Dream Wedding

Dream Wedding
Kalah dari awal



Serly kebingungan saat melihat suami nya datang dengan keadaan yang babak belur, belum lagi saat ditanya tapi sang suami malah menyuruh nya untuk mengemasi barang-barang.


“Mas kita sebenarnya mau kemana sih?” Tanya Serly sekali lagi sembari memasukkan pakaian kedalam koper


“Jangan banyak tanya, cepat masukan barang-barang mu dan Lisa. Kita tidak punya banyak waktu. Setelah ini kita pamitan pada ayah dan ibu.” Malik pun ikut sibuk mengemasi barang-barang nya walaupun wajahnya penuh luka dan hanya diperban sedikit.


Semakin bingung lah Serly, putri mereka baru hampir berusia dua bulan. “Mas jangan buat aku penasaran deh. Sebenarnya kita mau kemana? Terus itu wajahmu kenapa pada luka-luka? Kamu habis dipukulin?”


“Diamlah Serly, kalau kau masih ingin selamat cepat kemari barang mu. Biar aku yang kemasi barang-barang Lisa.” Selesai dengan barang nya, Malik kemudian mengemasi segala perlengkapan bayi mungilnya.


Setelah Mike tadi meninggalkan nya, dua orang pria tiba-tiba datang lalu Membukakan tali yang mengikat kaki dan tangan. Tak lupa mereka membawa dokter untuk mengobati luka diwajahnya. Disini, Malik bisa menyimpulkan bahwa Mike bukanlah orang jahat.


Namun, salah satu orang tiba-tiba mengatakan bahwa waktu Malik harus meninggalkan pulau ini hanya sampai besok pagi. Dan itu harus! Tidak boleh ditunda-tunda atau Malik akan mendapatkan ganjaran


Kembali ke Malik dan Serly yang masing-masing sibuk.


Ting ...


Malik menatap pesan yang baru saja masuk ‘Kamu mendapatkan suami yang sangat berkuasa dek’ padahal dia tau pasti perusahaan yang ia tempati sekarang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan Sky Group


“Kita akan ke Papua...” Menaruh kembali ponselnya di lantai


Serly tiba-tiba menghentikan aktivitas tangannya “Apa!!?? Papua!! Untuk apa kita ke Papua Mas? Itu jauh bangat.”


Tanpa melihat Serly, Malik menjawab “Aku dipindah tugas ke perusahaan cabang di Papua.” Yah pesan yang masuk tadi adalah pemberitahuan dari perusahaan nya bahwa Malik di pindahkan ke Papua. Bahkan tiket untuk tiga orang sudah dipesan untuk nya.


“Tapi kenapa aku sama Lisa harus ikut mas? Mas bisa pergi sendiri ‘kan.” Ia sama sekali tidak bisa membayangkan akan pindah sangat jauh di wilayah timur sana


“Kamu Istri ku Serly. Kalau kau tidak mau, biar aku dan Lisa yang pergi. Dan jangan harap aku akan pulang lagi.” Ancam Malik


Serly mendelik kesal. Dengan perasaan yang kesal ia kembali menyusun barang-barang nya. Malik Menghela nafas kasar, inilah mengapa ia tidak akan bisa jatuh cinta dengan Serly yang kasar dan keras kepala berbeda dengan Dian yang lebih penurut, lemah lembut dan penyayang.


...***...


Hari terus berlalu, Ilyas yang sudah dinyatakan sembuh pun sudah pulang ke mansion. Bahkan suami yang sangat bucin kepada istrinya itu sudah kembali bekerja.


Sindy sudah kembali ke Yogyakarta karena Masalah pekerjaan, berbeda dengan saudara kembarnya yang masih berada di Kalimantan untuk beberapa urusan.


Dan seperti pada hari-hari sebelumnya, Ilyas tengah berkutat dengan komputer didepannya sampai saat sebuah ketukan dari pintu menyadarkan.


“Masuk.” Seru Ilyas kembali melihat komputer


“Permisi tuan,” Ujar Mike


“Ada apa?”


“Suplai bahan baku yang akan digunakan terlambat tuan.” Mendengar penuturan Mike, Ilyas lantas mendongak melihat Asisten nya


“Menurut laporan, dermaga yang tempat landasnya kapal pembawa bahan baku tersebut diduga terdapat sindikat perdagangan narkoba yang mengakibatkan seluruh barang-barang di dermaga di sita polisi. Dan sekarang tuan Shan ingin bertemu anda untuk membahas mengenai pasokan tersebut.”


“Katakan pada pihak berwajib untuk tidak terlalu lama memeriksa barang-barang di dermaga. Pastikan untuk membantu pihak berwajib agar tidak terlalu lama proses penyelidikan nya.”


“Baik tuan, saya sudah melaksanakan perintah anda.”


Ilyas melihat jam tangan “Katakan pada Shan untuk bertemu jam makan siang nanti.”


“Apa anda tidak ingin makan siang bersama nyonya, tuan?” Biasanya apapun yang terjadi. Ilyas pasti akan menyempatkan diri untuk makan siang bersama


“Istriku ada kuliah nanti siang. Aku tidak ingin mengganggu nya.”


Mike manggut-manggut tanda mengerti “Kalau Begitu saya.__”


“Bagaiman dengan Ardo?” Tanya Ilyas sembari melihat komputer nya


“Iya tuan?”


“Bagaimana dengan lamarannya? Sudah diterima?” Kembali bertanya tanpa melihat lawan bicara


Mike terkejut mendengar Ilyas yang baru kali ini menanyakan hal yang sama sekali bukan urusan nya “Mungkin sebentar lagi tuan. Sekarang Ardo berada di pesantren ayah dari calon istrinya.”


