Beautiful Mistakes

Beautiful Mistakes
Bersama Selamanya



Saka mengecup bibir Sara dengan lembut. Kecupan itu berpindah ke kening. Begitu lama Saka membenamkan bibirnya di sana. Ia memeluk Sara erat.


Tubuh keduanya lengket karena keringat, tetapi tidak mengurangi keduanya untuk saling berpelukan. Setelah lama berpuasa, Saka dan Sara baru berbuka. Permainan yang manis dan hangat telah mereka lakukan. Sehabis waktu makan malam sampai pukul tiga pagi yang diberi jeda beberapa saat barulah Saka berhenti menganggu Sara.


Istrinya itu bahkan tidak sadar lagi karena olahraga malam yang begitu panjang. Sara sudah lelah dan tertidur pulas dalam dekapan suaminya.


Saka membawa keluarga kecilnya mendiami rumah sederhana tingkat dua. Bagian atas adalah kamar Flora dan mereka punya tetangga. Setidaknya sore hari atau di hari Minggu, Flora bisa bermain bersama anak sebayanya.


Saat Saka menunjukkan rumah asli miliknya yang mewah dan dijaga oleh banyak pengawal, Sara menolak. Bukan ia menolak rezeki, tetapi hidup itu bukan keinginannya.


Rumah lama Saka memang sangat luas dan memiliki taman tersendiri. Namun, Sara ingin tinggal dan berbaur bersama orang-orang baru. Sebenarnya alasan utama memang Sara masih enggan hidup di antara bawahan Saka yang selalu memegang senjata api. Jadi, rumah yang mereka tempati adalah pilihannya.


Saka juga memutuskan untuk keluar dari dunia bawah. Ia menghapus jejaknya dan menganggap Saka yang kejam telah mati. Sementara anak buah Saka yang lain dibebaskan untuk memilih jalan masing-masing.


Keempat rekan Saka juga kembali ke dunia mereka. Saka memberi semua aset yang ia miliki selama berkecimpung di dunia hitam kepada Chen, Tedy, Josh serta Mark dengan sama rata.


Kini, Saka cuma mengelola bar yang ditinggalkan mendiang ayahnya. Tidak ada hal-hal berbau ilegal dalam hidupnya. Bar yang ditinggalkan Bernad sudah terkenal bagi kalangan orang kaya. Rencananya Saka ingin membuka restoran dan kafe. Menjadi pengusaha tidak buruk dan baginya sama saja. Hanya barangnya saja yang berbeda.


Sara mengerjap ketika suara Flora terdengar. Tubuhnya sakit semua. Saka sungguh menyiksanya tadi malam. Sara melihat sisi tempat tidurnya. Saka masih pulas dalam balutan selimut tebal.


"Sebentar, Sayang," seru Sara.


Saka juga menyewa pengasuh untuk Flora. Sebenarnya pengasuh itu bukan sembarangan. Bisa dibilang wanita muda itu adalah pelindung dan pelatih Flora. Sara dan Saka sudah sepakat. Meski Saka sudah keluar dari dunia mafia, ia tetap ingin Flora dilatih.


Sara mengambil jubah tidurnya yang jatuh dilantai, lalu memakainya. Sara membuka pintu, Flora menerobos masuk dan langsung naik tempat tidur.


"Maaf, Nyonya," ucap pengasuh Flora.


Sara tersenyum. "Tidak apa-apa."


Sara beralih memandang Flora yang sudah naik di punggung sang ayah. Ia menjadikan Saka kuda. Mau tidak mau, Saka bangun dari tidurnya.


"Papa, katanya hari ini mau ajak Flora jalan-jalan. Flora ingin lihat Patung Liberty"


Saka mengecup pipi putrinya. "Papa tidak akan ingkar janji. Sekarang kamu pakai baju yang cantik."


Flora mengangguk. "Miss Samantha memberikan Flora yang sangat cantik."


"Kalau begitu, Flora harus memakainya," ucap Saka sembari mencubit hidung mancung putrinya.


Flora lekas turun dari tempat tidur, lalu keluar kamar memanggil Miss Samantha. Sara cuma bisa menggeleng. Sepertinya suasana Amerika cocok untuk putrinya.


"Bee, pakai gaun yang aku berikan untukmu kemarin," kata Saka.


"Gaun panjang warna putih itu?" tanya Sara.


"Yang mana lagi? Kamu pakai gaun itu."


"Apa kita akan menghadiri acara pernikahan?"


Saka mengangguk. "Kita akan menghadiri acara pernikahan. Bersiaplah. Dandan secantik mungkin."


Saka beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil kaus di dalam lemari, lalu keluar. Sara membuka lemari dan mengambil gaun putih dari dalam kotak. Gaun itu sederhana, tetapi sangat cantik dan elegan.


