
Perlahan Saka membuka pintu kamar tidur agar Flora tidak terbangun. Ia berjalan mendekati Sara yang terlelap bersama putrinya. Saka mendaratkan diri di samping istrinya. Ia mengulurkan tangan membelai lembut pipi Sara.
"Bee," panggilnya pelan.
Sara mengerjap, ia kaget ketika merasakan sentuhan tangan di wajah. Sara beringsut menyilangkan tangan guna melindungi diri.
"Ini aku, Saka," ucapnya.
"Maaf, kamu butuh sesuatu?" tanya Sara.
Saka mengangguk. "Tolong buatkan aku minuman hangat. Aku tidak bisa tidur."
"Segera kubuatkan."
"Aku tunggu di kamar," kata Saka, lalu bangun dari duduknya kemudian berjalan keluar.
Sara menghela napas panjang. Kelakuan Arya yang setiap malam menggangunya masih terbayang dalam benaknya. Ia hampir saja menganggap Saka adalah Arya.
Sara menyelimuti Flora, mendaratkan kecupan di kening agar putrinya semakin pulas. Ia turun dari tempat tidur dengan perlahan, lalu keluar menuju dapur.
Sara membuat susu hangat untuk suaminya. Ia jadi ingat ketika di rumah sewa dulu. Meski sibuk bekerja, Sara akan menyempatkan diri melayani Saka dengan sebaik-baiknya. Sungguh Sara merindukan dunianya dulu.
Keadaan ini sungguh sangat canggung. Sudah dua hari Sara tinggal bersama Saka, tetapi keduanya tidak satu kamar. Masuk ke kamar suaminya saja, Sara enggan.
Sara mengetuk pintu dua kali. Ia menunggu, tetapi tidak ada yang membuka pintu. Sara kembali mengetuk, lalu menekan gagang kunci dan melangkah masuk ke dalam.
"Saka," panggil Sara.
"Masuk saja. Kenapa harus ketuk pintu?"
Sara meletakkan susu hangat di meja. "Minumlah segera. Mumpung masih hangat."
"Kemarilah, bantu aku sebentar," pinta Saka.
"Apa?"
"Bisa pijat punggungku? Sedikit kaku dan nyeri," kata Saka.
Sara mengangguk, lalu berjalan mendekati Saka yang duduk di sisi tempat tidur. Ia meletakkan tangan di pundak sang suami, lalu memijatnya pelan.
"Lebih keras sedikit," pinta Saka.
Sara melakukan perintah suaminya. Ia merasa tidak nyaman, tetapi di depan matanya itu adalah Saka. Pria yang telah menikah dengannya.
Saka memegang tangan Sara dan membuat wanita itu kaget. Ia membalik diri, lalu menarik Sara ke pangkuannya. Saka memeluk erat istrinya.
"Bee, aku merindukanmu," ucap Saka.
"Le-lepaskan aku, Saka," pinta Sara.
"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu."
Saka menjatuhkan Sara di tempat tidur. Ia menindihnya, tetapi itu membuat Sara meronta untuk dilepaskan. Saka memegang kedua tangan Sara kemudian mendaratkan kecupan kecil di tulang selangka istrinya.
"Jangan," pinta Sara.
"Aku Saka, Bee. Lihat aku dengan jelas. Aku ini suamimu," ucap Saka.
"Aku tidak ingin. Aku tidak bisa melayanimu."
Saka menarik dirinya dari tubuh Sara. "Kenapa? Aku menerimamu apa adanya."
Sara beringsut bangun, ia memeluk dirinya sendiri. "Aku tidak berdaya."
"Lihat dengan jelas diriku, Sara. Aku ini Saka!"
"Kamu bukan suamiku!" teriak Sara. "Suamiku Saka sudah tiada. Kamu hanya mirip dengannya."
"Bee," ucap Saka lirih.
"Karena memang inilah aku yang sebenarnya. Aku masih suamimu, Bee."
