
Ilyas keluar dari dalam walk closet sudah lengkap dengan kemeja dan celana panjang, Dian memang sudah menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya yang ia gantung di ganggang pintu lemari.
Ia mengambil ponsel yang tadi berbunyi.
Melihat pesan yang baru saja dikirimkan anak buahnya mengenai informasi yang tadi dicari. Ia menggeram setelah mengetahui apa yang membuat istrinya bersedih.
Sial!! “Anak lagi! Anak lagi!” ia sudah kesal dengan pembicaraan ini semenjak beberapa bulan yang lalu dan sampai sekarang tak pernah habis.
Menghubungi Ardo “Turunkan Saham di perusahaan-perusahaan yang tadi aku kirimkan namanya! Jangan sampai ada yang terlewat.” Seru Ilyas. Ia sudah mengirim beberapa nama ibu-ibu beserta suaminya kepada Ardo
Tanpa banyak bertanya Ardo menyanggupi. Ilyas mematikan sepihak sambungan telepon. Padahal Ardo sedang cuti bulan madu tapi masih saja di bebankan pekerjaan.
Ia kembali dibuat kesal. Kenapa Istri nya selalu membahas mengenai anak? Mandullah atau apalah itu! Persetan dengan semua nya!
“Apa aku kurang bisa membuat nya bahagia.” Pemikiran itu datang begitu saja.
Mengacak-acak rambut, frustasi. Apakah kasih sayang dan cinta serta materi yang selama ini Ilyas berikan kurang? Hingga masih bisa membuat istrinya sedih? Apakah momongan sangat penting bagi sebuah pernikahan? Pikir Ilyas
Ia membuang nafas kasar. Dengan kasar, pria itu membuka laci untuk mengambil jam tangan, namun karena terlalu buru-buru ia malah membuka laci yang ada di paling atas padahal laci jam tangan ada fi barisan kedua.
Saat tangan nya hendak terulu untuk menutup kembali laci, ia terdiam melihat barang-barang yang ada didalam laci.
Sial!! “Aku ceroboh.” Dengan sigap pria itu membuang semua tes pack kedalam tempat sampah kamar mandi yang nanti akan langsung dibuang oleh pelayan.
Setelah merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibereskan, Ilyas kembali mengatur nafas. Ia merasa menjadi suami yang tidak peka. Pasti selama ini Istri nya sangat sedih.
Ceklek...
Dian masuk kedalam kamar Setelah memasak. Ia ingin mandi sesuai perkataan Ilyas tadi. Senyum wanita itu tak bisa disembunyikan saat melihat suaminya sudah rapi dengan kemeja dan celana panjang.
“Alhamdulillah udah rapi rupanya. Gini dong, biar gak telat.” Seru Dian sembari mengancing dua kancing kemeja paling atas
Ilyas kembali menetralkan semua perasaan, jangan sampai ia malah melampiaskan kekesalannya kepada sang istri.
Menarik pinggang sang istri “Bagaimana? Sudah wangi bukan?”
Dian terkekeh kecil “Iya udah wangi. Wangi bangat malahan.”
Mencium kening Dian “Sekarang kamu yang mandi. Aku sudah siapkan air didalam bathub.”
Senyuman Dian benar-benar melengkung lebar “Terima kasih suamiku yang sangat perhatian.” Mencium pipi suaminya
Menaikkan sebelah alis “Hanya pipi? Yang lain? Padahal aku sudah membantu mu loh, aku juga sudah membuat tubuhku wangi.”
“Hahaha iya.. iya.. dasar perhitungan.” Menangkup wajah suami nya
Cup.. cup.. cup.. cup..
Ia benar-benar melabuhkan serangan ciuman di setiap inci wajha suaminya membuat Ilyas tersenyum lebar
“Bagaimana? Sudah puas, hmm?”
Sekarang Ilyas yang tertawa geli “Sebenarnya belum puas. Harus ada olahraga ranjang nya baru puas, tapi karena hari ini aku ada meeting penting jadi di tunda dulu.” Goda Ilyas
Memukul dada sang suami “Mesum.” Mendorong dada Ilyas “Udah ah, Dian mau mandi dulu. Hubby tunggu di bawah ajah, kalau buru-buru bisa sarapan duluan.”
Ilyas mengangguk “Jangan lama-lama mandinya. Nanti masuk angin.”
