
Langkah kaki terdengar buru-buru menapaki lantai, deraian air mata tak bisa berhenti dari pemilik mata cokelat tersebut. Nafasnya memburu, ia tak peduli akan tatapan orang-orang yang melihatnya saat ini.
Yang ada dipikirannya hanya suami.. suami dan suaminya. Di loby terlihat Ardo disana seperti menunggunya.
“Assalamu'alaikum nyo..__”
“Wa'alaikum salam, suamiku mana bang?” Tanya Dian dengan nafas memburu, walaupun sudah menahan tangis tetap saja air mata mengkhianati dirinya.
“Ikuti saya nyonya.” Ardo dengan langkah besarnya berjalan terlebih dahulu.
Dian mengikuti dengan sedikit berlari bahkan sampai mendahului Ardo, melihat nyonya nya yang berjalan dengan cepat membuat Ardo menyamankan langkah nya.
“Sarah?” Seru Dian saat melihat Sarah tengah duduk di kursi tunggu bersama Mike
Sarah dan Mike sontak berdiri “Dian..” Dengan langkah cepat Sarah memeluk sahabatnya.
Dian membalas pelukan Sarah, menumpahkan air mata di bahu sahabatnya “Sar, suamiku Sar.. hiks.. hiks..”
Mengusap punggung sang sahabat “Tenang Di, tuan Ilyas masih ditangani oleh dokter. Aku yakin tuan Ilyas pasti baik-baik saja.”
Punggung Dian bergetar lalu mengangguk, Sarah pelan-pelan menuntun Dian untuk duduk di kursi tunggu depan ruang IGD. Sarah ikut duduk disamping Dian mengelus punggung kecil sahabatnya yang bergetar menahan tangis, menahan diri agar tidak teriak. Hanya isakan kecil yang terdengar.
“Ba.. bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Dian membuka suara melihat Ardo dan Mike yang kini duduk di depan Dian.
Ardo dan Mike menunduk, Ardo ingin buka suara namun Mike menahannya. Sudah pasti jika Ardo yang membuka suara hanya ada makian yang akan keluar.
“Dari saksi mata yang ada di tkp kala itu, saat kejadian awalnya semuanya terlihat aman dan seperti biasa tidak ada yang ganjal, sampai..,” Mengambil nafas panjang
“Sampai terlihat truk yang sedikit oleng dan menerobos lampu merah, sialnya dititik saat truk itu menerobos lampu merah tepat saat mobil yang dikendarai tuan Ilyas lewat, hingga semuanya terjadi begitu saja...”
Tangis Dian semakin kencang saat membayangkan detik-detik kecelakaan tersebut, ia tidak bisa! Sakit! Bagaimana perasaan suaminya saat ia melihat truk itu melaju kearahnya.
Pilu! Sangat pilu, tangisan yang memenuhi koridor terdengar sangat pilu memancing orang-orang yang mendengarnya menangis.
“Maafkan kami nyonya, seharusnya kami tidak membiarkan tuan Ilyas mengendarai mobil sendiri.” Ardo menunduk dalam-dalam diikuti Mike
Dian menggeleng lemah “Se.. semuanya su.. sudah takdir, mau bagaimana pun semuanya sudah ditentukan oleh yang maha kuasa, kalian tidak salah jangan salahkan diri kalian. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa agar suamiku masih diberi kesempatan untuk hidup.”
Dian mencoba kuat dan tegar, ia berbicara panjang lebar dengan suara yang bergetar, isak tangis nya kadang terdengar. Walaupun perkataan terakhirnya sanagat berat untuk ia katakan namun ia harus kuat, semuanya sudah diatur oleh yang kuasa. Melawannya tidak akan ada guna, hanya doa yang bisa merubahnya.
Setiap detik yang berlalu semakin membuat keadaan di luar ruang IGD semakin menegang, mereka harap-harap cemas menanti dokter keluar dari dalam ruangan.