Saka duduk kembali di tepi tempat tidur, ia mencoba meraih tangan Sara. "Kita tidak seharusnya begini. Aku tetaplah Saka yang dulu."
Sara menitikkan air mata. "Apa kita bisa kembali ke kehidupan lama?"
Saka menggeleng. "Tidak bisa, tapi aku janji akan kasih kamu kehidupan bahagia."
Kamu harus bisa menerima kehidupanku, Sara. Termasuk Flora. "Ayo," kata Saka sembari mengulurkan tangan.
Sara menyambut uluran tangan suaminya. Kemudian Saka memeluknya. Membawanya merebahkan diri di atas tempat tidur. Tubuh Sara sempat bergetar, tetapi Saka tidak melepas dekapannya.
"Ini aku, Bee," bisik Saka.
Sara mengangguk, lalu semakin erat memeluk Saka. "Iya ...."
"Tidurlah. Malam ini biasakan aku di sampingmu."
Saka mengusap lembut puncak kepala Sara hingga sang istri terlelap. Saka menarik diri, ia mengembuskan napas panjang sembari menyugar rambutnya ke belakang.
"Aku harus bersabar lagi untuk menyentuhnya," gumam Saka. "Ini semua gara-gara Arya! Awas saja dia."
...****************...
Apa yang dikatakan oleh Saka ada benarnya. Ketika Sara membuka televisi, berita mengenai Indra serta Velia tersiar. Dikatakan jika keduanya bunuh diri bersama.
Indra tega menyayat lehernya sendiri, sedangkan Velia mati terbakar. Semua keluarga bersedih termasuk Sara sendiri. Ia tidak menangisi Indra maupun Velia, melainkan dua anak yang ditinggalkan. Bersama siapa mereka kelak.
Sara bisa memikirkan hal itu, tetapi mengingat perlakuan Indra, rasanya itu pantas. Indra juga tidak punya belas kasihan pada dirinya yang tengah hamil waktu itu.
"Merasa sedih?" tegur Saka.
Sara tersentak, ia lekas menghapus lelehan air matanya. Saka mengambil remote, lalu mematikan TV. Ia melempar benda panjang itu begitu saja di atas meja dan membuat Sara takut.
"Pendampingku tidak boleh ada rasa belas kasihan," ucap Saka.
"Bagaimana dengan anak-anaknya?" tanya Sara.
"Tentu saja akan bernasib sama seperti orang tuanya."
"Jangan! Kumohon jangan lakukan itu."
"Aku sudah bilang, tidak boleh ada belas kasihan." Kamu harus kuat Sara. Karena dalam duniaku akan ada bahaya yang selalu mengintai. Aku tidak ingin melepasmu seperti daddy melepas Belinda. Aku ingin terus bersamamu. Kamu harus melihat dengan mata terbuka jika duniamu mulai sekarang akan penuh dengan kegelapan.
"Aku tidak ingin menjadi Belinda. Lepaskan mereka, Saka. Sudah cukup kamu menyiksa mereka," ucap Sara.
Saka tersenyum. "Baiklah. Tapi harus janji padaku."
"Apa?"
"Mulai malam ini, tidur di ranjang yang sama denganku," ucap Saka.
Sara menunduk. "Tapi aku ...."
"Aku sudah tau semuanya dari Belinda," potong Saka. "Arya tidak menidurimu. Meskipun itu terjadi, aku akan tetap menerimamu."
"Baiklah. Aku akan terus bersamamu."
Saka menepuk kakinya. Sara beranjak dari tempatnya, lalu duduk di pangkuan suaminya. Saka melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri.
"Aku Saka, kan?" tanyanya.
"Iya, kamu Saka," jawab Sara.
Maaf, Sayang. Tapi aku tidak akan membiarkan bibit dendam itu hidup. Semuanya harus tewas di tanganku.
Bersambung