
Dian masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dokter Beno berkacamata yang selama ini mengobati suaminya adalah kak Abra yang ia kenal? Bagaimana bisa?
Sarah terkikik geli melihat wajah Dian yang tercengang.
“Hahah udah aku duga sih kamu gak ngenalin kak Beno selama ini.” Sarah ikut berdiri disamping Dian
“Tapi kok bisa? Ini beneran kak Abra ‘kan?”
Beno terlihat Terkekeh kecil “Apa kabar Dian, gimana kabarmu? Kayanya baik-baik ajah ‘kan?” Ia bertanya dan menjawabnya sendiri. Khas seorang Beno Abraham.
“Hmm apa anda punya hubungan dengan dokter Beno nyonya?” Mike yang melihat semua orang kebingungan pun membeberkan pertanyaan agar dapat menjawab kebingungan mereka.
Dian mengangguk “Aku dan kak Abra udah kenal sejak kecil sama Sarah juga. Dia yang selalu membantuku.” Jawab Dian “Tapi? Kok kak Abra dipanggil dengan nama yang berbeda sekarang?”
“Kamu gak memperhatikan nama lengkap ku yah Di. Beno Abraham! Nah sebenarnya ‘kan nama panggilan aku Beno.” Jelas Beno singkat padat dan jelas
Dian manggut-manggut. Benar juga yah, ia membenarkan.
Dian saat kecil dulu suka pergi bermain ke rumah Sarah. Dan disanalah mereka bertemu. Beno juga sering ikut ayahnya saat ke rumah Sarah karena kedua orang tua mereka bersahabat. Jadinya anak-anak nya pun mengikuti jejak para orang tua nya.
“Tapi kenapa sekarang kakak jadi pake kacamata?” Dian tau Beno memang rabun, tapi biasa pria itu selalu memakai lensa kontak
“Hehe biar keren ajah. Udah kaya profesor profesional ‘kan? Jadi ngerasa jenius.” Celetuk Beno
“Ehem..” Deheman keras Ilyas membuatnya menjadi pusat perhatian “Jadi sekarang aku bisa pulang?” Tanya Ilyas
Dokter Beno tersenyum “Alhamdulillah tuan Ilyas menunjukkan perkembangan pada tubuh yang sangat bagus. Tapi untuk di kepala, lebih baik berhati-hati terlebih dahulu. Dan untuk pertanyaan pertama tuan, anda bisa pulang nanti sore mumpung cairan infus juga masih tersisa sedikit.” Jelas panjang lebar Beno khas seorang dokter
“Alhamdulillah, makasih yah kak.” Seru Dian. Lantas wanita itu menuju ke arah suaminya lalu menggenggam tangan besar tersebut. Ia tau betul Sekarang sang suami sedang kesal padanya.
Dan benar saja, hanya di sentuh sedikit Ilyas sudah goyah. Ia langsung luluh hanya karena melihat senyuman serta sentuhan hangat dari istri nya.
Setelah berbincang-bincang, satu persatu dari mereka pun pamit pulang. Dan sekarang tinggallah Dian dan Ilyas beserta Sarah dan Ardo yang masih setia menemani kedua pasutri itu.
Dian, Sarah beserta Ardo beranjak ke mushola di rumah sakit itu untuk sholat. Sedangkan Ilyas yang belum di izinkan untuk terlalu banyak berjalan pun akhirnya sholat di ruangan serta diatas pembaringan.
“Oh yah Sar. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sudah dari tadi.” Dian membuka suara saat mereka berdua sudah keluar dari dalam mushola.
Sarah menoleh kearah Dian “Mau nanya apa?”
“Kamu, ada masalah yah sama bang Ardo?” Sarah tersentak. Ucapan Dian berhasil membuat langkah Sarah berhenti.
“Ada apa?” Tanya Dian heran saat melihat Sarah berhenti. Ia semakin yakin akan dugaannya.
Sarah menggeleng “Tidak. Bukan apa-apa.” Lalu kembali melangkah
“Kamu belum jawab pertanyaan ku tadi loh. Kamu suka ‘kan sama bang Ardo?” Memicingkan Mata menatap Sarah yang sama sekali tidak berani menatap matanya
“Apa sih Di. Mana mungkin aku suka cowok dingin kaya pak Ardo.” Ia masih membantah padahal sudah sangat jelas sahabat nya menyukai asisten sang suami.
“Oh aku kirain kamu suka sama pak Ardo. Dilihat dari tatapan matamu ajah aku udah bisa tau loh, yah tapi iya juga sih gak mungkin bangat kamu suka cowok kaya pak Ardo. Haaahhh aku jadi lega..” Sengaja menggoda Sarah. Ia ingin tau sampai apa Sarah menyembunyikan faktanya
“Lega? Kenapa?”