Tak lama lampu merah pada pintu ruangan redup, terlihat dokter keluar dari sana sontak membuat mereka semua berdiri menghampiri dokter pria berkacamata tersebut.
“Keluarga korban?”
“Saya dok, saya Istri nya.” Ujar Dian cepat “Bagaimana kondisi suami saya?” Ia mencoba untuk tenang
“ Alhamdulillah pasien dapat diselamatkan, pendarahan pada dada dan kakinya berhasil dihentikan. Hanya saja,...” Menggantung ucapannya. Entah untuk apa, apakah untuk semakin mempertegang suasana?
“Hanya saja kenapa dok?” Tanya Mike kesal,
Menghembuskan nafas panjang “Jika pasien tidak sadar selama 24 jam, maka pasien dinyatakan koma.” Lanjut dokter dengan name tag Beno
Deg...
Dian linglung, koma? Apa maksudnya suaminya tidak akan bangun entah sampai kapan? Tidak! Dian mencoba untuk tenang
Ardo kesal dengan perkataan Dokter Beno, ia mencengkeram kerah jas dokter tersebut “Lakukanlah sesuatu! Bukannya itu tugas kalian sebagai dokter!!” Bentaknya
Dokter Beno hanya diam, ia sudah biasa terzolimi oleh keluarga pasien seperti ini. Padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin, tapi apalah daya dokter bukanlah tuhan yang bisa menyembuhkan apa yang ia mau.
“Pak, mohon tenanglah. Ini rumah sakit, jangan berteriak karena akan mengganggu pasien lain.” Tegur Beno tenang menghadapi Ardo
“Benar Do, jangan cari masalah lagi!” Mike pun ikut menegur
“Iya, tenang ajah bang. Berdoa ajah semoga hubby masih diberi kesempatan untuk sehat kembali.” Seru Dian, ia menekan kesedihannya. Walau dari luar ia nampak tenang, namun air matanya tak bisa berhenti mengalir
Ardo menghempaskan kerah jas dokter Beno membuat pria tersebut linglung dan hampir jatuh, untung saja badannya yang atletis membuat nya tidak jatuh. Namun kacamata nya yang jatuh tepat dihadapan kaki Sarah, dengan sigap Sarah memberikan nya kepada dokter Beno
“Terima kasih.” Menerima uluran kacamata. Sarah hanya mengangguk sembari tersenyum tipis.
“Jadi kapan saya bisa menjenguk suami saya dok?” Tanya Dian
“Nanti, setelah pasien dipindahkan di ruang perawatan.”
.
.
Harapan tak selalu sesuai ekspektasi. Beberapa jam yang lalu, Dian merasa hidupnya sangat sempurna. Ia mempunyai suami yang menyayangi nya, ia tidak perlu memusingkan masalah ekonomi, apalagi ia juga berhasil diterima di universitas yang sudah ia mimpi-mimpikan.
Namun semuanya tak ada artinya tatkala mendengar berita yang benar-benar menyayat hati, keberhasilan operasi membuat nya sedikit tenang namun melihat suaminya yang selalu berdiri tegap dan tegas berbaring lemah dengan wajah pucat di atas brankar membuat hatinya tercabik-cabik.
Ia takut, takut suaminya tak kunjung sadar. Apa yang akan ia lakukan tanpa Suaminya? Bisakah dia melanjutkan hidup? Dian sudah terbiasa hidup dengan sang suami, melihat wajah tampan suaminya saat bangun tidur.
‘Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyembuh. Hamba mohon dengan segenap hati, sembuhkanlah suamiku janganlah engkau ambil suamiku. Hamba mu yang lemah ini hanya bisa meminta pertolongan padamu ya Allah,’
Setelah mengganti pakaiannya, Dian duduk di samping ranjang lebar yang ditempati suaminya sekarang.
Ilyas terbaring lemah, tak ada lagi Ilyas yang menakutkan, tak ada lagi kata-kata kasar yang terlontar dari bibir seksi Ilyas yang sekarang nampak pucat.
