Dream Wedding

Dream Wedding
Menua bersama



“Kita makan siang dulu ya.” Ucap Ilyas memandangi wajah yang sangat membuatnya betah. Oh ciptaan tuhan yang sangat sempurna.


Dian mengangguk “Gimana kalau kita makan siang dimansion ajah, sekalian ajak bang Mike sama bang Ardo. Gimana?” Menatap suaminya dan kedua pria dewasa didepan sana.


Masak sendiri lebih hemat dan sehat pastinya. “Tidak ingin ke restoran atau tempat yang lebih bagus untuk merayakan selesai nya ujian mu?” Bukankah para anak muda zaman sekarang sangat suka merayakan sesuatu hal yang tidak seberapa.


Dian menggeleng “Lebih baik makan di mansion, lebih sehat dan hemat.”


“Suami mu bukan orang miskin,” Ia kesal mendengar alasan yang dibuat Istri nya. Memangnya ia akan bangkrut hanya karena makan diluar? Harga dirinya di pertaruhkan


“Aku tau by, bukan itu maksudku. Memangnya hubby lebih pilih masakan orang lain yang tidak dikenal daripada istri sendiri?” Tanya Dian sendu


Ilyas tersentak, tanpa sengaja sikapnya sudah melukai harga diri Dian yang menjabat sebagai istrinya “Tentu saja aku lebih suka masakan istriku sendiri. Bahkan kalau istriku hanya masak nasi dan ikan asin aku pasti akan lebih memilih nasi dan ikannya dari pada makanan mewah di restoran.” Jelas panjang lebar Ilyas jujur. Ia akan merendahkan harga dirinya kepada istri tercinta, dan hanya untuk istrinya.


Dian terkikik geli mendengar penuturan suaminya yang terlalu berlebihan “Kalau gitu biar Dian ajah yang makanan mewah di restoran, biar hubby yang makan nasi sana ikan asinnya sendiri.” menimpali perkataan suaminya dengan candaan receh.


Ilyas mengangkat sebelah alis “Oh.. berani?” Mengeluarkan aura hitamnya namun tatapan nya tetap lembut melihat istrinya


Memeluk Ilyas “Bercanda by, Dian bakalan nemenin hubby kapan pun itu. Baik saat susah dan senang kita bakalan sama-sama terus, iya ‘kan by?” Mendongak menatap suaminya


Ilyas tersenyum. Ia cukup kaget mendengar penuturan istrinya, ada rasa hangat dan bangga yang mengalir dari darahnya. Sungguh baru pertama kali ia merasa yang namanya perasaan terharu. Ahh air mata Ilyas ingin tumpah namun sebisa mungkin ia menahannya.


Di kecupnya kening Dian lalu turun ke bibir sang istri “Walaupun aku Tidak punya uang lagi?” Dian mengangguk “Kalau aku sudah tidak tampan? Atau..__”


“Husstt.. bagaimana pun keadaan hubby, hubby tetap hubby. Suamiku yang paling hebat. Walaupun hubby sudah tidak punya apa-apa, walaupun ketampanan hubby luntur termakan usia, disaat hubby sudah tidak bisa menyangga diri karena usia yang sudah renta. Dian bakalan nemenin terus, karena disaat itu Dian juga sama-sama menua bersama mu, by.” Jelas Dian panjang lebar


Ilyas tersenyum lebar, sampai-sampai Ardo dan Mike melongo melihat nya. Ini kali pertama mereka berdua melihat senyuman Ilyas yang sangat lebar, biasanya hanya senyum tipis biasa. Tapi satu hal yang pasti, kenapa adegan romantis itu harus dilakukan didalam mobil dan ada dua nyamuk disana!!


Menghujani wajah istrinya dengan ciuman “Aku pegang kata-kata mu! Awas saja kamu meninggalkan ku!, Akan ku cari sampai belahan dunia sekalipun! Kalau tertangkap akan ku ikat dan kurung didalam kamar!”


Walaupun itu terdengar seperti ancaman namun Dian sama sekali tidak takut. Ia malah bahagia mendengar Ilyas yang tidak ingin Dian Pergi meninggalkan nya.


