
Bak tersangka kasus yang harus disidang, itulah yang dirasakan Sarah sekarang. Beberapa kali ia menelan salivah nya susah-susah. Tangan nya berkeringat merasakan tatapan dingin dari Ardo.
Kalau mungkin diluar dia akan berani, berbeda jika dilingkungan perusahaan. Ia bagaikan anak tikus dihadapan dengan kucing ganas, bergera sedikit nyawanya yang terancam.
Sarah masih tertunduk, Kini didalam Kantin tinggal dua orang berbeda gender itu jika penjaga kantin dikecualikan.
Duduk di bangku yang tadi ditempati Dian, Ardo menatap dingin asistennya yang masih menggunakan pakaian hitam putih khas anak magang
Mengetuk-ngetuk jari telunjuk dimeja “Kenapa kau bolos bekerja?” Setaunya, ini kali pertama Sarah bolos bekerja.
“Ma.. maaf pak, sayaa khilaf.” saling meremaas kedua tangan
“Katakan dengan jelas!” Sentak Ardo
‘Astagfirullah.. selamatkan lah hamba ya Allah..’ entah mengapa diamata Sarah, Ardo kini bagaikan banteng yang lepas talinya. Salah sedikit dia bisa diseruduk
“Maaf pak, tadi saya cuma ingin ke kamar mandi. Tapi tidak sengaja lewat didepan kantin, terus saya lihat ada menu baru. Yah saya khilaf, lalu tanpa sadar saya malah antri membeli.” Jawab Sarah sejujurnya.
Ardo menghembuskan nafas kasar yang sangat terdengar diruang yang sepi. Sebenarnya Ardo ingin tertawa mendengar alasan yang aneh bin ajaib dari Sarah, ingin di tolak Namun karena Sarah yang melakukan nya itu jadi masuk akal.
“Alasan! Cepat kembali ke tempatmu. Hukuman mu sudah aku tentukan!” Sengaja meninggikan suara agar Sarah tersentak dan membuat nya gugup
“I... Iya pak‚” Lalu bergegas lari masuk kedalam lift. Ardo pun dengan santai mengikuti dan masuk kedalam lift yang sama dengan Sarah.
.
.
Brukk
Menghempaskan setumpuk dokumen dan berkas diatas meja, Ardo menunjuk dokumen tersebut “Kerjakan, dan selesai ‘kan hari ini juga.” Ucapnya dengan nada dingin kepada Sarah
Glek..
Ia hampir saja tersedak ludahnya sendiri melihat tumpukan dokumen diatas meja “Pak Ardo becanda ‘kan?”
Dengan wajah yang amat sangat dingin “Apa wajahku seperti seorang yang bercanda?”
‘muka situkan emang kaya gitu mulu’
Menggeleng cepat “Tidak pak, sepertinya anda memang tidak lagi bercanda.”
“Dasar otak udang! Cepat selesaikan hari ini juga. Jangan pulang sebelum semuanya selesai.”
“Ba.. baik pak.” ia segera mengambil tumpukan dokumen itu lalu membawanya ke mejanya. Sarah yang bar-bar dan pemberani seketika sirna saat dihadapkan dengan atasannya
Menghela nafas panjang “Haaahhh lembur lagi.. lembur lagi..” Membuang pantatnya dengan kasar diatas kursi
“huh! Dasar Antartika! Bisanya cuman ngomel-ngomel, nyuruh-nyuruh. Gak ada baik-baik nya sama sekali.” membuka kasar map yang ada diatas meja
“Aku sumpahin semoga dia jadi bucin akut ke aku!!!” Gerutu Sarah tanpa pertimbangan sama sekali, bahkan ia tak sadar saat mengatakan nya.
“Aamiin..” celetuk seorang wanita yang memakai pakaian sama dengan nya
“Astagfirullah, ngagetin ajah kamu Ayu.”
Cengengesan “Sorry, lagian dari tadi ngomel mulu. Entar pak Ardo beneren bucin lagi ke kamu.” goda Ayu, mereka sama-sama anak magang disana.
“ih.. nauzubillah, amit-amit jabang bayi..” mengetuk dahi dan meja.
“Hahaha udah aku aminin tadi. Udah yah semangat kerjanya.” ia segera lari dari sana sebelum Sarah menggigit nya.
“Ayu..” geram wanita itu. Ia sudah mengangkat satu map ingin melemparkan nya ke Ayu
“Kalau dokumen itu rusak, kau harus ganti rugi.” Suara dingin tersebut berhasil membuat Sarah membeku ditempat
Dengan sangat perlahan ia menurunkan map yang sempat ingin ia lempar lalu berbalik menatap atasannya yang sangat amat dingin.
“Eh? Hehe pak Ardo, ada yang bisa saya bantu pak?” Tersenyum kaku
Brukk..
“Berkas yang ketinggalan. Kerjakan juga dokumen-dokumen itu.”
Sarah semakin lemas dibuatnya “Ba.. baik pak.” Namun sayang, dia tidak berani membantah jika masih ada dilingkungan perusahaan.
“Lain kali kalau kau ingin bertemu nyonya, jangan disaat jam kerja. Kalau bisa, jangan dilingkungan perusahaan karena jam makan siang tuan Ilyas akan menghabiskan waktu nya bersama nyonya.” Tutur panjang lebar Ardo
Sarah mengangguk “Baik pak. Akan saya ingat.”