Di genggamnya tangan Ilyas lalu mencium nya dalam “Bangunlah by, Dian mohon. Jangan tinggalin Dian, Dian sayang sama hubby, Dian gak bisa tanpa hubby.” Air matanya kembali mengalir membasahi tangan lebar suaminya.
Hening, tak ada jawaban dari suaminya. Tak ada gumaman yang terdengar, hanya keheningan yang asing.
Sudah satu hari berlalu pasca operasi, Ilyas masih tak kunjung sadar yang artinya Ilyas dinyatakan koma. Hati Dian hancur, hari-harinya ia lewati di rumah sakit, bahkan dari semenjak kecelakaan Ilyas ia sudah tidak pernah pulang ke mansion.
Dari balik pintu, Ardo yang tadi ingin masuk urung tatkala mendengar tangisan Pilu nyonya nya. Ia turut bersedih, Ardo tak pernah sekalipun melihat sang tuan sangat lemah seperti ini.
Dari hasil penyelidikan, supir dari truk yang menabrak mobil Ilyas diduga tertidur akibat kelelahan. Supri dengan inisial Yn tersebut dinyatakan meninggal saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Sial!!
Menaruh paper bag berisi pakaian ganti untuk Dian dan juga makanan ke kursi tunggu, Ardo menyandarkan punggungnya di dinding. Mengusap wajah kasar, tangisan Dian benar-benar pilu. Sangat pilu membuat siapapun yang mendengarnya ikut sesak.
Tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki terburu-buru dan banyak terdengar mendekati ruangan VVIP yang sedang ditempati tuannya.
Ardo menegakkan badannya yang bersandar di dinding, ia melihat Mike beserta keluarga Sang tuan datang dengan buru-buru.
Ardo segera menunduk “Selamat datang tuan besar Arnold, tuan Bagaskara, tuan muda Said, nona muda Sindy.” Menyebut satu-satu dari nama keluarga Ilyas yang datang.
“Dimana bocah itu sekarang?” Tanya kakek Arnold, ia baru saja mendarat tadi pagi dan langsung buru-buru datang ke rumah sakit bersama keluarga anaknya
Ardo memirik pintu yang yang sedikit terbuka, saat Bagas akan membukanya terdengar tangisan pilu dari dalam membuat ia urung.
“Hiks.. hiks.. Dian mohon bangun by, hiks.. jangan nakutin Dian..”
Mereka semua terdiam, semua orang kecuali Kakek Arnold bertanya-tanya suara siapa itu?
“Tunggulah disini, kakek akan masuk terlebih dahulu.” Titah kakek Arnold membuat ketiga orang itu mengangguk
“Ardo, suara siapa itu?” Tanya Said, sepupu Ilyas yang katanya playboy. Dia sangat mengenal kakak sepupunya yang sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya wanita.
“Iya, kenapa ada suara perempuan didalam kamar kak Ilyas? Mana nangis lagi?” Timpal Sindy
Ardo diam, jika Ketiga orang itu belum tau siapa Dian artinya kakek Arnold belum memberitahu, dengan demikian Ardo tidak bisa menjawab nya Begitu saja.
“Maaf tuan muda, nona muda, tapi saya tidak bisa menjawabnya.” Jawab Ardo datar
“Ck? Jawab ajah kali.” Seru Sindy kesal
“Mike, kau tau siapa cewek yang ada didalam?” Said Beralih melihat Mike yang setidaknya bisa diajak bekerja sama, pikirnya
Mike menggeleng “Maaf, tapi itu bukan ranahku.” Jawaban Mike membuat mereka berdua mendengus kesal. Dasar! Mereka terlalu royal!
“Sudah.. sudah.. jangan memaksa lagi,” Bagaskara angkat bicara, ia sudah tau siapa wanita itu karena kakek Arnold sudah memberitahu kannya.
“huh! Papi juga jangan ikut-ikutan dong!” Kesal Sindy
“Jangan marah-marah nona muda, ingat ini rumah sakit!” Tegur Mike
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...