
Dian duduk di ruang tengah menanti kepulangan sang suami dari kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 20.10 namum suaminya belum pulang juga.
Memang Ilyas mengatakan akan sedikit lembur karena banyak pekerjaan, bahkan suaminya tidak pulang saat makan siang. Tapi, bukannya lemburnya sudah terlalu berlebihan.
Tadi sore kakek Arnold sudah berangkat ke Yogyakarta. Dian hanya bisa mengantar sampai depan pintu, ia masih dilarang keluar rumah oleh suaminya.
Dian masih setia menunggu sembari menonton televisi yang ada diruang tengah. Jujur saja, Dian sangat jarang menonton televisi. Saat di panti asuhan tidak ada televisi sangking miskinnya panti saat itu hingga panti asuhan yang mengasuh nya dari umur 7 tahun setelah ayahnya meninggal akibat kecelakaan pun harus bubar.
Saat setelah menikah dengan Malik pun Dian juga jarang menonton televisi. Saat pagi ia harus ke warung, sedangkan saat malam Dian pun sibuk mengurus barang-barang dari warung.
Dan lihatlah sekarang kehidupan Dian. Wanita cantik itu benar-benar sudah menjadi pengangguran kaya. Hidupnya hanya melayani sang suami, saat suaminya bekerja Dian asik meliburkan diri di mansion mewah tersebut.
Yah begitulah kehidupan, roda kehidupan pasti selalu berputar. Terkadang di bawah namun tidak menutup kemungkinan akan ada di atas.
Saat masih asik menonton televisi, terdengar suara deru mobil yang sangat dikenali Dian dari luar. Cepat-cepat Dian bergegas ke luar rumah.
“Akhirnya hubby pulang.” Gumam Dian saat melihat seorang pria yang sangat ia kenali turun dari mobil dan berjalan kearahnya.
Terlihat jelas gurat kelelahan dibalik wajah tampan tersebut. Ilyas hanya sendiri turun dari mobil.
“Assalamu'alaikum.” Salam Ilyas melepas dasi yang mencekat leher.
“Wa'alaikum salam.” Mencium tangan kanan sang suami dan seperti biasa, benda kenyal dan lembut tersebut jatuh di kening serta bibirnya.
“Mandi dulu yah, baru makan.” membawa tas sang suami masuk kedalam.
“Hmm.”
Mereka berjalan beriringan masuk kedalam mansion.
.........
Setelah makan, Ilyas hendak ke ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Dian yang melihat hal itu menjadi iba, padahal terlihat jelas guratan sang suami yang sangat kelelahan.
Akhir-akhir ini Ilyas memang sangat sibuk, apalagi insiden penculikan Dianra membuat pekerjaan Ilyas bertambah.
Alhasil, Dian dan juga Ilyas sudah sangat jarang berhubungan suami istri. Dian tidak ingin membuat suaminya semakin kelelahan, ia bercermin pada pernikahan nya yang pertama. Saat Malik pulang kelelahan, pria itu pasti langsung tidur dan tidak melakukan apapun. Daj Dian mencoba seperti itu.
Sebenarnya Ilyas tidak menyentuh istri nya mengingat luka disudut bibir sang istri. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin, tapi pria tampan tersebut tak ingin membuat istri tercintanya tidak nyaman.
“Assalamu'alaikum Sarah.”
“Wa'alaikum salam. Di, Alhamdulillah akhirnya kamu ngubungin aku juga. Gimana keadaan mu?” Terdengar kekhawatiran yang jelas dari seberang
“Alhamdulillah, aku baik-baik ajah. Kamu sendiri gimana? Kata suamiku, bang Ardo yang antar kamu pulang.”
“Sama aku juga baik-baik ajah. Oh yah kok baru sekarang sih ngubungin, aku khawatir banget tau.” mengingat perlakuan apa yang Dian dapatkan saat itu membuat Sarah kembali takut terjadi sesuatu kepada sahabatnya.
“Maaf, ponselku hilang. Ini baru dapat ponsel baru.”
“Syukur deh, aku kira pak CEO ngelarang kamu berhubungan dengan aku lagi.” Terdengar helaan nafas Sarah
Kening Dian menyerngit. Pak CEO? siapa maksud nya? “Aku gak ngerti kamu bilang apa Sar.” Menjeda ucapannya.