“Apa dia perlu bantuan ku?” Mendongak melihat Mike


MIke tersenyum “Sepertinya tidak perlu tuan. Sesuatu yang diperjuangkan atas keringat sendiri lebih berkesan. Dan menurut saya Ardo juga tidak akan menerima bantuan anda.”


Ilyas mengangguk tanda mengerti. Ia juga sangat mengerti dengan apa yang dikatakan Mike. Sesuatu yang diperjuangkan sendiri akan lebih berkesan dan membuat kita lebih menjaga nya


“Tapi tuan, kenapa anda tiba-tiba Menanyakan Tentang Ardo? Apa jangan-jangan anda mengkhawatirkan nya yah?” Seperti biasa, Mike selalu melayangkan candaan receh kepada tuannya


Dan seperti biasa pula, Ilyas akan memperlihatkan reaksi datar “Ardo sudah terlalu banyak tidak masuk bekerja. Pekerjaan yang dia tinggalkan menumpuk,”


“Oh.. saya kira anda mengkhawatirkan nya.”


“Heheh baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang juga menumpuk dan menunggu untuk diselesaikan.


Di sisi lain


Dian menghela nafas sebelum mengetuk pintu. “Saya masuk pak.” Ujar Dian membuka handle pintu


Arga tersenyum dibalik meja “Duduk Dian.” Ujarnya dengan senyum ramah


Dian ikut tersenyum lalu duduk di depan Arga “Ada yang bisa saya bantu pak?”


“Bagaimana urusan mu? Apakah sudah beres? Sudah tidak sibuk lagi ‘kan?”


“Alhamdulillah, udah beres pak.”


“Syukurlah.” Menghembuskan nafas panjang sebelum kembali membuka suara “Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan padamu.” Arga berubah serius. Membuat Dian juga ikut memandang nya serius


“Begini, terakhir kali saya kirimkan kamu pesan. Balasan waktu itu hanya bercanda ‘kan?” Sudah lama Arga ingin menanyakan hal ini tapi ia tidak punya keberanian untuk menghadapi kenyataan


Balasan? Dian berpikir sejenak. “Maaf pak, boleh saya lihat balasan nya? Di ponsel saya pesannya sudah terhapus.” Sekarang dia ingat. Waktu itu suaminya yang balas


“Terhapus? Ini coba lihat.” Menyodorkan ponselnya yang berisi percakapan dengan Dian


Dian melihat isi pesan tersebut, senyumnya melengkung tatkala melihat balasan yang dikirim sang suami ‘Kenapa waktu itu hubby hapus yah? Padahal Dian juga gak marah’


“Bagaimana? Ini bohong ‘kan?”


“Maksud pak Arga? Maaf pak tapi itu memang suami saya yang balas. Maaf jika balasannya sedikit kasar.”


“Apa? Kamu bohong ‘kan Dian? Tidak mungkin kamu sudah bersuami.” Tanpa ia sadari, Arga meninggikan suara


Dian tersentak kaget. Kenapa dosennya ini jadi marah hanya karena dia sudah bersuami? Apa jangan-jangan yang dikatakan Ayla dan Adil itu benar? Dian menggeleng cepat menepis pemikiran nya


“Maaf pak, apa ada yang salah jika saya sudah menikah? Waktu itu saya menolak jadi asisten dosen pak Arga karena saya harus mengurus suami saya yang sedang sakit.”


“Ah.. maaf, saya tidak sengaja. Jadi kamu benar-benar sudah bersuami?” Arga kembali memastikan walaupun ia tau ujung-ujungnya ia pasti akan sakit hati


Dian mengangguk “Iya pak." walaupun aneh, Dian tetap menjawab


Jleb..


Mungkin inilah definisi sakit tak berdarah. Sungguh sangat sakit, padahal Arga sudah punya niatan akan melamar Dian Langsung akhir bulan ini. Semuanya pupus, ia hanya bisa menatapi nasib percintaannya yang tak semulus novel


“Selamat atas pernikahan mu. Baiklah, untuk asisten dosen kamu bisa menolak nya. Saya akan mencari yang lain.” ia ingin jaga jarak, jangan sampai dirinya di cap sebagai pebinor


Dian hanya mengangguk walaupun ia merasa sedikit aneh. Ada apa dengan dosen nya yang satu ini?


“Baik pak, terima kasih atas pengertiannya.” Arga mengangguk


“Oh yah kalau boleh tau, nama suami mu siapa?”


“Ilyas pak. Mahendra Ilyas Sam.” Jawab Dian bangga. Ia memang sangat bangga mempunyai suami seperti Ilyas. Walaupun datar namun sangat penyayang


Duarr..


“ma.. maksudnya tuan Ilyas, presider Sky Group?”


“Iya pak.”


Jawaban Dian berhasil membuat nya melongo. Hah! Pantas saja akhir-akhir ini Sky Group selalu mempersulit perusahaan ayahnya, belum lagi saham yang hampir jatuh


‘Aku memang udah kalah dari awal. Kalau tau begini, gak bakalan Mungkin aku menyimpan rasa sama istri Tuan Ilyas’ Menelan Saliva nya susah-susah


“Ada apa pak?” Dian yang melihat Arga bengong membuka suara


“Ah.. ti.. tidak.” mencoba tersenyum paksa


“Baiklah. Kalau begitu saya permisi pak.” Arga hanya mengangguk, Dian pun berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Arga


“Pak Arga kenapa yah?” Gumam Dian dibalik pintu. Mengangkat kedua bahu, acuh lalu pergi dari sana.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...PENJET TANDA LOVE DIBAWAH👇...