"Aku harus cepat bersiap," gumam Sara.


Sementara Saka membersihkan diri di kamar mandi dekat dapur. Pakaiannya sudah tersedia di ruang kerja. Sebuah Tuxedo warna putih serta dasi kupu-kupu.


Flora lebih dulu selesai bersiap. Ia mengenakan gaun putih dan mahkota bunga di kepala. Disusul oleh Saka yang keluar dari ruang kerjanya. Ayah Flora itu terlihat tampan dengan tuxedo yang melekat sempurna di tubuh kekarnya.


"Kenapa Flora tidak boleh panggil Papa, Daddy?" tanyanya, "tapi Miss Samantha selalu menyebut Papa, Daddy."


Saka tertawa. "Daddy dan Papa sama saja."


"Karena kita suatu saat akan pulang ke Indonesia," sahut Sara.


"Apa kita ada acara fashion show?" tanya Sara.


"Gaun kita sama," ucap Flora.


"Karena hari ini, acara resepsi pernikahan kita," sahut Saka.


"Sayang, apa ini benar? Kapan kamu menyiapkannya?"


Saka meraih tangan Sara, lalu mengecupnya. "Ikutlah bersamaku."


Sara menyambut uluran tangan suaminya. Beberapa pengawal datang dengan memakai setelan kemeja hitam. Mereka mempersilakan sepasang pengantin keluar rumah. Mobil telah disiapkan dengan hiasan bunga di atasnya.


"Kamu belum menjawabku," ucap Sara.


"Pastinya sudah lama, Bee. Ini kupersiapkan sejak lama. Kita belum mengadakan resepsi, kan? Sekarang adalah waktunya," kata Saka.


Sara, Saka dan Flora masuk mobil. Sopir menyalakan mesin, lalu mengendarainya dengan diiringi oleh mobil pengawal di belakang.


Resepsi diadakan di sebuah taman bertema pesta kebun. Sara takjub ketika tamu sudah hadir di sana. Keempat rekan Saka serta Dokter Leo juga hadir.


"Maaf, jika ini tidak sempurna," kata Saka.


"Ini sempurna, Sayang. Sangat dan indah," ucap Sara.


Sepasang pengantin naik ke pelaminan. Keduanya saling merangkul dan membagi senyum kebahagian. Tamu yang hadir juga merupakan teman terdekat serta bawahan Saka. Sara tidak peduli itu, yang penting Saka sudah memeriahkan pernikahan mereka.


Saka berdeham untuk memusatkan perhatian tamu pada dirinya dan Sara. Ia mulai bicara dengan mikrofon di tangan. "Maaf jika menganggu perbincangan kalian. Tapi kalian di sini untuk merayakan hari bahagiaku, kan?"


"Benar, Tuan," sahut semua.


"Astaga kalian ini! Aku bukan siapa-siapa lagi sekarang. Panggil Saka saja. Kalian tau siapa wanita di sampingku ini?"


"Tentu saja istrimu," sahut Josh.


"Josh, kamu berani padaku?" kata Saka.


Josh tertawa. "Begini kalau teman saling menyapa."


"Baiklah, kamu memang temanku. Lanjut ke perkenalannya. Dia Sara, istriku. Wanita yang paling aku cintai. Orang pertama dalam hidupku. Kalian tau kenapa aku bisa bangkit kembali. Ini semua karena dia dan malaikat kecil kami, Flora," ucap Saka, lalu memanggil putrinya. "Kemari, Sayang."


Flora lekas naik ke pelaminan dan memeluk kedua orang tuanya. Semua berkasak-kasuk melihat rupa putri Saka yang cantik dan menggemaskan.


"Kalian benar," ucap Saka. "Kurasa aku sangat membenci mendiang ayahku. Wajahnya mendominasi putriku."


Semua tertawa mendengar ucapan Saka. Memang terlihat seperi itu. Wajah blasterannya membuat siapa saja jatuh cinta. Tidak heran jika Anton sangat menyukai Flora.


"Aku ingin menjadi menantumu," ucap Chen.


"Kamu bisa melangkahi mayatku, Chen," sahut Saka.


"Aku tidak berani."


Semua tertawa atas ucapan Chen. Selesai perkenalan itu, tamu yang hadir mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Mereka makan dan minum bersama kemudian mengambil foto sebagai kenang-kenangan.


"Terima kasih," ucap Sara.


"Ini hanya pesta kecil."


"Ini pesta yang sempurna. Aku mencintaimu," ucap Sara.


Saka mengecup bibir istrinya. "Kamu tau perasaanku." Lalu keduanya saling menyatukan bibir.


TAMAT