Mengambil nafas “Sar, sebenarnya ada yang ingin aku konsultasikan padamu.” Ragu-ragu Dian berkata
“Konsultasi tentang apa?”
“emm gini, akhir-akhir ini suamiku sibuk banget di kantor. Aku kasihan lihatnya tapi gak tau mau bantu apa. Sebaiknya aku bantuin apaan yah? Apa pake doa ajah?”
“Iya sih, akhir-akhir ini kantor emang lagi sibuk-sibuknya. Yah kalo nurut aku yah Di, kamu layani ajah suamimu dengan baik.”
“Bukan itu yang aku maksud. Iya sih memang kamu harus layani suamimu dengan keperluan sehari-hari nya, tapi maksud aku itu keperluan ranjangnya gimana?”
“Eh! Tapi ‘kan suamiku pasti capek dari kerja. Mana mungkin aku buat dia kerja keras lagi.” Mengingat bagaimana mereka berolahraga panas yang pasti akan mengeluarkan keringat yang banyak dan energi yang banyak pula.
“Huh! Dian... Dian.. kamu bisa diatas ‘kan, gimana sih. Jangan bilang selama suamimu sibuk kalian gak pernah ngelakuin nya?” Dian hanya diam dan mengangguk malu-malu seakan-akan Sarah melihatnya.
Diamnya Dian membenarkan perkataan Sarah “Astagfirullah Di, kamu mau suamimu cari jajan yang lain diluar?” Sungguh Sarah sangat geram mengetahui tingkah polos sang sahabat. Padahal suaminya Sangat tampan dan menjadi incaran para wanita, tapi bagaimana bisa Dian menganggurkannya Begitu saja.
.
.
Setelah konsultasi dengan Sarah yang diakhiri dengan omelan panjang sahabat nya, akhirnya Dian sedikit mendapatkan pencerahan.
Tok.. tok.. tok..
Mendapatkan jawaban dari dalam, Dian pun masuk.
“ Masih banyak kerjaannya by? ” Menaruh kopi yang ia buat diatas meja sofa.
Ilyas mendongak “ Iya.” singkatnya dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Dian hanya diam, ia tidak tau harus memulai dari mana. ‘Harus dari mana dulu yah. Hiks.. Sarah gimana nih’ Padahal Sarah sudah menjelaskan serinci-rincinya namun saat akan di praktekkan malah hilang semua didalam pikiran.
“Ada apa? Ada yang ingin kau katakan?” Berkata tanpa melihat Dian.
Berjalan perlahan-lahan ke belakang kursi sang suami “Kamu pasti lelah by, biar aku Pijat yah.” Tanpa menunggu jawaban, Tangan Lentik Dian Sudah menari-nari diatas kepala sang suami.
Ilyas terkesiap, ia terkejut dengan sensasi tangan istri nya Yang sangat nikmat diatas kepala. “hmm sangat nikmat. Pijatan mu enak juga.”
“hehe enakkan.” Tersenyum bangga. Melanjutkan memijat, tangan yang tadi memijat di kepala dan kening kini turut memijat belakang telinga suaminya.
“Ah.. iya disana enak..”
“disini?” Semakin turun ke leher sang suami.
“emm.. ja.. jangan...” Memegang tangan Dian yang semakin turun ke lehernya. Bagian yang sangat sensitif tepat mengenai lehernya membuat Ilyas tak bisa menahan diri
“Keluarlah.” Ia tak ingin sampai menerkam Istri nya sekarang.
“Kamu gak mau by?” Suaranya berubah sendu, padahal Dian sangat yakin sudah menyentuh titik sensitif sang suami yang bisa membangkitkan gairah nya, tapi tak disangka ia malah ditolak.
Mendengar suara istri nya yang berubah sendu Sontak membuat Ilyas menghentikan pekerjaannya dan berbalik melihat sang istri.
“Kamu udah bosan sama aku by? Apa karena aku udah di Sentuh laki-laki lain, kamu jadi jijik sama aku.” pikiran-pikiran buruk tiba-tiba datang. Suara Dian bergetar, ia menunduk satu kedipan saja air mata pasti jatuh.
Menarik tangan istri nya lembut lalu mendudukkan tubuh Dian dipangkuan nya menyamping.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...