Dream Wedding

Dream Wedding
Mereka akan menyempurnakan kebahagiaan ~End~



Para tamu yang di undang masuk kedalam mansion besar Ilyas. Ada banyak orang, Ilyas juga mengundang beberapa ustadz besar serta anak yatim untuk memeriahkan acara tujuh bulanan kehamilan Dian.


Para sahabat dan keluarga Ilyas maupun Dian telah hadir untuk ikut memeriahkan acara ini.


Satu persatu acara mulai di lakukan. Dimulai dari pembukaan oleh moderator dan pembacaan ayat-ayat suci oleh ustadzah dan beberapa anak yatim piatu dan dilanjutkan dengan ceramah agama.


Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Hingga acara selesai.


Satu persatu tamu pulang setelah memberikan doa dan hadiah untuk ibu hamil yang tengah berbahagia.


Hari mulai gelap. Sekarang hanya tinggal keluarga dekat serta sahabat-sahabat Dian. Tak ketinggalan Samuel juga ikut duduk dengan mereka, bukan sebagai supir namun sebagai sahabat Ilyas.


Dian menatap Ayla dan Said dengan tatapan curiga. Ia meneliti keduanya yang tengah duduk berdampingan, namun bukan itu yang jadi pusat perhatian nya tetapi perhatian Said kepada Ayla lah yang membuatnya Memicingkan mata.


“Ada apa hmm?” mengelus perut Istri nya yang sudah semakin bulat dengan perlahan sembari bertanya. Ia duduk di samping kiri sang istri.


Dian menggeleng pelan “Coba lihat mereka berdua. Aneh bangat ‘kan, apa jangan-jangan mereka punya hubungan khusus?” Melirik Said dan Ayla


“Yang kakek dengar mereka memang sedang berhubungan.” Kakek Arnold yang ada di samping kanan Dian menjawab. Tangan nya yang sudah penuh keriput juga ikut mengelus calon cicitnya.


“Hah? Benarkah?” Dian melotot tak percaya. Melihat anggukan dari kakek Arnold membuat Dian menoleh ke arah Ayla dan Said.


“Lepaskan tangan mu kek!” Menepis tangan kakek Arnold di perut istrinya


“Cih! Dasar posesif!” Gerutu kakek Arnold


Dian tidak menanggapi perdebatan kakek serta cucu tersebut. Hal itu sudah biasa membuat nya resah sendiri. Dian malah lebih tertarik dengan dua pasangan di depannya


“Kalian berdua..... Benar-benar punya hubungan khusus?” Memicingkan mata melihat Ayla dan Said yang langsung gelagapan seperti baru saja tertangkap berbuat yang tidak-tidak.


“Kalian berdua kenapa? Aku cuman bertanya loh. Jangan-jangan kalian memang punya hubungan khusus ya?” Semakin curiga lah Dian


Said berdehem beberapa kali. Sekarang atesintas orang-orang yang ada disana menatap mereka berdua.


“Eh lu belum tau yah Di. Itu sih Ayla sama kak Said kan sekarang pacaran.” Celetuk Adil, ia sebenarnya jengah dengan mereka berdua yang tidak bisa jujur. Apa susah nya sih! Pikirnya


Dian manggut-manggut “Benar Ay? Kak?”


“Hehe gitu deh.” Jawab Ayla menunduk malu


“Hmm seperti kata Adil tadi. Udah satu bulan.” Jawabnya. Wajahnya memang terlihat biasa saja tapi jangan tanya telinga nya bagaiman, merah! Sangat merah.


Dian tersenyum lebar “Rupanya ada yang mau nyusul nikah nih.” Godanya menaik turunkan alis menggoda kedua orang itu


Ayla mencebik “Benar yah. Jari gue juga rasanya kosong bangat.” Ia menyindir kekasihnya yang tidak peka


Namun sayang kali ini Said benar-benar peka “Lah.. yang selalu takur rumah nya di datangi siapa? Baru ada di halaman depan ajah udah suruh putar balik.” Said tidak kalah menyindir


Ayla bungkam. Jujur saja ia memang belum siap kalau Said datang kerumahnya. Bukan karena apa tapi ayahnya sangat galak. Bukan lagi ayahnya memang asli orang batak, setiap berbicara terasa kasar padahal sebenarnya tidak.


Aldi tertawa geli melihatnya “Sabar ajah kak. Om Ferdi emang galaknya bikin ampun. Mungkin sampai berabad-abad Ayla gak siap-siap.”


Ayla mencebik menatap nya “Ishhh gue masih mending dari pada situ. Dasar jomblo karatan! Gue yakin sentuhan ama cewek ajah pasti cuman gue doang ‘kan?”


