
Kehidupan berjalan seperti biasa. Tak ada yang istimewa kecuali bagi orang-orang yang memang selalu menganggap setiap hari adalah hari yang menyenangkan.
Berbeda dengan yang baru bangun selalu menghela nafas akan paginya. Yakinlah hari mereka tak ada yang berbeda dengan hari biasanya.
Setelah sang suami pergi bekerja, Dian dengan semangat empat lima kembali ke kamar. Ada satu hal yang ingin ia pastikan. Diraihnya sebuah tes pack didalam laci.
“Semoga kali ini garis dua. Aamiin..” Masuk kedalam kamar mandi dengan perasaan yang tak menentu.
Sudah dua hari Dian telat datang bulan. Ia benar-benar berharap kali ini. Sudah satu tahun Dian dan Ilyas menikah namun belum ada tanda-tanda kehamilan dari Dian. Karena itu wanita itu sangat berharap kali ini ia benar-benar hamil.
Dian sengaja memakai tes pack nya saat sang suami sudah berangkat kerja, ia tidak ingin terlihat sedih apabila hasilnya tak sesuai ekspektasi. Ilyas akan marah dan membuang semua tes pack apabila Dian bersedih setelah memakai barang itu.
Di dalam kamar mandi, Dian menutup mata setelah memasukkan alat tersebut kedalam urinnya. Ia harap-harap cemas.
Setelah merasa cukup lama, Dian pun dengan perlahan membuka mata dan mengambil tes pack
Perlahan-lahan muncul satu garis “Satu lagi.. aku mohon.” Dian masih menunggu garis kedua muncul
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Membuang nafas kasar “Hahhh sabar Di.” Ia keluar kamar mandi dengan wajah lesu.
“Apa mungkin aku memang tidak bisa hamil?” Gumamnya namun segera menggeleng kuat. Ia tidak ingin membenarkan, namun kenyataan selalu menghantam.
Hampir saja air matanya menetes namun tertahan saat melihat sebuah panggilan masuk kedalam ponsel
Menempelkan di daun telinga “Assalamu'alaikum by?”
“...”
“Ada apa by? Ada yang ketinggalan?”
“...”
“Eh? Iya sih Dian lagi libur. Baik, nanti Dian kesana.”
“...”
“Gak usah, Dian bisa pergi sendiri.”
“...”
Dian mengangguk “Yaudah, Assalamu'alaikum.”
Dian segera bersiap-siap untuk ke perusahaan sesuai perkataan sang suami tadi.
.........
Ilyas naik kedalam mobil yang disupiri pengantin baru, Yap siapa lagi kalau bukan Ardo. Aura yang terpancar dari pria itu sungguh berbeda dari sebelum-sebelumnya. Apakah malam pertamanya lancar?
Mike disamping terkikik geli melihatnya. Ia juga sangat ingat saat-saat dimana dirinya yang mengeluarkan aura seperti itu, sama dengan Ilyas yang juga pernah merasakannya.
Mobil meninggalkan pekarangan mansion. Diperjalanan Seperti biasa, Ilyas akan bertanya mengenai beberapa pekerjaan yang akan dilakukan saat sampai di kantor.
Namun tiba-tiba ia merasakan perasaan aneh saat mengingat sang istri. Perasaan apa ini? Tanyanya dalam hati.
“Kembali ke mansion, Ardo.” Titah Ilyas
Dua orang didepan mengerutkan kening mendapati perintah dari atasannya yang aneh. Kenapa harus putar balik? Padahal sebentar lagi mereka sampai
Tanpa banyak bertanya Ardo memutar balik arah tujuan.
“Ada apa tuan? Apa ada yang terjadi dengan nyonya?” Tanya Mike
“Tidak. Perasan ku hanya tidak enak.” Ia merasa Istri nya sekarang sedang tidak baik-baik saja. ia mengambil ponsel dan menghubungi Istri nya
“...” Suara lembut dari seberang membuat Ilyas menghela nafas lega
“Wa'alaikum salam.” Jawabnya
“....”