“Iya by.”
Dian masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Ilyas segera turun kebawah. Untunglah tes pack yang tadi dia buang di tempat sampah ia taruh paling bawah agar Dian tidak bisa melihatnya.
.........
Setelah suaminya pergi bekerja, Dian yang hari ini libur pun memilih untuk menonton di tv dalam kamar.
Dengan santai ia memakan cemilan yang memang sudah di sediakan pelayan untuk nya.
“Ceritanya mirip dengan kisah rumah tangga ku yah. Tapi setidaknya suamiku tidak pernah menuntun keturunan.” gumam Dian serius menonton film
Tiba-tiba air matanya jatuh tatkala melihat adegan dimana seorang istri yang rela dimadu hanya karena tidak bisa mempunyai anak
“Hiks.. jahat banget suami nya. Apa-apaan hiks.. cinta dari mana nya hiks..” Mengambil tisu yang memang sudah ia persiapkan sebelum memulai nonton film
“Hati Istri mana yang gak sakit liat suaminya menikah lagi hiks.. istrinya juga bodoh bangat hiks kenapa mau di madu.” Ia terus mengeluarkan apa yang ia pendam.
Setelah satu jam lamanya akhirnya film yang ia tonton. Memang berakhir bahagia, namun lika liku yang dihadapi tak bisa dianggap sepela
Dian menyandarkan punggung di sandaran sofa “Mereka berakhir bahagia dengan anak diantara mereka walau bukan anak kandung istrinya. Apa memang akan berakhir bahagia seperti itu yah? Kalau aku juga gak bisa...”
Memejamkan mata lalu menghela nafas panjang. Setelah menonton film tadi, bukannya terhibur Dian malah diingatkan dengan kenyataan yang harus ia hadapi sekarang. Semuanya sungguh rumit, tidak di film maupun kehidupan nyata semuanya penuh drama.
Sedangkan di sisi lain, Ilyas tengah fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia harus bekerja lembur hari ini karena Ardo sekarang sedang cuti bulan madu selama seminggu dan parahnya setelah Ardo cuti tiba-tiba pekerjaan jadi membludak.
Ahk.. sungguh kepala Ilyas rasanya ingin meledak melihat tumpukan dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani. Untunglah untuk pekerjaan lapangan sudah ada sekretaris dan Asisten nya yang menangani.
“Aku ingin pulang.” Gerutu Ilyas
.
.
Dian termenung di dalam kamar. Ia menunggu suami nya pulang. Hari sudah sangat malam, jam menunjukkan pukul sepulang malam tapi Ilyas belum pulang juga.
Menghembuskan nafas panjang “Tenanglah Di.”
Ia berjalan masuk kedalam kamar. Wanita itu membuka laci tempat tes pack yang melimpah ia simpan. Kadang hanya benda itu yang bisa membuatnya tenang, setiap melihat tes pack Dian selalu berharap agar bisa cepat bunting.
Dibukanya laci, Dian terdiam “Ti.. tidak mungkin.” Buru-buru ia membuka semua laci namun hasilnya tetap sama. Semua tes pack raip, hilang entah kemana
Dian segera masuk kedalam kamar mandi. Dilihatnya tempat sampah yang sudah bersih, pelayan sudah membuang sampahnya tadi pagi
Ia kembali dan duduk di pinggir kasur “Ilyas pasti sudah tau semuanya. Tapi, kenapa dia tidak marah seperti biasanya. Apa jangan-jangan...” Menggeleng cepat menepis pemikiran nya sendiri
Ia kembali teringat dengan film yang tadi di tonton. Semua adegan yang melankolis tiba-tiba masuk kedalam benak, semua pemerannya berubah menjadi dirinya dan juga sang suami. Sedetik kemudian air mata keluar dari pelupuk matanya. Ia meremaas dadanya yang sakit, Dian jadi emosional gara-gara selalu memikirkan tentang momongan.
“Aku sudah memutuskan.” Tekadnya lalu bangkit ke arah balkon. Memandangi Bintang malam yang tengah bersinar, seakan menyemangatinya yang sekarang tidak baik-baik saja.
Ia sudah membulatkan tekad “Semoga ini Yang terbaik!”
Di sisi lain, Ilyas turun dari dalam mobil lalu masuk kedalam mansion dengan wajah yang sayu. Lelah, sungguh ia sangat lelah. Ingin rasanya Ilyas memeluk, mencium dan mendengar suara istri nya sekarang.