Aldi memutar bola mata malas “Kamu naenyak?”


Ayla berdecak kesal “Hello.. itu trend kuno yah.”


“Oh gitu?” Menaikkan sebelah alis “Yang penting masih bisa dibuat buat balas counter.” Perdebatan keduanya membuat beberapa orang tidak mengerti dengan bahasa gaul yang sekarang mereka gunakan. Apalagi Ilyas.


Dian tertawa geli “Dasar kalian berdua. Adu mekanik mulu.” Dian jadi ikut-ikutan mengatakan perkataan yang kurang dimengerti orang-orang disana.


Aldi terkekeh “Yang penting gue udah punya gebetan.” Ucapnya percaya diri


“Cuuaaxx sih paling gebetan.” Sindir Ayla membuat Dian, Sarah, Sindy, Siti dan Said tertawa. Berbeda dengan Ilyas, Mike, Ardo, kakek Arnold dan Bagaskara yang malah bengong dan tidak mengerti perkataan mereka.


...***...


Dua bulan berlalu sejak acara tujuh bulanan Dian...


Taman rumah sakit sekarang di penuhi dengan banyak bodyguard berpakaian serba hitam. Taman ditutup sementara untuk umum.


Ilyas sengaja menutup nya untuk kenyamanan sang istri. Tadi siang, Dian sudah mulai kontraksi. Saat dibawa ke rumah sakit, masih pembukaan pertama. Alhasil dokter Melati menyarankan agar Dian berjalan-jalan terlebih dahulu untuk membuka jalan lahir.


Hanya Ilyas sendiri yang menemani Dian di taman untuk berjalan-jalan, sedangkan yang lain menunggu di ruangan tunggu atau memperhatikan kedua pasutri tersebut


“Uhkkk...” Memegang perut


“Ke.. kenapa sayang? A.. apakah sakit?” Kekhawatiran nampak terlihat diwajah Ilyas. Wajah datarnya sekarang tak bisa lagi menjadi topeng saat melihat istrinya yang kesakitan


“Hehe gak papa by, cuman kontraksi biasa. Udah gak sakit kok.” Jawabnya


“Yakin? Atau kita masuk saja. Sudah hampir malam. Sudah sangat lama kita disini, apa masih belum ada tanda-tanda akan keluar sayang?” menggenggam erat tangan sang istri sembari Merangkul nya


Dian menggeleng pelan “Masih belum by.” Sebenarnya semakin lama kontraksi yang ia rasakan semakin banyak dan semakin sakit. Namun ia yakin masih belum saatnya anak-anak nya keluar.


“Kamu yakin Sayang? Atau kita kembali saja sekarang?” Tanyanya dengan nada yang sangat-sangat khawatir. Keringat sebesar biji jagung keluar didahi.


Dian mengangguk yakin “Coba lihat, Dian udah gak papa. Kita jalan sebentar lagi.”


Ilyas akhirnya pasrah, mereka pun melanjutkan acara jalan-jalannya. Sesekali Dian akan meringis karena kontraksi sesaat.


Hampir 3 jam Dian berjalan-jalan..


“Ahkk by.. ka.. kayanya ba..” Ucapnya terputus-putus. Ilyas tak mendengar lebih, ia langsung menggotong istrinya berlari masuk kedalam ruangan persalinan.


Sangking paniknya ia bahkan tidak melihat saat beberapa perawat datang membawa brankar. Ia tetap menggendong Istri nya menuju ke ruangan bersalin


“Ahhkk sakit..”


“Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai.” Setelah sampai di ruang persalinan, Ia Langsung membaringkan Dian di pembaringan. Dokter Melati dan dua dokter wanita serta beberapa perawat wanita sudah menunggu didalam.


Sedangkan di luar ruangan, saat melihat Ilyas datang berlari menggendong Istri nya mereka langsung berdiri. Suasana tegang menyelimuti mereka yang ada diluar.


Tak berbeda jauh dengan yang ada di dalam. Karena tubuh Dian cukup lemah, akhirnya atas keputusan Ilyas, sang istri akan melahirkan Cecar. Hal itu untuk keselamatan istri dan juga anak-anak nya.


Dian mengatur pernafasan nya, ia merasa ada yang ingin keluar dari bawah. Ia melihat suaminya yang tengah memperlihatkan wajah panik.


“Ahkk.. sakit dok.”


“Tenang sayang, sakitnya cuman sebentar.” Ucapnya menenangkan


“Kita mulai sekarang nyonya.” Seru dokter Melati mulai memberikan bius kepada Dian.