“Tidak ada. Hari ini kamu libur ‘kan?”
“...”
“Bersiaplah hari ini kamu ikut aku ke perusahaan. Tunggu di mansion, nanti aku jemput.”
“...”
“Jangan banyak protes. Aku sudah diperjalanan kembali ke mansion.”
“...”
“Wa'alaikum salam.”
Tak lama mobil pun sampai ke pelataran mansion. Ilyas segera keluar dari dalam mobil tanpa menunggu di bukakan. Ia menghampiri Istri nya yang sedang berdiri menunggu di teras mansion
“Assalamu'alaikum.” Salam Ilyas mengecup kening Dian
Dian tersenyum lalu mengecup punggung tangan suaminya “Wa'alaikum salam. Harusnya gak perlu repot-repot putar balik by.”
“Tidak usah banyak protes. Ayo cepat masuk kedalam mobil, aku punya banyak pekerjaan.”
Dian menggeleng tak percaya mendengar perkataan suaminya. Kalau punya banyak pekerjaan, untuk apa repot-repot putar balik untuk menjemput nya? Pikir Dian
‘Suamiku memang ajaib’ Lalu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah terbuka lebar dibukakan oleh suami tercintanya.
Setelah Istri nya masuk, Ilyas pun ikut masuk kedalam mobil. “Jalan.”
“Cie.. aura bang Ardo beda bangat hari ini. Abis dapat durian runtuh yah bang.” Goda Dian pada Ardo yang sedang menyetir
Ardo hanya tersenyum menanggapi. Sedangkan Mike dibuat terkekeh oleh pertanyaan Dian “Sepertinya Begitu nyonya. Aura pengantin barunya belum hilang padahal udah seminggu.”
“Hahaha pengantin baru emang kaya gitu bang, sampai berbulan-bulan pasti gak berubah tuh.” Celetuk Dian
“Sudah berpengalaman yah, nyonya.” Seru Mike
“Yee kaya bang Mike gak ajah.”
Hanya mereka berdua yang memang selalu memenuhi percakapan saat keempat orang itu berkumpul.
Ilyas hanya diam melihat istrinya yang berbicara panjang lebar bersama Mike yang sedang meledek Ardo, si pengantin baru.
‘Dia, sudah menangis?’ Tatapan tajam dan teliti Ilyas dapat melihat bekas air mata di sudut mata Istri nya.
Hingga tak lama mereka pun sampai di perusahaan. Mereka berempat turun dari mobil. Ilyas dengan sigap mengapit pinggang sang istri posesif. Memperlihatkan pada dunia bahwa wanita cantik di sampingnya adalah wanita nya.
Ardo dan Mike mengikuti langkah keduanya dari belakang. Tiga pria itu menyamakan langkahnya dengan langkah Dian yang pendek dan pelan, berbeda saat mereka hanya bertiga. Kaki yang panjang membuat langkahnya juga lebar. Pebisnis tentu tau, waktu adalah uang. Mereka tentu tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk berjalan saja, namun semuanya tidak punya makna saat berjalan dengan Dian atau istri mereka masing-masing. Tentu langkah nya harus disesuaikan dengan langkah istrinya yang pendek dan pelan
“Nanti Dian mau ngapain coba di ruangan mu, by?” Tanya Dian heran saat mereka masih berjalan di loby dengan diperhatikan beberapa karyawan disana.
Ini pertama kalinya lagi Dian datang ke perusahaan setelah drama pemecatan dua resepsionis saat itu.
“Menemani ku, memang nya apa lagi.”
“Hanya menemani? Memang nya apa gunanya?”
“Sayang, hanya Melihat mu saja sudah membuat energi ku meningkat Beberapa kali lipat.” Mengelus pipi Dian dan melabuhkan ciuman di pipi kemerah-merahan Dian
Blushh..
“By.. ini tempat umum!”
“Perusahaan ku.”