Dilihatnya jam tangan yang bertengger indah di tangan kiri, Menghela nafas panjang “Aku yakin dia sudah tidur,”
Jas dan dasi kini sudah ia tenteng. Langkahnya gontai untuk masuk kedalam lift. Fisiknya sangat lelah hari ini. Mungkin ia akan mempertimbangkan beribu kali untuk memberikan cuti pada Ardo.
Ilyas keluar dari dalam lift dan segera menuju ke kamarnya. Ia sungguh sudah tidak sabar melihat wajah cantik istri nya
Ceklek...
Dengan sangat pelan-pelan Ilyas membuka knop pintu. Keadaan di dalam kamar temaram, hanya lampu tidur yang menyala. Di edarkan pandangan dan jatuh pada tempat tidur yang masih rapi tanpa lecet sedikit pun, disana juga Istrinya tidak ada.
Ilyas segera masuk “Sayang.. kamu dimana?” Panggil dengan nada lembut namun tak ada balasan. Tiba-tiba ia jadi panik, dengan cepat Ilyas membuka kama mandi namun tidak ada. Ia segera masuk kedalam walk closet namun tidak ada juga
Seketika ia tambah panik “Sayang.. jangan buat aku__”
Syuuuhhh...
Tiba-tiba angin berembus dari arah balkon. Ia baru sadar pintu balkon tidak tertutup, disana terlihat bayangan Istri nya yang sedang memunggunginya.
Dengan langkah cepat Ilyas memeriksa balkon.
Haaaahhhhh...
Menghela nafas panjang karena yang dicari-cari rupanya bersembunyi di balkon. Ia segera memeluk sang istri dari belakang, menenggelamkan kepala di ceruk leher sang istri. Mengendus bau yang sangat wangi dari rambut dan juga tubuh Dian
“Sayang, ada apa hmm?” Bisa ia rasakan usapan lembut di tangannya yang melingkari pinggang Istri nya
“Kok belum tidur? Sudah aku Bilang berkali-kali agar tidak perlu menunggu ku jika aku lembur.” Semakin mengeratkan pelukan
Namun Dian hanya diam membuat Ilyas semakin heran “Kok diam? Kamu sakit?” Membalik tubuh Dian.
Dian menunduk. Menggunakan telapak tangannya yang besar Ilyas menangkup pipi sang Istri dan mengangkat nya agar bisa menatapnya
“Dian tatap aku. Ada apa hmm? Ada masalah lagi?” Seingatnya semua masalah sudah ia bereskan. Baik itu tes pack yang sudah ia buang semua ke tempat sampah. Dan pasti pelayan juga sudah mengosongkan isi tempat sampah.
Belum tau saja Ilyas Bagaimana reaksi Istri nya saat mendapati semua tes pack nya hilang
“By, kamu tau semua kan.” Lirih Dian
“Tau apa?”
Dian menghela nafas panjang. Entah sudah berapa kali hari ini ia menghela nafas. “Kamu yang buang semua tes pack ku ‘kan?”
Ilyas terdiam lalu mengangguk “Aku hanya tidak mau kamu bersedih.” Ungkap Ilyas
Dian ikut mengangguk “Aku tau.” Ia mengerti bahwa selama ini semua perbuatan Suaminya untuk kebaikan nya sendiri.
Senyum Ilyas mengembang, syukurlah Dian mengerti mengapa ia melakukan semua itu. Ia membawa istrinya kedalaman dekapan hangatnya, Dian pun membalas pelukan suaminya
Lama mereka berpelukan hingga Dian kembali bersuara “By..” Panggil Dian di keheningan malam
“hmm.” Mengelus surai panjang Dian lalu melabuhkan kecupan-kecupan kecil disana
“Aku punya ide.”
“Hmm ide apa?”
“Untuk mempunyai keturunan.” Ungkap Dian. Diam-diam Ilyas menghela nafas. Itu lagi-lagi. Tapi, ia tetap diam dan mendengarkan perkataan Istri nya.
“Jadi, apa idemu?” Mengelus punggung istrinya
“Bagaimana kalau.... Emm hubby ni.. nikah lagi.. Dian rela kok di madu..”
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...*PENJET TANDA LOVE DIBAWAH**👇*...