“Bagus.” Saat hendak berbalik, Sarah menghentikan langkah Ardo
“Pak, bisa tidak dokumen-dokumen ini saya cicil. Tidak usah dikerjakan semua hari ini.” setidaknya ia ingin meminta keringanan
‘ahhkk aku mengatakan nya’ Pekiknya dalam hati, tak percaya dirinya sungguh Berani.
Gadis itu cemberut “Yah pak, tapi ‘kan tidak mungkin saya bisa menyelesaikan semuanya hari ini juga.” Rengek Sarah
“Pak Ardo mah enak semua kerjaannya dilimpahkan ke saya.” Gerutunya
Tuk..
“Auuchh sakit pak.” Memegang dahinya yang di sentil Ardo
“Makanya jangan banyak bicara, kau kira aku juga tidak sibuk. Kerjakan pekerjaan mu sekarang jika tidak ingin tinggal dikantor.” Setelah mengatakan nya ia pergi begitu saja
Sarah berenggut kesal “Huh! Lihat ajah yah suatu hari pasti ku balas.”
Ardo mendudukkan diri diatas kursinya. Ia menghela nafas panjang, bibirnya tertarik mengingat wajah cemberut Sarah
“ehem.. rupanya kamu bisa tersenyum juga yah.” Suara Mike menyadarkan Ardo dari lamunannya
“Ada apa?” Ardo kembali ke wajah dingin seperti biasa
Mike tertawa kecil “Aku kesini mau minta data-data pegawai di tim 5.” Menyandarkan bokong di tepi meja Ardo sembari bersedekap dada
Ardo berdiri lalu mencari permintaan Mike dilemari samping meja.
“Jangan terlalu keras kepada Asisten mu. Walau bagaimanapun dia itu sahabat nyonya.” Mike membuka suara
Masih sibuk mencari permintaan Mike “Aku tidak akan keras padanya kalau dia menurut. Kau tau ada banyak pegawai yang bolos dikantin, dan Salah satunya itu asistenku.” Menarik sebuah map dari tumpukan map disana
“ini.”
“Thanks.” mangambil map Tersebut “Aku hanya ingin mengingatkan mu, Sarah adalah orang yang selalu membantu nyonya. Dia yang selalu ada di garda terdepan untuk membantu nyonya saat kesulitan, aku yakin tuan Ilyas akan meringankan hukumannya mengingat jasa-jasa yang sudah gadis itu lakukan ke nyonya.” jelas panjang lebar Mike
Ardo terdiam, mendudukkan diri di atas kursi “Aku tau. Akan ku coba.”
Senyum mengembang dibibir Mike “Bagus. Oh yah tadi yang kau bilang tentang pegawai bolos? Maksudnya apa?”
“Seperti yang aku katakan tadi, ada banyak pegawai yang bolos ke kantin dijam kerja. Sepertinya sebentar lagi Tuan Ilyas akan mengadakan rapat kedisiplinan.”
Mike menghembuskan nafas kasar “Bisa-bisanya mereka melakukan hal itu. Aku yakin kita juga tidak akan luput dari amarah tuan Ilyas.”
Mengangkat kedua bahu “Keluarlah aku mau kerja.”
“Oke, ingat pesan ku tadi. Baik-baiklah kepada Sarah.” Kembali mengingatkan
“Hmm.”
.........
Dian keluar dari dalam kamar pribadi tersebut saat hari sudah mulai gelap. Dilihatnya Ilyas yang masih setia dengan komputernya
“Belum pulang by?”
Ilyas mendongak melihat istrinya “5 menit lagi.” Lalu kembali dengan urusannya
Dian mengangguk lalu duduk disofa menunggu suaminya selesai dengan pekerjaannya. Tak berselang lama terlihat Ilyas yang mulai merapikan mejanya lalu mengambil jas dan memakainya.
“Ayo.” Menggandeng tangan istrinya
Diluar mereka disambut dua wanita seksi sekretaris Ilyas. Dian hanya tersenyum menanggapi berbanding terbalik dengan Ilyas yang malah menganggap mereka tidak ada.
“Kalau tau selera tuan Ilyas yang tertutup begitu, udah dari awal aku hijrah.” Bisik salah seorang sekretaris Ilyas
“Jangan ngawur, aku yakin walaupun kamu pakai cadar sekalipun tuan Ilyas tidak akan melirikmu.” Timpal temannya yang lain.
Wanita itu hanya mendengus kesal.
Dian dan Ilyas masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Dian masih membisu, ia memikirkan kedua sekretaris suaminya yang nampak seksi. Entah mengapa ia jadi gelisah, takut apabila suaminya melirik kedua wanita seksi itu
“Hmm sekretaris mu cantik-cantik yah by, mana seksi lagi.” Ia mencoba untuk buka suara terlebih dahulu. Dilihatnya wajah Ilyas yang datar seperti biasa
“Hmm.” Seperti biasa, Ilyas hanya bergumam yang mana semakin membuat Dian gelisah.
Gumaman Ilyas biasanya diartikan iya ‘Berarti hubby juga setuju dong’ Ia jadi semakin tidak rela, ada rasa cemburu yang menjalar
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...Subscribe yah manteman😖...