“Iya lega, soalnya Ayla kayanya tertarik deh sama bang Ardo. Dia juga sempat nanyain nomor telepon, sosmed sama apa-apa ajah yang bang Ardo suka.”
‘Maafin aku Ay bawa-bawa nama mu’ Sedangkan ditempat lain, Ayla sudah dari tadi bersin-bersin. Mana tengkuknya juga jadi dingin lagi.
“Kayanya ada yang omongin gue deh.” Gumam gadis itu.
Wajah Sarah berubah pias. Ayla jauh lebih muda darinya, dan lagi walaupun Ayla juga bar-bar tapi gadis itu sangat cantik. Walaupun Sarah juga cantik namun bukannya orang-orang akan pilih yang lebih muda? Pikirnya
Dian pura-pura tidak melihat perubahan ekspresi Sarah yang signifikan “Bagus deh. Kalau begini aku gak perlu pusing mau mihak ke siapa, iya ‘kan Sar? Ah! Aku lupa mau kasi tau ke Ayla kalau bang Ardo juga rajin shalat. Wah.. imam impian.” ia masih melanjutkan acara menggoda nya
“Kamu kenapa diam ajah Sar? Kamu setuju ‘kan bang Ardo aku jodohin sama Ayla?”
“Ah! I.. itu.. kayanya jangan deh Di.”
“Em... I... Itu..”
“hmm itu?” Terlihat jelas wajah menggoda Dian. Seakan-akan ia mengatakan, katakan yang sebenarnya maka aku akan membantu mu. Namun sayang Sarah selalu mencoba tidak melihat Dian
Sarah masih diam membuat hembusan nafas kasar keluar dari mulut Dian “Jujur ajah deh Sar, kamu suka ‘kan sama bang Ardo. Oh atau mungkin udah cinta?”
“Jangan ngadi deh Di, aku mana mu.._”
“Kamu yang harusnya jujur Sarah. Kita ini udah sahabatan sejak kecil, Walaupun kamu lebih tua dariku, bukan berarti aku gak pernah memperhatikan mu. Aku bisa tau kamu suka bang Ardo. Kamu yakin aku jodohin bang Ardo sama Ayla? Gak sakit hati?”
Sarah menghembuskan nafas panjang “Iya deh, kamu menang.” Ia memang tak akan bisa menang dari Dian.
Sarah melihat ke kanan dan ke kiri, ia memastikan tidak ada orang yang akan mendengar percakapan mereka “Aku memang suka sama bang Ardo. Bahkan udah aku unggkapin.”
“Wah.. benar ‘kan ajaran mu memang menjurus kesitu. Kalau suka yah bilang kalau enggak yah bilang enggak suka.”
“Hahaha iya.. iya.. emang menjurus kesana sih.”
“Terus gimana? Ditolak atau diterima?”
Sarah menggeleng “Gak ditolak tapi gak diterima juga. Aku kaya digantung tau gak, selama hampir 3 bulan ini aku udah coba ambil hati pak Ardo tapi semuanya sia-sia. Aku jadi lelah Di, aku ‘kan cewek bukan kodrat aku buat ngejar-ngejar cinta laki-laki.” Lesu Sarah
Dian manggut-manggut “Gak salah sih. Yang penting doa ajah Sar, usaha mu udah cukup kok. Kalau emang jodoh pasti di dekatkan tapi kalau enggak yah mau gimana lagi ‘kan.”
Sarah Tersenyum dan membenarkan. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata dan dua pasang telinga yang mendengarnya dengan diam.
.
.
Seperti perkataan dokter Beno, sore ini Ilyas sudah di perbolehkannya pulang. Ilyas menolak keras untuk menggunakan kursi roda, ia tidak ingin di anggap pesakitan.
Di dalam mobil
“By, kamu masih ingat rumah kita ‘kan?”
“Aku tidak melupakan semuanya.” Jawaban Ilyas sudah berhasil menjawab pertanyaan absurd dari Dian. Sungguh Ilyas dibuat gemas mendapatkan pertanyaan dari sang istri
Baru Dian akan mengatakan sesuatu tiba-tiba ponselnya berbunyi memperlihatkan sebuah pesan tertulis.
Dian Menghembuskan nafas panjang melihat pesan dari Arga
“Ada apa?”
Memperlihatkan isi pesan tersebut “Padahal baru sehari tapi udah minta ketemu besok pagi ajah.”
Ilyas terdiam. Ia mengepalkan tangan dan mengambil ponsel dari istrinya lalu ia pun mengetik pesan balasan disana, setelah itu Ilyas kembali menghapusnya
“Kamu balas apa by?”
Mengembalikan ponsel kepada empunya “Tidak ada.”
Dian menyerngit heran “Kok pesannya di hapus?” gumam Dian
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...