang. Rambutnya baru sudah ia keringkan tapi belum terlalu kering, Dia memang tidak suka menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Sedangkan Ilyas masih ada didalam kamar mandi.


Dian membuka pencarian mengenai kampus-kampus terbaik di kotanya dan jurusan yang paling banyak diminati.


“Sesuai basic atau yang paling diminati.” Gumam Dian membaca salah satu cara menentukan jurusan yang akan dipilih.


Menghembuskan nafas panjang “Ujung-ujungnya sama ajah yah. Tapi, kalau dibilang basic, aku lumayan jago menggambar. Coba cari dulu deh.” ia kembali mengetik pencarian tentang basicnya.


“Arsitektur, hmm aku gak terlalu pandai hitung-hitung.” Kembali menscroll layar ponsel


“Jadi desainer juga bagus kayanya. Tapi kok aku gak punya feeling kesana yah.” Dian bagaikan anak SMA yang sedang pusing memikirkan jurusan apa yang akan ia tuju.


“Dkv? Apaan nih? .... Wah.. seru juga yah, lowongan kerjanya juga lumayan banyak. Kayany bagus deh.” Saat asik-asiknya melihat-lihat foto universitas, pintu kamar mandi terbuka terlihat Ilyas keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk setinggi pinggang dan sebatas lutut.


Dian menaruh ponselnya diatas kasur “Udah berapa kali Dian bilang, sebelum keluar kamar mandi keringin dulu badannya by. Coba liat lantai jadi basah.” Omel Dian


Ilyas hanya tersenyum tipis, ia sangat menyukai diomelin istri nya. Bukannya marah atau merasa bersalah, Ilyas malah gemas melihat Dian mengomel, terlihat seperti anak ayam yang bercit-cit.


Menarik tangan suaminya lalu mendudukkan Ilyas di pinggir ranjang. Diambilnya handuk lain lalu mulai mengeringkan tubuh Ilyas. Pria itu hanya diam mendapati perlakuan Dian yang nampak manis.


Matanya tak sengaja melirik ponsel Dian yang masih menyala ‘Dia benar-benar ingin kuliah’


“Sekarang pakai ********** by. Terus langsung pakai piyamanya, jangan lama-lama nanti masuk angin.” Tanpa menjawab, Ilyas bergerak melakukan apa yang diperintahkan sang ibu negara.


.


.


Dian dan Ilyas duduk disofa kamar, keduanya melakukan aktivitasnya masing-masing. Ilyas yang berkutat dengan laptop sedangkan Dian dengan ponselnya.


Wanita itu masih ingin melihat-lihat beberapa universitas, walau belum tentu ia akan berkuliah tapi melihat foto-foto universitas saja sudah membuat Dian senang. Apalagi melihat foto yang diunggah mahasiswa/i di sosmed semakin membuat Dian ingin berkuliah.


“Kapan aku bisa kaya mereka.” Gumam Dian namum masih bisa didengar oleh telinga tajam Ilyas


Ilyas menghembuskan nafas panjang. Menghentikan gerakan jarinya, lalu menegakkan tubuh menatap sang istri. Dian yang ditatap menatap balik si penatap


“Ada apa by?” Tanyanya memiringkan kepala melihat tatapan tajam Ilyas


“Jawab dengan jujur! Kamu ingin melanjutkan pendidikan mu?” Walaupun berat, Ilyas tetap membahasnya ia tidak ingin Dian sampai kecewa.


Dian mematung, bagaimana bisa suaminya mengetahui keinginannya? Pikir Dian


“Hmm kenapa tiba-tiba by? Dian gak pernah bilang tuh.” Elaknya


“Jangan bohong! Katakan kalau kamu memang ingin melanjutkan pendidikan mu.” Tegas Ilyas


Walaupun ragu Dian pun mengangguk “Maaf by, Dian cuman pengen kaya orang-orang yang seumuran Dian. Dian cuman pengen merasakan gimana rasanya kuliah.” Menunduk. Ia takut Ilyas tidak mengizinkannya


Haaaahhhhh


Terdengar helaan nafas panjang Ilyas membuat Dian semakin dirundung rasa takut. “Gak bisa yah by? Dian gak maksa kok.”


Mengelus ujung kepala Istri nya “Katakan kalau memang kamu mau, jangan ditahan. Akan aku urus, kamu tinggal beres saja.”


Mendongak “Beneran?” Memastikan dan diangguki suaminya. Mata Dian berbinar “Aku gak salah dengar ‘kan by?” Wajahnya yang berbinar seperti itu semakin terlihat cantik dimata Ilyas


‘Kalau seperti ini aku jadi ingin menarik kata-kata ku kembali. Istriku terlalu cantik untuk dilihat pria lain’ Sungut Ilyas dalam hati. Ia ingin melarang, namun melihat senyuman di wajah istrinya mampu membuat Ilyas luluh.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...