Dian hanya mengangguk pelan. Kesadarannya pelan-pelan menghilang, namun ia tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran. Ia masih bisa sedikit merasakan saat sesuatu di angkat dari rahimnya.


.


.


Ilyas tak henti-hentinya memegang tangan istrinya. Ia tak pernah sekalipun memalingkan wajah dari wajah istrinya yang tengah terlelap.


Sampai suara tangis bayi terdengar membuat Ilyas tersentak. Ia lantas menoleh melihat perawat yang tengah menggendong seorang bayi kecil berwarna merah.


“Selamat tuan, anak pertama anda seorang tuan muda.” Seru sang dokter.


Ilyas bengong melihat putra pertamanya. Tak langsung mengambil anaknya ia terlebih dahulu mencium seluruh wajah sang istri dengan penuh rasa haru.


Perawat pun membawa putra pertama pasutri tersebut untuk dibersihkan. Dokter Melati kembali mengangkat satu bayi lagi.


Tangisan kencang sekali lagi memenuhi ruangan persalinan. Lagi, hati Ilyas bergetar tatkala mendengar tangisan pertama bayi keduanya. Ia kembali memberikan ciuman di seluruh wajah Dian.


“Masya Allah, ada lagi tuan.” Seru dokter Melati. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pelan-pelan ia mengambil satu bayi lagi dari dalam rahim Dian.


Ilyas kembali bengong tatkala melihat anaknya yang ketiga. Iya! Ketiga! Digendong oleh dokter Melati


“Yang ketiga nona muda, tuan.” Ujar dokter Melati


Sungguh Ilyas ingin menangis sekarang. Bagaimana tidak, ia mendapatkan bonus satu lagi? Mana seorang perempuan. Hatinya kembali bergetar. Ia kali ini menghujani wajah sang istri dengan ciuman.


Pantas saja perut Dian sangat besar saat mengandung. Rupanya ada tiga didalam.


.


.


Dian sudah sadar. Ia meringis saat merasakan jahitan di perutnya. Perut yang semula besar kini kempes, keluar sudah yang ada didalam.


“Terima kasih sayang.” Menciumi wajah sang istri. Kini tinggal mereka berdua didalam serta perawat yang sedang membersihkan ketiga bayi Ilyas dan Dian


Dian tersenyum manis. Ia mengusap wajah sang suami “Itu udah berapa kali by?”


“Jangan dihitung. Tidak akan pernah habis rasa terima kasih ku.”


Perawat datang menghampiri mereka berdua ia menaruh ketiga bayi tersebut di keranjang bayi yang memang sudah di siapkan tadi.


“Adzani dulu tuan.” Ucap perawat tersebut. Ia pelan-pelan memberikan bayi pertama kepada Ilyas


Dengan sangat hati-hati Ilyas menggendong bayi nya. Ia melihat istrinya dengan tatapan haru dan sedikit takut. Ia takut menyakiti bayi mungil yang ada digendongnya.


“Haha gak papa by.”


Ilyas hanya mengangguk dan mulai mengadzani satu persatu bayinya.


“Sekarang scan to scan yah nyonya.” Dian yang memang mengerti pelan-pelan membuka kancing baju rumah sakit yang ia pakai. Karena sekarang ia tidak memakai hijab jadi memudahkan Dian untuk memperlihatkan dadanya


Perawat wanita tersebut pun pelan-pelan menaruh dua bayi terlebih dahulu di dada sang ibu. Kedua putra Dian dan Ilyas mulai menggeliat mencari-cari sumber makanannya hingga mereka mendapatkan apa yang ia dapat.


Dian dan Ilyas tersenyum gemas melihat nya. Mereka benar-benar tak percaya sudah menjadi orang tua dari tiga bayi kembar sekaligus.


Dian menyusui ketiga bayinya bergilir. Setelah menjelaskan beberapa hal, perawat tersebut pun keluar.


“Hihii lihat deh by, putri kita. Untunglah mukanya mirip Dian.” Serunya yang sekarang sedang menyusui putrinya


Ilyas mencebik “Seharusnya wajahnya mirip aku. Kalau seperti ini aku tidak akan merelakan putri kita dilihat pria lain.”


“Isshh dasar posesif.”


“Tapi Putra pertama kita mirip ama kamu yah by, duplikat kamu malahan.” Ilyas mengangguk membenarkan. Untunglah kali ini semua yang ada di putra pertamanya benar-benar mirip dengannya.