Walaupun pertemuan pasti ada perpisahan, maka sebelum perpisahan itu datang buatlah kenangan yang tidak pernah terlupakan hingga tuhan menghapus ingatan itu.


“Kalau gitu kita makan dimansion ajah yah,”


Ilyas hanya mengangguk “Ash wish you, sayang.”


Dian tersenyum senang ”kita belanja dulu.”


.


.


Ilyas bersama Dian masuk kedalam pasar swalayan, Ardo menunggu di parkiran sedangkan Mike izin untuk pulang karena istrinya sedang membutuhkan nya.


Dian memilih beberapa bahan makanan lumayan banyak untuk menyetok bahan makanan tersebut dimansion


“By, segini cukup gak sih buat nyetok dimansion?” Memperlihatkan beberapa bungkus daging


Ilyas yang saat itu ada disamping istrinya sembari membawa troli belanja pun menjawab “Ambil yang banyak sayang, agar tidak perlu capek-capek beli lagi.”


Dian mengangguk dan mengambil beberapa bungkus daging tambahan lalu memasukkan nya kedalam troli.


“Ambil sayurnya juga sayang.” Menunjuk ke tempat sayuran berada.


Dian mengambil beberapa tomat, wortel, bayam, sawi dan teman-teman yang lainnya. Ilyas pun ikut membantu istri nya mengambil bahan-bahan makanan tersebut.


“Aku ada telepon, tunggu disini jangan pergi jauh-jauh.” Memperlihatkan ponselnya kepada sang istri


Dian mengangguk “Gak usah buru-buru.”


Melanjutkan kembali acara berbelanja nya. Saat sedang asik mendorong troli tiba-tiba sebuah troli belanjaan dari depan menabrak troli Dian,


“Eh?” Sontak Dian menoleh kedepan, dan tepat seorang wanita berhijab pun ikut menoleh melihat Dian


“Ah! Maaf aku gak sengaja.”


Dian tersenyum “Gak apa-apa.”


“Hmm bukannya mbak yang waktu itu di dalam angkot yah? Yang, emm maaf yang nangis hampir setahun yang lalu.”


Dianra terdiam, ia memikirkan perkataan wanita cantik didepannya “Hmm.” Kalau soal menangis didalam angkot saat ia memergoki Malik mengantar selingkuhannya ke rumah sakit. Ahh mengingatnya lagi membuat Dian jadi badmood.


“Apa jangan-jangan kakak yang waktu itu nenangin aku?” tiba-tiba ia mengingat seorang wanita cantik memberikan kata-kata semangat saat itu.


Wanita tersebut tersenyum sembari mengangguk “Bagaimana masalahmu?” Ia mengingat saat Dian menangis Pilu diatas angkot saat itu membuatnya tak tega.


“Yah gitu deh kak, Tapi Alhamdulillah aku bahagia sekarang.” Menampik senyuman bahagia yang seolah-olah mengatakan ia baik-baik saja. Tapi mengingat dia menangis didalam angkutan umum membuatnya malu bukan kepayang ‘Ahkk malu bangat! Mana sia-sia lagi aku nangis waktu itu!’


Wanita tersebut tersenyum, ikut bahagia Melihat Dian bahagia “Oh yah kenalkan, nama aku Siti Sundari, panggil ajah Siti.” Mengulurkan tangan


Dian menerima uluran tangan tersebut “Dianra, panggil ajah Dian, kak Siti” Ia merasa Siti lebih tua darinya jika dilihat dari segi wajah.


“oh yah kak Siti gak sama anaknya?” Ia mengingat saat itu Siti memangku anaknya dalam angkutan umum


“Ada, lagi bareng suami. Baru nanti nyusul. Kamu sendiri, sama siapa?”


“Sama suami juga kok kak. Lagi terima telepon.” Siti manggut-manggut mendengar nya. “Lagi belanja bahan masakan juga kak?” Melihat troli Siti yang penuh dengan sayuran dan daging serta susu


“iya, buat stok dirumah.”


“Wah.. sama dong,”


“Hahaha jangan-jangan kita jodoh nih.”


Dian tertawa mendengarnya “Biasanya tiga kali pertemuan baru dibilang jodoh.” Ia malah menimpali candaan Siti


Ilyas melihat istrinya dari kejauhan yang sedang tertawa bersama seorang wanita ‘Dia..’ Dengan langkah tegap Ilyas menghampiri Istri nya.