Dian menghembuskan nafas kasar. Ia memang tak akan bisa menang adu mulut dengan seorang pebisnis handal
Dua orang di belakang hanya diam, mereka berdua sudah biasa dengan pemandangan perdebatan manis tuan dan sang nyonya. Iri? Tentu tidak, bukannya sekarang mereka sudah tidak ada yang jomblo. Dalam hati keduanya ingin cepat-cepat pulang bertemu istri tercinta.
“Iya.. iya.. perusahaan mu, tapi hubby ‘kan milik nya Dian. Berarti perusahaan milik Dian juga dong.” Menaik turunkan alisnya
Ilyas terkekeh kecil. Ia mengusap kepala Istri yang yang berbungkus hijab “Semuanya milikmu sayang.”
Mereka pun masuk kedalam lift meninggalkan para karyawan yang termangu melihat atasannya terkekeh dan berbicara sangat lembut.
Ingin rasanya berteriak namun tertahan di tenggorokan. Ingin sekali rasanya mereka mengabadikan pasangan teromantis abad ini, itulah sebutan keduanya dari para bawahan. Namun semua yang di dengar maupun dilihat di perusahaan jika berhadapan dengan privasi atasan, maka mereka wajib bungkam dan tidak boleh mengatakan nya pada orang luar.
Biarlah semua itu di simpan menjadi rahasia mereka sendiri dan menjadi rahasia umum hanya di perusahaan.
.
.
Saat masuk kedalam ruangan, Ilyas langsung menggendong Istri nya. “Kyaaa by...”
Ilyas terus melangkah dan mendudukkan tubuh sang istri di kursi kebesarannya. Ia berlutut di hadapan Istri nya. Memegang lembut tangan Dian yang kecil dan sangat lembut
“Ada apa by?” Tanya Dian heran melihat tingkah Istri nya
“Katakan dengan jujur. Ada apa hmm?” Tanya Ilyas lembut
Kening Dian berkerut “Maksudnya by? Dian gak ngerti kamu ngomong apa.”
“Jangan mengelak. Kamu sudah menangis ‘kan? Katakan padaku, siapa yang berani membuat istriku menangis.”
Dian terdiam. Gawat, batinnya bergejolak. Ia segera menggeleng pelan “Gak papa by, cuman kelilipan tadi.”
Memegang sebelah pipi Dian “Kelilipan tidak sampai membuat hidung dan mata memerah, sayang.” Ilyas mencoba untuk berbicara sangat lembut bagaikan sutra agar membuat Dian nyaman bercerita
Dian kembali terdiam. Ia menunduk dalam, Suaminya memang sangat peka. Ia menggigit bibir bawah gugup, ia ingin mengatakan yang sebenarnya namun takut.
Jari Ilyas bergerak mengusap bibir istrinya lalu mengecup pelan “Sayang, aku tidak akan marah. Katakan.”
“Sebenarnya tadi...”
“Hmm?”
“Dian udah tiga hari telat datang bulan. Dian kira kali ini hasilnya akan positif, tapi..__” Belum sempat Dian melanjutkan ucapan, terdengar helaan kasar dari suaminya. Ia jadi kembali takut
‘itu lagi!’ Menangkup kedua pipi Istri nya “Sayang, sudah berapa kali aku bilang agar tidak buru-buru.”
“Tapi by, udah satu tahun kita nikah tapi Dian... Apa aku memang man..__”
“Dian!” Tegur Ilyas membungkam Dian. Menghela nafas halus “Sayang, kita sudah periksa ke dokter dan semuanya baik-baik saja. Aku maupun kamu sehat. Kita hanya tinggal kapan di berikan kesempatan pada yang kuasa.”
“Maaf by..” Lirih Dian
Ilyas mendekap Istri nya “Tidak apa-apa. Pasti nanti ada waktu nya.” Mengelus punggung sang istri. Dian mengangguk di dalam pelukan suaminya
‘Aku sudah bahagia hanya dengan mu, sayang. Tanpa anak atau apapun itu aku sudah bahagia’ Batin Ilyas. Ia ingin mengatakan nya langsung namun ia takut menyinggung Istri nya.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...