“Putra yang kedua kita malah gabungan aku sama kamu by, tapi lebih dominan kamu yah by.” Sekali lagi Ilyas mengangguk. Ia sedang menggendong kedua putranya di lengan kanan dan kiri setelah tadi berlatih lebih.


Tak lama mata bayi keduanya terbuka lebar sembari tersenyum lebar juga “Matanya mirip mata indah mu, sayang.”


“Benarkah?”


“hmm.” Kalau seperti ini ia juga tidak akan rela mata putranya dilihat orang lain. ‘Kenapa selalu ada yang sama dengan istriku’ Ia menggerutu. Bukannya tidak senang hanya saja ia benar-benar tidak rela apa yang ada di Istri nya dilihat orang lain.


.


.


Didalam ruangan Dian, semua orang sibuk mengelilingi tiga box bayi.


“Ihhh putri kakak ipar gemes bangat. Coba lihat mata bulatnya, mirp bangat sama kakak ipar.” Seru Sindy heboh


“Udah kaya Dian versi bayi ini mah.” Timpal Adil


“Yang sulung malah duplikat ayahnya.” Seru kakek Arnold yang tak ingin ketinggalan


“Hahah iya juga yah.” Bagaskara menambahkan


“Nah yang kedua ini malah gabungan mereka berdua. Ihhh gemes, pen bawa pulang.” Celetuk Sarah


“Sama gue juga. Ya ampun manis bangat sih.” Timpal Ayla


“Gen nyonya dan tuan memang tidak diragukan lagi.” Mike ikut berkomentar


Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi didalam ruangan tersebut. Semenjak mereka di izinkan masuk, ketiga bayi yang baru saja lahir pukul 8 malam tersebut sudah jadi artis dadakan.


“Udah gak ada yang sakit dek?” Siti yang memang berpengalaman lebih memilih memeriksa Dian


Dian Tersenyum “Masih sakit dikit kak. Tapi udah gak terlalu sih.”


“Gak papa, cuman sebentar kok. Kakak dulu juga kaya gitu.” Dulu, Siti juga melahirkan secara cecar jadi ia cukup berpengalaman.


Berbeda dengan Ilyas dan Ardo yang sepertinya tengah membahas hal penting. Setelah nya Ilyas kembali ke samping sang istri. Sekali lagi ia mengecup kening istrinya lembut, lalu beralih melihat orang-orang yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ketiga bayinya


“Hei.. menjauhlah dari bayi-bayi ku. Kalian membuatnya panas.” Seru Ilyas tak pindah dari tempatnya


Mereka tersentak dan mulai mundur sedikit dengan sangat terpaksa


“Oh yah, kak, kakak ipar. Tiga bocil gemessin ini belum punya nama?” Said buka suara


“Iya, apa kalian belum memilihkan namanya? Kalau belum biar kake..__”


“Tidak perlu! Aku dan istriku sudah menentukan nya.” Melirik istri nya dan diberikan senyuman manis.


Mereka memang sudah menyiapkan satu nama untuk salah satu bayinya yang berjenis kelamin laki-laki. Tapi yang kedua karena masih abu-abu jadi mereka menyiapkan dua nama, satu nama laki-laki dan satunya nama perempuan


“Yang sulung namanya. MUHAMMAD DELON SAM terus putra kami yang kedua MUHAMMAD DYLAN SAM.” Ujar Dian dengan penuh semangat


“Wah.. nama yang bagus. Delon dan Dylan.” Ucap Bagaskara melihat cucu keponakan nya.


“Yang bungsu?” Kakek Arnold nampak tak sabar, bukan dia saja semua yang disana juga tak sabar.


Dian melirik suaminya. Ilyas mengelus pucuk kepala sang istri


“NUR ILMYRA SAM.” Jawab Ilyas membuat mereka semua tersenyum lebar


“Ilmy.” Ucap mereka bersamaan


“Semoga mereka bertiga akan menyempurnakan kebahagiaan kalian berdua.” Doa Kakek Arnold setulus hati


“Aamiin...”


...~End~...


...(ini bukan prank loh. ini BENERAN!!!)...


Gak kerasa udah sampai di penghujung ajah manteman😌 Othor pasti kangen kalian, pasti itu🥺. Othor sengaja percepat soal nya lagi sibuk bangat 😖 takut nanti gak bisa lanjut😢


Tapi tenang ajah bakalan ada ekstra part😆, cerita tentang pasutri kita yang merawat ketiga bayi kembar nya.


jadi jangan unsubscribe dulu🥺


bay.. bay manteman, sampai ketemu di ekstra part dan cerita anak-anak Ilyas dan Dian😙


Assalamu'alaikum