Siti yang melihat Ilyas berjalan kearah mereka sontak menunduk Membuat Dian melihatnya aneh. Kenapa tiba-tiba?


Dian tersentak saat seseorang merebut troli yang ia pegang “Astaga by, Dian kira tadi siapa.” Memegang dadanya


“Ada lagi, sayang?” Panggilan yang disematkan Ilyas membuat Siti tersentak


“Gak ada sih by, kayanya itu udah cukup deh.” jawabnya lalu beralih melihat Siti yang masih menunduk “Kak Siti? Kak Siti kenapa?”


Siti tersentak lalu Pelan-pelan mengangkat kepalanya. Mata Siti bertemu dengan mata Ilyas semakin membuat nya tidak karuan “Lama tidak bertemu, tuan.” Sapa Siti


“Hmm.”


Semakin bingung lah Dian melihat interaksi antara Siti dan suaminya “Kalian saling kenal?”


Baru Siti angkat bicara, tiba-tiba suaminya datang dari belakang “Yank, udah bel... Eh?! Tuan Ilyas, nyonya Dian.” Segera Menunduk hormat dan segera berdiri tegap karena ia masih menggendong putra nya.


Dian tersentak kaget “Bang Mike?” dan tambah kaget lah Dian saat mendengar panggilan Mike tadi yank? Ayang ‘kan? Dan lagi, anak laki-laki yang mungkin usianya sekitar 3 tahun itu anaknya Siti ‘kan? Banyak praduga yang menghantam pikiran Dian


“Jangan-jangan kak Siti istri bang Mike?”


Siti mengangguk “Iya nyonya, dan maafkan ketidaksopanaan saya yang tadi memanggil anda dengan nama.”


Dian menggeleng cepat “Apa maksudnya sih kak, kakak ‘kan teman aku. Jangan minta maaf, tuan suami mu itu suamiku, bukan aku.” Beo Dian lembut


“Panggil Dian ajah kaya tadi.”


Siti melirik kearah Ilyas yang hanya diam kamudian melihat suaminya yang hanya tersenyum sembari mengangguk kecil


“Aku panggil dek ajah yah.”


Dian tersenyum senang “Gak apa-apa, malah bagus. Aku jadi seperti punya kakak.” serunya dengan bersemangat.


“oh yah ini anak mu, kak?” Memperhatikan seorang anak laki-laki berusia 3 tahun yang ada di gendongan Mike


“Ar sapa nyonya.” Ucap Mike mengelus kepala Marcell


Marcell menatap wanita cantik didepannya “Halo nyonya.“ Menunduk sedikit lalu beralih melihat Ilyas “Halo tuan.” Ia sudah mengenal Ilyas


Ilyas hanya mengangguk menanggapi, berbeda dengan Dian yang heboh sendiri “Ihhh imut bangat sih.. namanya siapa sayang.” Mencubit pipi Mercell


Rona wajah Marcell tak dapat ia sembunyikan, ia paling suka dipuji “Malcell nyonya.” Ucapnya tak bisa berbicara R


Dian tambah gemas mendengar gaya bicara Marcell apalagi wajah merona anak itu semakin membuat Dian ingin menculik nya sekarang juga. Wajah Dian terlihat berbinar saat ia menggendong Marcell


Ilyas ikut senang melihat wajah berbinar istri nya “Sudah tidak ada ‘kan? Kalau gitu kita pulang.” Ujar Ilyas


Dian mengangguk menanggapi lalu mengembalikan Marcell pada Mike “Kak Siti gimana? Udah belanjanya?”


“Masih. Tinggal dikit lagi.”


“oh kalau gitu Dian duluan yah kak, bang Mike, Marcell.” Setelah berpamitan Dian dan Ilyas pun menuju kasir untuk membayar.


Lagi-lagi ia melihat pemandangan menyenangkan. Seorang anak perempuan sedang merengek kepada ibunya untuk dibelikan sesuatu. ‘kapan yah aku juga bisa kaya mereka’ Tanpa sadar ia mengelus perutnya yang rata.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...Subscribe yah manteman😖...